
"Itu... Adelia, aku minta maaf atas kejadian waktu sarapan".
"Hm? Ah~" Adelia tersenyum tidak mempermasalahkannya.
"Yueyin...dia masih belia dan belum bisa berpikir dewasa. Dia...dibesarkan dengan manja oleh orangtua Li Jin karena Satu-satunya anak perempuan sehingga ia melakukan apapun yang ia inginkan. Aku akan mengawasi Yueyin agar tidak mengganggu keluargamu Adelia. Maaf jika terus menyusahkan mu dengan keluargaku". Xiaowen menggenggam erat kedua tangannya, ia menggigit bibir gelisah menunggu reaksi temannya.
"Kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan mu, lagipula Yueyin tidak akan berpengaruh apapun untukku atau keluarga ku karena aku tau dan percaya pada Lu Xiang. Tapi...walaupun begitu, sebaiknya kau harus memberitahu suamimu tentang sikap Yueyin, aku tidak ingin hubungan Lu Xiang dan Li Jin renggang karena masalah ini".
Xiaowen diam lalu tersenyum terpaksa. "Kau benar, Yueyin lebih mendengar Li Jin daripada aku. Aku akan memberitahu Li Jin tentang masalah ini".
Suasana menjadi canggung kembali. Adelia memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan mereka. "Apa kau membawa data penjualan toko De Xiang?".
Raut wajah Xiaowen berubah cerah, ia segera memberikan buku keuangan yang ia pegang kepada Adelia. "Penjualan kue tart bulan ini terus meningkat daripada bulan sebelumnya. Aku sangat senang dapat mengelola toko De Xiang yang selalu ramai dikunjungi. Aku akan terus mengembangkan usaha ini hingga dapat membuka cabang di kota kecil lainnya".
Adelia tersenyum senang, ia membolak-balikan data keuangan lalu mengangguk puas dan meletakkannya kembali di meja.
Xiaowen merasa terharu oleh kepercayaan yang Adelia berikan padanya, ia segera menyerahkan uang hasil persentase bagian Adelia dari keuntungan toko De Xiang di kota Cheng selama 3 bulan terakhir.
Adelia tidak menghitungnya dan memberikan pada Lu Mei yang menemani mereka.
Keduanya lalu berbincang tentang apa saja rumor dan gosip yang beredar di kota Cheng atau kota Fucheng. Layaknya seperti perempuan lainnya, Adelia dan Xiaowen bergosip ria membahas topik apapun yang dapat dibahas hingga tudak terasa waktu berjalan cepat hingga waktunya makan siang.
"Adelia. Kau tidak perlu menyiapkan makan siang untuk keluarga ku. Dengan mengizinkan kami tinggal di sini sudah lebih cukup untuk membantu kami. Biar kami mengurus keperluan kami sendiri, aku tidak ingin memiliki banyak hutang budi padamu Adelia". Seperti kata pepatah hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Ia tidak ingin hubungannya dengan Adelia berubah karena ketidaknyamanannya yang memiliki hutang budi dari temannya.
Adelia mengangguk mengerti dan merasa lega, ia juga tidak ingin pertemanan ini berubah menjadi sebuah beban dan mengubah Xiaowen menjadi berharap padanya. Terlalu banyak membantu dapat menghancurkan seseorang karena sikap berharap dan berpikir bahwa bantuan itu adalah sebuah kewajiban yang harus mereka lakukan.
Li Yueyin yang menunggu bosan di rumah semakin jengah dan kesal karena makanan belum juga diantarkan walaupun sudah masuk waktunya makan siang.
Ia tertegun melihat Xiaowen yang membawa pulang bahan-bahan makanan yang belum diproses.
"Kakak ipar. Kau ingin memasak?".
"Ya. Bantu bawa bahan-bahan ini ke dapur. Kita harus menyiapkan makan siang". Ia membeli bahan-bahan makanan ini dibawah tuntunan pelayan yang sudah tau harga pasar dari barang-barang tersebut.
"Kenapa kau harus memasak? Bukan itu pekerjaan pelayan?".
"Pelayan mana yang kau maksudkan? Kita tidak memiliki pelayan apapun".
"Ya pelayan rumah ini. Kita ini tamu masak harus menyiapkan semua keperluan sendiri!".
__ADS_1
"Yueyin, tamu yang mana yang menginap selama hampir 3 minggu? Jangan mengeluh, tolong bantu aku masak. Li Jin akan pulang tidak lama lagi"
"Aku tidak mau!. Kau masak saja sendiri!!" Setelah merasakan pelayanan bak putri, mana mungkin ia mau menyiapkan segala kebutuhannya sendiri!.
Kenyataan itu membuat Li Yueyin semakin obsesi dengan kehidupan kaya dan semakin tertarik untuk menjadi selir Lu Xiang.
Xiaowen hanya menggelengkan kepala melihat sikap adik iparnya. Ia lalu menyiapkan sendiri makan siang untuk keluarganya.
&&&
Sore harinya Adelia, Xiaowen dan Li Yueyin pergi ke taman kecil di samping toko De Xiang bersama dengan Lu Cheng dan Lu Shan. Mereka menggunakan dua kereta kuda karena kedua adiknya tidak ingin satu kereta dengan Li Yueyin yang selalu mendekati dan mengajak mereka berbicara.
Walaupun Lu Cheng dan Lu Shan sudah pergi ke toko De Xiang setelah pulang dari akademi bersama dengan Jun Shi dan lainnya namun Li Yueyin yang ikut membuat mereka khawatir jika gadis menyebabkan itu akan menyakiti Adelia dan akhirnya mereka juga ikut ke taman.
"Wow Adelia. Tamannya sangat cantik dan asri Adelia, baru kali ini aku melihat taman dengan banyak jenis bunga cantik seperti ini".
Li Yueyin juga merasa takjub dengan pemandangan di hadapannya. Bunga berbagai warna yang bermekaran didekorasi dengan rapi dan indah sesuai jenis dan kelasnya. Tempat duduk nyaman yang dikelilingi oleh bunga yang harum membuat pikiran menjadi tenang.
Mereka duduk di gazebo yang menghadap ke arah kolam ikan yang memiliki bunga teratai di tengah kolam membuat suasana tenang dan harmonis.
"Haa~ orang kota benar-benar tau cara menikmati hidup. Tapi kenapa hanya ada kita di sini? Apa orang lain tidak mau pergi ke sini?" Tanya Xiaowen bingung.
"Benarkah?!" Tanya Xiaowen dan Li Yueyin bersamaan. Pikiran Li Yueyin yang ingin menikah dengan Lu Xiang seperti tanaman disiram air, tumbuh semakin tinggi dan kuat, ia bahkan membayangkan kehidupannya yang menyenangkan dan glamor setelah menikah dengan Lu Xiang nanti.
Adelia mengangguk sembari tersenyum bangga dan puas melihat reaksi temannya. Ia tidak memiliki teman dekat yang dapat ia sharing apapun selama berada di Fucheng sehingga ia baru dapat memamerkan taman cantik ini dan memuaskan egonya.
Lu Cheng yang kembali bersama dengan pegawai memutar bola matanya dalam diam, mereka bersikap seperti orang kampung yang baru masuk kota. Ia lupa bahwa ia juga bereaksi sama ketika mengetahui fakta itu pertama kali.
"Selamat datang bos. Anda ingin pesan apa bos?".
"Siapkan aku teh sedikit gula dan parfait. Kalian ingin pesan apa?"
"Aku juga ingin parfait, untuk minuman bisa kau rekomendasi saja?"
"Kami memiliki beberapa jenis minuman nyonya namun yang paling populer adalah cappucino cincau dan milk tea" Pegawai itu menjelaskan kedua menu tersebut dengan detail.
"Kalau begitu aku ingin milk tea". Putus Xiaowen dengan antusias.
"Mana yang lebih populer? Cappucino cincau atau milk tea?". Tanya Li Yueyin dengan tingkah pongah bak bangsawan namun terlihat tidak elegan.
__ADS_1
"Keduanya sama-sama populer nona. Jika anda suka kopi maka cappucino cincau akan lebih cocok untuk anda namun jika anda lebih suka teh maka milk tea pilihan yang tepat". Pegawai menjelaskan dengan sabar.
Li Yueyin mengangkat kepalanya tampak arogan. "Kalau begitu aku ingin milk tea juga. Jaga higenis gelas dan minumannya, aku tidak ingin perutku sakit karena minuman yang tidak dijaga higienisnya.
Pegawai mengangguk meyakinkan, ia kembali membaca pesanan Adelia dan yang lainnya lalu membungkuk kembali sebelum pergi untuk menyiapkan pesanan.
Bibir Xiaowen berdenyut speechless akan sikap sombong Li Yueyin. Sedangkan Adelia dan Lu Cheng menundukkan wajah mereka untuk menyembunyikan senyum geli.
Hanya Lu Shan yang tidak mengerti dan lebih memilih untuk menghitung bunga-bunga di taman sembari mengasah kemampuan menghitungnya sembari menunggu pegawai toko membawakan pesanannya.
Mereka menghabiskan waktu selama dua jam di sana hingga sore hari. Melihat matahari yang mulai meredup, Adelia memutuskan untuk pulang.
Namun di luar bertemu dengan Lu Xiang yang baru saja pulang dari akademi.
"Kau sudah pulang suamiku? Apa urusanmu di kantor sudah selesai?". Adelia segera memeluk Lu Xiang dengan senang namun segera melepaskannya karena sadar keberadaan Xiaowen dan Li Yueyin.
"Selamat sore kak Xiang. Kau baru pulang dari akademi?".
Suara centil Li Yueyin membuat Xiaowen terkejut dan segera menarik baju adik iparnya mengisyaratkan agar tidak membuat masalah namun gadis usia 15 tahun itu mengabaikannya dan tersenyum malu pada Lu Xiang sembari menautkan rambut ke belakang telinga memperlihat lehernya yang putih mulus.
"Ya" Lu Xiang menjawab sekedar dan tidak mengerti kode yang dilempar Li Yueyin. Selain Adelia, ia tidak begitu peduli dengan orang lain.
"Kau juga ingin pulang sayang. Ayo kita pulang bersama".
Ujung mata Adelia melirik Li Yueyin yang mematung tertegun karena respon acuh tak acuh suaminya, bibirnya bergerak naik dan tersenyum bangga. Sudah ia katakan Li Yueyin terlebih muda 1000 tahun untuk merebut perhatian Lu Xiang darinya.
"Ya sayang. Ayo kita pulang, Lu Cheng dan Lu Shan naik kereta Lu Xiao saja ya".
Alis Lu Xiang terangkat naik karena panggilan sayang yang jarang istrinya katakan padanya. Ia melihat raut wajah senang Adelia dan memilih untuk tidak bertanya.
"Baik kak".
Adelia naik ke kereta kuda dengan bantuan Lu Xiang tanpa memperdulikan tatapan mengeluh yang manja Li Yueyin.
"Heh! Sudah aku bilang kau tidak memiliki kesempatan sedikit pun. Sadarlah dari mimpi kosong itu, kau tidak pantas bersanding dengan tuan Lu karena hanya Adelia yang pantas". Xiaowen yang sangat kesal tidak lagi mempertimbangkan perasaan Li Yueyin dan berkata jujur yang menyesakkan.
"Diamlah!!" Li Yueyin berteriak marah. Ia melihat kereta kuda yang menjauh lalu menghentakkan kakinya dengan kesal.
Lihat saja, aku akan merebut Lu Xiang darimu Adelia!!
__ADS_1