
"Wine apa ini Lu Xiang? Dari mana kau mendapatkan wine ini?" Suara Chen Xirang dan Zhang Yunlei keluar bersamaan. Ini pertama kalinya mereka merasakan wine berkualitas tinggi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Lu Xiang tersenyum puas akan melihat reaksi temannya. "Ini wine buah, istriku sendiri yang membuatnya". Nada bangga sangat jelas terdengar dari perkataannya.
"Benarkah?" Shao Yunan tidak begitu menyukai wine yang terasa membakar tenggorokannya namun wine ini sangat ringan di kerongkongan walaupun punya aroma yang kuat.
"Ya. Guru Zhao Fan juga menyukai wine buah ini".
"Wow. Wine buahnya sangat enak, ini wine berkualitas tinggi" Li Jin juga ikut berkomentar.
Para istri melihat suami mereka yang kembali meneguk wine juga ikut menyisip lalu terkejut. Wine buah terasa manis dan dengan rasa mellow yang dalam.
"Adelia, bagaimana kau bisa menciptakan wine sebaik ini? apa yang tak bisa kau lakukan?"
"Ya Adelia, aku pernah mencicipi wine berkualitas tinggi tapi sangat sulit untuk ditelan karena kadar alkoholnya yang tinggi".
"Kau sangat jenius Adelia".
Adelia merasa malu akan pujian berlebihan para istri sarjana dan hanya memilih tersenyum untuk menjawab.
Mereka makan hotpot diselingi dengan wine buah sampai pelayan meletakkan makanan penutup yang disukai oleh para istri. Adelia menyediakan makanan penutup berupa pudding coklat, pancake dan kue egg tart, rasa manis sedikit asam dan asin membuat mereka sangat puas mencicipi makanan penutup tersebut.
Namun para sarjana hanya fokus pada wine buah hingga para pelayan harus mengambil wine buah di botol lainnya untuk menuangkan ke dalam gelas wine.
Lu Lian berdandan biasa dibawah pengawasan dan peringatan ibunya, walaupun kecewa namun ia tidak patah semangat dan mencari kesempatan untuk menuangkan wine dalam gelas Lu Xiang maupun sarjana yang belum menikah, ia tidak ingin dinikahkan dengan laki-laki budak oleh ibunya.
Lu Lian menekan perasaan, ekspresi dan tindakan agar orang lain tidak menyadari niat dalam hatinya sembari tetap menunjukkan elegan dan tubuh rampingnya agar Lu Xiang atau sarjana lainnya tertarik padanya. Dibawah pengaruh alkohol, sifat asli laki-laki akan keluar ke permukaan mungkin ia bisa membuat hasil yang baik malam ini.
Namun yang Lu Lian tidak sadari adalah niat dan perbuatannya terlihat jelas di mata Chen Xirang yang sering menghadapi trik yang sering selir ayahnya lakukan. Senyum senang sedikit meredam di bibir laki-laki itu, matanya menjadi tajam namun ia tutupi dengan meminum wine.
"Lu Xiang"
"Hm?"
"Kau harus berhati-hati, sepertinya ada itik yang bermimpi menjadi angsa".
__ADS_1
Awalnya Lu Xiang tidak mengerti apa yang Chen Xirang katakan, matanya mengikuti arah pandangan temannya dan melihat Lu Lian yang sedang menuangkan wine dalam gelas Zhang Yunlei dan tersenyum menawan.
Ah, ia lupa akan gadis itu.
Lu Lian menyadari bahwa ia sedang diperhatikan dan menoleh pada Lu Xiang dan Chen Xirang lalu menunduk malu.
Baik Lu Xiang dan Chen Xirang memalingkan wajah mereka.
"Aku akan membereskannya". Ucap Lu Xiang lalu meneguk cepat wine di gelasnya.
Chen Xirang menepuk pundak Lu Xiang beberapa kali mendukung perkataan temannya, ia begitu membenci selir yang sering membuat ibunya pusing kepala bahkan menangis. Walaupun ia sering pergi ke rumah baimei namun ia sama sekali tidak berkeinginan memiliki selir dalam hidupnya.
Acara makan malam berlangsung sukses dengan para sarjana yang dipapah oleh pelayan mereka karena mabuk berat.
"Kami sangat berterimakasih atas undangan makan malamnya Adelia. Kapan-kapan kita akan berkumpul kembali, aku senang mendapatkan teman seperti mu" Xiao Wen mengambil tangan Adelia dan tersenyum.
"Aku juga senang mendapatkan teman seperti mu. Berkunjung lah ke toko aku akan memberikan voucher khusus untukmu".
"Hehe, baiklah". Xiao Wen melambaikan tangan dan naik ke kereta.
"Tuan, ini sup pereda pengar, minumlah selagi hangat" Suara lembut dan manis Lu Lian membuat Lu Xiang membuka matanya.
"Letakkan sup itu dan pergilah. Aku ingin sendirian".
Senyum Lu Lian menjadi kaku mendengar suara dingin majikannya. "Sup tidak akan enak jika sudah dingin tuan. Apa anda ingin saya menyua..."
"Apa perkataan ku kau anggap bercandaan? Siapa yang memberimu rasa percaya diri untuk membantah perintahku?"
Nada dingin yang membeku serta mata tajam membuat Lu Lian ketakutan namun ini satu-satunya cara agar ia dapat menjalani kehidupan yang lebih baik, ia menggigit bibir bawah dan melangkah maju namun suara Adelia membuatnya mematung.
"Lu Xiang. Apa kau masih pusing?"
Tatapan Lu Xiang melunak, ia tersenyum lembut pada istrinya. "Sudah mendingan sayang. Ayo kita masuk, udara dingin malam tidak baik untuk tubuh mu".
Tidak ada yang peduli pada Lu Lian yang berdiri mematung di samping Lu Xiang. Pasangan itu pergi tanpa menoleh sedikit pun.
__ADS_1
"Sayang. Sebaiknya kita ganti Lu Lian dengan yang lainnya ya?".
"...Ya"
Lu Xiang tersenyum lega, akhirnya istrinya mengganti gadis yang sudah lama ingin ia ganti karena sikap Adelia yang tidak tega berbuat hal yang tidak ingin menyakiti gadis kecil 12 tahun. Konsep dewasa istrinya berbeda dengan dunia ini dan itu menjadi bumerang baginya.
"Sayang, bagaimana kalau kita mandi bersama?" Bisik Lu Xiang yang sangat bau alkohol.
Adelia tertegun lalu teringat bahwa mereka tidak memiliki bak mandi kayu besar yang muat untuk dua orang. Ia pun tersenyum jahil. "Oke, tapi sayang sekali, bak mandinya tidak ada yang kuat untuk berdua".
Mata Lu Xiang berkilat misterius, ia menyuruh pelayan untuk memanaskan air lalu menggendong Adelia namun beberapa langkah Lu Xiang terhuyung karena masih mabuk membuat istrinya tertawa mengejeknya.
Setelah bak mandi terisi air hangat, Lu Xiang menarik tangan istrinya yang tertegun melihat bak mandi besar di kamar mandi untuk masuk ke dalamnya dengan tak lupa melucuti pakaian mereka.
Wajah Adelia merona merasakan kehangatan tubuh Lu Xiang dari belakang punggungnya, terlebih ketika suaminya memeluknya.
"Adelia".
"Hm?"
"Malam ini aku begitu senang".
Adelia terkekeh pelan. "Ini pertama kalinya kau mengundang temanmu ke rumah, tentu saja kau senang".
"Aku juga senang dapat membanggakan istriku di hadapan teman-temanku, besok pasti mereka akan meminta beli wine milikmu". Nada bangga terdengar kental dari suara Lu Xiang.
Adelia juga senang membuat kesan yang baik di mata teman suaminya. "Tapi kita tidak punya stok lebih. Stok wine yang ada hanya cukup untukmu dan paman Zhao saja".
"Hahaha. Aku tau mana dari itu besok aku bisa melihat wajah kecewa mereka".
Adelia memukul lengan yang memeluknya. "Kau sangat jahil". Ia senang melihat suaminya yang sedikit demi sedikit dapat mengekspresikan kepribadian sebenarnya dengan baik pada orang lain. Hal ini membuktikan bahwa Lu Xiang semakin terlepas dari pengalaman buruk masa lalu yang membuatnya menutup diri.
Lu Xiang mengeratkan pelukan lalu mulai mengecup bahu dan pipi istrinya, tidak sah rasanya jika mandi berdua tanpa melakukan ****, tangannya mulai bergerilya tidak sabar.
Hawa air hangat dan rasa panas kulit suaminya sudah membuat wajah Adelia memerah, apalagi setelah tau niat suaminya yang meminta jatah ketika mulai menghujaninya dengan kecupan, ia berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Lu Xiang memberi lampu hijau pada suaminya untuk bertindak lebih jauh.
__ADS_1
Bibir Lu Xiang terangkat naik sembari mencium bibir yang selalu memabukkan untuknya. Hubungan suami istri pun berlangsung di kamar mandi dengan sangat antusias.