Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Pulang dan memeluk Adelia


__ADS_3

Keesokan harinya Lu Xiang bergegas pulang bersama dengan pelajar lainnya yang dibawah kepemimpinan Zhao Fan untuk mengabari keluarga mereka masing-masing.


Dua hari lagi petugas yamen walikota akan pergi ke berbagai kota kecil untuk menempelkan peringkat ujian serta mendatangi pelajar yang lulus ujian dengan peringkat tiga besar ke rumah mereka. Itu akan menjadi satu kebanggaan khusus untuk pelajar itu sendiri.


Semua keluarga menantikan kepulangan anak atau suami kebanggaan mereka untuk memberitahu apakah mereka lulus ujian atau tidak.


Sore harinya, Lu Xiang tiba di depan rumah yang sudah ditunggu oleh Adelia dan adik-adiknya.


"Kak Lu Xiang!" Lu Shan berteriak senang, berlari dan ingin memeluk kaki kakaknya, ini pertama kalinya kakaknya pergi begitu lama hingga membuatnya sangat rindu.


Namun Lu Xiang yang hanya fokus pada Adelia melewati adiknya yang mengangkat tangan dan tidak menyadari Lu Shan yang mematung dengan dua tangan yang siap untuk memeluk. Lu Cheng mendekati adiknya dan menepuk pundak penuh simpati. Sekarang nomor satu di hati kakak mereka adalah Adelia sama halnya seperti mereka.


Lu Xiang memeluk Adelia dan mengangkatnya tinggi lalu memutarnya dengan gembira membuat Adelia bingung namun ikut senang akan kepulangan suaminya.


"Aku merindukan mu Adelia" Lu Xiang berbisik halus dan menghujani kecupan pada istrinya tidak peduli bahwa ia sedang diluar rumah.


"Aku juga merindukanmu".


Keduanya berpelukan beberapa saat lamanya hingga Lu Cheng berdeham untuk mengingatkan bahwa mereka juga eksis di sana.


Adelia melepaskan pelukan dengan wajah malu. Kerinduan yang dalam membuatnya lupa akan keadaan sekitar.


Lu Shan yang diabaikan memeluk kaki kakaknya dengan senang. "Kak Lu Xiang, aku juga merindukan mu"


Lu Xiang tertawa dan mengangkat adiknya. "Kakak juga merindukanmu dan Lu Cheng".


"Ayo masuk. Beristirahat lah dulu, aku akan membuatkan masakan kesukaanmu".


"Adel. Coba tebak aku peringkat berapa dalam ujian?" Lu Xiang bersikap pongah bak burung merak yang melebarkan ekornya untuk menarik perhatian betina.


Melihat reaksi senang suaminya, Adelia menjawab dengan setengah bercanda. "Kepala peringkat Xie Hsein?".

__ADS_1


"Bagaimana kau tau?"


Mata Adelia melebar. Ia hanya menebak asal dan tidak menyangka tebakannya benar. "Benarkah?"


Lu Xiang mengangguk antusias. Ia kembali memeluk Adelia dengan senang.


"Kau Xie Hsien?!" Walaupun ia percaya suaminya mampu mendapatkan juara pertama namun kenyataan itu tetap membuatnya tercengang.


"Ya sayang. Ini hadiahku untukmu, apa kau suka?"


Adelia mengangguk dengan air mata yang mulai mengenang di pelupuk mata. Ia sangat senang dan terharu dengan berita besar yang suaminya bawa.


Lu Xiang mengatupkan tangannya ke kedua pipi Adelia dan menghapus air mata yang mengalir. Kebahagiaan saat ini lebih berharga dan berarti daripada pertama kali ia mendengar berita gembira itu sendiri.


Para pelayan berbondong-bondong mengucapkan selamat pada Lu Xiang membuat Adelia semakin senang dan menggandakan gaji pegawai bulan ini membagikan kebahagiaan yang keluarganya rasakan.


Para pelayan sangat senang dan berterimakasih pada Adelia, bekerja di keluarga Lu Xiang tidak lah berat dan sulit karena Adelia dan Lu Xiang tidak pernah memukul atau memaki mereka, gaji yang ditawarkan juga lebih baik daripada majikan mereka sebelumnya. Setelah peringatan keras dari Lu Xiang, para pelayan melayani dan bekerja dengan sepenuh hati karena tidak ingin keluar dari rumah yang membuat mereka nyaman.


Lu Lian tidak ingin diceramahi oleh ibunya yang selalu menyuruhnya untuk tidak bermimpi. Ia percaya diri akan kecantikan yang ia miliki dan ia lebih muda dari Adelia, ia yakin bahwa Lu Xiang akan tertarik padanya jika ia berusaha. Gelar Xie akan menjadi jaminan untuk Lu Xiang untuk bisa mendapatkan gelar Juren.


Degup jantungnya melaju kencang memikirkan bahwa ia selir dari Juren yang dihormati oleh banyak orang. Baik Lu Xiang dan Adelia tidak menyadari mimpi siang bolong Lu Lian.


Adelia menyuruh Lu Niang dan Lu Kai untuk membeli 100 roti kukus hangat untuk dibagikan pada peminta dan gelandangan sebagai rasa syukur akan kebahagiaan yang keluarganya rasakan hari ini.


Walaupun Lu Niang dan Lu Kai tidak memberitahu nama majikan mereka ketika membagikan roti kukus seperti yang Lu Xiang perintahkan namun karena mereka pegawai toko kue De Xiang yang terkenal membuat orang-orang tau bahwa keluarga Lu sedang merayakan sesuatu.


Tidak sulit mendapatkan informasi dari para pelajar yang pulang dari kota Qincheng tentang Lu Xiang yang mendapatkan gelar Xie Hsien.


Lu Xiang memakan masakan buatan istrinya dengan lahap, ia merindukan apapun yang berhubungan dengan Adelia.


"Apa kakak akan pergi lagi untuk mengikuti ujian?" Lu Shan tau bahwa kakaknya lulus dan akan kembali mengikuti ujian lainnya.

__ADS_1


"Kakak akan pergi ke kota Fucheng akhir bulan Maret".


Lu Shan menjadi lega kakaknya tidak langsung pergi lagi setelah baru saja pulang.


Selesai makan, Lu Xiang membersihkan diri dan merasa bugar kembali. Memang, tempat paling nyaman adalah rumah.


Adelia masuk ke kamar dengan perasaan gugup, ia teringat akan apa yang Lu Xiang katakan dalam surat jika sudah pulang nanti. Ia melihat suaminya yang duduk membaca buku dan melempar buku tersebut ketika melihatnya lalu mengulurkan tangannya.


Adelia menggenggam tangan suaminya dengan gugup lalu terhuyung karena tarikan dan terduduk di pangkuan Lu Xiang.


"Adelia, aku sangat merindukanmu". Bisik suara dalam dan rendah membuat tubuh Adelia seperti tersengat listrik.


"Ak-aku juga merindukanmu Lu Xiang".


Lu Xiang terkekeh kecil dan mencium bahu istrinya lalu menuju leher mencium aroma yang sangat ia rindukan dan menciumnya dengan lembut.


"Apa kau sudah mempersiapkan hadiah spesial untuk gelar yang aku berikan?".


Datang juga hal yang membuatnya gugup!. Adelia menghirup napas dalam lalu membalikkan badannya menghadap Lu Xiang, ia menatap dan mengatupkan wajah suaminya lalu mencium bibir yang membuatnya melambung tinggi.


Adelia seperti gadis virgin yang sedang mempelajari cara berciuman. Ia menjilati bibir suaminya lalu memasukkan lidah ke dalamnya namun terhalang oleh gigi, ia berusaha untuk membuka gigi suaminya agar dapat bertemu dengan lidah namun tidak berhasil membuatnya bingung dan frustasi.


Lu Xiang sangat senang melihat inisiatif dari istrinya terlebih ketika Adelia bingung cara agar mulutnya dapat terbuka, senyuman lebar tercipta di bibir laki-laki berambut panjang tersebut.


"Kau begitu manis dan menggemaskan Adelia" Lu Xiang menjadi tidak sabar dan membuka mulutnya sembari tangan memegang tengkuk Adelia, memperdalam ciuman mereka membuatnya menjadi basah dan begitu intim.


Keduanya terengah-engah melepaskan ciuman namun Lu Xiang kembali menangkap bibir Adelia yang menjadi merah dan mekar.


Lu Xiang merebahkan Adelia sembari tetap mencium istrinya. Tangannya turun ke bawah mempersiapkan istrinya agar dapat menerima utuh juniornya.


Suara derik tempat tidur kembali terdengar setelah 10 hari lamanya, mungkin karena puasa lama yang Lu Xiang lakukan, ia melakukannya beberapa kali walaupun Adelia meminta berhenti dan menangis sebelum menghentikan kegiatan melelahkan sekaligus menyenangkan itu.

__ADS_1


Adelia seperti ikan yang terkapar lama di daratan, yang bahkan tidak mampu lagi mengangkat jarinya. Matanya terpejam dan masuk ke alam mimpi, tidak peduli dengan tubuhnya yang dipenuhi oleh keringat dan cairan putih mencurigakan.


__ADS_2