Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Rencana Adelia dan Lu Xiang


__ADS_3

Lu Xiang kembali ke kota Cheng setelah membelikan oleh-oleh dan hadiah untuk istri dan adik-adiknya dari uang penjualan buku yang ia copy sendiri. Setelah menjadi Xie Hsien, buku yang ia jual mendapatkan nilai jual lebih dan itu sangat membantu finansialnya, Lu Xiang tidak ingin terus bergantung pada Adelia dan ingin agar istrinya memakai uang yang ia hasilkan sendiri untuk dirinya sendiri.


"Tuan besar kau sudah pulang?!! Jika kau mengirim surat maka Lu Cai akan menjemput mu di kota Suzhou". Lu Tao terkejut melihat kepulangan Lu Xiang yang mendadak, ia berpikir bahwa tuanya akan pulang beberapa hari lagi karena ingin melihat rumah dan toko sebelum membelinya.


"Aku tidak sabar untuk segera pulang. Dimana Adelia?".


"Nyonya sedang duduk di ruang tengah memeriksa catatan keuangan toko tuan".


Lu Xiang mengangguk.


"Tuan, anu... Kemarin anggota keluarga Miao yang bernama Li Mei dan Lien Hua berkunjung".


Senyum Lu Xiang sedikit menghilang, tatapan datar namun dingin terlihat di pupil matanya. Kecoa-kecoa itu selalu menganggu istrinya ketika ia sedang tidak ada di rumah!.


"Mereka mengatakan apa?".


"Ham-hamba sendiri tidak begitu yakin tuan besar. Sepertinya tentang sepupu Nyonya yang bernama Miao Sheng".


Lu Xiang berpikir sesaat lalu mengangguk. "Baiklah". Ia segera melangkah masuk rumah dan melihat istri yang ia rindukan duduk manis di ruang tamu dengan cemilan dan buah stroberi di sekelilingnya sembari membaca buku keuangan.


"Aku pulang!".


Suara Lu Xiang bagaikan magnet untuk Adelia walaupun Lu Xiang berkata pelan, ia bisa mendengarnya. Adelia menoleh dan terkejut serta senang melihat suaminya tepat berdiri di hadapannya. "Lu Xiang!! Kenapa kau sudah pulang?".


Lu Xiang berpura-pura merajuk manja. "Kau tidak ingin aku pulang cepat sayang?".


"Tentu saja tidak. Aku hanya terkejut melihatmu pulang dengan cepat. Bukannya kau bilang akan tinggal di Fucheng beberapa hari karena ingin mencari rumah? Apa kau tidak mendapatkannya?".


Lu Xiang terkekeh misterius. Ia lalu mengambil dua buah surat dalam tas perjalanannya lalu berkata. "Tada~".


Mata Adelia seketika bersinar. Ia merebut dua surat kepemilikan rumah dan bangunan toko tersebut dan tertawa senang. "Hehehe, suamiku memang dapat diandalkan muach!!" Ia mengecup kuat pipi Lu Xiang dan kembali fokus melihat surat kepemilikan tersebut.


Lu Xiang tertawa senang. "Aku mendapatkan bantuan dari petugas Wei yang datang kemari jadi aku cepat mendapat rumah yang tepat".


Adelia mengangguk mengiyakan.


Lu Xiang memeluk istrinya dan mendudukkan diatas pangkuan sebelum mengecup lembut bahu dan leher Adelia. "Aku dengar keluarga Miao datang kemari? Mereka mengatakan apa?".


Perhatian Adelia pun akhirnya teralihkan. "Kau mendengarnya dari Lu Tao? Mereka ingin meminta untuk Miao Sheng tinggal gratis di rumah kita, aku tidak langsung berjanji pada mereka dan bilang bahwa aku ingin berdiskusi denganmu dulu". Ia memanyunkan bibir gusar mengingat kembali percakapannya dengan Li Mei dan Lien Hua.

__ADS_1


"Lu Xiang. Bagaimana menurut mu? Apa kita izinkan Miao Sheng tinggal bersama kita? Aku tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Miao, aku pikir dengan pindah ke Fucheng hubunganku dengan keluarga Miao akan menjauh dan berakhir tapi nyatanya tidak".


Lu Xiang berpikir sesaat. "Aku pikir Miao Sheng sudah bersikap lebih baik daripada sebelumnya" Ia pun menceritakan tentang peminjaman uang dan perubahan sikap Miao Sheng pada istrinya.


"Itu pasti karena kau meminjamkan uang padanya kalau Miao Sheng melihat sesuatu lagi yang lebih darimu, aku yakin dia pasti akan iri lagi". Dari sepuluh bulan mengenal sepupunya Adelia sudah tau bahwa Miao Sheng berhati sempit.


"Jadi apa kita tolak saja permintaan bibi Li Mei? Tapi aku khawatir mereka akan menganggu mu sampai ke kota Fucheng". Kehamilan Adelia akan semakin bertambah tua seiring berjalannya waktu, ia tidak ingin istrinya frustasi oleh keluarga Miao yang selalu bersikeras sebelum keinginan mereka terpenuhi.


Adelia yang sekarang tidak mungkin menolak kasar permintaan keluarga maternalnya sendiri karena reputasi tinggi yang ia miliki di kota Cheng.


Adelia menggeleng tidak setuju. "Akan sangat rumit jika Miao Sheng yang ingin menikah tinggal di rumah kita".


Lu Xiang tertegun. "Miao Sheng ingin menikah?".


"Aku mendengarnya dari pelayan yang paman Zhao kirimkan. Paman Zhao mendapat kabar bahwa walikota Li mengirim mak comblang ke desa Miao pagi ini, siapa lagi kalau bukan Miao Sheng yang menjadi targetnya".


Lu Xiang berpikir dan mengangguk masuk akal. Miao Sheng adalah sarjana Fu yang tentu gelarnya lebih tinggi dari Hsien. Tentu saja walikota Li ingin menjalin hubungan dekat melalui pernikahan dengan Miao Sheng demi melebarkan koneksinya namun Lu Xiang berpikir bahwa tujuan walikota Li bukan hanya itu saja.


"Kalau begitu kita bisa menolaknya dengan sopan. Dengan finansial walikota Li, dia tidak mungkin membiarkan anak gadis dan menantunya tidak punya rumah di Fucheng". Kata Lu Xiang berkesimpulan.


"Kau benar. Haah~ aku merasa lega. Walaupun Miao Sheng tidak akan mencari masalah dengan wanita hamil sepertiku karena dia seorang sarjana namun kehadirannya di rumah akan membuat keluarga Miao lebih leluasa dalam mencari masalah denganku".


"Bagaimana dengan pertemuan mu dengan Prefek Zhong? Apakah berjalan lancar?".


"Tentu saja. Prefek Zhong sangat puas dengan denah yang aku gambar bahkan menyuruhku memanggilnya paman".


Adelia membalik badannya dan tersenyum tidak percaya. "Benarkah?" Memanggil paman akan membuat hubungan sangat berbeda, Prefek Zhong melakukan itu pasti karena sangat percaya bahwa ide suaminya dapat membawa keuntungan besar padanya. Itu sudah pasti karena Adelia tau bahwa ide tersebut akan membuat hasil yang besar yang tidak hanya diimplementasikan di kota Fucheng namun di seluruh wilayah kerajaan Murong.


"Ya, jadi kita tidak perlu khawatir dengan orang yang ingin menganggu kehidupan kita di Fucheng karena sekarang punya backing seorang Prefek". Lu Xiang lalu menceritakan tentang pembahasan antara dirinya dengan Prefek Zhong.


Adelia mendengar dengan seksama lalu berpikir dalam. "Pasti akan membutuhkan uang dan tenaga yang besar untuk mewujudkan ide tersebut".


"Ya. Prefek Zhong tidak ingin memberitahu Kaisar sebelum dia memastikan bahwa ide tersebut dapat dijalankan dengan sempurna. Maka dari itu uang yang harus dikeluarkan akan sangat banyak".


"Menurutmu dari mana uang itu dikumpulkan?".


"Pajak!" Jawab keduanya.


Lu Xiang tersenyum melihat istrinya yang pintar. "Karena pajak panen belum bisa ditagih maka satu-satunya yang dapat dikumpulkan adalah pajak corvee".

__ADS_1


Adelia menghela napas berat. "Para petani pasti akan sangat berat membayar pajak bekerja paksa karena telah menghabiskannya untuk musim dingin".


"Ya. Tapi ini untuk kebaikan mereka juga, mereka pasti akan mengajukan diri untuk bekerja sukarelawan jika mereka tau untuk tujuan apa kerja paksa itu dilakukan".


Adelia mengangguk setuju. "Apa kita harus membantu proyek itu? Aku dengar makanan di kerja paksa sangat tidak layak karena hanya menyediakan roti keras di pagi hari dan bubur nasi di malam hari".


Lu Xiang tertegun. "Itu ide yang bagus karena ini ide dariku jadi tidak aneh jika kita ikut membantu donasikan beras atau uang. Tapi apa kita bisa melakukan  itu sampai proyeknya berakhir? Itu pasti akan membutuhkan banyak waktu".


Adelia juga berpikir bahwa keluarganya sendiri tidak akan mampu membiayai makanan para pekerja paksa tersebut sendirian. "Bagaimana jika kau menyarankan ide untuk Prefek Zhong untuk membuat monumen berisi nama orang-orang yang ingin mendonasikan uang mereka ke dalam proyek ini. Prefek Zhong dapat menjadikan keluarga kita sebagai contoh, pebisnis lainnya juga akan senang mendonasikan uang mereka karena itu akan meningkat reputasi mereka".


Semakin Lu Xiang dengar semakin ia kagum pada istrinya. "Ide mu sangat hebat sayang. Prefek Zhong pasti akan menyukai ide ini".


Jika ide ini dapat berjalan sempurna maka tidak hanya masalah makanan para pekerja paksa tapi juga masalah kekurangan uang untuk menjalankan proyek tersebut dapat terselesaikan.


Lu Xiang tertawa senang dan kembali menghujani Adelia dengan kecupan dan ciuman dalam sebelum melepaskannya ketika melihat Lu Cheng dan Lu Shan masuk ke ruang tamu.


"Kak Xiang. Cepat sekali kau pulang!!" Lu Shan berlari dan memeluk senang kakaknya.


"Urusan kakak selesai lebih cepat. Apa kalian baru pulang dari belajar sore?".


"Ya kak. Apa kakak membelikan kami oleh-oleh?" Tanya Lu Shan antusias. Ia sangat suka dengan kejutan.


"Tentu saja. Lihat di bungkusan yang kakak bawa".


Lu Cheng dan Lu Shan mengeluarkan barang-barang yang Lu Xiang bawa dari Fucheng lalu melihat dua batu giok hijau muda seperti batu giok tanda pelajar yang memiliki simpul berwarna emas.


"Wow ini sangat cantik". Lu Shan segera memasangkan simpul berbatu giok tersebut di pinggangnya namun matanya melihat tas yang sedang ia pakai dan pupil matanya bersinar. Ia kembali mendekati Lu Xiang dan memutar tubuhnya seperti sedang menari.


"Kak Xiang, kak Xiang. Coba lihat di punggungku ada apa?".


"Itu...tas?".


"Ya. Kak Adel yang memberikanku. Haha, aku dan Lu Cheng masing-masing punya satu hanya kau saja yang tidak memilikinya".


Lu Xiang segera merajuk pada Adelia. "Sayang, mengapa kau tidak membuatkannya untukku? Apa kau lebih sayang Lu Cheng dan Lu Shan daripada aku?".


Adelia pun speechless dan mendelik bercanda pada Lu Shan yang sedang bangga dan mengangkat angkuh wajahnya. "Aku juga punya satu untukmu. Lebih besar dan lebih keren, kau tenang saja".


Lu Xiang mengeratkan pelukannya pada Adelia. "Hehe, kau memang lebih menyayangiku daripada Lu Cheng dan Lu Shan".

__ADS_1


Bibir Adelia dan Lu Cheng berdenyut speechless, semakin lama suami dan kakaknya semakin bermuka tebal dalam mencari perhatian Adelia.


__ADS_2