
Namora dan Jol saling beradu pandang seolah-olah mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
Jol menepuk pundak Namora, kemudian bangkit berdiri. Dia tau bahwa Namora tidak akan tinggal diam jika Jhonroy mulai menargetkan Merisda.
Bagi Namora sendiri, masalah sudah seperti ini, Merisda hanyalah salah satu alasan bagi Namora. Ada atau tanpa Merisda pun, Namora akan tetap berurusan dengan Jhonroy. Maka dari itu, terlanjur basah, ya sudah nyebur saja sekalian.
"Jol. Kau tidak setuju kan?" Namora bertanya kepada Jol. Menilai dari pertanyaan ini, dapat dipastikan bahwa Jol mengetahui dengan baik apa yang ada di dalam isi kepala Namora.
"Masalah antara kau dan Merisda, aku tidak mau ikut campur. Aku juga memiliki masalah ku sendiri," ujar Jol mengelak. Dia tau bahwa dulu Namora sempat patah hati dengan Mersida ini. Tapi, baginya adalah, Namora bisa memikirkannya sendiri. Untuk apa dia ikut campur. Toh andai dia melarang, Namora juga akan tetap pada keputusannya.
Namora merenung sejenak. Dia mencari cara harus memulai dari mana. Bagaimanapun, Merisda pernah singgah dihatinya. Walaupun kini dia sudah mati rasa dengannya, tapi dia juga tidak ingin Merisda mengalami hal yang tidak seharusnya dia tanggung. Merisda hanyalah korban keadaan.
Awal permasalahannya adalah, antara dirinya dengan Tanta. Hanya kebetulan bahwa Tanta memiliki bawahan bernama Arda. Dan Arda memiliki adik perempuan bernama Merisda. Tidak seharusnya Merisda terseret ke dalam masalah ini.
"Zack. Jangan tarik orang-orang mu yang membayangi pergerakan Arda. Aku ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Arda ini. Setidaknya, aku ingin mengetahui apakah dia akan memenuhi permintaan dari Jhonroy, atau menolaknya,"
"Baiklah, Tuan muda," Zack menganggukkan kepalanya. "Karena tidak ada hal yang lainnya, maka saya minta diri dulu!"
Zack berlalu meninggalkan tempat latihan Namora dan Jol tadi. Tugasnya kini hanyalah memberikan Informasi kepada Namora sesuai apa yang diketahuinya.
"Ayo kita pulang Jol!" Ajak Namora.
Jol mengangguk. Kemudian, segera melangkah mendahului menuju ke luar dari tempat latihannya tadi.
Di waktu yang sama, Ardi, adik kedua dari Arda yang memiliki perusahaan Pilar Mandiri yang telah bangkrut masih tidak bisa melupakan apa yang telah dilakukan oleh Namora kepadanya.
Karena belum mengetahui apa yang terjadi dengan Tanta dan Arda, maka dia saat ini hanya fokus terhadap rencananya untuk balas dendam terhadap Namora.
Dia telah menghabiskan banyak waktunya untuk menyelidiki tentang Namora ini. Siapa-siapa saja teman pemuda itu, dan siapa-siapa saja orang yang tidak menyukainya.
Karena dia mengetahui bahwa Namora akan mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat, maka dia segera menghubungi beberapa kenalan adiknya termasuk Rendra, Marcus dan Dhani.
__ADS_1
Dari Rendra dan Marcus, dia mengetahui bahwa lawan terberat yang menginginkan kehancuran Namora dalam turnamen nanti adalah Diaz dan Rudi.
Mengetahui hal ini, Ardi pun langsung meminta bantuan kepada Dhani untuk mempertemukan dirinya dengan orang bernama Diaz dan Rudi ini.
Setelah disepakati, maka keempat orang itu pun langsung berangkat menuju kampung baru. Kampung tempat Diaz tinggal. Bahkan, Namora dulunya juga pernah tinggal di kampung ini.
Ketika Dhani, Rendra dan Marcus tiba di dojo tempat Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi sering berlatih, kebetulan Diaz dan yang lainnya berada di sana.
Mereka hanya memperhatikan saja Diaz dan Rudi yang berlatih. Mereka tidak ingin mengganggu mereka. Ini juga dilakukan oleh Ardi agar dia dapat menilai kemampuan yang dimiliki oleh kedua orang yang mungkin saja akan berhadapan dengan Namora di turnamen yang akan diselenggarakan dua hari lagi.
Menyadari bahwa dirinya yang sedang berlatih sedang diperhatikan, Diaz pun langsung menghentikan latihannya, kemudian menyambar handuk, lalu tersenyum kepada keempat orang yang tampak serius memperhatikan dirinya berlatih tadi.
Rudi juga melakukan hal yang sama. Dia yang mengenal Ardi pada acara ulang tahun Merisda, segera tersenyum juga dan segera menghampiri keempat orang itu.
"Bang Ardi. Tidak disangka Abang datang ketempat latihan kami," sapa Diaz dengan antusias. Sementara itu, Rudi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ardi dan yang lainnya.
"Apakah kalian sudah selesai latihan?" Tanya Ardi yang juga tersenyum. Mereka terlihat cepat akrab.
Lain halnya dengan Diaz dan Rudi. Dia tau siapa Ardi ini. Ardi yang mereka kenal sebagai CEO Perusahaan Pilar Mandiri. Kedatangan Ardi ini tentu ada hal yang penting yang membawanya ke sini. Jika tidak, dia mana ada waktu untuk singgah di tempat seperti ini. Apa lagi baik itu Dhani, Rendra, Marcus dan dirinya sendiri adalah seorang junior rendah. Hanya Dhani yang sedikit lebih setara dengan Ardi. Itupun karena ayahnya adalah orang yang bisa dikatakan cukup kuat di kota Batu.
"Wah. Ada angin apa bang Ardi datang ke Dojo latihan kami?" Tanya Diaz dengan hormat. Dia segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Rudi, yang saat ini sedang mengejar Merisda juga segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dia ingin menimbulkan kesan baik kepada Ardi. Bagaimanapun, Ardi adalah Abang kandung Merisda.
Sebelum Ardi menjawab, Rendra yang saat ini masih dalam keadaan belum sembuh total akibat dihajar oleh Namora segera menjawab. "Diaz. Kedatangan kami kemari ada hubungannya dengan calon lawan sekaligus orang yang paling kau benci,"
Diaz yang mendengar perkataan dari Rendra langsung tertarik. Kemudian dia mengajak orang-orang itu untuk mencari tempat duduk diluar Dojo. Ini bertujuan agar kehadiran mereka tidak menggangu orang-orang yang sedang berlatih, juga pembicaraan mereka bisa nyaman karena tidak ada gangguan dari suara-suara orang lain yang sedang berlatih.
"Bang, Ardi. Apa maksud dari perkataan Rendra tadi. Apakah itu tentang Namora?" Tanya Diaz setelah mereka duduk di beranda depan Dojo tersebut.
Diaz langsung saja menebak. Karena, dia tau jelas siapa manusia yang paling dia benci di dunia ini. Dan itu tidak lain adalah Namora.
__ADS_1
Ardi mengangguk samar. Kemudian dia berkata, "Diaz. Namora ini membuat masalah denganku. Aku ingin agar kau bisa berada dengannya. Kemudian, aku ingin kau dapat merusak organ dalam anak itu agar dia bisa merasakan penderitaan sebelum mati,"
Diaz terkejut dengan perkataan dari Ardi barusan. Memang diakui bahwa dia sangat membenci Namora. Akan tetapi, kebenciannya tidak sampai pada titik membunuh. Makanya dia kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Ardi.
"Bang..!?" Diaz tidak melanjutkan kata-katanya setelah dipotong oleh Ardi.
"Mengapa? Bukankah kau sangat membenci Namora itu? Kau tenang saja. Semuanya pasti ada imbalannya. Kau hanya perlu melakukan apa yang aku suruh. Sedangkan untuk yang lainnya, biar aku yang atur,"
"Bang. Turnamen ini adalah turnamen resmi. Jangankan untuk membunuh, mencederai lawan saja tidak boleh secara berlebihan. Jika itu pertarungan jalanan, aku seratus kali akan menerimanya," jawab Diaz.
Memang benar apa yang dikatakannya itu. Turnamen ini adalah turnamen antar sekolah se-kabupaten. Selain dihadiri oleh guru dan siswa, setiap laga juga dikepalai oleh wasit dan team penilai. Dia mana berani bertarung secara berlebihan.
"Justru karena pertarungan di turnamen seperti ini lah kau bisa membunuhnya. Ketika seseorang peserta meninggal di arena, maka itu akan dianggap sebagai kecelakaan. Kau tidak akan dituntut. Sedangkan di jalanan, kau akan dijatuhi hukuman tindak pidana karena melakukan kekerasan.
Kau tenang saja. Aku akan mengurus semuanya, termasuk team penilai dan wasit. Mereka akan menutup mata dengan pelanggaran yang kau lakukan. Hanya sedikit uang, mengapa tidak disumbat saja mulut mereka dengan uang?" Ardi mencoba meyakinkan Diaz tentang metode yang dia gunakan untuk mencelakakan Namora.
Diaz menatap ke setiap wajah yang ada di sana. Termasuk juga Rudi.
Seperti melupakan Rudi, Ardi langsung sadar bahwa bukan hanya Diaz yang akan mengikuti turnamen tersebut.
Saat ini, Ardi langsung menatap ke arah Rudi, dan berkata. "tawaran ini juga berlaku untukmu. Aku tidak sungkan mengeluarkan uang sebesar seratus juta rupiah untuk nyawa Namora ini. Yakin lah bahwa wasit akan memihak kepada kalian. Termasuk doping yang akan aku berikan kepada kalian," kata Ardi sembari memberikan sesuatu kepada Diaz dan Rudi.
"Ingat! Gunakan sesuai dengan yang dianjurkan. Dosis dari doping ini terlalu kuat. Jika kalian menggunakannya secara berlebihan, maka efeknya akan sangat mengerikan. Tekanan darah akan meningkat, degup jantung yang tidak beraturan yang bisa menyebabkan kematian mendadak," Ardi memperingatkan tentang bahaya dalam menggunakan doping dalam dosis besar. Apa lagi mereka ini masih remaja. Tentunya tingkat toleransi jantung terhadap efek yang ditimbulkan oleh doping tersebut akan sangat lemah. Akibatnya, bisa membuat jantung tiba-tiba berhenti berdetak secara mendadak karena terlalu bekerja keras memompa darah.
"Terima saja! Selain kalian bisa menyingkirkan orang yang paling kalian benci, kalian juga akan mendapatkan uang. Kapan lagi kalian mendapatkan rejeki besar seperti ini?" Dhani pula yang saat ini berusaha mendorong Rudi dan Diaz untuk menerima tawaran dari Ardi.
"Baiklah bang. Kami berdua setuju. Siapapun yang akan berhadapan dengan Namora ini, maka hasilnya akan kami bagi dua!" Ucap Diaz menegaskan.
"Bagus. Karena kalian berdua sudah menerimanya, maka aku akan melakukan tugas ku yang ke dua. Yaitu, menyuap para team penilai dan wasit!" Kata Ardi meyakinkan. Senyum jelek terukir di bibirnya. Dalam hatinya, dia dapat merasakan bahwa kematian Namora sudah dekat.
Bersambung...
__ADS_1