Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Informasi tentang asisten guru


__ADS_3

Keesokan harinya Lu Xiang masuk kelas pertama di akademi Wangxie, ia masuk ke kelas B yang semuanya adalah sarjana Fu.


"Sebelum kita memulai teori konfusius, saya akan menyampaikan satu informasi kepada kalian. Di akademi sudah ada divisi baru yaitu divisi matematika, mungkin kalian sudah mengetahui informasi ini sebelumnya".


"Divisi matematika akan merekrut dua asisten guru. Bagi kalian yang berminat silahkan mendaftar ke kantor baru divisi matematika, tes akan digelar minggu depan".


Para sarjana menatap bingung dengan informasi yang guru Juren Lei sampaikan. Tes apa yang harus mereka ikuti? Apakah soal mengenai matematika?.


"Kenapa harus ada tes untuk menjadi asisten guru. Apa soalnya akan seperti ujian Fu?".


"Matilah aku. Aku tidak mengambil pekerjaan ini, soal Fu-shih saja sudah kelimpungan dalam menjawabnya dan sekarang aku harus memeras otakku lagi?!".


"Senior Wu sangat pandai dalam bagian ini. Mungkin ia akan mendapatkan satu posisi asisten".


"Tentu saja. Itu tidak perlu diragukan lagi".


Lu Xiang yang mendengarnya merasa tertarik pada senior Wu yang mereka.


bicarakan.


"Diam lah" Guru Juren Lei mengetuk meja dua kali karena kelas mulai berisik oleh diskusi para sarjana.


"Akademi sudah ada divisi Konfusianisme, divisi Li Yi dan divisi lainnya. Yang Mulia Kaisar memerintah untuk membuka divisi baru matematika jadi tidak hanya di akademi ini saja namun akademi di kota besar lainnya dan bahkan di ibukota juga ada divisi ini. Karena ini divisi matematika maka tentu saja pertanyaannya tentang matematika juga".


Banyak sarjana yang mengeluh setelah mendengar penjelasan guru Juren Lei namun tidak ada satupun yang ingin bertanya. Guru Juren Lei pun memulai pelajaran tentang Konfusius".


Lu Xiang, Song Yuan dan Wang Tianjin mendaftarkan diri mereka ke kantor divisi matematika. Ketiga menulis nama dan kelas serta gelar sarjana namun yang mereka tidak tau adalah Prefek Zhong keluar dari balik layar di belakang  Jiaoyu bersama Wang Shichong, kepala sekolah akademi Wangxie.


"Kau sangat optimistis pada Xiefu Lu Xiang yang kau pilih?". Ia menatap ke depan seraya mengelus jenggotnya putihnya.


"Tentu saja. Kau sudah melihat sendiri kan ide dan denah yang Lu Xiang gambarkan? Sekarang proyek di desa Shu hampir selesai tinggal membuat irigasi kecil saja di samping lahan pertanian petani".


Wang Shichong mengangguk pelan, ia tidak menyangka ada sarjana yang dapat mengemukakan ide tersebut dengan sempurna hingga tidak perlu lagi disempurnakan oleh berbagai rapat pegawai.

__ADS_1


"Kau harus merekrutnya menjadi pegawai mu".


Prefek Zhong terkekeh senang dan pasrah. "Aku sudah menawarinya namun dia menolaknya karena ingin fokus pada ujian kenegaraan".


"Hahaha. Berarti ambisi dia berada di ibukota". Wang Shichong senang melihat wajah kecewa temannya.


Prefek Zhong hanya menggeleng sembari tersenyum. Mungkin sarjana kompeten seperti Lu Xiang sangat cocok berada di ibukota.


&&&


"Hei Lu Shan. Pelayan ku sudah mencari tas seperti punyamu tapi mereka tidak menemukannya, kau berbohong sewaktu bilang kalau tas itu pemberian kakak ipar mu?". Seorang anak kecil gendut menghentakkan kaki ke tanah dengan kesal. Ia sudah bertanya pada Lu Shan karena Lu Cheng bermuka dingin sehingga ia tidak berani menanyakan dari mana tas itu di dapatkan.


Jawaban Lu Shan bahwa tas itu pemberian dari kakak iparnya, ia berasumsi bahwa itu adalah tas terbaru yang di jual di Fucheng dan menyuruh pelayan untuk membeli dengan warna yang sama seperti Lu Shan namun tidak ia dapatkan.


"Aku bilang kalau kakak ipar ku menghadiahkan tas ini padaku. Aku tidak bilang dia membelinya".


"Jadi kakak ipar mu membuatnya sendiri?" Tanya anak itu tidak menyerah.


"Aku tidak tau Jun Shi".


"Hei. Kau bisa merusaknya! Sini!" Lu Shan menarik tas itu dari temannya dan menyembunyikan dibalik badannya. Ia sangat bangga memamerkan tas ini pada teman sekelasnya karena menyadari tidak ada satupun dari temannya yang mempunyai tas seperti miliknya.


Jun Shi menatap iri dan cemburu pada tas tersebut. "Lu Shan, aku akan membayar mu. Katakan pada kakak ipar mu untuk membuatkan tas yang sama seperti mu".


Lu Shan memutar bola mata jengah. Siapa dia yang berani menyuruhnya untuk melakukan itu?.


"Kak Adel sedang hamil jadi dia tidak boleh lelah. Aku tidak bisa menyuruhnya membuat tas untukmu"


Jun Shi semakin geram dan gelisah, ia kembali menghentakkan kakinya dengan kesal. Baru kali ini barang yang ia inginkan tidak bisa ia dapatkan, perasaan geram, kecewa dan tidak sabar membuatnya sangat tidak nyaman.


"Kalau begitu tanyakan pada kak Adel mu itu apa dia punya tas lainnya? Atau dia bisa menuliskan bagaimana cara membuat tas itu, aku akan menyuruh pelayan ku untuk membuatnya". Jun Shi masih tidak ingin menyerah dan mencoba segala cara agar dapat mendapatkan tas rajutan tersebut.


Lu Shan berpikir sesaat dan menatap ragu pada Jun Shi.

__ADS_1


"Aku bisa membayar mahal tentang ide yang kak Adel mu berikan padaku". Melihat temannya masih ragu, Jun Shi melempar saran lainnya.


Lu Shan segera mengangguk setuju. Murid-murid lainnya segera mendekat tidak takut pada Jun Shi yang selalu mendominasi mereka.


"Bagaimana denganku? Aku juga ingin tas itu Lu Shan!".


"Aku juga".


"Aku juga. Aku bisa membayar mu lebih mahal daripada Jun Shi".


Jun Shi segera mengacak pinggang dan mengangkat wajahnya dengan pongah. "Kau bilang apa?!".


"Hehe, tidak ada" Anak kecil itu segera menggelengkan kepala dengan takut.


Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang bertemperamen pemalu tidak bisa mengatakan bahwa ia juga mau tas tersebut karena melihat Lu Shan yang dikerumuni oleh teman sekelasnya.


Matanya melirik Lu Cheng yang asik membaca dan memberanikan diri untuk bertanya. "Lu Cheng, ak-aku juga bisa memb..." Ucapannya terputus melihat Lu Cheng mengangkat wajahnya dan menatap acuh tak acuh dan dingin padanya. Nyali yang ia kumpulkan menciut seperti balon kempes.


Lu Cheng menghela napas panjang melihat adiknya yang asik memamerkan pemberian Adelia, matanya melirik tas hitam yang menurutnya jauh lebih elegan dan bagus dari tas adiknya, bibirnya pun menyungging sempurna.


Ketika pulang dari akademi, Lu Shan dengan antusias menceritakan perihal yang terjadi di akademi tentang tas rajutan kepada Adelia.


Berita tentang murid baru yang mempunyai tas unik dan sangat menarik menyebar ke kelas lainnya melalui mulut teman-temannya. Sewaktu pulang ada beberapa murid dari kelas lain yang juga bertanya padanya tas tersebut.


"Apa kak Adel bisa menulis bagaimana cara membuat tas ini? Temanku bilang mereka akan membayar mahal". Lu Shan menatap harap pada Adelia namun ia menyadari sesuatu lalu segera menambahkan.


"Tapi jangan seperti tas milikku. Kau harus membuat model lainnya kak".


Adelia berpikir dan tersenyum lebar. Mungkin ia bisa menghasilkan uang sampingan dari tas rajutan ini, ia bisa bekerjasama dengan pebisnis lainnya untuk menjual tas ini.


Adelia dapat membuat tas rajutan tersebut namun tidak dengan resletingnya. Ia dapat mengganti resleting dengan penutup tas yang terbuat dari besi.


"Baiklah. Aku akan membuat tas itu dengan pebisnis lainnya, nanti kau bisa promosikan pada teman-temanmu dimana membelinya".

__ADS_1


"Okeh kak. Kau bisa mengandalkan ku" Lu Shan mengangguk kuat dan menepuk dadanya.


__ADS_2