
Soal ujian Sheng-shih lebih kompleks daripada ujian sebelumnya. Mereka diharuskan menjawab dalam bahasa sastra tinggi serta membuat puisi sendiri dari tema yang diberikan.
Ujian Sheng-shih diadakan pada musim panas yaitu pertengahan bulan Agustus, dimana musim panas hampir berada pada puncaknya.
Hal itu menyebabkan udara menguap dan membuat bau tidak sedap dari toilet berada pada puncaknya. Sarjana yang mendapatkan nomor sial benar-benar sial karena tidak mampu berkonsentrasi dalam menjawab pertanyaan akibat bau menyengat tersebut hingga akhirnya ia menyerah.
Terlebih ketika malam hari ketika sarjana membuka sepatu dan menambahkan bau yang sudah ada.
"Siapa yang memiliki bau kaus kaki seperti ikan asin itu?"
"Sial! Baunya begitu menyengat. Apa kau ingin membunuhku dengan bau kaus kakimu?! Kau tidak puas dengan bau menyengat toilet!!"
Berbagai umpatan dan kutukan terlontar pada pemilik bau kaus kaki tersebut.
Akhirnya beberapa orang peserta menyerahkan karena kehilangan hafalan yang sudah mereka persiapkan sebelumnya disebabkan oleh bau tidak masuk akal itu.
"Jangan berpikir bahwa aku akan gagal sendirian".
Sarjana tersebut diam-diam merobek kertas peserta ujian lainnya yang berada di sampingnya ketika peserta tersebut pergi ke kamar mandi.
Mungkin itulah pembuka gerbang kelicikan, tindakan sarjana itu dicontoh oleh sarjana lainnya yang merasa bahwa mereka gagal ujian karena tidak bisa menjawab soal dan ataupun tidak bisa berkonsentrasi akibat bau menyengat.
Satu persatu peserta yang gagal menggagalkan peserta lainnya yang membuat tingkat kesulitan dalam ujian meningkat beberapa derajat. Seorang peserta tidak hanya harus berkonsentrasi menahan bau urine namun juga harus waspada pada keadaan sekitar.
Bahkan di akhir ujian ada peserta yang memilih untuk buang air kecil di samping bilik ujian membuat peserta ujian lainnya mengeluh dan mengumpatnya namun itu begitu ampuh dalam melawan orang-orang yang ingin menggagalkannya.
Chen Xirang dan Li Jin keluar dari gedung ujian dalam keadaan berantakan rambut yang tidak rapi dan pakaian yang kusut membuat mereka tidak tampak elegan sedikitpun, apalagi dengan wajah kacau kurang tidur dan kurang makan, keduanya tampak seperti pengemis jalanan.
Song Yuan dan Zhang Yunlei bahkan lebih parah, keduanya pingsan ketika sampai ke depan gedung membuat petugas yamen harus menyeret mereka ke samping karena tidak tahan bau badan keduanya dan berteriak siapa pelayan kedua sarjana ini agar segera mengambil tubuh mereka.
Sedangkan keadaan Lu Xiang dan Wang Tianjin lebih baik daripada keempat teman mereka. Walaupun pucat dan wajah berantakan namun pakaian masih cukup rapi untuk orang mengenali mereka.
__ADS_1
"Lu Xiang, aku hampir mati!! Aku hampir oleh bau menjijikkan itu". Cheng Xirang menggantungkan dirinya pada tubuh Lu Xiang membuat temannya mengernyit jijik oleh bau tubuhnya namun ia tidak peduli!!.
"Wang Tianjin, tolong papah aku. Aku tidak sanggup berdiri lagi!!" Li Jin yang terduduk di lantai tanah mengulurkan tangannya yang lemah.
Wang Tianjin pasrah dan membantu temannya untuk berdiri namun pandangannya fokus pada dua tubuh yang tergeletak di samping jalan.
"Song Yuan! Zhang Yunlei!".
Lu Xiang juga terkejut oleh pemandangan mengenaskan itu dan tidak berimage tersebut. Kedua temannya terbaring di tanah dengan tangan dan kaki yang terlentang.
Keduanya menggendong Song Yuan dan Zhang Yunlei di punggung mereka dan meminta Cheng Xirang untuk membantu Li Jin. Beruntung Lu Cai dan Lu Xiao sudah menunggu dan segera mengambil alih gendongan dari Lu Xiang dan mengangkatnya ke kereta kuda.
Keenam sarjana yang tidak berimage tersebut berdesakan dalam kereta kuda dan pulang ke rumah Lu Xiang untuk membersihkan diri dan memeriksa kondisi mereka pada tabib yang pelayan panggil.
"Aku pulang sayang~".
Adelia segera menoleh mendengar suara yang selalu membuatnya rindu, ia melangkah cepat dan merentangkan kedua tangannya ingin memeluk namun Lu Xiang segera menahannya.
"Sayang, aku belum mandi selama tiga hari, sebentar ya aku mandi dulu".
"Hahaha, kan sudah kubilang kalau aku bau karena belum mandi tiga hari. Sebentar aku mandi dulu atau kau mau mandi bersama~?" Suara menggoda itu terdengar di telinga Adelia membuat telinganya memerah.
"Hehe tidak, kau sendiri saja".
"Oh ya. Temanku akan makan siang disini, aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan". Ucap Lu Xiang sebelum masuk ke kamar mandi.
Adelia mengangguk.
&&&
Tubuh teman Lu Xiang sedikit membaik setelah membersihkan diri dan makan makanan enak yang dipersiapkan oleh pelayan.
__ADS_1
"Ha~ inilah surga yang sebenarnya, makanan di tempat mu memang selalu enak Lu Xiang". Chen Xirang menyandarkan punggungnya di kursi sembari mengelus perutnya yang penuh.
Keempat lainnya mengangguk dan menyisip wine dengan santai.
"Jangan bersantai dulu, ayo kita ke depan. Tabib sudah menunggu"
"Ow~ Lu Xiang. Apakah aku pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu temanku? Kau memang yang terbaik".
"Euh kau membuat ku jijik" Tubuh Lu Xiang merinding mendengar nada manja dari temannya.
"Hahaha, Chen Xirang. Apa kau terlalu laam tidak berkunjung ke rumah banmei sampai orientasi seksual mu berubah?" Song Yuan tertawa dan bercanda namun semua temannya bergidik ngeri pada candaan garing itu.
"Jangan berbicara omong kosong. Ah~ aku merindukan tangan halus dan wajah cantik mereka. Apa setelah ini kita akan pergi ke rumah banmei?".
"Ok..."
"Jangan pernah mencoba berpikir untuk pergi ke sana sebelum kalian menyelesaikan ujian. Apa kalian ingin menangis karena gagal ujian".
Cheng Xirang yang antusias seperti tersiram air dingin mendengar kata-kata berbentuk doa dan kutukan tersebut.
"Tidak. Aku tidak ingin gagal" Keduanya menjawab serentak.
Mereka pun memeriksa kondisi mereka pada tabib yang datang dan meminum suplemen agar tubuh mereka tetap fit untuk melanjutkan ujian.
Jarak antara per sesi ujian Sheng-shih adalah dua hari sehingga peserta memiliki waktu yang cukup untuk memaksimalkan kondisi tubuh sebelum masuk ujian kembali.
Adelia menatap Lu Xiang yang tidur sangat lelap lalu menghela napas sedih, ujian pada zaman kuno lebih menguras pikiran dan tenaga daripada pada zaman modern yang hanya memakan waktu 11 jam saja.
Walaupun banyak dari pelajar yang mengeluh tentang waktu yang sangat lama itu namun dibandingkan dengan apa yang nenek moyang mereka lakukan, ujian gaoko tidaklah ada apa-apanya.
"Aku bersyukur memiliki air sumur teratai dan membuat kondisimu lebih stabil dibandingkan sarjana lain" Bisik Adelia lalu mengecup mata suaminya yang terpejam dan merebahkan tubuhnya di samping Lu Xiang.
__ADS_1
Tidak terasa ia sudah tinggal di zaman kuno paralel selama setahun lebih, semua yang terjadi pada kehidupannya membuatnya belajar banyak dan yang paling membuatnya bersyukur adalah kehadiran Lu Xiang, Lu Cheng dan Lu Shan serta anak mereka yang tidak lama lagi akan datang ke dunia.
Adelia membenarkan postur tubuhnya agar nyaman dan tidak menghimpit perut lalu memeluk tangan suaminya dan ikut memejamkan mata.