
Ingin rasanya Liang Chenyue mencaci maki wanita di hadapannya, ini pertama kalinya seseorang tidak menghormatinya dan menakuti background yang ia miliki. Tangannya bergetar menunjuk Adelia dengan rasa marah yang membara namun ketika bibirnya terbuka, ia teringat tujuannya kemari dan menghirup udara kasar berusaha menenangkan emosinya.
Kedua pelayan Liang Chenyue juga ikut marah dan ketika satunya ingin menyumpah serapah pelayan satu lagi segera menahan karena melihat majikan mereka yang masih tetap bersabar. Ia menggeleng kepala pada temannya dan dalam hati menjadi sedikit waspada karena pasti ada sesuatu yang membuat Adelia tidak takut pada mereka.
"Baiklah. Aku kemari karena ingin membeli resep kue puding dan minuman yang kau jual di toko De Xiang". Nada seperti 'aku berbelas kasihan padamu' hampir membuat Adelia tertawa speechless.
"Kami tidak menjualnya nyonya Zheng" Jawaban cepat itu menghentakkan Liang Chenyue, membuatnya blank sesaat karena tidak menyangka akan penolakan Adelia.
"Kau! Kau perempuan sundal tak tahu malu!!. Aku sudah berbaik hati membeli resep itu darimu tapi kau seperti dikasih hati meminta jantung!! Apa kau pikir dengan gelar Xiefu suamimu aku tidak bisa menghancurkan kalian?!!".
Mata Adelia membesar, baru kali ini ia dipanggil dengan panggilan sundal. Sesaat ia tidak bisa membalas perkataan kata begitu terkejut.
"Jaga omongan anda nyonya!! Nyonya kami lebih terhormat daripada anda yang memiliki mulut kasar!" Lu Mei segera membela Adelia dengan wajah marah.
"Tutup mulutmu budak pelacur!!!. Siapa yang memberimu izin untuk membuka mulut kotormu disini!!".
"Lu Mei! Lu Yan! Antarkan nyonya Zheng ke pintu keluar!" Adelia berteriak marah. Siapa wanita ****** ini yang memakai pelayannya dengan sangat kasar?!.
Adelia menatap sangat dingin pada pada Liang Chenyue. "Nyonya Zheng, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Rumah ku begitu kecil untuk menyambut budha besar seperti mu".
Adelia berdiri dan pergi dari ruang tamu, melihat Liang Chenyue membuatnya mual. Tangannya bergetar menahan gejolak amarah di dada, ia pun memukul dinding di sampingnya dan membuat tangannya menjadi sakit.
Tidak bisa meredam emosi di dadanya, Adelia pun memilih untuk menangis, emosi yang labil karena hamil membuatnya begitu mudah menangis. Walaupun pikiran logisnya mencoba menghentikan tangisan karena ia tidak perlu menangis membuang waktu untuk wanita seperti Liang Chenyue namun Adelia tetap saja tidak bisa menghentikan air matanya. Akhirnya ia menumpahkan segala perasaan yang ada di hatinya melalui tangisan.
Di sisi lain, Liang Chenyue memaki Adelia di depan pagar kediaman keluarga Lu lalu masuk ke kereta kuda. "Aku akan membuatmu menyesal telah membuatku marah Adelia sialan!! Cepat pergi ke kediaman bibi!!".
Pelayan wanita yang lebih tua menggigit bibir bawah menatap ragu pada Liang Chenyue sebelum memantap hatinya. Ia harus menyampaikan kecurigaannya pada Adelia yang tidak begitu takut walaupun setelah mendengar nama Prefek Zhong agar majikannya tidak salah dalam mengambil keputusan.
"Nyo-nyonya. Apa kau pikir nyonya Lu mempunyai sesuatu yang membuatnya tidak takut padamu?". Walaupun ketakutan namun wanita itu tetap ingin menyampaikan karena lebih baik di tampar daripada mendapatkan hukuman karena tidak memberitahu kecurigaannya sebelum terlambat.
"Apa maksud mu Nanxi?!" Liang Chenyue yang masih emosi bertanya tidak sabar.
"I-itu...nyonya Lu tidak begitu takut ketika mendengar kau memiliki naungan Prefek Zhong di belakangmu. Aku pikir ada sesuatu yang membuatnya bersikap seperti itu".
Liang Chenyue tertegun lalu tertawa emosi. "Itu karena aku tidak memiliki marga Zhong! Kau tenang saja. Wanita ****** itu akan mendapatkan hukuman yang berat karena telah meremehkan ku!!".
Ia telah dua kalo bertemu dengan orang lain yang tidak takut ketika mendengar background keluarganya karena ia memiliki marga yang berbeda namun pada akhirnya mereka terdiam ketakutan dan meminta maaf setelah bibinya bertindak, jika bibinya tidak mengatasi masalahnya Liang Chenyue akan melaporkan pada neneknya dan pada akhirnya bibinya harus menuruti perintah nenek yang selalu memanjakannya.
__ADS_1
Senyum sinis muncul di bibir Liang Chenyue, seakan semua berjalan sesuai ekspektasinya. Ia tidak sabar melihat rait wajah terkejut, ketakutan dan menyesal Adelia ketika mengetahui bahwa keluarganya hancur karena meremehkannya.
Setengah jam kemudian kereta tiba di keluarga keluarga Zhong. Liang Chenyue melangkah masuk setelah penjaga gerbang membuka pintu.
Di dalam ia bertemu dengan Qiao Xue yang baru saja keluar dari rumah utama mengunjungi ibu mertuanya. Melihat Liang Chenyue, Qiao Xue hanya dapat menghela napas panjang, moodnya yang sedang tidak baik menjadi buruk. Wanita itu pasti akan mengadukan masalahnya pada ibu mertua untuk di selesaikan.
Qiao Xue sangat jengah melihat Liang Chenyue yang terus menerus memanfaatkan keluarga Zhong untuk keuntungannya sendiri hingga hampir membuat reputasi keluarga Zhong menurun karena muncul rumor bahwa keluarga Zhong sering mengelap pantat Liang Chenyue di Jinzhou saking seringnya wanita itu membuat masalah.
"Kakak ipar".
"Untuk apa kau kemari?".
Liang Chenyue berusaha untuk tidak emosi dalam menghadapi Qiao Xue.
"Aku ingin mengunjungi bibi kakak ipar, aku ingin menanyakan kabarnya".
Qiao Xue ingin sekali memutar bola matanya dengan jengah. Tujuan Liang Chenyue sangat jelas di pikirannya, ia menjadi malas meladeni sandiwara kuno wanita ini.
"Ibu mertua sedang tidak enak badan. Jangan kau buat beliau bad mood". Qiao Xue segera melangkah pergi bersama dengan pelayannya.
"Cih! Kalau bukan kau menantu keluarga Zhong, aku sangat malas meladeni mu" Gumam Liang Chenyue marah. Ia pun melangkah masuk dengan cepat ke rumah utama.
Istri Prefek Zhong, Liang Shu menoleh dan tertegun melihat keponakannya. Reaksi pertamanya adalah menghela napas berat, keponakannya pasti akan mengeluh lagi.
"Bibi, apa kabarmu? Aku dengar dari kakak ipar bahwa kau sedang tidak enak badan?"
"Ya. Makanya aku berbaring. Ada apa Chenyue?".
"Baguslah kau tidak apa-apa bibi" Liang Chenyue menghela napas lega.
Menantu Meng dan menantu Wen yang juga ada di sana hanya speechless dengan tidak tulus rasa khawatir Liang Chenyue, wanita itu bahkan tidak menanyakan apakah ibu mertua mereka sudah minum obat atau tidak.
"Liang Chenyue, tidak biasanya kau datang kemari" Sindir menantu Meng.
"Oh kakak ipar kedua, kakak ipar ketiga" Liang Chenyue terkejut seakan baru menyadari kehadiran kedua kakak iparnya.
Bibir kedua wanita cantik itu semakin berdenyut kesal namun mereka hanya tersenyum dan menyapa Liang Chenyue.
__ADS_1
"Ada apa kau kemari Chenyue?". Liang Shu segera menanyakan tujuan Liang Chenyue karena mulai lelah meladeni keponakannya, tubuhnya sedang sakit membuatnya tidak memiliki kesabaran untuk mendengar celotehan wanita itu.
"Bibi, bibi. Apa kau tau, seorang wanita ****** menghinaku. Padahal aku berbaik hati ingin membeli resep kue darinya tapi dia memakiku dengan kata-kata kasar". Liang Chenyue segera mengeluh tentang masalahnya.
"Siapa yang kau maksud?".
"Miao Adelia! Istrinya Xiefu Lu yang baru membuka toko kue di bagian dalam kota. Dia sangat arogan sampai mengatakan bahwa dia tidak takut pada keluarga Zhong hanya karena suaminya memiliki gelar Xiefu!! Aku begitu membenci wanita itu".
Menantu Meng dan menantu Wen menatap satu sama lain dengan ekspresi terkejut. Begitu juga dengan Liang Shu, ia tidak menyangka keponakannya mencari masalah dengan istri Xiefu Lu.
"Bagaimana itu bisa terjadi?".
Liang Chenyue melihat kening bibinya yang mengernyit dan merasa menang. Ia berpikir bahwa bibinya pasti akan punya kesan buruk pada Adelia karena keluhannya.
"Perempuan sialan itu membuka toko kue yang sama denganku tapi menambahkan menu lainnya sehingga banyak pelanggan ku yang pindah ke toko perempuan itu jadi ak...".
"Berbicara lah yang sopan Chenyue". Liang Shu menatap tidak suka pada keponakannya yang berbicara seakan tidak diajari sopan santun sekalipun.
Liang Chenyue tertegun, ini pertama kalinya setelah sekian lama bibinya menghardiknya. Bibinya pernah mengatakan hal yang sama di masa lalu namun neneknya memarahi bibinya sehingga bibinya tidak lagi memarahinya.
"Tapi bibi, aku hanya...".
"Kau berasal dari keluarga Liang dan keluarga Zheng. Apa kau ingin membuat orang lain memiliki kesan buruk bahwa kedua keluarga sarjana terhormat itu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun!".
Liang Chenyue semakin tertegun, ia menatap tajam pada bibinya, tangannya meremas rok dengan kuat, ia menghirup napas dalam agar tidak kehilangan kendali dan membuat bibinya semakin marah. "Maaf bibi".
Sepertinya bibinya sudah lama tidak dimarahi oleh nenek. Lihat saja, aku akan melaporkan kejadian ini pada nenek setelah aku pulang ke Jinzhou nanti.
Liang Shu melihat tatapan marah itu hanya dapat menghela napas berat. Ia tau apa yang keponakannya pikirkan ketika menatap tajam padanya, apalagi kalau bukan mengeluh pada ibunya. Setelah sekian lama rasa hormat dan cintanya pada ibu kandungnya semakin menipis karena patriarki ibunya pada anak adik laki-lakinya.
"Jadi kau meminta membeli resep pada istri Xiefu Lu?".
"Ya bibi. Tapi dia tidak mau menjualnya. Toko kue milikku jadi sepi karena per..karena istri Xiefu itu".
"Jika istri Xiefu Lu tidak mau menjual resepnya maka kau jangan menggangunya lagi. Itu rahasia toko kuenya, tidak mungkin jika dia akan menjualnya".
"Bibi. Mengapa kau..".
__ADS_1
"Chenyue! Apa kau tau pamanmu bekerjasama dengan Xiefu Lu untuk proyek tanggul?".
Mata Liang Chenyue melebar. Bagaimana mungkin sarjana yang tidak memiliki status apapun dapat bekerjasama dengan pamannya yang seorang Prefek?!!.