
Lu Xiang merebahkan tubuh Adelia ke atas tempat tidur dengan hati-hati, ia menatap wajah istrinya yang tertidur pulas karena reaksi obat.
Ia mengambil dan menggenggam erat tangan kiri Adelia dan mengecupnya dengan lembut, matanya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Sedangkan tangan lainnya mengepal menahan segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya.
Ia mendengar degup jantungnya yang berdetak kencang dan cepat namun tatapannya hanya fokus pada Adelia semata.
Lu Xiang kembali merasakan ketidakberdayaan yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak ia menjadi sarjana Xie yang sukses. Ia menyadari bahwa gelar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan dan kekuasaan.
Karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, ia hampir saja kehilangan wanita yang sangat ia cintai!! Karena ketidakmampuannya ia hanya bisa melihat istrinya menahan rasa sakit tanpa bisa berbuat apapun!!!.
Apa yang ia dapatkan dari gelar-gelar itu?!! Ketenaran?! Apakah ketenaran mampu menjaga istrinya!!! Baru kali ini ia merasakan haus akan kekuasaan!!, kekuasaan yang dapat melindungi orang yang berharga untuknya!!.
Pikiran Lu Xiang melayang pada perkataan gurunya yang mengatakan bahwa pemilik restoran Fuyuan adalah keluarga maternal putra mahkota.
Apa aku harus bergabung dengan fraksi pangeran putra mahkota? Tidak! Aku tidak bisa begitu saja bergabung tanpa tau fraksi mana yang berpotensi besar memiliki tahta.
Lu Xiang mengernyit merasakan sakit di tangannya, ia membuka telapak tangan perlahan-lahan dan melihat darah bekas kuku yang menghujam tangannya, namun sama sekali tidak beranjak dan terus memegang tangan Adelia.
"Lu...Xiang?" Adelia mengedipkan matanya yang masih mengabur lalu menatap suaminya, melihat mata merah dan wajah berantakan kurang tidur.
"Adelia! Sayang! Kau sudah bangun. Apa kau ingin minum?".
Adelia menelan air liur mencoba membasahi kerongkongan dan mengangguk pelan.
Lu Xiang mendudukkan Adelia dengan penuh lemah lembut dan menuangkan air dan memberikannya pada istrinya.
Adelia menghela napas lega dan kembali menatap suaminya, keningnya mengernyit. "Lu Xiang. Apa kau tidak tidur semalam? Wajahmu sangat berantakan".
Adelia mengelus pipi suaminya yang menempelkan wajahnya pada telapak tangannya. "Aku membuatmu khawatir".
"Tidak sayang. Aku baru saja bangun, wajahku berantakan karena aku belum membersihkan diri. Apa kau ingin sarapan? Sebentar, aku akan membawakannya untukmu".
Adelia mengingat kejadian tadi malam dan kembali menghela napas berat. Siapa yang ingin mencelakainya? Ia tau bahwa tindakan itu direncanakan, ia hanya berharap bahwa pelakunya segera ditemukan dan melepaskan beban Lu Xiang.
__ADS_1
Pintu dibuka dari luar membuat Adelia segera melebarkan senyum cerah. Ia tidak ingin membuat Lu Xiang menjadi lebih khawatir akan keadaannya.
"Kak Adel. Kau sudah bangun, kau tidak sarapan bersama. Apa kau sedang sakit kak?" Lu Shan masuk bersama Lu Cheng dan Lu Xiang yang membawakan nampan sarapan.
"Tidak Lu Shan, aku sudah hamil besar jadi lebih malas dari biasanya~. Aku ingin manja pada Lu Xiang dengan memintanya membawakan sarapan".
Lu Shan memiringkan kepalanya mencoba berpikir dan memastikan kebenaran perkataan kakak iparnya. "Benarkah?".
"Ya. Lihat saja sendiri, aku tidak apa-apa". Adelia mengangkat kedua tangannya, lupa bahwa tangannya sedang terkilir dan dibalut perban.
Lu Shan terkejut dan segera menghampiri Adelia, Lu Cheng menatap Lu Xiang yang meletakkan nampan di meja, seakan meminta penjelasan. Kakak iparnya pergi dalam keadaan baik-baik saja kemana pulang tangannya dibalut oleh perban?.
"Kak Adel. Tanganmu kenapa kak?"
"Kakak...aku.." Adelia tidak tau harus beralasan apa dan menatap suaminya meminta bantuan.
"Kak Adel, tidak hati-hati ketika ke kamar mandi jadi hampir kepleset, tangannya hanya sedikit terkilir, dua hari lagi akan sembuh".
Lu Shan memanyunkan mulutnya sembari menatap khawatir. "Kenapa kau tidak hati-hati kak? Bagaimana jika kau terluka dan tidak ada yang tau karena kau sendiri di kamar mandi".
"Kau tidak perlu khawatir, mulai sekarang aku akan menemani kak Adel ke kamar mandi, setelah kejadian ini istriku pasti tidak akan memiliki alasan untuk menolak bantuan kan sayang~". Lu Xiang mengambil kesempatan dalam kesempitan, meminta Adelia menyetujui perkataannya.
Adelia menghela napas pasrah dan mengangguk pelan. Lu Shan pun bernapas lega sedangkan Lu Cheng mengernyit tidak percaya namun ia tidak bisa membicarakan sekarang.
Lu Cheng dan Lu Shan pergi ke akademi setelah melihat Adelia menghabiskan sarapan sedangkan Lu Xiang meminta izin pada akademi untuk mengambil libur dua hari lagi. Ia sudah banyak mengambil cuti namun beruntung memiliki banyak poin karena selalu mendapatkan ranking pertama di setiap tes ujian akademi maupun di kantor divisi matematika sehingga poinnya tidak menjadi minus.
Ia menidurkan Adelia sebelum pergi kantor Prefek melihat perkembangan kasus percobaan pembunuhan atas istrinya namun tidak memiliki perkembangan signifikan.
"Untuk pelakunya sendiri, kami belum menemukannya. Pelayan yang menabrak nyonya Xiefu sudah melarikan diri dan kami akan berusaha keras untuk menemukan keberadaannya".
Lagi-lagi kasus kosong yang akan terkubur. Mata Lu Xiang berubah dingin, ia benci dengan proses lambat yang dijalankan oleh petugas yamen dan Prefek Zhong.
"Namun kami mendapatkan pelaku lainnya, untuk saat ini kami masih menginterogasi pelayan tersebut. Kau jangan khawatir tuan Lu, kami pasti akan menangkap pelakunya. Itu janji Prefek, kasus ini tidak akan berhasil sama seperti kasus yang lalu" Petugas Wei berusaha menjelaskan agar Lu Xiang tidak kehilangan kepercayaan pada Prefek maupun pada mereka.
__ADS_1
Lu Xiang tertegun. "Maksudmu, pelaku yang ingin mencelakai istriku bukan hanya satu orang?!".
"Kami belum tau, tapi kami berasumsi bahwa pelakunya hanya seorang, yang tertangkap adalah pelayan yang menyalakan tugas saja".
Lu Xiang bernapas lega, dengan pelayan itu mungkin mereka akan mendapatkan bukti untuk menangkap Liang Chenyue, ia tidak tau apakah Prefek Zhong akan mengabaikan hubungan kekeluargaan itu demi dirinya namun itu menentukan kejelasan hubungan mereka di masa depan.
Lu Xiang mengganti baju dengan jubah hanfu hitam dan memakai topi yang menutupi wajah lalu bersama dengan Lu Kai, keduanya pergi ke toko Jensanxui.
"Tuan! Apa anda ingin mencari kelinci?".
"Pertemukan aku dengan wanita itu".
Sang pegawai tersenyum miring, matanya berkilat tajam. "Ikut saya tuan".
Ketiga pergi menemui perempuan yang berpakaian hanfu seksi yang terpisah oleh kain merah transparan.
"Fufufu, tuan Xiefu. Selamat datang kembali. Apa anda merindukan hamba?" Suara seksi dan centil membuat siapa saja merinding namun Lu Xiang melemparkan kantong uang berisi 500 koin perak tanpa basa-basi lalu mengeluarkan sketsa pelayan yang digambarkan oleh Lu Mei
"Carikan keberadaan wanita ini dan sampaikan informasinya pada petugas Wei". Ia tidak perlu menjelaskan siapa petugas Wei karena anggota Jansenxui pasti mengetahuinya.
"Itu saja tuan".
"Apa kau tau situasi politik di ibukota?".
Baik wanita itu maupun penjaga yang bersembunyi tertegun oleh pertanyaan Lu Xiang.
"Kenapa anda ingin tau situasi politik di ibukota tuan Xiefu?".
"Kau tidak perlu tau, katakan saja apa kau tau situasi politik disana?". Lu Xiang menatap tajam.
Sang wanita seksi itu menyulut rokok di pipa rokok panjang yang terbuat dari kayu lalu menghisap dan mengeluarkan asapnya dengan pelan. Ia mencoba menenangkan hatinya yang waspada akan pertanyaan Lu Xiang.
"Sedikit banyak hamba yang lemah ini tau tuan, tapi anda tau sendiri bukan, ini bukan informasi yang bisa kami berikan begitu saja".
__ADS_1
Lu Xiang kembali melemparkan kantong uang yang lebih besar dan berat. "Di dalamnya ada 3.000 koin perak, aku akan kembali beberapa hari lagi untuk mengambil laporan kalian. Jika aku puas aku akan menambah 3000 koin perak lagi".
Lu Xiang berdiri dan meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari sang wanita.