
Adelia menenangkan hatinya yang berdegup kencang tak karuan. Ia harus bisa mengatakannya. Walaupun ia sudah terbiasa tidur bersama namun bagaimana jika Lu Xiang lebih memilih untuk tidur sendiri? Lagipula mereka menikah bukan karena suka atau perasaan baik lainnya.
Tapi bagaimana jika karena perkataannya, Lu Xiang malah menyangka bahwa ia lah yang tidak suka tidur dengannya? Bagaimana jika suaminya membencinya?.
Adelia mengacak rambutnya dengan frustasi lalu kembali menghela panjang.
"Kau harus membahasnya Adel, biar jelas semuanya. Percuma menerka apapun, lebih baik berterus terang. Ya. Lebih baik berterus te... Arrgghh!! Aku sangat gugup".
Adelia memberanikan dirinya untuk langsung menemui Lu Xiang di kamar dan membuka pintu kamar dengan kuat hingga menghantam dinding membuat ia dan Lu Xiang sama-sama terkejut.
"I-itu.. Anu..."
Tatapan dalam Lu Xiang membuat Adelia lupa apa yang ingin ia katakan namun perhatiannya teralihkan pada lilin dan buku yang suaminya pegang. Karena cahaya yang remang, Lu Xiang menulis dengan jarak yang dekat dan ia teringat bahwa para pelajar di zaman kuno banyak yang rabun ketika belum sampai tua karena seringnya mata mereka membaca dalam keremangan.
"Apa kau bisa menulis dan membaca dengan cahaya sekecil ini?" Lilin di kamar hanya satu yang dinyalakan.
"Aku sudah biasa membaca dan menulis dengan pencahayaan seperti ini" Lu Xiang menepuk tempat di sampingnya menyuruh Adelia untuk duduk.
Adelia duduk dan berpikir sesaat lalu menutup matanya melihat ke dalam space teratai mencari lampu emergency LED yang punya lampu dua sisi dan mengeluarkannya, ia tidak mau mengambil resiko ketika mata Lu Xiang menjadi rabun.
"Apa ini?" Lu Xiang sudah tidak lagi terkejut melihat istrinya tiba-tiba memunculkan sesuatu pada tangannya.
Adelia tersenyum misterius. "Ta~da~". Ia menekan tombol power dan seketika kamar tidur terang benderang.
Lu Xiang terkesiap, matanya menatap tidak percaya. "Bagaimana mungkin cahayanya bisa seterang ini?"
"Hehe, ini disebut lampu emergency LED. Cahayanya bukan terbuat dari lilin tapi teknologi canggih, kau hanya perlu mengisi ulang dayanya dengan panas matahari. Jadi selama ada matahari lampu ini akan terus dapat hidup". Adelia tersenyum sembari mengangkat alisnya penuh angkuh. Bangga akan teknologi yang bukan ia temukan.
__ADS_1
Lu Xiang masih takjub akan cahaya putih terang benderang seperti matahari. Ia memegang pegangan lampu, membolak-balikkan dua sisi lalu meletakkan kembali di atas meja. Cahaya terang membuat matanya yang terbiasa dengan cahaya lilin sedikit sulit beradaptasi.
"Ini sangat luar biasa"
Pujian Lu Xiang membuat angkuh Adelia naik hingga hampir menembus langit jika saja ia seekor kucing maka ekornya pasti akan menjulang tinggi
Ekspresi angkuh membuat Lu Xiang menjadi gemas karena terlalu imut di matanya, ingin rasanya ia mencubit pipi yang mulai berisi itu. Ekspresi lembut tampak jelas di wajahnya.
"Mulai sekarang kau bisa membaca dan menulis dengan tenang. Melihat bacaan dengan pencahayaan sedikit akan membuat matamu menjadi rabun dan disini tidak ada kacamata jadi bakal sulit untuk melihat jelas jika sudah rabun".
"Kacamata?" Perhatian Lu Xiang teralihkan pada kata asing. Ia hanya tau kaca transparan yang di impor dari kerajaan bagian barat namun tidak tau apa itu kacamata.
"Ya. Di dunia ku kacamata dapat digunakan untuk mata rabun" Adelia lantas mengeluarkan kacamata baca dari space teratai dan menyerahkannya pada Lu Xiang.
"Seperti ini bentuknya. Tapi kacamata ini digunakan khusus untuk baca".
"Sini aku pakaikan. Ketika kau membaca kau bisa memakai ini" Adelia memakaikan kacamata pada Lu Xiang. Aura bookish suaminya yang sudah melekat pada dirinya semakin tampak jelas namun tetap maskulin hingga membuat Adelia menghirup udara takjub, ia bahkan menutup mulutnya agar tidak berteriak kagum.
Lu Xiang memiliki wajah yang tampan walaupun ia berkulit sawo matang karena terus berada di bawah terik matahari, ketampanan laki-laki itu tidak berkurang namun menambah aura manis yang biasa dimiliki oleh pria berkulit sawo matang dan itu membuatnya tampak mencolok jika di tempatkan di keramaian.
Namun karena bajunya yang kusam dan pudar membuat gadis-gadis kehilangan ketertarikan setelah menatap wajahnya. Jika Lu Xiang memakai baju bagus tentu aura ketampanannya akan semakin terlihat.
Apalagi kalau suaminya berkulit putih? Tambah Adelia dalam hati. Ia pun berusaha mengingat apa dia menyimpan krim pemutih untuk laki-laki di space miliknya.
Mata Lu Xiang berkilat melihat tatapan takjub dan kagum istrinya, ia pun mendekatkan wajahnya dan berbisik rendah. "Apa aku tampan?"
Suara Lu Xiang membuat pikiran Adelia buyar dan dikejutkan oleh jarak dekat wajah mereka. Ia segera memundurkan tubuhnya dan batuk menutupi perasaan malu namun tidak berhasil karena wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Senyuman Lu Xiang semakin mengembang. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku? Apa aku tampan?" Reaksi imut istrinya membuatnya semakin ingin menggoda disaat bersamaan matanya menjadi kelam menahan hasrat untuk tidak memeluk gadis itu.
Adelia menundukkan wajahnya yang semakin memanas. "Kau tampan" Ia bahkan tidak bisa berbohong karena gelisah menahan malu.
"Apa? Aku tidak mendengarnya" Lu Xiang semakin mendekatkan wajahnya membuat Adelia semakin panik dan berdiri cepat ingin meninggalkan kamar tidur namun baru beberapa langkah ia teringat akan tujuan menemui suaminya.
"Lu Xiang.. Apa sebaiknya kita mulai tidur pisah? Sekarang kamar ada tiga jadi pas untukku" Tangannya menggenggam ujung baju, wajahnya yang panas dan memerah seketika kembali normal dan bahkan sedikit pucat. Ia baru menyadari bahwa ia tidak suka akan perkataannya sendiri.
Senyum Lu Xiang juga menghilang, tatapan dingin keluar dari matanya ketika berpikir bahwa Adelia tidak mau lagi tidur bersamanya, ia kembali teringat kecupan gadis itu di pipi adiknya membuat cemburu di hatinya yang sempat hilang muncul kembali.
"Kemari lah".
Suara dingin Lu Xiang membuat Adelia terkejut dan panik, ia menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya. Baru kali ini Lu Xiang berkata dengan nada dingin padanya.
"Adelia, apa kau tidak mendengar perkataan ku? Aku bilang kemari lah" Walaupun Lu Xiang tidak membentak namun perkataannya jauh lebih menakutkan daripada berteriak marah.
Tubuh Adelia bergetar ketakutan namun ia tetap berjalan mendekat karena takut jika laki-laki itu akan menyakitinya.
Lu Xiang menarik tangan Adelia hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya dan memeluk pinggang istrinya dengan posesif. "Apa kau ingin tidur pisah dariku?"
"A-aku... "
Lu Xiang memegang dagu Adelia dan mengangkat wajahnya. "Tatap mataku. Katakan dengan jujur, apa kau ingin tidur pisah dariku?"
"A-aku... Aku..." Ekspresi marah Lu Xiang membuat Adelia semakin panik hingga matanya mengabur karena air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.
Air mata istrinya membuat Lu Xiang tertegun dan sadar bahwa ia telah membuat istrinya menangis. Ia pun memeluk Adelia dengan erat.
__ADS_1