Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Lu Xiang mencari pelakunya sendiri


__ADS_3

Lu Xiang mencari informasi sendiri untuk menemukan pelaku pembakaran toko karena tidak ada kabar baik apapun dari Prefek Zhong. Ia menduga bahwa Liang Chenyue menjadi kandidat besar dalam masalah ini mengingat koneksi Prefek Zhong yang luas namun masih tidak bisa menangkap pelakunya.


Lu Xiang mengerti mengapa Prefek Zhong tidak memberitahu pelaku yang sebenarnya karena menyangkut keluarga istrinya, pelaku pembakaran toko apalagi milik keluarga sarjana akan mendapatkan hukuman 20 kali pemukulan kayu serta 1 tahun penjara.


Jika benar Liang Chenyue pelakunya maka tidak hanya keluarga Zheng dan keluarga Liang yang tercoreng nama baik mereka namun juga keluarga Zhong nyang menjadi payung untuk Liang Chenyue sendiri.


Lu Xiang mengerti semua komplikasi tersebut namun bukan berarti ia dapat mentoleransi dan mengubur masalah ini begitu saja karena ini menyangkut keselamatan istrinya. Ia harus mencari tau sendiri apakah Liang Chenyue pelakunya atau orang lain untuk membuatnya tenang dan memiliki kewaspadaan pada pelaku tersebut jika ia tidak bisa menghukumnya.


Walaupun hal ini akan membuat Prefek Zhong menjadi canggung karena ia seakan mengejeknya pria tua itu yang tidak becus menyelesaikan masalah ini namun Lu Xiang tetap melakukannya. Ia berharap agar Prefek Zhong juga mengerti sama sepertinya yang berusaha melindungi keluarga yang ia cintai.


Ia dan Adelia menghabiskan banyak uang untuk mencari berbagai informasi yang berguna baik dari pengemis yang ada di bagian luar kota atau dari orang lain namun tidak ada yang petunjuk apapun hingga ia mendapat bantuan dari Jun Zhong, ayah Jun Shi bahwa ia dapat melakukan mendapatkan informasi rahasia dari broker bawah tanah.


Lu Xiang berterimakasih dan pergi bersama dengan Lu Kai yang bisa ilmu bela diri ke toko biasa di bagian luar kota yang bernama Hansen, toko yang menjual berbagai barang yang di


"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu tuan".! Seorang pelayan menyapa dengan hangat.


"Aku ingin mencari kelinci".


Tatapan pelayan berubah. "Kelinci apa yang ingin tuan cari?".


"Aku ingin mencari kelinci hitam".


"Hehe. Silahkan ikut aku tuan".


Lu Kai memegang erat pedang di tangannya dengan tatapan waspada. Pelayan tersebut tidak menuntun mereka ke belakang toko menuju lorong panjang hingga masuk ke sebuah ruangan yang terdapat sebuah pembatas kain antara Lu Xiang dan wanita di hadapannya.


"Tuan Xiefu Lu. Selamat datang di broker Jansenxui. Informasi apa yang ingin anda ketahui?".


Lu Kai melirik ke kiri dan kanan karena menyadari hawa keberadaan orang lain semakin mereka, tubuhnya menjadi siaga namun Lu Xiang duduk santai dengan wajah serius.


"Aku ingin mencari tau apakah ada yang memberi tugas untuk membakar tokoku di sini?".


Pertanyaan blak-blakan tersebut membuat wanita berpakaian terbuka itu tertegun lalu terkekeh lucu.


"Tuan Xiefu. Seperti rumor yang saya dengar bahwa anda memiliki kharismatik yang dapat menarik pandangan wanita. Aku awalnya tidak percaya namun sekarang....".

__ADS_1


"Tolong jawab pertanyaan ku pengalihan apapun".


Senyum menggoda wanita itu sedikit menghilang lalu kembali tertawa seksi. "Baiklah. Biaya informasinya 500 koin perak".


Lu Xiang langsung melemparkan kantong uang ke pembatas kain tanpa basa-basi.


"Satu informasi lagi yang ingin aku ketahui. Apa perempuan yang bernama Liang Chenyue atau nyonya Zheng pernah berkunjung kemari?"


Wanita itu tertegun kembali. Rupanya Lu Xiang sudah memiliki kandidat pelaku dan hanya memastikannya.


"Maaf tuan Xiefu. Kami tidak bisa memberitahu informasi tentang klien kami".


Lu Xiang menatap datar wanita itu lalu tersenyum miring dan kembali melempar kantong uang berisi 500 koin perak lalu berdiri. "Terimakasih atas informasi yang Jansenxui berikan. Semoga kita bisa bekerjasama lagi".


Lu Xiang melangkah pergi dibawah pengawasan Lu Kai meninggalkan wanita yang terdiam lalu tertawa keras.


Wanita berparas cantik itu menjilat bibir atas penuh menggoda, Lu Xiang benar-benar tipe lelaki kesukaannya namun ia tidak bisa berurusan dengan laki-laki itu karena Lu Xiang adalah lelaki berbahaya.


Lu Xiang berkeliling dua blok bangunan baru melepaskan jubah hitam yang ia pakai serta topi penutup wajah dan pulang ke rumah.


"Baik tuan besar". Kejadian pembakaran toko membuat tuannya menyadari bahwa keluarga Lu Xiang kekurangan penjaga yang dapat melindungi mereka.


&&&


Hari minggu adalah hari yang cocok untuk bersantai. Lu Xiang mengajak Adelia dan kedua adiknya untuk menonton pertandingan sepak bola persahabatan yang akan dilakukan di lapangan besar yang dikelilingi oleh dua bukit sedang di bagian luar kota Fucheng.


Karena masalah yang terjadi pada keluarganya, Lu Xiang berpikir bahwa keluarganya harus rileksasi dengan melihat pemandangan atau mengikuti suatu acara. Pertandingan sepak bola digelar untuk merayakan festival musim panas, ia ingin Adelia gembira melihatnya tampil walaupun hanya sebagai pemain cadangan.


Siang hari, Lu Xiang, Adelia, Lu Cheng dan Lu Shan sudah bersiap untuk pergi.


Adelia didampingi oleh Lu Mei dan Lu Yan serta Lu Kai, walaupun ia tidak ingin didampingi oleh banyak pelayan namun Lu Xiang tetap bersikeras menjelaskan bahwa ini semua dengan kenyamanannya membuat Adelia pasrah dan menerima saran tersebut.


Lu Cheng dan Lu Shan tidak sabar melihat pertandingan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, Lu Shan bahkan begitu antusias dan tidak sabar untuk segera sampai di lapangan.


Sesampainya mereka di sana. Lu Xiang memilih bukit untuk menjadi tempat duduk mereka. Antusias masyarakat akan pertandingan ini membuat sekitar lapangan penuh oleh orang-orang yang menonton.

__ADS_1


Lu Xiang tidak ingin keluarganya terjadi sesuatu dan memilih bukit, istrinya dapat menonton pertandingan tanpa kendala di sana.


Di bukit tersebut sudah ada beberapa keluarga yang memiliki pemikiran yang sama dengan Lu Xiang. Lu Mei dan Lu Yan segera mempersiapkan tempat duduk, menggelar karpet kulit dan menimpanya dengan karpet katun yang tebal dan lembut lalu membuat terpal tenda sebelum meletakkan makanan dan minuman yang mereka bawa.


Persiapan matang tersebut membuat keluarga lain iri dan menyuruh suami mereka untuk menyiapkan hal yang sama.


Adelia menjadi malu namun ia terharu akan persiapan lengkap suaminya.


"Aku akan turun dan mengganti baju. Karena aku pemain cadangan, aku akan bermain di akhir pertandingan. Kau harus melihatnya sayang. Aku akan memenangkan pertandingan ini".


Adelia terkekeh. "Baiklah. Aku akan menunggu".


Lu Xiang tersenyum lembut dan membelai pipi istrinya, ia tidak bisa mencium pipi atau bibir seksi Adelia karena berada di tempat umum.


"Lu Cheng, Lu Shan. Tolong jaga kak Adel".


"Siap kak!".


"Kau harus menang kak agar tidak membuat malu kak Adel" Pesan Lu Cheng membuat bibir Lu Xiang berdenyut dan Adelia tertawa lucu.


"Aku tau bocah tengik. Kau tidak perlu memberitahu ku".


"Bagus kalau kau tau kak. Aku akan menunggu dan memberi dukungan padamu".


Lu Xiang segera bergabung dengan timnya dan mengganti pakaian hanfu yang biasa dipakai untuk berburu dengan lengan yang pas serta ikat kepala.


Permainan sepak bola zaman kuno berbeda dengan sepak bola modern. Sepak bola zaman kuno disebut dengan cuju, permainan bola rotan yang terdiri dari 10 anggota yang tidak memiliki penjaga gawang.


Seseorang hanya boleh menggunakan kaki dan tubuhnya lalu menendang bola hingga ke gawang yang berada di atas.


Tim Lu Xiang memakai seragam merah sedangkan tim lawan memakai seragam biru.


"Lu Xiang. Kita akan memenangkan pertandingan ini, kakak ipar pasti akan bangga padamu". Chen Xirang menepuk dadanya seakan mengatakan kau bisa berharap semuanya padaku membuat Lu Xiang tersenyum lalu mengangguk setuju.


Chen Xirang, Song Yuan, Li Jin serta 7 anggota lainnya berkumpul di tengah lapangan lalu membuat formasi. Lawan mereka juga melakukan hal yang sama, kedua tim tersebut berpandangan satu sama lain hingga terompet dan genderang pertanda pertandingan di mulai di bunyikan.

__ADS_1


Seseorang memanah tali yang mengikat bola rotan di atas kepala mereka lalu kedua tim tersebut berlari ingin memonopoli bola dengan kemampuan kaki dan tubuh mereka.


__ADS_2