
Musim dingin berada pada puncaknya ketika hampir mendekati perayaan tahun baru imlek. Banyak keluarga atau toko yang mengganti lampion merah pertanda perayaan serta lampu lampion lainnya membuat kota Fucheng tampak meriah dan ramai.
Adelia menatap salju yang turun dari balik jendela dalam diam selama beberapa saat sebelum perhatiannya teralihkan oleh Baobao yang terbangun dan mengatakan 'ba ba bu' menunjukkan kehadirannya pada sang ibu yang melamun.
"Baobao, kau sudah bangun sayang~? Anak ibu yang paling tampan". Adelia menggendong anaknya yang telah mengangkat tangan meminta untuk dipeluk.
Keduanya lalu menatap salju bersama, ruangan yang telah di bakar arang terasa hangat dengan ramuan wewangian mint yang segar.
"Baobao, apa ayahmu sudah sampai ke kota Cheng? Karena kita belum bisa melakukan perjalanan jauh, ayah harus pergi sendirian".
"Ba ba".
"Kau juga kecewakan, tapi mau bagaimana lagi, ayah harus kembali ke kota Cheng untuk bertemu dengan teman dan guru Zhao Fan. Kalau tidak, dia tidak akan bisa kembali lagi ke sana".
"Ah ba".
"Baobao, aku merindukan ayahmu. Hehe, walaupun baru sehari tidak bertemu tapi kau juga merindukan ayah kan?".
Suara ketukan pintu membuat Adelia berpaling dan menyuruh masuk.
"Nyonya, makan malamnya sudah siap".
"Baiklah. Baobao kau bersama dengan tante Lu Mei dulu ya, nanti kita akan mengobrol lagi tentang ayah".
Mengurus anak tidaklah mudah apalagi jika ini pengalaman pertama namun bantuan dari pelayan membuat Adelia tidak terlalu sulit dalam merawat dan membesarkan Baobao.
Lu Xiang juga berperan penting karena selalu menjaga anak mereka ketika ia tertidur karena begadang kelelahan, Baobao terbangun beberapa kali dalam satu malam karena lapar atau popoknya penuh.
Pagi ini Lu Xiang pergi ke kota Cheng untuk bertemu dengan Zhao Fan dan Chen Xirang sebelum pergi ke ibukota pada bulan April mendatang yaitu dua bulan kemudian sehingga ia tidak akan sempat mengunjungi gurunya jika tidak memakai waktu sekarang.
Keesokan harinya, Adelia mandi dan bersiap untuk keluar setelah memastikan darah melahirkan sudah tidak keluar lagi. Ia harus mempersiapkan ulang tahun Lu Shan dan tahun baru imlek.
__ADS_1
Ia membuat kue tart besar dengan tulisan selamat ulang tahun Lu Shan lalu membungkus hadiah yang sudah ia persiapkan. Walaupun mereka harus merayakannya tanpa kehadiran Lu Xiang namun perayaan itu tidak boleh terlewatkan.
Lu Shan dan Lu Cheng yang memakai baju musim dingin bermain salju lalu mandi air hangat sebelum menemui Baobao yang ditemani oleh Lu Mei dan Lu Yan.
"Lu Shan, selamat ulang tahun!!" Setelah makan malam, semua orang datang ke ruang keluarga untuk merayakan ulang tahun Lu Shan.
Lu Shan begitu bahagia, meskipun tidak begitu terkejut karena tau persiapan yang Adelia lakukan namun ia tetap bahagia merayakan hari kelahirannya bersama dengan keluarganya.
"Walaupun ulang tahun kali ini Lu Xiang tidak bersama kita tapi kita ada Baobao yang menggantikan!! Ayo ucapkan selamat ulang tahun pada paman Lu Shan".
"Ah uh!"
Semua orang tertawa lucu dan gemas melihat bayi chubby yang sudah menunjukkan ketampanan dan kelebihan lainnya.
"Paman sangat berterimakasih atas ucapan selamat Baobao. Selamat tahun baru Baobao, ini angpao dari paman" Dengan bangga Lu Shan menyerahkan amplop merah yang telah ia persiapkan untuk keponakannya.
"Paman Lu Cheng juga akan memberimu angpao".
Acara ulang tahun Lu Shan akhirnya menjadi Baobao lah yang menjadi protagonis dan sang pemilik acara bukannya sedih namun sama antusiasnya dengan yang lain dalam menggoda Baobao.
Adelia mengakhiri acara tersebut dengan membagi bonus dalam angpao pada kedua adiknya serta pelayan dan juga Baobao lalu mengucapkan selamat tahun baru.
&&&
Lu Xiang yang berada di kota Cheng juga melihat langit yang ditaburi oleh salju, ia menginap di penginapan karena tidak ingin bertemu dengan gadis gila Li Yueyin yang berada di rumah toko De Xiang.
"Aku merindukanmu sayang, Baobao. Kalian pasti sedang bersenang-senang merayakan ulang tahun dan tahun baru bersama".
Merasa gundah, Lu Xiang akhirnya memilih untuk tidur dan menantikan esok hari dengan cepat agar ia juga kembali secepatnya.
Keesokan harinya, Lu Xiang pergi ke rumah gurunya, Zhao Fan yang disambut dengan hangat dan antusias.
__ADS_1
"Lu Xiang, kapan kau sampai ke kota Cheng? Jika kau memberitahu maka aku akan menjemputmu di pelabuhan". Zhao Fan begitu senang melihat murid kebanggaannya setelah hampir setahun tidak melihatnya, ia menyuruh istrinya untuk mempersiapkan jamuan makan yang banyak untuk muridnya.
"Jangan repot-repot guru, aku hanya datang sendiri. Adelia tidak bisa datang karena baru bisa keluar setelah melahirkan".
Zhao Fan melambaikan tangannya tidak mempermasalahkan. "Selamat atas kelahiran anak pertama kalian, di kemudian hari keluargamu akan semakin bertambah besar Lu Xiang".
Zhao Fan tau bahwa muridnya sangat menginginkan keluarga untuk dirinya sendiri.
"Terimakasih guru" Lu Xiang tersenyum bahagia, salah satu cita-citanya telah tercapai sehingga ia ingin melindungi impian itu dengan kekuatannya sendiri.
Zhao Fan lalu menanyakan proses belajar muridnya dan semakin bangga, ia teringat akan sesuatu, menatap muridnya sesaat sebelum mengambil sesuatu dalam kamarnya dan memberikannya pada Lu Xiang.
"Apa ini guru?"
Zhao Fan menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ini jade pemberian teman guru, kau sudah tau bahwa guru punya seorang teman di ibukota bukan? Dia adalah perdana menteri kanan, guru dari putra mahkota".
Lu Xiang tertegun lalu mengerti apa maksud gurunya. "Guru ingin aku masuk ke fraksi putra mahkota?"
Zhao Fan menggeleng cepat. "Tidak, walaupun Shu Taifu adalah guru putra mahkota tapi dia berada pada fraksi netral, tidak mendukung dan menentang fraksi putra mahkota".
Lu Xiang semakin bingung namun ia memilih mendengar penjelasan gurunya. Shu Taifu berasal dari keluarga Shu, keluarga bangsawan literasi yang juga ikut membangun kerajaan Murong dan sudah dari satu keturunan dan keturunan lainnya mereka hanya loyal pada Kaisar saja.
"Kau bisa mengandalkan Shu Taifu untuk melindungi diri di ibukota. Aku akan menulis surat rekomendasi tapi apa kau diterima atau tidak itu terserah padamu, aku tidak bisa ikut campur".
Lu Xiang mengangguk mengerti lalu mulai menceritakan bahwa ia juga mencari informasi dari Jansenxui tentang situasi politik yang ada di ibukota yang membuat Zhao Fan terpana, ternyata muridnya sama sekali tidak naif dan melakukan persiapan yang matang sebelum masuk ke dalam arena, dia bahkan tidak merasa masalah jika Shu Taifu menolaknya.
"Kau memang murid kebanggaanku, kau pintar dalam melakukan dan mempersiapkan sesuatu. Tapi apa kau yakin informasi itu terpercaya?"
"50% guru, aku tidak akan yakin sepenuhnya dan hanya menjadikannya landasan dalam berpikir saja".
Zhao Fan mengangguk setuju, keduanya pun makan siang bersama sebelum Lu Xiang pamit untuk menemui temannya yang telah memiliki istri.
__ADS_1