
Kabar toko kue yang elegan dan sangat tidak biasa itu menyebar ke berbagai keluarga besar dan berpengaruh di kota Cheng terlebih setelah mendengar perkataan manajer Xu yang punya backing keluarga berpengaruh di ibukota. Para pelayan dari anak gadis keluarga kalangan atas berbondong-bondong membeli kue sehingga toko kue tutup tidak lama setelah pembukaan karena kehabisan stok kue.
Lu Cheng dan Lu Shan bersorak gembira karena tidak menyangka bahwa kue itu akan cepat habis. Begitu pula dengan Adelia, ia menyediakan lima stok kue dari setiap jenis kue tart dan cupcake, ia berpikir bahwa stok itu akan habis dalam dua atau tiga hari karena harga yang lumayan tinggi, ia tidak khawatir akan kue yang basi karena punya space namun sangat tidak menyangka bahwa banyak yang membeli kue mereka walaupun dengan harga yang lebih tinggi dari kue biasanya.
Adelia pulang dan mulai memanaskan makan siang untuk ia bawa ke akademi karena Lu Xiang hanya sesaat berada di toko kue dan langsung pergi ke akademi.
Adelia sudah tidak sabar membagikan kabar gembira itu pada suaminya. Sebelumnya ia tidak pernah pergi ke akademi karena Lu Xiang membawa kotak makan siang namun hari ini ia memilih untuk mulai membawa makan siang karena makanan dalam kotak makan siang tidak hangat lagi ketika dimakan di siang hari. Ia tidak ingin membuat perut suaminya terganggu karena makanan dingin.
"Tolong panggilkan Lu Xiang dari kelas C" Adelia memberi 15 koin tembaga untuk penjaga gerbang karena perempuan tidak boleh masuk ke akademi.
Penjaga gerbang tertegun melihat 15 koin tembaga, biasanya ia hanya akan mendapat 5 sampai 10 koin tembaga untuk setiap orang yang ia panggil. Ia langsung mengangguk antusias dan pergi mencari Lu Xiang.
Tak butuh waktu lama, penjaga itu kembali bersama dengan Lu Xiang yang berjalan cepat.
"Kenapa kau kemari?" Lu Xiang menggenggam tangan Adelia dan membawanya ke samping gerbang yang punya tempat duduk panjang.
"Aku membawamu makan siang, makanlah selagi hangat" Adelia mulai membuka bungkusan kain kotak makan siang dan meletakkannya di hadapan suaminya.
"Bukannya aku sudah membawa bekal makan siang?" Tanya Lu Xiang bingung.
"Mulai sekarang aku akan membawa bekal makan siang untukmu. Bekal yang kau bawa di pagi hari sudah tidak hangat dan mengganggu pencernaan mu".
Lu Xiang tersenyum lembut. Ia mengelus pipi Adelia dengan penuh kasih sayang. "Kau sangat peduli padaku".
"Tentu saja aku peduli. Mengapa kau bertanya hal yang jelas?" Adelia menjawab dengan bingung.
Sinar di mata Lu Xiang semakin dalam melihat tatapan bingung namun tampak begitu manis membuatnya ingin mencium istrinya dan melemparnya ke ranjang. Dengan cepat ia menghirup napas dalam untuk meredam gejolak di hati dan tersenyum menggoda.
"Kau begitu menyukai ku ya sampai sangat peduli padaku?"
Adelia tertegun lalu wajahnya memerah seketika menyadari maksud perkataan suaminya. Ia menunduk dan menggigit bibir bawah menahan rasa malu dan gelisah namun itu malah membuat jakun Lu Xiang bergerak naik turun, kini ia menjadi ragu akan janji untuk tidak menyentuh istrinya sebelum lulus ujian.
"Kau.. Mengapa kau begitu suka menggoda ku" Bisik Adelia dengan wajah menunduk serta memukul pelan dada suaminya.
Lu Xiang tertawa renyah. "Karena aku menyukai mu. Bukankah laki-laki senang menggoda wanita yang ia sukai?"
Adelia mendongak tertegun.
__ADS_1
"Ayo kita makan, sebentar lagi jam istirahat akan berakhir". Lu Xiang mengakhiri percakapan itu karena terkena getahnya sendiri, ia bahkan merasa panas atas sentuhan Adelia.
Adelia mengangguk pelan dengan wajah yang masih memerah, ia melayani Lu Xiang meletakkan lauk pauk ke piring nasi sembari memakan apa yang Lu Xiang juga letakkan di piringnya.
"Eh, Lu Xiang. Kau disini rupanya?"
Suara Chen Xiang membuat Lu Xiang dan Adelia mendongak.
"Hm? Ini siapa Lu Xiang?" Chen Xiang terkejut melihat gadis cantik berada di samping Lu Xiang yang tidak pernah mau ke rumah bordil.
Sinar mata Lu Xiang meredup, ada perasaan enggan ingin memperkenalkan istrinya pada pria lain namun...
"Ini istriku, namanya Miao Adelia. Adel ini Chen Xiang, teman sekelas ku".
Adelia segera berdiri dan sedikit membungkuk menyapa. "Apa kabar tuan muda Chen Xirang? Senang bertemu denganmu".
"Istrimu?! Sejak kapan kau menikah?!" Tanya Chen Xirang memekik.
Lu Xiang menghela napas panjang. "Duduk lah".
"Aku menikah hampir sebulan yang lalu tapi karena satu hal dan lainnya aku tidak memberitahu mu. Maaf Xirang".
Chen Xirang masih menatap tidak percaya lalu menghela napas panjang. Temannya Lu Xiang selalu seperti itu, tidak pernah menceritakan apapun tentang kehidupannya walaupun mereka berteman baik, hal itu menyebabkan dinding terpisah antara aku dan dirinya.
"Kau selalu begitu, lain kali kabarkan apa yang terjadi padamu, kita teman kawan. Selamat atas pernikahan mu". Chen Xirang menepuk pundak sahabatnya lalu tersenyum pada Adelia.
"Sekarang aku bisa lega karena ada orang yang dapat kau andalkan. Senang juga bertemu denganmu Adelia".
Mata Lu Xiang sedikit kelam akan panggilan itu namun ia tetap diam membuat suasana menjadi hening sesaat. Adelia pun mengeluarkan lima voucher silver dan memberikannya pada Lu Xiang.
Lu Xiang langsung mengerti. Ia terharu dan pasrah akan sikap istrinya yang selalu mengerti apa yang ia butuhkan. "Istriku membuka toko kue hari ini dan ini voucher silver. Kau bisa memesan kue secara eksklusif dengan kartu ini".
"Kau..."
"Haah baiklah. Aku mengerti, aku akan berkunjung. Terimakasih atas voucher ini Adelia".
"Aku yang memberimu voucher kenapa kau berterimakasih pada istriku?" Mendengar panggilan temannya pada istrinya membuatnya semakin jengah.
__ADS_1
"Hm? Karena ini adalah voucher toko kue istrimu". Jawab Chen Xirang innocent, tanpa tau bahwa temannya memakan cemburu yang tidak ada api.
Alis Lu Xiang berdenyut sakit, lagi-lagi ia hanya menghela napas panjang mencoba mengontrol emosi dalam hatinya.
"Baiklah. Istirahat akan segera berakhir". Jadi enyah lah dari hadapanku, ucap Lu Xiang sembari tersenyum tipis.
Chen Xirang speechless akan pengusiran blak-blakan tersebut lalu melangkah pergi dengan kecewa.
Adelia tertawa lucu melihat perdebatan kekanak-kanakan keduanya dan mulai menceritakan dengan antusias perihal kue yang sold out dalam hitungan beberapa jam saja.
Lu Xiang tersenyum melihat berbagai ekspresi yang Adelia tunjukan, hatinya terasa penuh akan kebahagiaan yang gadis ini bawakan untuknya.
"Jadi, 40 kue termasuk 25 cupcake yang terjual total sebanyak 175 koin perak, jika dikurangi biaya pembuatan 15 perak maka kita untung 160 koin perak Lu Xiang. Wow, memang tidak salah, kue tart adalah cara cepat menghasilkan uang".
"Besok pagi aku akan membuat lebih banyak lagi kue tart dan hm? Apa aku harus mengganti dengan kue yang lain? Tidak, tidak. Itu terlalu dini untuk melakukannya, aku bisa mengganti tipe kue setiap dua atau tiga minggu sekali".
"Untuk kue selanjutnya sebaiknya aku buat brownies atau blackflorest untuk mengganti kue dua musim dan aku bi... Lu Xiang?"
Celotehan Adelia terhenti melihat tatapan lembut penuh cinta di mata suaminya, terlebih senyum hangat di bibir laki-laki itu, membuatnya canggung dan malu.
Apa ia berbicara terlalu banyak ya?
Senyum Lu Xiang semakin mengembang, ia menggenggam tangan Adelia dan mengecupnya tanpa malu walaupun mereka berada di keramaian.
Tindakan itu membuat Adelia tertegun dan seketika wajahnya memerah, punggung tangannya terasa panas akibat kecupan hangat itu.
"Terimakasih sudah hadir di kehidupanku Adelia. Aku belum pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupku seperti saat ini".
Adelia merasa serba salah antara gelisah, malu serta bahagia membuat perkataannya menjadi kacau. "Aku... Aku"
"Aku tidak akan berjanji manis apapun denganmu Adelia karena perkataan tidak berarti apapun jika aku tidak melakukannya, hanya waktu yang bisa membuktikan apa yang ada dalam hatiku. Maukah kau menunggu hingga saat itu tiba?" Lu Xiang menggenggam erat tangan Adelia penuh gugup menunggu jawaban darinya.
Adelia tersenyum manis. Ya, Kata-kata tidak berarti apapun tanpa pembuktian.
"Aku akan menunggu saat itu tiba suamiku".
Lu Xiang tersenyum bahagia sembari terus menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1