Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Pergerakan fraksi Murong Xianting


__ADS_3

"Bagaimana hari pertama masuk kerja Lu Xiang? Apa banyak orang yang tidak suka kepadamu?". Adelia melihat suaminya yang telat pulang di hari pertamanya kerja dan itu membuatnya menjadi khawatir jika suaminya di bully di tempat kerja. 


"Tidak baik dan tidak buruk juga. Ada beberapa yang menghindariku karena masalah dengan pangeran ketiga dan ada juga yang bersikap biasa saja. Tapi sepertinya kepala divisi Yang tidak begitu ramah padaku". Lu Xiang menghela napas lega. Pemeriksaan berkas yang begitu banyak membuatnya harus lembur di hari pertamanya kerja.


"Kenapa? Apa dia memarahimu?".


Lu Xiang menggelengkan kepala lalu menceritakan pengalaman pertama masuk kerja di pemerintahan. Ia berpikir bahwa karena kemungkinan kepala divisi Yang adalah orang yang mendukung pangeran ketiga atau pangeran keempat sehingga ingin menekannya di hari pertamanya kerja sebagai peringatan atau pembelajaran jika menolak tawaran orang yang tidak bisa di tolak.


Adelia diam sesaat lalu memeluk Lu Xiang mencoba menghibur sekaligus memberi semangat, ini lebih baik daripada mendukung pangeran yang tidak menghargai bawahannya walaupun sudah berkontribusi besar, ini terbukti dari cara pandang Murong Xianting yang angkuh dan menghukum orang yang tidak sejalan dengannya.


Lu Xiang tersenyum senang melihat istrinya mengkhawatirkan, ia sebenarnya tidak frustasi akan apa yang terjadi padanya karena ia tau itu hanyalah sementara, jika ia terus berkontribusi kepada kerajaan maka posisinya saat ini pasti akan berubah dan berbalik namun demikian ia menerima dengan senang pelukan Adelia.


"Dimana Baobao?".


Bibir Adelia seketika menyungging keatas mendengar nama anaknya. "Dia sedang bermain dengan Lu Cheng dan Lu Shan, dia sekarang sudah bisa merangkak Lu Xiang".


"Benarkah?!". Mata Lu Xiang membesar, ia menyayangkan melewatkan momen pertama anaknya.


Adelia mengangguk bangga.


Lu Xiang segera mendatangi rumah kediaman kedua adiknya dan mendengar suara tertawa dan celotehan Lu Shan.


"Baobao, ayo ke sini". Lu Shan merentangkan tangannya sembari memberi semangat dan dukungan kepada keponakannya.


Baobao yang kini sudah berusia 7 bulan lebih sudah mulai belajar merangkak, ia menatap fokus ke arah Lu Shan sembari menggerakkan tangan dan kakinya.


"Lihat Lu Cheng!! Baobao mendengarkanku!". Lu Shan begitu bahagia ketika memeluk Baobao yang berhasil merangkak ke arahnya.


Lu Cheng yang lebih dewasa tidak bisa memberi semangat dengan mimik wajah kekanakan seperti adiknya namun ia juga ingin Baobao merangkak padanya.


"Baobao datang kepada paman Cheng, paman akan memberimu susu yang manis". Ia sedikit membuka kedua tangannya, ia melihat keponakannya dengan tatapan penuh harap.


"Che.." 


!!!


Gumaman Baobao membuat Lu Cheng dan Lu Shan terbelalak tidak percaya, keduanya menatap satu sama lain. "Apa Baobao memanggilmu Lu Cheng?".

__ADS_1


"Sepertinya iya. Baobao, coba panggil lagi. Aku paman Cheng".


"Che..."


"Hahaha. Baobao memanggil namaku!!. Dia memanggil namaku". Lu Cheng melupakan sikap dewasanya dan tertawa lepas penuh gembira.


Lu Shan menatap Baobao serius lalu mendatangi keponakannya. "Baobao. Panggil aku juga, aku paman Shan. Coba katakan Shan!".


"Ca.."


"Bukan Ca tapi Shan".


"Ca.."


"Bukan Ca Baobao, tapi Shan, shaann~".


 "Sa..?".


"Ya!! Shan! Aku paman Shan, coba panggil lagi?"


"Sa!".


"Baobao anak yang pintar. Paman sangat bangga kepadamu, coba panggil sekali lagi? Panggil paman Shan".


"Baba!!" Fokus Baobao seketika teralihkan melihat Lu Xiang, ia mengangkat kedua tangan yang mungil dan berisi ke arah ayahnya mengindakasi dengan jelas bahwa ia ingin di peluk.


"Oh, anak ayah sudah bisa merangkak. Kau sangat hebat Baobao".


Baobao terkekeh senang, walaupun ia tidak mengerti apa yang dikatakan ayahnya namun ia tau bahwa ayahnya sedang memujinya.


Lu Xiang menghujani anaknya dengan kecupan di kening, pipi dan hidung membuat Baobao semakin gembira, ia lalu meletakkan anaknya di lantai dan mundur beberapa langkah sebelum merentangkan tangannya.


"Ayo perlihatkan pada ayah prestasimu hari ini".


Baobao mulai merangkak dengan cepat sambil tersenyum senang sebelum tertawa di pelukan Lu Xiang. Adelia yang melihat dari belakang ikut tersenyum melihat keharmonisan keluarganya, senyumnya sedikit menghilang mengingat bahwa masalah penolakan tawaran pangeran ketiga akan membuat kehidupan karir suaminya tidak berjalan baik. Ia berharap terjadi sesuatu di fraksi pangeran ketiga dan bawahannya sehingga laki-laki itu tidak punya waktu untuk mengurusi urusan suaminya.


Meskipun terdengar egois namun ia tetap berharap demikian demi ketenangan suaminya, itulah yang bisa ia lakukan selain menghibur dan memberi semangat kepada Lu Xiang, ia tau persis sebagai wanita ia tidak bisa melakukan apapun karena cara kerja dunia yang tidak berpihak pada perempuan.

__ADS_1


&&&


Hari-hari Lu Xiang dilewatkan dengan sibuk, tidak hanya di hari pertama dia diberikan tugas yang sangat menyita waktu namun di hari berikutnya dan berikutnya kepala divisi Yang terus menjejalinya dengan berbagai tugas.


Lu Xiang akhirnya memutuskan untuk menurunkan tingkat efektivitas kerjanya dengan dalih tidak begitu mengerti dengan berkas yang ia tangani dan masih tahap belajar sehingga ia tidak ingin 'gegabah' dalam menyelesaikannya.


Alasan itu berhasil membungkam kepala divisi Yang, walaupun kesal dan tidak setuju namun ia tidak bisa mengatakan apapun karena efektivitas kerja Lu Xiang memang lebih baik dan cepat daripada bawahannya yang lain.


"Lu Xiang, kau sudah bergabung bersama kami hampir 2 minggu. Kenapa kau belum mengundang kami minum-minum? Apa kau tidak ingin bersosialisasi dengan kami yang memiliki jabatan kelas lebih rendah darimu?". Seorang laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari Lu Xiang namun penampilan janggutnya yang tebal dan panjang membuatnya terlihat hampir 40 tahunan berusaha memprovokasi Lu Xiang.


Nama laki-laki itu adalah Su Shangwei, ia bawahan yang berada dalam kelompok kepala divisi Yang sehingga sering kali berceloteh dengan maksud menghina Lu Xiang namun reaksi tenang laki-laki itu malah membuatnya terlihat tidak terpelajar dan itu membuatnya semakin tidak menyukai Jinshi keluarga petani yang tiba-tiba berada kelas satu tingkat lebih tinggi darinya.


Mata kolega lainnya bersinar dan menatap Lu Xiang, menunggu jawaban dari laki-laki itu. Lu Xiang hanya tersenyum santai lalu meletakkan kertas tugasnya hari ini ke atas meja, memperlihatkan bahwa masih memiliki pekerjaan.


"Aku sebenarnya ingin mentraktir kalian minum wine tapi kalian tau sendiri, pekerjaanku hari ini tidak bisa membuatku cepat pulang, maaf kolega Su".


Senyum Su Shangwei membeku sesaat, ia tidak bisa membantah perkataan Lu Xiang karena akan menyinggung atasannya namun ia juga tidak ingin kalah dengan laki-laki itu, ia akhirnya mendengus sinis dan mengatakan bahwa itu hanya alasan Lu Xiang saja lalu mengibas lengan baju seragamnya dan pergi.


"Maaf tidak bisa mentraktir kalian. Kalau kalian ingin minum tanpa ku akan akan membayar minumannya. Setelah aku memiliki waktu aku pasti akan mengajak kalian minum. Bagaimana?".


Beberapa Jinshi menatap satu sama lain lalu mengangguk setuju, setelah itu sikap mereka menjadi lebih ramah dan mau mengajak bicara Lu Xiang akan apa yang terjadi di divisi lainnya atau yang terjadi di ibukota.


Di sisi lain, Murong Xianming memutar gelas wine menikmati rasa unik di lidahnya.


"Apa adik ketigaku melakukan pergerakan?".


Laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dan menutup setengah wajahnya muncul tiba-tiba, dia adalah Jun, prajurit bayangan nomor pertama yang selalu melindungi putra mahkota.


"Seperti yang anda prediksikan pangeran. Pangeran ketiga mengirim surat kepada kakeknya, isi suratnya adalah memerintahkan agar rencana penyerangan istana dimajukan".


"Heh~, seperti yang diharapkan oleh adikku, bagaimana dengan persiapan kita?".


"Semua persiapan sudah dilakukan dengan matang pangeran".


Murong Xianming menuangkan wine kembali ke gelasnya lalu meminumnya namun gerakannya terhenti ketika mengingat sesuatu. "Beberapa hari lagi adalah ulang tahun Ibu Suri, pastikan bahwa tidak ada masalah sedikit pun dengan acara yang akan berlangsung nanti".


"Baik pangeran!".

__ADS_1


Kaisar memerintahkan kepada menteri dan pejabat kelas 5 ke atas untuk menghadiri acara ulang tahun Ibu Suri yang ke 72 tahun dan setelah perintah itu disebar banyak reaksi dari para pejabat maupun masyarakat setempat.


Acara besar seperti ulang tahun biasanya akan dimanfaatkan oleh keluarga aristrokat maupun cendikiawan yang dapat hadir sebagai ajang perjodohan untuk anak perempuan mereka baik itu untuk Kaisar, pangeran maupun laki-laki dari kalangan bangsawan kelas atas yang belum menikah melalui lomba unjuk keterampilan yang harus di miliki oleh perempuan bangsawan seperti kaligrafi, sulaman, musik dan lukisan sehingga pesta ulang tahun Ibu Suri sangat dinantikan oleh para gadis yang dapat hadir di pesta tersebut.


__ADS_2