
"Mulai sekarang kalian bekerja pada keluarga ini. Kalian harus patuh apa yang kami perintahkan serta tetap loyal, hal yang paling aku tidak suka adalah pengkhianatan dan kalian tau konsekuensinya jika kalian berbuat itu kan?" Lu Xiang duduk menikmati teh dan berkata pelan namun sangat mengintimidasi.
"Kami tau dan mengerti tuan Lu" Semua keluarga berlutut di hadapan Lu Xiang dan Adelia.
"Aku akan memberikan nama baru pada kalian. Mulai yang tua, namamu Lu Cai, Lu Fang, Lu Lian dan Lu Feng, kalian boleh berdiri".
"Lu Tao".
"Saya tuan". Seorang pria 40 tahunan maju ketika dipanggil, ia adalah penjaga gerbang dan rumah.
"Tugasmu memberitahu apa tugas mereka dan apa saja peraturan di rumah ini".
"Baik tuan".
Lu Xiang menatap Adelia yang hanya diam saja, walaupun wajahnya terlihat baik-baik saja namun ia tau bahwa gadis itu belum terbiasa dengan kehidupan kelam dunia ini.
"Kemari lah Adelia". Lu Xiang mengulurkan tangannya.
Adelia menoleh dan menatap bingung namun tetap menurut. Ia terkejut ketika tangannya ditarik dan jatuh di pangkuan suaminya, wajahnya yang sedikit pucat merona kembali.
"Kau...".
"Terbiasa lah Adelia. Aku tau kau gadis kuat, kau hanya butuh waktu saja".
Kata-kata Lu Xiang seperti angin sejuk yang memadamkan api gelisah yang ada dalam hatinya, Adelia tersenyum dan memeluk suaminya tanpa kata. Keduanya berpelukan dalam waktu yang lama hingga Lu Xiang melepaskan pelukan.
"Aku lupa bilang kalau hari ini aku akan pergi ke kota Qincheng".
"Untuk apa?"
Lu Xiang tersenyum. "Kemarin aku dapat surat dari manajer Sui bahwa pil hawtorn sudah habis dan mereka bermaksud untuk membeli resepnya".
Mata Adelia bersinar cerah. "Benarkah?!".
Lu Xiang menyungging senyum lega lalu mengangguk. "Mereka pasti akan membelinya dengan harga tinggi".
"Hehe, jika resepnya terjual dengan harga tinggi maka kita akan mendapatkan uang yang banyak. Untuk apa sebaiknya aku gunakan uang ini ya? Hm, baju baru? Lu Shan dan Lu Cheng membutuhkan baju musim dingin dan jaket berbulu".
"Kau juga butuh baju baru, baju musim dingin dan musim semi untuk ikut ujian dan ah! Lu Xiang bagaimana menurut mu jika Lu Cheng juga ikut sekolah?". Adelia bertanya antusias.
Usia lima tahun sudah pantas untuk bersekolah, mereka menyelesaikan tiga tahun belajar sebelum mengikuti ujian anak atau dasar.
__ADS_1
Lu Xiang mengangguk setuju. "Tapi apa kau sudah mendiskusikannya dengan Lu Cheng?".
Senyum antusias Adelia menghilang. "Apa Lu Cheng tidak ingin belajar?"
"Aku tidak tau, aku belum pernah menanyakan tentang belajar padanya dan dia juga tidak mengatakan apapun tentang itu". Karena keduanya sama-sama pendiam dan tertutup sehingga jarang ia dan adiknya membicarakan sesuatu apalagi tentang hal yang akan menghabiskan uang seperti belajar.
"Kalau begitu aku harus bertanya pada Lu Cheng". Adelia ingin berdiri namun sepasang tangan kekar kembali memeluk pinggangnya.
"Hei~ mengapa kau cepat pergi? Apa ini yang disebut habis manis sepah dibuang?".
Adelia tertawa lucu melihat raut wajah kesal Lu Xiang. "Kau seperti anak kecil Lu Xiang, apa kau cemburu pada Lu Cheng".
"Tidak, aku hanya lega karena kau tidak lagi canggung denganku, kau tau? Masalah tadi malam" Bisik Lu Xiang ditelinga istrinya.
Adelia tertegun dan wajahnya kembali merona karena mengingat kejadian tadi malam terlebih karena ia menjadi basah oleh pikiran kotornya sendiri.
"Aku tidak tau apa yang kau katakan".
"Hm~. Kau benar-benar tidak tau? Apa aku harus menjabarkan lagi kejadiannya? Darimana aku harus memu.."
"Lu Xiang!" Bentak Adelia kesal namun tidak meyakinkan karena wajahnya yang memerah.
"Apa itu?".
Lu Xiang menunjukkan pipinya sembari tersenyum seksi.
Wajah semakin memerah, Adelia menghirup napas dalam lalu mengecup pipi suaminya dengan cepat lalu melepaskan diri ketika Lu Xiang lengah.
"Aku kira suamiku minta di cium di bibi tapi ternyata hanya di pipi, sayang sekali~". Adelia menjulurkan lidahnya lalu berlari dan tertawa.
"Dasar gadis nakal, awas saja nanti malam. Akan ku buat kau menangis" Lu Xiang memegang dan mengelus pipinya seakan masih merasakan rasa hangat bibir gadis yang ia cintai lalu tertawa senang.
&&&
"Lu Cheng. Apa kau ingin belajar seperti kakakmu?" Selesai makan siang, Adelia memegang tangan Lu Cheng dan bertanya lembut namun antusias.
"Tidak".
Senyum Adelia runtuh seketika. "Kenapa? Apa kau tidak ingin seperti kakakmu menjadi pelajar?".
Lu Cheng diam sesaat, tangan yang tidak Adelia pegang meremas celananya lalu kembali menggelengkan kepala membuat Adelia semakin bingung.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak ingin belajar? Bisakah kau jelaskan padaku?" Adelia berusaha berkata lembut agar Lu Cheng tidak merasa tertekan.
Lu Cheng mengangkat wajahnya. "Aku ingin membantu kak Adel untuk berjualan kue, lagipula aku tidak seharusnya memakai uangmu".
Adelia tertegun dan terharu. "Apa yang kau katakan, uangku adalah uangmu juga. Kita ini adalah keluarga".
Lu Cheng menggeleng. "Aku ingin belajar ketika aku punya uang sendiri".
Adelia pusing harus menjelaskannya bagaimana agar adiknya mau belajar. "Tapi kau harus punya ilmu jika ingin mendapatkan penghasilan sendiri. Contohnya seperti berhitung, ketika kau membantuku di toko kue maka hal dasar yang harus kau punya adalah kemampuan berhitung karena tugas melayani sudah ada pelayan yang mengerjakannya".
Lu Cheng tertegun dan menyadari betapa pentingnya belajar. Adelia pun tersenyum melihat reaksi adiknya. "Jadi kau harus sekolah dan belajar untuk mendapatkan ilmu".
"Tapi aku tidak suka sekolah dan bertemu dengan banyak orang". Banyaknya teman sebaya yang menghina dan mengejeknya membuat Lu Cheng berkepribadian introvert dan tertutup.
Adelia mengernyit namun tidak dapat menemukan solusi yang tepat ia pun menatap suaminya yang sedari tadi memperhatikan.
"Aku akan membayar guru untuk datang ke rumah. Kau dan Lu Shan dapat belajar di rumah".
Mata Adelia bersinar. "Ya. Kita bisa menyewa pelajar untuk mengajarimu cara membaca dan menulis".
Lu Cheng mengangguk lega sedangkan Lu Shan yang asik dengan makan ringan tertegun karena ikut terkena getah walaupun hanya diam saja, ia sama sekali tidak ingin belajar namun tidak berani mengutarakan pendapatnya ketika melihat tatapan Lu Xiang dan menunduk lesu, makanan ringan pun tidak lagi terasa enak di matanya.
Selesai berdiskusi, Lu Xiang segera memanggil Lu Cai untuk pergi ke kota Qincheng, semakin cepat ia pergi semakin cepat pula pulang, ia tidak ingin menghabiskan malam di kota Qincheng.
"Hati-hati di jalan".
Lu Xiang mengangguk lalu menarik tangan Adelia dan mengecup dahi istrinya. "Aku pergi".
Adelia mengangguk dan melambaikan tangannya dengan wajah merona.
"Kak, wajahmu mengapa memerah? Apa kau kepanasan?" Tanya Lu Shan dengan wajah polos.
"Anak kecil tidak boleh tau". Lu Cheng menarik tangan adiknya untuk masuk ke rumah.
Kau juga anak kecil, batin Adelia speechless.
"Nyonya! Nyonya. Sesuatu terjadi di toko kue, sesuatu terjadi di toko kue nyonya. Ada yang komplain bahwa kue kita ada kecoa di dalamnya!!".
Lu Niang berlari tergopoh-gopoh dan berteriak panik.
Senyum Adelia menghilang dan menatap dingin, hal pertama yang ia pikirkan adalah keluarga Miao!.
__ADS_1