
Apa yang terjadi pada pertemuan mahkamah hanya menyebar di kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan saja, masyarakat tidak tau bahwa seorang pemuda sarjana Zhuangyuan membuat perdana menteri kiri He Yaojin dan pendukungnya merasa kalah dan harus menyusun rencana baru karena rencana yang mereka susun gagal oleh penjabat baru yang bahkan belum menjabat tersebut.
Keesokan harinya pengumuman tentang hasil ujian istana pun diumumkan. Orang-orang membahas tentang siapa sarjana peringkat satu hingga tiga, terlebih Lu Xiang dan Wang Jiayou yang menduduki peringkat satu dan dua di tiga ujian yang dilaksanakan di ibukota secara berturut-turut.
Ketika tau bahwa keduanya bukan laki-laki bangsawan atau berasal dari kota Shenyang, para mayarakat terkejut dan merasa arah angin politik akan berbalik ke arah yang tidak pasti tidak seperti 8 tahun belakangan ini yang juara ujian di ibukota di kuasai oleh keluarga bangsawan.
"Siapa Lu Xiang dan Wang Jiayou?".
"Katanya kedua hanya berasal dari keluarga biasa".
"Bukan bangsawan?".
"Sepertinya tidak".
"Wah! Akan ada perubahan di ibukota nantinya".
"Sudah! Jangan di bahas lebih lanjut, itu tidak ada urusannya dengan kita yang hanya rakyat biasa".
"Apa maksudmu tidak ada hubungannya? Jelas ini sangat berhubungan dengan kita!!".
Berbagai reaksi muncul dari kalangan masyarakat karena apa yang terjadi di pemerintahan akan berdampak langsung pada mereka yang berada langsung di bawah kekuasaan kerajaan.
Pagi harinya, Lu Xiang tidak menyuruh Lu Cai untuk melihat pengumuman peringkat karena sudah tau hasilnya namun menyuruh laki-laki itu untuk menungu di bagian luar kota Shenyang untuk menunggu Adelia dan yang lainnya yang ia prediksikan akan tiba pada hari ini.
Sedari pagi, ia menjadi cemas dan khawatir karena takut jika terjadi apa-apa di perjalanan istrinya menuju ke ibukota, walaupun ia yakin bahwa tidak ada seorang pun yang memantau istri dan keluarganya di kota Fucheng namun itu tidak menyurutkan kekhawatirannya karena tidak melihat langsung dan yakin bahwa keluarganya akan baik-baik saja. Dalam hati ia beruntung karena menuruti perkataan Adelia yang tidak menjemput keluarganya secara pribadi karena akan berakibat fatal jika musuhnya tau apa yang ia lakukan setelah apa yang terjadi.
Lu Xiang sendiri sudah yakin bahwa ia tidak akan memihak pada pangeran keempat karena tidak ingin menjadi kambing hitam setelah dampak dari usulan yang ia berikan, hal itu jelas menunjukkan bahwa ia fraksi Murong Xianxian adalah lawan.
__ADS_1
Mengingat hal itu, Lu Xiang kembali menghela napas panjang, ia kembali menyesali usulan yang ia tulis di ujian istana dan menyebabkannya mempunyai musuh yang sangat kuat, ia hanya berdoa bahwa perhatian Kaisar padanya cukup tinggi hingga mau melindunginya dari fraksi tersebut.
"Tuan! Tuan besar! rombongan nyonya sudah tiba!!. Tuan besar rombongan nyonya sudah tiba!!".
Lu Cai berlari masuk ke rumah sewa dan berteriak histeris.
"Benarkah?!".
"Ya tuan. Nyonya sedang menuju ke rumah baru yang tuan besar beli sebelumnya". Lu Cai melaporkan dengan sangat semangat.
Ketika melihat rombongan besar itu, ia hampir berteriak senang namun segera menutup mulutnya ketika teringat pesan tuan besarnya bahwa ia tidak boleh membuat keributan dan menjadi mencolok.
"Baiklah, aku akan segera kesana!!".
Lu Xiang berganti pakaian dengan rapi dan melihat penampilannya di cermin perunggu sebelum berlari naik kereta menuju kota bagian dalam untuk menyambut kedatangan istri, anak dan adik-adiknya.
Sepanjang perjalanan, ia sangat tidak sabar untuk segera sampai namun jalanan ramai karena pengumuman yang sudah di tempelkan beberapa jam yang lalu sehingga kereta kuda berjalan pelan.
Tak berapa lama, rombongan kereta kuda yang diiringi oleh penjaga yang mengendarai kuda sehingga orang-orang menjadi penasaran siapa kiranya yang datang ke ibukota dengan rombongan besar tersebut.
"Tuan besar!" Lu Kai dan Lu Tao yang mengendari kereta kuda segera turun memberi hormat lalu membuka pintu kereta dan membantu Lu Cheng dan Lu Shan untuk turun.
Kedua adiknya memandang ke kiri dan kanan, melihat pemandangan ibukota yang dikatakan sangat gemerlap tersebut namun tidak seindah bayangan mereka, hanya pemandangan tembok pemisah satu rumah dengan rumah lainnya dan jalan yang lebih luas daripada kota Fucheng, selain itu tidak ada bedanya.
Keduanya menghela napas kecewa namun kekecewaan mereka lenyap begitu saja ketika melihat Lu Xiang.
"Kak Xiang!!. Aku merindukanmu kak!!". Kedua berlari dan memeluk paha kakak laki-laki mereka yang sangat mereka hormati dan sayangi.
__ADS_1
"Aku juga merindukan kalian. Dimana Adelia?". Kalimat pertama adalah basa-basi, kalimat kedua adalah pertanyaan yang sebenarnya.
"Ada di dalam kereta, Kak Adel mencoba menenangkan Baobao yang baru saja terbangun dari tidur siang".
Lu Xiang mengangguk dan melangkah naik kereta dan melihat seorang wanita yang selama ini berada di mimpinya dan kini berada di hadapannya.
"Sa-sayang".
"Lu Xiang!".
"Uuawaahhh!!!" Baobao yang merasa terganggu menangis keras, tidak peduli akan adegan romantis yang dinantikan oleh orangtuanya.
"Sshh! Baobao tampan dan pintar, tidurlah lagi sayang, tidurlah lagi. Tidak akan ada yang menganggu tidurmu". Adelia lalu melirik pasrah ke arah suaminya.
Bibir Lu Xiang berdenyut speechless, adegan romantis dan dramatis yang ia bayangkan ketika bertemu dengan Adelia hancur begitu saja oleh anak satu-satunya, ia bahkan tidak bisa kesal karena wajah innocent yang imut serta menggemaskan anak laki-lakinya yang sedang tertidur, bulu mata panjang yang seperti kipas menutupi mata bagian bawah serta bibir yang sedikit manyun karena dalam masa menyusu yang sesekali bergerak seakan sedang meminum asi membuat daya imut sang anak meningkat beberapa tingkat.
Lu Xiang akhirnya hanya dapat tersenyum lembut lalu bergerak hati-hati mendekati Adelia dan memeluk sebelah tangan wanita itu kemudian mengecup kening, pipi dan bibir dan baru melepaskannya ketika Baobao kembali merasa terganggu dan siap-siap ingin menangis.
"Aku sangat merindukanmu sayang".
"Aku juga sangat merindukanmu Lu Xiang".
Keduanya menatap lama satu sama lain mencoba memperdalam ingatan mereka akan wajah satu sama lain yang tidak mereka lihat selama hampir satu bulan tersebut.
Informasi tentang istri Lu Xiang yang sampai ke ibukota menyebar ke telinga orang-orang yang sedang memantau pemuda tersebut, banyak yang tidak menyangka bahwa Lu Xiang tidak menjemput sendiri keluarganya sehingga beberapa pihak yang ingin memanfaatkan kegiatan pulang kampung Lu Xiang dalam menikmati masa cuti sebelum memulai menempati jabatannya tidak dapat di realisasikan dan sadar bahwa Lu Xiang lebih lihai dan licik dari apa yang mereka kira.
"Sangat menarik. Aku menginginkan laki-laki itu untuk menjadi penasehat ku!". Murong Xianting yang juga mulai melirik Lu Xiang segera mendapatkan kabar mengenai kedatangan istri laki-laki itu ke ibukota.
__ADS_1
"Tapi pangeran...akan sulit menariknya ke fraksi kita karena Kaisar juga ingin menggunakan laki-laki itu".
"Heh~ Itu bukan masalah serius. Kalian tau bukan kalau Kaisar sangat menyukaiku dan ibuku. Aku yakin pasti Kaisar akan setuju jika aku memintanya". Murong Xianting menjawab penuh percaya diri, kasih sayang Kaisar pada ibu dan dirinya selama hampir 8 tahun terakhir membuatnya lupa bahwa berdiri di samping Kaisar sama seperti berdiri di samping singa, siapapun tidak akan tau kapan taring itu akan mengarah kemana.