
Ujian istana pun di mulai, Lu Xiang dan Wang Jiayou pergi pagi buta agar tidak telat sampai ke gerbang kota terlarang tersebut. Kedua sangat gugup karena ujian kali ini memiliki tekanan yang sangat besar karena kehadiran Kaisar yang akan mengamati langsung ujian berlangsung.
Peserta yang lainnya sudah lebih dahulu sampai daripada Lu Xiang dan Wang Jiayou, itu menunjukkan bahwa mereka sama gugup dan cemasnya, takut jika datang telat.
Walaupun mereka gugup dan khawatir namun tidak ada satupun yang berani mengutarakan perasaan mereka karena takut akan salah ucap dan menjadi malapetaka. Mereka menunggu hingga satu jam sebelum petugas keamaan membolehkan mereka masuk ke kota terlarang menuju tempat yang telah di sediakan sebelumnya.
Ujian istana diadakan di Balai Kesejahteraan Harmoni yang tidak jauh dari balai tempat pertemuan mahkamah.
"Beri hormat pada Kaisar!!!" Sang kasim berteriak nyaring, walaupun tidak ada Kaisar di hadapan mereka namun para peserta istana tetap menjalankan ritual yang di adakan setiap ujian istana.
"Hidup Kaisar, semoga anda panjang umur berpuluh ribu tahun".
Lu Xiang dan yang lain duduk hanya berjarak 1 meter dari yang lainnya, ujian kali ini tidak ada bilik yang menjadi pemisah satu sama lain karena tidak akan ada yang berani berbuat curang.
Tak lama kemudian, sang petugas ujian membagikan kertas draft dan jawaban lalu membawa plank kayu panjang berisi soal ujian yang tertulis tentang usulan pajak yang harus untuk pemerintah yang dapat diterapkan.
Lu Xiang diam sesaat, ia telah membaca sekilas tentang pajak modern dari buku yang diberikan oleh Adelia lalu mulai menulis jenis pajak seperti pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai, untuk pajak lainnya sebagai pajak bangunan atau pajak bea materai tidak bisa di terapkan pada saat ini.
Lu Xiang lalu menjelakan tentang pajak penghasilan dan siapa saja yang terkena pajak tersebut kemudian menjelaskan tentang pajak pertambahan nilai yang diterapkan pada barang sehingga pada pebisnis terkena pajak berganda, walaupun pada aslinya bukanlah demikian namun pada saat ini tidak adanya pajak pertambahan nilai sehingga jika diterapkan akan terkesan bahwa pebisnis harus mengeluarkan pajak dua kali.
Lu Xiang juga mengusulkan untuk menerapkan pajak bea cukai yang diterapkan pada barang-barang yang sampai ke pelabuhan dari luar kerajaan, ia melihat bahwa pebisnis yang melakukan bisnis dengan kerajaan lain tidak dibebani oleh pajak apapun sehingga membuat pebisnis tersebut menjadi sangat kaya raya bahkan melebihi kas kerajaan dan itu berpotensi bahaya karena pebisnis pasti akan mencari payung pemerintah dengan berinvestasi sehingga mereka lebih aman dengan payung tersebut dan terjadilah nepotisme dan kemungkinan untuk orang yang memayungkan pebisnis untuk memberontak.
Lu Xiang menjelaskan secara semu berapa barang yang dibeli oleh pebisnis tersebut dan berapa yang akan dijual jarak keuntungan besar pasti akan membuka mata Kaisar, ia juga menjelaskan bahwa menjalankan pajak bea cukai juga dapat meminimalisir kesempatan untuk pengkhianat untuk mengirim atau menerima senjata ke dalam kerajaan.
__ADS_1
Lu Xiang yang sibuk menulis berhenti ketika melihat sepatu boots hitam, ia tidak bisa melihat langsung pemilik sepatu tersebut namun tau siapa yang memakai sepatu tersebut. Lu Xiang menghirup napas panjang untuk menenangkan hatinya yang gugup lalu kembali menulis.
Kaisar Murong terkejut ketika melihat jawaban Lu Xiang hingga ia tidak sabar untuk menarik lembaran jawaban laki-laki itu dan membacanya dengan seksama, ia lalu melangkah pergi memeriksa peserta lainnya karena tidak ingin terlihat mencolok dan membayakan Lu Xiang.
"Ujian telah berakhir!!" Kasim memberi pengumuman dan para peserta ujian segera menyudahi tulisan mereka lalu berdiri dan memberi hormat sebelum melangkah pergi di bawah pengawasan prajurit istana.
"Soal ujiannya begitu sulit, apa kau bisa menuliskan jawabannya?"
"Aku hanya menulis sistem pajak yang sudah ada".
"Aku juga".
"Aku mengusulkan untuk memungut pajak berganda untuk pebisnis, mereka berbau uang dan menjadi sombong".
"Lu Xiang, apa kau dapat memberikan usulan?".
Lu Xiang mengangguk lalu merendahkan suaranya. "Aku memberikan usulan tentang pajak bea cukai yang diterapkan pada barang yang masuk di setiap pelabuhan".
Wang Jiayou tertegun dan menjadi kagum, ia sama sekali tidak tau bagaimana sistem barang yang masuk ke pelabuhan sehingga tidak memikirkan untuk memberi usulan tersebut.
"Kalau kau senior?".
"Aku mengusulkan untuk memberikan pajak berganda pada pebisnis, satu pajak tentang penghasilan mereka dan satunya lagi tentang pajak barang yang mereka jual".
__ADS_1
Alis Lu Xiang terangkat naik, usulan tersebut sama dengan usulan miliknya. "Itu usulan yang sangat bagus senior".
Wang Jiayou hanya tersenyum sembari melambaikan tangan. "Usulanmu jauh lebih berkualitas".
Lu Xiang menggelengkan kepala. "Tidak. Usulan kita sama berkualitasnya karena memiliki bidang yang berbeda".
"Ya kau benar".
Lu Xiang dan Wang Jiayou berjalan pulang namun ketika sampai di rumah, keduanya dikejutkan oleh kedatangan Marquis Shan, sesaat Lu Xiang mengernyitkan keningnya lalu kembali berekspresi normal. Sebelumnya idana tidak datang berkunjung ke kediaman Marquis sesaat dengan perintah Marquis Shan dan hanya mengirimkan pesan menolak dan meminta maaf, ia berpikir bahwa masalah tersebut sudah selesai namun ia tidak menyangka bahwa laki-laki tua ini masih mau datang ke rumah sewanya.
"Kau sudah pulang Lu Xiang, duduklah". Marquis Shan mengacuhkan Wang Jiayou karena tidak memiliki urusan dengan laki-laki itu, walaupun anak buah pangeran sudah memperingatinya untuk menghargai sarjana yang lulus ujian seleksi karena mereka punya potensi memegang jawaban di pemerintah kerjaaan namun ia tidak berpikir demikian, ia hanya berpikir bahwa hanya Lu Xiang lah yang memiliki potensi tersebut karena sudah diakui oleh Kaisar dan memberikan gelar.
Keluarga Marquis di mata publik memang keluarga bangsawan yang terhormat namun orang-orang di pemerintahan tau bahwa gelar itu bukan ia raih sendiri melainkan dari kakeknya yang menjadi salah satu orang yang membangun kerajaan Murong sehingga ketika gelar itu turun padanya yang merupakan anak laki-laki pertama maka ia hanya mendapatkan gelar bukan kekuasaan yang biasa dipegang oleh bangsawan yang memiliki gelar yang sama dengannya yaitu Marquis.
Hal itu membuatnya menjadi panik ketika ia hanya mendapatkan jabatan kelas 5 dan sudah beberapa tahun jabatannya tidak mengalami peningkatan apapun. Walaupun ia juga bagian dari keluarga maternal pangeran namun Murong Xianxian tidak ingin membantu karirnya karena tidak ingin ayahnya mengetahui bahwa ia memiliki ambisi yang sama seperti kakak-kakaknya.
Murong Xianxian terkenal sebagai pangeran literasi yang hanya berkecimpung di dalam dunia sastra bukan dunia politik sehingga ia tidak ingin kehilangan image dan dianggap sebagai hipokrit, penyamarannya sebagai kutu buku sedikit banyak membuat kakak ketiganya tidak menganggapnya sebagai lawan dan hanya fokus melawan putra mahkota, Murong Xianming sehingga ia dapat mengumpulkan kekuatan sedikit demi sedikit dengan bantuan kakeknya, ia berharap bahwa dialah yang menjadi pemenang tanpa ikut berperang dalam merebut tahta dan berharap bahwa kakak mati ketika menyerang satu sama lain.
Oleh karena itu demi mewujudkan impian tersebut, Murong Xianxian tidak bisa membantu Marquis Shan yang hanya menduduki jabatan kelas 5 tidak memiliki nilai apapun di matanya sehingga ia sangat ingin menjalin hubungan dengan Lu Xiang yang noteben memiliki potensi besar setelah memberikan ide tentang kincir air, ia tau bahwa Kaisar akan mempergunakan laki-laki itu dan karir Lu Xiang akan menjelit naik dengan cepat dan itu akan sangat membantu karirnya kelak.
Hubungan yang paling dekat tentu saja hubungan kekeluargaan, menjadi besan akan memberikan alasan baginya untuk memanfaatkan pemuda itu tidak hanya untuk karirnya namun juga untuk pangeran keempat dan itu juga akan menambahkan nilainya di mata Murong Xianxian dan juga kakeknya yang menjawab sebagai perdana menteri kiri, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
"Aku akan masuk dulu Lu Xiang". Wang Jiayou pamit setelah memberi salam pada Marquis Shan sebagai sopan santun.
__ADS_1