Namora

Namora
Kenza tiba di Fighter Club'


__ADS_3

Fighter Club.


Sore telah berganti malam, dan lampu-lampu neon telah menyala menambah kesemarakan kota Batu.


Siapa sangka, kota batu yang dulunya hanyalah kota kecamatan, melalui pemekaran daerah, menjadi antara kota kabupaten yang sangat maju.


Dulunya, tidak ada yang sudi untuk tinggal di kawasan tandus ini. Mungkin karena ketandusan itulah yang menyebabkan nama kota ini menjadi kota Batu.


Semua berawal dari salah satu perusahaan konstruksi asing yang berinvestasi di kota batu ini. Tepatnya Bukit Batu. Perusahaan tersebut menyulap bukit Batu menjadi kawasan real estate dan menjadikannya sebagai pusat bagi komunitas elite.


Jika dulu para leluhur mereka tidak ingin menempati kawasan ini dan lebih memilih kampung baru, kini semuanya sudah terbalik. Orang-orang berebut untuk tinggal di kota batu dan membuka usaha di sini. Jadi, tidak heran kalau di kota ini semuanya ada. Mulai dari bisnis halal, makruh, sampai yang haram pun ada. Bahkan, tidak jarang pihak kepolisian dibuat pusing sembilan keliling.


Berbicara tentang bisnis haram para pengusaha di kota batu, salah satunya dan yang paling terkecil adalah Fighter Club'.


Jika di perkampungan, orang hanya bisa bertaruh mengadu ayam, maka di sini orang akan bertaruh dan mengadu manusia. Di sini, siapa yang banyak uang dan berpengaruh, maka dialah yang berkuasa.


Di dalam bangunan tiga lantai ini, ada sebuah ruangan bawah tanah yang akan memanjakan para petaruh. Ruangan bawah tanah inilah yang dinamakan aula Fighter Club'.


Para orang berkantong tebal akan datang kemari setiap satu bulan sekali untuk membawa jagoan masing-masing dan akan mengadu mereka di atas gelanggang. Mereka akan bertaruh untuk jagoannya masing-masing. Bahkan, ada yang tidak memiliki jagoan, tapi justru ikut bertaruh.


Tidak hanya gelanggang di tengah aula, di sini juga terdapat berbagai permainan judi. Mulai dari snooker, Dingdong, Roulette dan banyak lagi yang jika dijelaskan tidak akan selesai sampai dua hari dua malam.


Di bagian kursi yang berdekatan dengan bar, seorang lelaki kurus mengenakan setelan men clothing tampak sedang menghisap sebatang cerutu ditangannya.


Sesekali lelaki itu menyemburkan asapnya ke arah depan. Tampak dia sangat menikmati setiap hembusan asap tersebut. Sedangkan dibelakang lelaki kurus tadi, tampak berdiri sekitar enam orang lelaki berbadan tegap, dan seorang lelaki mengenakan pakaian sweater hitam.

__ADS_1


Ketika menghembuskan asap rokoknya untuk yang kesekian kalinya, tanpa sengaja dia melirik ke arah salah satu kursi ekslusif yang berada di sudut ruangan. Mata lelaki itu mengernyit dan memperhatikan secara serius.


Di sana, dia melihat seorang lelaki berusia hampir empat puluhan sedang duduk bersama seorang pemuda. Dia kenal siapa lelaki itu. Tapi yang membuatnya tertarik adalah pemuda yang disampingnya. Tatapan matanya sangat tajam. Rahang pemuda itu juga tampak kokoh dengan wajah dingin nyaris tanpa ekspresi. Lelaki dan pemuda itu adalah Ameng dan Namora.


Lelaki itu kembali menyapu ruangan.


Ketika dia melihat seorang lelaki gemuk dan botak dengan kalung besar melingkar di lehernya, lelaki kurus tadi meraih gelas anggurnya, kemudian menghampiri lelaki gemuk botak yang tadi dia lihat.


Begitu dia sampai di hadapan lelaki gemuk itu, dia langsung menyapa. "Robert. Aku melihat hanya ada kau dan pengawal mu. Mana jagoan yang kau katakan itu? Apakah kau mengaku kalah sebelum bertarung?" Senyum lelaki kurus itu sangat merendahkan.


"Sabar lah Willi. Jagoan ku pasti akan datang. Lagipula, pertarungan masih ada satu jam lagi. Aku juga tidak tau entah bagian yang ke berapa nanti yang kita dapatkan. Tapi aku pasti akan membungkam mulut besar mu yang terlalu membanggakan jagoan mu itu!" Lelaki yang dipanggil dengan Nana Robert tadi menunjuk ke arah lelaki kurus bernama Willi itu.


"Bah. Makin pandai mulut kau itu ya?!" Cibir Willi. Sekali lagi dia tersenyum mengejek.


"Kita lihat saja nanti. Sekarang, kembali lah ke kursi mu! Aku tidak suka besar bicara yang pada akhirnya hanya akan membuat malu,"


Robert hanya mencibir. "ok. Satu Miliar bukan lah sesuai yang terlalu banyak. Kita lihat saja!" Robert mengibaskan tangannya seolah-olah seperti orang sedang mengusir lalat. Hal ini jelas penghinaan bagi Willi.


Willi mendengus, lalu berbalik badan menuju ke arah kursi dimana tadi dia duduk. Seringai tak senang terlihat pada wajahnya.


Sepuluh menit setelah dia kembali ke tempat duduknya, kini dari arah tangga tampak seorang pemuda mengenakan pakaian kemeja slim fit melangkah menuruni anak tangga selangkah demi selangkah, lalu berjalan tepat di bagian depan Ameng dan Namora.


Mungkin karena keadaan pencahayaan di ruangan itu agak temaram, makanya pemuda yang baru sampai itu tidak begitu memperhatikan. Andai dia melihat, pasti dia akan heran, mengapa Namora bisa sampai di tempat seperti ini.


"Bang Kenza?!" Namora bergumam seperti tidak percaya.

__ADS_1


"Kau kenal dengan orang itu?" Tanya Ameng yang tadi sempat mendengar gumaman Namora.


"Kakak kelas ku!" Jawab Namora singkat. Dia tidak tau mengapa Kenza ada di tempat itu, lalu seperti sangat akrab dengan lelaki berperut buncit dan berkepala botak yang terduduk di kursi dengan bermalas-malasan.


"Pak Robert. Aku sudah di sini!" Kata Kenza begitu dia tiba dihadapan lelaki gemuk tadi


"Wah. Kau menepati janji mu. Ayo! Kau harus memenangkan pertandingan ini. aku sudah bertaruh untukmu,"


"Bagaimana anda bisa yakin kalau saya akan menang?"


"Yakin. Bahkan harus yakin. Kau hanya punya satu pilihan. Yaitu kemenangan. Karena, jika kau kalah, lawan mu kemungkinan tidak akan membiarkan mu keluar dari tempat ini. Oleh karena itu, pilihan mu saat ini adalah kemenangan.


Kenza melirik ke arah lelaki kurus tadi. Kini dia bertanya kepada Robert. "Yang mana lawan ku itu?"


"Kau lihat lelaki yang mengenakan pakaian sweater hitam itu?"


Kenza mengangguk. "Apakah dia?"


"Ya. Kau tidak perlu takut. Orang itu sudah pensiun dari MMA. Kau masih muda. Energi mu masih sangat baik. Jika kau mampu bertahan selama sepuluh menit, aku menduga bahwa kemenangan adalah mutlak milik mu!"


"Aku tidak berani menyepelekan lawan ku. Bahkan jika dia sudah jompo pun, aku akan tetap waspada," jawab Kenza. Dia segera duduk dan menimpa sebelah kakinya ke atas satu kakinya yang lain.


"Tunggu sampai pembawa acara mengumumkan undian siapa yang terlebih dahulu menaiki gelanggang!"


Kenza mengangguk. Dia lalu dengan tenang bersandar di kursi, baginya, tidak perlu terlalu tegang. Toh dia sudah menyanggupi untuk bertarung malam ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2