
Sebelum suaminya berangkat ke kota Fucheng, Adelia memutuskan untuk bertamasya dengan Lu Xiang dan adik-adiknya. Banyak kejadian terjadi pada keluarga mereka membuat hati menjadi jenuh dan ingin suasana baru.
Lu Xiang menyewa vila kecil di kota Shuzhou yang tidak berada jauh dari kota Cheng. Kota Shuzhou adalah kota kecil yang berada di pinggiran pantai yang tak jauh dari pelabuhan antar provinsi.
Karena pasirnya yang putih dan pemandangan laut biru banyak orang yang bertamasya menghabiskan waktu libur mereka bersama kekasih atau saudara.
Vila-vila kecil yang berada di sana milik keluarga Lan yang berasal dari ibukota yang khusus mendirikan bisnis dalam bidang perhotelan. Lu Xiang meminta izin libur 2 hari pada Zhao Fan dengan menyuapnya dengan dua kendi sedang wine buah stok miliknya.
Lu Cheng dan Lu Shan juga sangat senang mendengar bahwa mereka akan berpiknik dan segera menyiapkan pakaian dan mainan dan makanan ringan untuk dibawa ke kota Shinkai.
Adelia dan Lu Xiang sepakat untuk tidak membawa pelayan dalam perjalanan mereka dan hanya membawa Lu Cai yang mengendarai kereta. Mereka ingin menikmati kebersamaan keluarga seperti sebelum pindah ke kota Cheng.
"Ayo Lu Cheng, kita akan telat jika kau tidak bangun lebih awal". Lu Shan yang sangat enerjik dan antusias membangunkan Lu Cheng pagi buta.
"Tsk, jangan menggangguku, aku masih mengantuk". Ucap Lu Cheng kesal, adiknya sangat antusias hingga membuatnya begadang hingga tengah malam.
"Ayolah kak. Kau tidak ingin ditinggal kan? Kau harus bangun dan bersiap". Lu Shan menarik tangan Lu Cheng, tidak memperdulikan wajah menghitam kakaknya yang sangat kesal.
"Demi Tuhan Lu Shan, ini masih sangat pagi. Kita pergi jam 10 pagi!!" Lu Cheng berteriak marah dan kembali menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Lu Shan memanyunkan bibirnya lalu mendengus gusar dan keluar kamar. Ia melihat para pelayan yang sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan lalu melangkah ke kamar kakaknya berdiri di depan pintu, ragu ingin mengetuk pintu, Lu Shan akhirnya memutuskan untuk pergi mengayuh sepeda sekedar menghabiskan waktu.
Pada jam sarapan, Lu Xiang dan Adelia serta Lu Cheng bangun dan mulai sarapan.
"Kakak, kita akan pergi berapa lama?"
"2 hari".
"Kita akan tinggal dimana kak?"
"Kak Lu Xiang menyewa vila yang tidak jauh dari pantai".
"Wow!! Pantai, aku belum pernah ke pantai sebelumnya".
Adelia tertawa lucu mendengar celotehan adiknya. "Aku juga belum pernah, kau ingin berbuat apa di sana nanti Lu Shan?"
Lu Shan berpikir, ia tidak pernah lihat laut sebelumnya, untuk mandi bukan menjadi opsi karena cuaca yang masih dingin. "Hm? Hanya melihat laut saja?'
Adelia tertegun. "Hanya itu saja?".
__ADS_1
Lu Shan mengangguk.
"Di sana kita bisa bermain pasir, membangun kastil pasir, makan barbeque seafood dan kita akan beli pernak-pernik buatan tangan di sana".
"Uwaahh sangat banyak yang dapat kita lakukan!, ayo kak kita pergi".
Adelia tersenyum dan mengelus gemas adiknya, ia melihat Lu Xiang yang juga tersenyum dan itu membuatnya tertawa bahagia.
Selesai sarapan, keluarga Lu Xiang memeriksa kembali barang yang mereka bawa sebelum menyimpannya di kereta kuda. Adelia tidak perlu membawa banyak barang karena sebagiannya sudah ia simpan di space teratai.
Satu jam kemudian, keluarga Lu Xiang berangkat. Pohon-pohon di jalanan mulai membuahkan putik bunga yang tidak lama lagi akan bersemi dan mekar, perjalanan dua jam itu sama sekali tidak membuat keluarga Lu Xiang menjadi bosan, mereka melihat jalan yang mereka lewati, rumah penduduk atau stan-stan kecil di pinggir jalan.
Lu Shan dan Lu Cheng sangat antusias, mereka selalu fokus ke jendela kereta dan mengingat pengalaman baru mereka namun bagi Adelia yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh melalui kereta sangatlah berat.
Wajah Adelia menjadi pucat, perutnya terasa mual karena guncangan kereta, ia pun menyandarkan tubuhnya kepada Lu Xiang membuat suaminya menjadi khawatir.
"Kau yakin tidak apa-apa Adel?".
Adelia menggeleng lemah. "Aku hanya tidak terbiasa, nanti juga mendingan. Jangan khawatir suamiku".
Lu Xiang merengkuh tubuh istrinya dan menghela napas cemas. Adelia mencari obat untuk mengatasi mual perjalanan dan menemukan permen jahe di space teratai, ia tidak ingat kapan ia beli permen tersebut.
Adelia mengisap permen jahe dan merasa lebih baik. Ia pun memberikannya pada suaminya dan tersenyum. "Ini permen jahe, aku merasa lebih baik setelah memakannya". Lu Xiang menerima permen itu dengan senang.
Lu Xiang menggendong Adelia turun dari kereta yang berhenti tepat di vila yang ia sewa. Lu Cheng dan Lu Shan takjub melihat vila yang mempunyai pekarangan bunga dan ayunan, walaupun bunganya belum mekar namun itu adalah pengalaman yang baru untuk mereka.
Adelia melihat rumah sedang yang terbuat dari batu tanah biru yang menghadap ke arah laut, tidak semewah yang ia bayangkan. Rumah sedang itu mempunyai tiga kamar, ruang tengah dan ruang serta dapur layaknya rumah biasa.
Mereka membenahi barang-barang lalu mulai berjalan di tepi pantai yang tidak terlalu banyak orang karena cuaca yang masih dingin.
Lu Shan berlari dengan senang, ia melihat ombak yang bergulung serta pasir putih bersih yang sangat nyaman di mata.
"Ayo Lu Cheng. Kita bertanding lari, siapa yang berlari lebih cepat akan mendapat hadiah".
Lu Cheng memutar bola mata dengan jengah. "Hadiahnya siapa yang memberikan?".
"Tentu saja kak Adelia". Jawab Lu Shan innocent.
Lu Xiang dan Adelia tertawa akan kenaifan adik mereka namun Adelia tetap setuju. "Baiklah, siapa yang lebih cepat kembali akan dapat hadiah, kalian lihat pohon yang ada yang di sana? Berlari lah sampai pohon itu dan kembali. Kalau kalian sampai terjatuh maka kak Xiang akan memberi hukuman untuk kalian jadi kalian harus hati-hati ya".
__ADS_1
"Baik kak".
Lu Shan dan Lu Cheng mengambil posisi lalu berlari kencang sambil tertawa setelah melihat aba-aba dari Adelia.
"Lu Cheng, kau berlari sangat kencang, aku tidak bisa mengejar mu". Lu Shan mengeluh gusar karena kakaknya ia tidak bisa mendapatkan hadiah.
"Heh! Salahkan kakimu yang pendek". Li Cheng tersenyum puas melihat adiknya kesal.
Lu Shan memanyunkan bibir lalu menatap harap pada Adelia. "Kak Adel, apa aku akan mendapatkan hadiah juara 2?".
Adelia tertawa lucu sedangkan Lu Xiang menjadi speechless namun Adelia tetap mengangguk. "Ya. Kau akan dapat hadiah juara 2".
Puas bermain di tepi pantai, kelurga Lu Xiang pulang untuk makan siang. Adelia membuat sup hangat tahu dan hainan jihan yang berupa nasi di tutupi oleh potongan daging ayam, makan siang sederhana itu menjadi kehangatan tersendiri bagi mereka.
Sore keluarga Lu Xiang bermain pasir, Adelia membawa dua buah ember bambu dan sekop kecil lalu mencontohkan Lu Shan dan Lu Cheng bagaimana membangun istana pasir dengan cantik.
"Ini sangat indah kak". Lu Shan menatap takjub pada istana pasir yang Adelia buat, begitu juga dengan Lu Xiang dan Lu Cheng, mereka belum pernah melihat bangunan bertingkat seperti itu sebelumnya.
"Ini adalah istana tempat para raja dan ratu tinggal. Ayo aku akan membantu kalian untuk membangun yang lebih besar".
Lu Cheng dan Lu Shan mengangguk antusias, walaupun mereka memakai sarung tangan namun itu tidak berpengaruh dalam kegiatan mereka membangun kastil.
Lu Xiang juga tertarik dan ikut membantu, mereka menghabiskan waktu dua jam sebelum akhirnya kastil besar satu setengah meter luasnya berhasil di bangun. Adelia melengkapinya dengan menancapkan sumpit kayu yang ia ikat kain kecil layaknya bendera, angin laut yang menghembus membuat kain merah itu melambai-lambai, terlihat begitu cantik.
Orang-orang yang juga berada di pantai menatap kagum pada bangunan asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, walaupun hanya berbuat dari pasir namun gaya bangunan dan garis-garis di ember bambu menambah nilai artistik tersendiri membuat kastil sederhana itu menjadi megah penuh sejarah. Keluarga yang memiliki anak juga ikut membantu anak mereka membuat kastil yang sama namun tidak serapi yang keluarga Adelia perbuat.
Lu Xiang memeluk pinggang Adelia dan memandang hasil kerja keras mereka dengan sangat puas.
"Kakak, ini istana kita kan?" Lu Shan menatap tidak percaya.
"Apakah istana di Shenyang seperti ini?". Timpa Lu Cheng.
Adelia tidak dapat menjawab dan melihat Lu Xiang. Suaminya hanya tertawa pasrah dan mengangguk. "Kurang lebih seperti itu".
"Woah! Istananya pasti sangat besar dan megah". Lu Shan memegang pipinya, ekspresi kagum dan takjub terlihat jelas di wajah mungilnya, Lu Cheng juga mengangguk setuju.
"Nanti jika aku lulus ujian dan bisa pergi ke Shenyang maka kau bisa melihat gerbang istana".
"Benarkah?!" Ucap Lu Cheng dan Lu Shan bersamaan.
__ADS_1
Lu Xiang mengangguk. Ya, jika ia lulus namun persentasenya ia dapat pergi ke ibukota dinasti Murong cukup membuatnya percaya diri.
Keluarga Lu Xiang masih betah berada di pantai, menikmati angin pantai yang semilir atau panorama senja yang sangat indah membuat dunia seakan masuk ke alam emas yang berkilauan di atas air laut.