
Keesokan harinya Lu Xiang pergi ke kantor Prefek untuk menemui pegawai kementerian pekerjaan umum yang sudah beberapa hari sampai di Fucheng.
Pegawai tersebut sampai di Fucheng pada siang sore dan malamnya Prefek Zhong mengundang mereka dan beberapa kolega dekatnya untuk minum bersama di kediamannya sembari mengundang perempuan penghibur beserta grup orkestra untuk menemani pegawai tersebut.
Baru keesokan harinya mereka berangkat ke desa Shu untuk memeriksa kebenaran laporan yang datang ke ibukota.
"Anda melakukannya dengan rapi dan baik Prefek. Proyek ini begitu detail dan berguna untuk kesejahteraan rakyat Kerajaan Murong".
Pegawai kementerian pekerjaan umum yang bernama Gao Mao menatap takjub pada tanggul dan irigasi yang dibuat secara rapi dan tidak bertele-tele. Aliran air yang masuk dan saluran pembuangan dibuat dengan tepat sehingga tidak hanya bermanfaat untuk petani namun juga masyarakat setempat karena lebih mudah dan dekat dalam mengambil keperluan air untuk mencuci atau keperluan lainnya.
Drainase persawahan juga dapat digunakan oleh masyarakat setempat karena belum mengenal dan menggunakan pestisida atau pupuk yang membahayakan air untuk digunakan oleh manusia atau hewan.
"Terimakasih atas pujiannya tuan Gao. Semua ini berkat kerjasama semuanya, saya tidak bisa mengklaim semua kerja keras mereka untuk diri saya sendiri".
Anak buah Prefek sangat senang mendengar pujian bos mereka, walaupun usaha mereka tidak tertulis dalam laporan yang disampaikan ke Kaisar namun ucapan penghargaan itu sudah cukup membuat mereka bahagia.
Gao Mao yang berusia hampir setengah abad mengelus janggutnya yang masih hitam. "Saya akan melaporkan semua kerja keras semuanya pada Kaisar agar beliau tau usaha yang kalian lakukan. Ngomong-ngomong sarjana yang memberikan ide..".
"Oh Lu Xiang! Maaf dia tidak bisa menyambut anda karena mengikuti ujian Sheng-shih".
"Ya, saya mengerti. Saya hanya ingin bertemu dengannya agar mengenal sarjana jenius yang dapat memikirkan ide brilian ini".
Mata Prefek Zhong berkilat mendengar perkataan Gao Mao, ia seperti dapat menangkap sesuatu dari nada yang diucapkan oleh laki-laki di hadapannya, matanya sedikit melebar ketika teringat fraksi mana Gao Mao berdiri.
Jangan bilang kalau ucapan itu berasal langsung dari putra mahkota!!.
"Jangan khawatir tuan Gao, anda akan bertemu dengan Lu Xiang dua hari lagi". Prefek Zhong semakin ingin mempererat hubungannya dengan pemuda yang mendapat perhatian langsung dari pewaris tahta berikutnya, jika ia juga masuk dalam payung besar itu maka itu akan membawa pengaruh besar pada karir dan keluarganya.
Gao Mao kemudian menyamakan denah desain dengan hasilnya agar dapat menjelaskan secara rinci pada Yang Mulia. Mereka hanya berada satu hari di desa Shu dan segera balik keesokan harinya.
"Selamat datang tuan Gao, senang bertemu dengan anda. Nama saya Lu Xiang, maaf karena saya baru menyapa anda hari ini".
"Oh Xiefu Lu! Senang juga bertemu denganmu. Duduk lah, duduk lah".
Lu Xiang lalu memberikan hadiah pertemuan pada tuan Gao berupa daun teh berkualitas serta wine yang ia beli. "Ini sebagai permintaan maaf saya tuan Gao, tolong terimalah".
"Hahaha, tidak perlu repot-repot. Aku sangat ingin bertemu denganmu ketika Yang Mulia memujimu di pertemuan istana. Ide mu benar-benar brilian karena dapat di gunakan oleh banyak khalayak Lu Xiang".
"Terimakasih atas pujiannya tuan Gao".
"Jangan memanggilku tuan panggil saja aku paman Gao. Pertemuan kita sudah menjadi takdir dari langit".
Perkataan Gao Mao memiliki dua arti yaitu takdir karena titah dari penguasa langit yaitu Kaisar atau takdir dari dewa itu yang membuat ia sebagai fraksi dari putra mahkota bertemu dengan Lu Xiang.
__ADS_1
Lu Xiang tersenyum. "Baiklah paman Gao".
Ia lalu juga memberikan hadiah pertemuan pada Prefek Zhong berupa daun teh berkualitas tinggi. Ketiganya membahas tentang denah dan catatan yang harus diperhatikan atau tentang hal-hal menarik di ibukota.
Pulangnya, Prefek Zhong mengantar Lu Xiang serta memberikan hadiah pada pemuda itu menunjukkan itikad baik untuk mempererat hubungan mereka.
Hal itu membuat Lu Xiang berpikir lebih dalam tentang siapa Gao Mao itu dan kenapa Prefek Zhong menjadi antusias padanya, ia hanya tau segelintir saja tentang situasi politik di ibukota.
Namun ia tidak bisa memikirkan itu sekarang karena harus kembali fokus pada ujian. Sesi kedua adalah aritmatika yang kembali membuat para peserta mengeluh karena soal tingkat lanjutan yang dipertanyakan.
Walau begitu, tidak ada peserta yang gagal yang kembali ingin menggagalkan peserta lainnya setelah mendapatkan peringatan keras dari petugas keamanan. Sesi pertama begitu berantakan dan penuh keributan hingga mereka turun tangan menanganinya.
"Sepertinya aku akan gagal, sepertinya aku akan gagal, sepertinya aku gagal!!" Song Yuan bergumam empat kata itu dengan wajah nestapa.
Penampilan berantakan dengan rambut acak-acakan karena pusing memikirkan jawaban serta kantung mata panda membuatnya seperti orang gila.
"Chen Xirang, bagaimana denganmu?"
"Amitabha, Amitabha, Amitabha".
Temannya malah lebih parah darinya, keduanya lalu menatap Li Jin yang satu tingkatan ilmu matematika dengan mereka berharap bahwa laki-laki itu juga gagal.
Alis Li Jin berdenyut kesal namun ia sedikit tersenyum dan membuang muka.
"Kalian membuat malu saja, ayo kita pulang".
Lu Xiang yang juga bermata panda menarik kerah belakang temannya untuk segera naik kereta dan pulang.
Dalam kereta, Zhang Yunlei menepuk pundak Chen Xirang dan berkata. "Serahkan saja pada dewa".
Hiburan itu bukannya membuat Chen Xirang tenang namun semakin membuatnya ingin menangis dan ia melakukannya.
Zhang Yunlei merasa bersalah namun ia tidak tau perkataan yang mana yang membuat temannya menangis. "Jangan menangis, kita belum melihat hasilnya lagipula mungkin kau tidak akan gagal?".
"Ya, nanti saja menangis jika hasilnya sudah keluar". Timpa Wang Tianjin dengan kejam, ia kesal karena sakit kepalanya bertambah oleh tangisan temannya.
Lu Xiang tidak ikut berbincang dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya beristirahat.
Doa Wang Tianjin pun terkabulkan. Chen Xirang menangis kuat ketika tidak melihat nomor ujian yang ditempelkan di depan gerbang kantor Prefek.
Song Yuan yang berpikir bahwa akan bernasib sama hanya dapat menepuk pundak temannya. "Jangan putus asa, kau bisa mengikuti ujian berikutnya".
Teman Chen Xirang yang lain juga ikut menghibur dan menemaninya untuk minum sesaat.
__ADS_1
Chen Xirang lalu melampiaskan kekesalan dan penyesalannya di rumah Banmei hingga fajar sebelum ia dapat menerima ikhlas nasibnya.
Sesi terakhir ujian Sheng-shih adalah tentang pemerintahan yaitu menganalisa kelebihan dan kelemahan dari sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Prefek.
Penyeleksi ujian memilih jawaban terbaik dari yang terbaik karena keterbatasan jumlah yang dapat diluluskan, ujian berikutnya adalah hui-shih yang akan diadakan di ibukota sehingga hanya semua sarjana yang lulus dari semua provinsi harus berkumpul di sana.
Penyeleksi memeriksa jawaban dan mengelompokkannya menjadi dua bagian yaitu kelas A dan kelas B. Kali ini tidak ada yang berani berbuat kecurangan karena tidak ingin dihukum seperti kolega Feng.
Kehilangan jabatan dan pekerjaan hanya berdampak sedikit namun reputasi akan berdampak besar pada kehidupan dan keluarga mereka.
"Lu Xiang, besok pengumuman hasil ujian Sheng-shih kan?"
Adelia menikmati service lembut suaminya pada perutnya, kehamilan membuat perutnya sering merasa gatal oleh karena itu Lu Xiang sering memberi lotion pada perutnya agar tidak menimbulkan stretch mark.
"Ya. Coba tebak kira-kira aku juara berapa sayang?".
Adelia berpikir serius lalu tertawa senang. "Juara pertama. Kau akan mendapat gelar xiao xieyuan".
Lu Xiang juga ikut tertawa lalu mencubit gemas hidung istrinya. "Kau sangat yakin suamimu akan mendapat gelar itu?".
"Ya, suamiku sangat kompeten".
Wajah pongah dan bangga itu membuat Lu Xiang semakin gemas dan mencium bibir Adelia.
Ciuman seperti pembuka gerbang, tangannya mulai merambat naik masuk ke dalam pakaian Adelia dan mulai mempersiapkan istrinya agar dapat menerima junior miliknya.
Dikarenakan kehamilan yang semakin tua Lu Xiang melakukan cinta ranjang itu dengan hati-hati dan perlahan membuat Adelia yang terbiasa dengan permainan cepat merasa tidak puas namun terlalu malu untuk mengemukakan perasaannya, ia hanya menatap suaminya dengan mata berharap.
"Jangan membuatku berubah menjadi binatang sayang. Kau tidak akan kuat dan menyesal pada akhirnya" Suara parau itu semakin membuat Adelia ingin percintaan panas.
"Lu Xiang~".
"Kau..." Suara manja dan mendesah membuat Lu Xiang semakin tidak sabar, ia mengganjal kaki istrinya dengan bantal lalu melakukan penetrasi dengan posisi spooning.
Keduanya menikmati percintaan itu sebelum sekali-kali bercumbu namun di tengah percintaan sesuatu hal membuat kegiatan mereka berhenti.
Lu Xiang dan Adelia merasakan gerakan bayi mereka seakan berpikir bahwa mereka menyapa dirinya.
"Hahaha, anak kita menyapa kita sayang".
Adelia ingin menangis karena terlalu malu oleh pikiran tidak senonohnya.
Maafkan ibumu nak! huhu.
__ADS_1