Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Gelar Xiao Xieyuan dan lamaran


__ADS_3

Lu Xiang mengelus lembut rambut lalu mengecup kening Adelia. "Kau tidak perlu khawatir, walaupun aku juga menjadi fokus para pangeran namun jika aku hanya fokus pada Kaisar maka tidak ada yang dapat memaksaku untuk masuk ke fraksi manapun".


Adelia berpikir lalu mengangguk setuju namun kemudian mengernyit kembali. "Tapi menolak mereka bukan sesuatu yang dapat kita lakukan".


Bagi pangeran yang memandang rendah pada  orang-orang yang bukan bagian dari anggota kerajaan, penolakan adalah sesuatu yang menghina bagi mereka. Walaupun sekarang Lu Xiang mendapat dukungan dari Kaisar namun ketika Kaisar selanjutnya bertahta maka itu akan menjadi kehancuran bagi karir atau keluarga mereka, dendam Kaisar bukanlah sesuatu yang dapat mereka hadapi.


"Kau begitu pintar sampai bisa berpikir begitu sayang, jika kau seorang laki-laki maka akan banyak wanita yang tergila-gila padamu". Lu Xiang menjadi gemas dan menghujani istrinya dengan banyak kecupan.


Adelia memutar bola mata jengah. "Jika aku menjadi laki-laki maka aku tidak menjadi istrimu. Aku serius Lu Xiang, coba pikirkan hal itu".


"Jangan khawatir sayang, kita masih banyak waktu untuk memikirkan hal itu. Aku akan mencari tau informasi tentang keadaan politik dengan detail dan memahaminya, lagipula mereka tidak akan terangan-terangan memaksaku untuk masuk ke dalam salah satu fraksi mereka, jika aku menjawab ambigu maka tidak akan menjadi masalah".


Adelia berpikir lalu mengangguk mengerti. Ya, dibawah pengawasan Kaisar tidak mungkin para pangeran berani menarik Lu Xiang ke dalam fraksi mereka.


"Kau memang hebat suamiku, kau dapat memikirkan solusi itu" Adelia mengecup bibir Lu Xiang dan tersenyum manis.


Mata Lu Xiang menjadi kelam oleh inisiatif tersebut namun menahan diri, kehamilan yang memasuki usia tua sangat riskan jika mereka bercinta setiap harinya. Ia memeluk erat istrinya dan mengambil napas dalam untuk menenangkan api yang mulai memercik di tubuhnya. Keduanya lalu tidur menanti kedatangan esok hari yang penuh kejutan.


Pagi harinya, petugas yamen dibawah pimpinan Prefek datang berkunjung membawa kain satin merah bertuliskan berita baik dan juga batu giok bertuliskan Juren Xiao Xieyuan serta berkas tentang pembebasan pajak tanah.


"Selamat tuan Xiao Xieyuan! Anda menjadi orang kedua yang mendapatkan gelar terhormat tersebut" Petugas Wei menyampirkan kain satin ke bahu Lu Xiang dan mengucapkan selamat.


Orang-orang yang sudah berkumpul untuk melihat adegan langka tersebut bertepuk tangan senang dan juga mengucapkan selamat.


"Terimakasih petugas Wei, ayo masuk ke dalam untuk minum teh dulu".


Adelia menyuruh Lu Mei untuk melemparkan koin pada orang-orang yang menonton sebagai rasa syukur mereka akan begitu bahagia tersebut. 


Petugas yamen berbincang sesaat sebelum pamit setelah meninggalkan kesan baik pada Lu Xiang dan Adelia.


Berita tentang Lu Xiang menjadi Xiao Xieyuan menyebar ke seluruh penjuru kota Fucheng, orang-orang banyak berdatangan untuk memberikan hadiah selamat serta lamaran sekedar mencari peruntungan, mungkin mereka mendapat hoki yang tak terduga.


Keluarga Zhong dan keluarga aristokrat lainnya juga mengirimkan hadiah selamat melalui pelayan pada Lu Xiang, status laki-laki itu di mata mereka semakin meninggi terlebih ketika beberapa dari mereka mendengar kabar tentang utusan Kaisar.

__ADS_1


"Selamat Lu Cheng, selamat Lu Shan. Kakak kalian mendapat gelar Xiao Xieyuan, wah!! gelar itu begitu menakjubkan".


Para keluarga aritstokrat dan cendikiawan juga menyuruh anak atau cucu mereka untuk menjalin hubungan baik dengan kedua adik Xiao Xieyuan tersebut sehingga nama keduanya di akademi semakin besar dan banyak yang mengucapakan selamat pada begitu baik itu.


"Terimakasih" Lu Cheng tersenyum kaku oleh banyak selamat yang datang padanya. Ia tidak terbiasa tersenyum lepas pada selain keluarganya sehingga otot wajahnya begitu kaku ketika melakukannya.


Lu Shan yang juga banyak mendapatkan selamat tersenyum lebar dan merasa begitu semangat dan antusias seakan dia sendiri yang mendapat gelar tersebut namun keduanya tidak satu pun menerima hadiah yang datang karena peringatan kakak mereka. Lu Xiang takut jika adik mereka dimanfaatkan dan menjadi korban.  


"Hahaha, wajahmu begitu kaku Lu Cheng. Kau bukannya tersenyum tapi meringis" Sheng Xiaobao mencuil pipi temannya.


Lu Cheng hanya dapat memutar bola mata speechless dan membuat Sheng Xiaobao tertawa lucu.


"Lu Cheng! Apa kau lihat pemberian hadiah dari mereka? itu pasti makanan manis dan enak, sayang kita tidak dapat menerimanya".


Lu Cheng menjadi speechless melihat raut wajah kecewa adiknya, ia menyentil jidat Lu Shan. "Apa kau tidak dengar perkatan kak Xiang dan Adelia?".


Lu Shan memegang jidatnya yang sakit lalu memanyunkan bibirnya. "Aku dengar, kau tidak perlu menyentil jidatku".


Tubuhnya yang gembul semakin bulat seperti bola dan itu membuat orangtuanya selalu melarangnya untuk pergi ke toko De Xiang namun dengan alasan ini, ia tidak dimarahi oleh ibunya. Hahaha, begitu jenius!.


Mata Lu Shan bersinar dan segera mengangguk antusias, sedangkan Lu Cheng memutar bola matanya karena tau apa dipikirkan oleh Jun Shi, Sheng Xiaobao hanya tertawa lucu melihat reaksi kakak beradik itu.


&&&


Adelia melihat berbagai buku sketsa dan maksud lamaran yang datang untuk suaminya dalam diam dan merasa skeptis, ini ketiga kalinya ia harus menghadapi siatuasi yang sama, jarinya mengetuk penyangga kursi dan fokus melihat sketsa gadis cantik dan anggun.


"Nyo-nyonya?". Lu Mei dan Lu Yan yang berada di samping menjadi panas dingin melihat majikan mereka yang diam saja sembari memandang sketsa tersebut.


"Hm?"


"Anda tidak perlu cemas nyonya. Tu-tuan besar tidak akan menerima selir-selir itu".


"Ya nyonya, status anda tidak akan pernah tergantikan di rumah ini"

__ADS_1


Adelia tertegun oleh perkataan kedua pelayan dan sadar bahwa mereka sedang menghiburnya, ia pun tertawa lucu membuat Lu Mei dan Lu Yan menjadi heran dan bingung.


"Aku tidak memikirkan itu, hahaha kalian tenang saja. Aku memikirkan bagaimana cara menolak lamaran ini tanpa menimbulkan rumor apapun".


Lu Mei tersadar. Ya, sebelumnya tuan besar sudah menolak lamaran yang datang dan memunculkan rumor bahwa ia takut istri. Pasti akan ada rumor lainnya jika lamaran yang datang kali ini ditolak kembali.


"Apa yang kau pikirkan sayang?" Lu Xiang yang baru saja kembali dari akademi melihat istri dan pelayannya yang sedang serius memikirkan sesuatu.


"Kau sudah pulang Lu Xiang? Sini, aku sedang memikirkan cara menolak lamaran-lamaran ini".


Lu Mei dan Lu Yan membungkuk rendah menyapa Lu Xiang sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Lu Xiang tertegun. "Banyak lamaran yang datang?".


"Ya. sebagian besar kita bisa menolaknya namun dua lamaran dari keluarga Jun dan keluarga Feng sangat sulit menolaknya".


Lu Xiang mengambil buku sketsa dari tangan Adelia dan meletakkannya di atas meja dan melihat sedikitpun. "Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah memikirkan cara untuk menolaknya".


Adelia mengangkat alis dengan heran. "Apa caranya?"


Lu Xiang tersenyum misterius. "Kau ingin tau?"


Adelia mengangguk penasaran.


Lu Xiang tersenyum dan menunjukkan bibirnya sebagai hadiah pembuka mulut. Adelia speechless, dengan wajah sedikit merona malu, ia mengecup bibir tebal suaminya namun tangan kekar menahan kepalanya untuk membuatnya bukan sekedar kecupan.


Keduanya bercumbu dalam hingga Adelia memukul dada Lu Xiang karena kehabisan oksigen baru bibir keduanya terlepas dan menyisakan jembatan saliva yang kemudian dijilat oleh Lu Xiang, wajah Adelia semakin memerah melihat perbuatan suaminya.


"Apa caranya?" Adelia masih penasaran oleh cara yang Lu Xiang katakan. Suaminya mendekatkan bibir ke telingannya lalu berbisik seksi.


"Rahasia". Lu Xiang tertawa rendah.


"Lu Xiang!" Adelia menyadari bahwa ia dibodohi oleh suaminya pun menjadi kesal namun keesokan harinya ia tau tentang cara apa yang Lu Xiang lakukan untuk menolak lamaran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2