
Berita tentang Martins Group yang memutuskan kerja sama dengan beberapa perusahaan bagaikan virus yang segera menyebar sampai ke seluruh dunia bisnis. Bahkan, berita ini juga sampai ke Starhill.
Ada yang menyambut baik berita ini. Berita dimana Martins Group yang memutuskan kerja sama dengan beberapa perusahaan disambut baik oleh beberapa perusahaan yang selama ini menginginkan kerja sama dengan perusahaan besar tersebut. Namun, usaha mereka untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan itu selalu kandas karena selama ini kesepakatan tersebut selalu dimonopoli oleh Agro chemical, Pilar Mandiri, Gergasi insfratruktur secara bergantian. Sehingga, menutup peluang bagi perusahaan kecil yang ingin bangkit dengan kerja sama tersebut. Bahkan, serpihan kecil dari proyek itupun akan sangat berdampak baik bagi perusahaan ini.
Di kota batu sendiri, tepatnya di kantor cabang Agro chemical, Arda yang bertanggung jawab tentang proposal pengajuan untuk proyek menjadi sangat gugup. Berita yang dia dapatkan dari bawahannya membuat seluruh tubuhnya mendadak mati rasa.
Selama ini, belum pernah Martins Group tidak meluluskan permohonan mereka demi sebuah proyek. Tapi kali ini, bukan hanya tidak mendapatkan proyek. Bahkan, kesepakatan kerjasama mereka dibeberapa proyek pun langsung dihentikan. Bahkan, gerak cepat yang dilakukan oleh perusahaan Martins Group untuk menjual sejumlah saham mereka di proyek tersebut terbilang cukup murah dan berhasil menarik minat investor dari perusahaan lain. Tapi bukan ini masalahnya.
Dengan berakhirnya kerjasama antara Agro chemical dan Martins Group, berarti peluang mereka untuk menarik sebanyak-banyaknya keuntungan otomatis terhenti. Mereka sudah tidak bisa lagi bersandar di perusahaan tersebut. Hal ini lah yang membuat Arda dan adiknya Ardi harus memutar otak mencari sumber permasalahan.
"Bang. Bagaimana ini. Kehadiran tuan muda dari keluarga Habonaran ini membuat telah mengguncang dunia bisnis. Apa latar belakang anak ini sehingga dia berani menghentikan kesepakatan kerjasama antara Martins Group dengan perusahaan lain?" Ardi, CEO perusahaan Pilar Mandiri mulai mengemukakan ketidaksenangannya terhadap apa yang baru saja dialami oleh Agro chemical. Dengan begini, bukan hanya Agro chemical yang akan menderita. Perusahannya juga berada di dalam masalah.
"Ini semua salahku. Aku terlalu memandang rendah tentang Boss baru Martins Group. Ini semua karena mulut besar Hendro. Apa yang terjadi adalah, Hendro bahkan tidak mampu menanganinya. Aku telah menghabiskan banyak uang untuk menyuap anak itu, hanya karena dia putra dari Andra. Celaka bagi kita bahwa Boss baru di perusahaan Martins Group sama sekali tidak memandang wajah Andra,"
"Lalu. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ardi.
"Aku juga sangat buntu. Kesalahan ku karena tidak menyelidiki sendiri seperti apa Boss baru dari Martins Group ini," saat ini, hanya ada penyesalan di hati Arda. Dia terlalu santai dan menanggap enteng. Dia sendiri tidak menyangka jika akan begini jadinya. Hanya saja, dia tidak sendiri. Ada beberapa perusahaan lain yang mengalami hal yang sama dengan mereka. Jika beberapa perusahaan ini bersatu, maka sudah jelas Martins Group akan menjadi musuh publik. Hanya saja, dia harus memikirkan harus memulai dari mana. Masalahnya sudah seperti ini. Dia juga tidak memiliki alasan andai Tanta menanyakan masalah ini.
Arda benar-benar merasa bahwa semuanya serba terlambat. Suasana hatinya juga sangat kusut ketika ini. Dan pada akhirnya dia hanya berkata, "Kita akan menyelidiki siapa Boss baru Martins Group ini,"
"Bang. Hendro mengatakan bahwa Boss baru Martins Group itu bernama Namora. Aku sepertinya sangat familiar dengan nama orang ini,"
__ADS_1
"Ya. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi di mana aku pernah mendengar nama ini?" Arda mengurut dahinya. Ada butir-butir keringan menetes yang menandakan bahwa dia benar-benar sangat buntu ketika ini.
"Sebarkan orang-orang kita. Aku masih akan bertanya kepada Hendro tentang Namora ini. Andai kita mengetahui siapa orangnya, maka rencana bisa disusun," Arda melangkah meninggalkan ruangan kerjanya. Dia harus menjalankan rencana satu persatu. Bagaimanapun, dia tidak mengenal Namora ini.
**********
Siang itu, Namora yang baru saja meninggalkan gerbang sekolah sejak tadi merasakan bahwa ada banyak mata yang menatap ke arahnya. Hanya saja, ketika dia mempertajam kewaspadaannya, dia tidak bisa mengidentifikasi apa sebenarnya yang terus mengikuti dirinya. Hanya saja, firasatnya berkata, bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang baik.
Dia tau bahwa dia telah menyinggung banyak orang akhir-akhir ini. Dia sudah siap dengan konsekuensinya. Bagaimana dia bisa mentolerir orang-orang yang terus membuat perusahaan merugi. Apakah mereka menganggap bahwa Martins Group adalah sebuah lelucon?
Mengetahui bahwa dia terus dibuntuti, Namora diam-diam mengirim pesan kepada Zack agar segera membayangi dirinya.
Setelah pesan terkirim berikut dengan lokasinya, Namora segera menggeber sepeda motornya ke arah kota batu. Kemudian, dia berhenti di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai dikunjungi oleh pelanggan. Dia memang sengaja memilih tempat tersebut supaya tidak terlalu menarik perhatian orang-orang andai nanti terjadi keributan.
Namora membaca pesan teks tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Tapi tidak ada yang dapat memastikan apakah Namora ketika ini marah, takut, atau sedih. Wajahnya hanya begitu-begitu saja tanpa ekspresi.
"Terus menjaga jarak dariku. Aku ingin tau apa yang diinginkan oleh orang-orang ini!"
"Dimengerti!" Jawab Zack.
Zack yang berada jauh dari Namora segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyebar. Hanya saja, perhatian mereka saat ini terkunci kepada orang-orang yang berada tidak jauh dari mereka. Gerak-gerik mereka sungguh sangat mencurigakan.
__ADS_1
Lima belas menit berselang, beberapa orang langsung menghampiri di mana Namora duduk.
Namora sedikit mengangkat kepalanya untuk mengetahui siapa yang datang.
Wajahnya berubah kaku dan dingin ketika melihat beberapa orang lelaki berbadan tegap dan bertampang kasar tersebut. Namun Namora acuh tak acuh seolah-olah dia tidak mengetahui kedatangan orang-orang itu tadi.
Ketika jarak dirinya dan orang-orang itu tinggal sepenjangkauan tangan, seorang lelaki yang sepertinya adalah pimpinan dari mereka menyapa Namora. "Apakah kau yang bernama Namora?"
Namora mendongak. Dia kemudian menganggukkan kepalanya seperti orang malas.
"Ikutlah dengan kami. Seseorang ingin bertemu dengan mu!"
"Siapa yang ingin bertemu dengan ku? Lalu, ada kepentingan apa?" Namora bertanya dengan enggan, seolah-olah dia tidak menganggap kehadiran para lelaki yang memiliki tampang sangat itu.
"Ikut saja, maka kau akan tau!"
Namora mengangkat pundaknya. Kemudian berdiri.
"Silahkan mendahului!"
Ketenangan yang ditampilkan oleh Namora uji mau tidak mau membuat beberapa orang lelaki itu mengangumi mental anak remaja dihadapannya itu. Andai itu orang lain, ketika melihat wajahnya, kemungkinan orang itu sudah kencing di celana.
__ADS_1
Dengan keberanian dari Namora ini, mau tidak mau mereka memuji di dalam hati mereka. Namun, kedatangan mereka kali ini bukanlah untuk memuji. Melainkan mereka telah menerima pesanan dari seseorang untuk membawakan Namora kepadanya. Hanya saja mereka tidak menyangka akan semudah ini menjinakkan anak itu. Tanpa mereka tau bahwa sesuatu yang mudah tidaklah seperti yang dirasa. Sering kali orang terjebak dengan kemudahan yang mematikan.
Bersambung...