
Dua orang petugas kepolisian tampak mengapit seorang pemuda di tengah-tengah. Mereka berjalan menuju ruang utama di markas besar kepolisian kota Batu tersebut.
Begitu dua orang petugas kepolisian dan seorang pemuda tersebut tiba di aula utama, beberapa petugas kepolisian termasuk Rio dan Ferdi menatap dengan kemarahan ke arah pemuda itu. Hanya Ferdi yang terlihat tersenyum dengan wajah penjilat yang dibuat seramah mungkin.
Lagak pemuda itu sangat arogan. Hal ini terlebih ketika dia berjalan di hadapan Rio. Dengan senyum mengejek, pemuda yang tidak lain adalah Teja itu segera mendekat.
"Ada rokok?" Tanya nya kepada Rio.
Wajah Rio menegang mendengar pertanyaan bernada melecehkan tersebut.
"Apakah semua anggota kepolisian di kota batu ini tidak memiliki pendengaran?" Tanya nya sedikit menghardik. Dia kemudian melangkah ke arah pak Ferdi, kemudian meminta sebatang rokok.
"Huhf...!" Katanya begitu hembusan asap yang pertama dikeluarkan dari mulutnya. Hanya saja, sialnya adalah, asap itu sengaja dia semburkan ke wajah Rio.
"Lain kali kenali siapa orang yang akan kau tangkap. Kau harus tau sedalam apa samudera, dan setinggi apa langit. Seragam mu itu tidak cukup untuk membuat aku ketakutan," ejek Teja. Dia merasa sangat puas dengan tindakannya itu. Terlebih lagi, saat dia melihat wajah Rio yang menegang. Semakin puas hatinya melihat itu.
"Teja. Tolong jaga sikap mu. Bagaimanapun, orang yang berada di hadapan mu saat ini adalah AKBP Rio. Komandan pertama kepolisian di kota batu ini. Jangan mempersulit dirimu. Atau, kau akan dijebloskan kembali ke dalam penjara," seru Ferdi. Sepertinya dia ingin melerai. Namun, nada bicaranya jelas menyiratkan ejekan, sembari menunggu tanggapan dari Teja.
"Hahaha. Kalian para polisi ini. Yang konon katanya adalah penegak hukum. Tapi aku tidak berpikir seperti itu. Hukum, adalah milik kami. Milik orang-orang yang mempunyai pengaruh dan kekayaan. Kekuatan dan koneksi. Bukan begitu AKBP Rio Habonaran yang terhormat?"
Rio tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya mengepalkan tinjunya erat-erat.
"Teja. Silahkan!" Kata salah satu dari seorang anggota kepolisian yang tampak sigap meminta pemuda itu untuk keluar. Dia khawatir kalau-kalau Rio tidak bisa lagi menahan emosinya.
Teja mendengus mendengar ajakan dari anggota kepolisian tadi. Lalu, dia mengisap kembali rokoknya, kemudian melemparkan puntungnya tepat di ujung sepatu Rio, sembari berkata. "tolong masukkan puntung rokok itu ke dalam asbak!"
Setelah selesai dengan aksinya, Teja langsung menepis tangan anggota polisi yang akan membawanya keluar, kemudian melenggang dengan gaya yang sangat menjengkelkan meninggalkan ruangan itu.
"Rio...,"
__ADS_1
"Cukup! Ini kan yang bapak inginkan? Institusi kita telah diinjak-injak oleh orang yang sepatutnya mendekam di balik jeruji. Sandiwara apa lagi yang akan bapak lakonkan dihadapan ku?" Rio segera memotong perkataan pak Ferdi sebelum orang tua itu menyelesaikan kalimatnya.
"Rio. Kau harus realistis. Mereka itu adalah orang-orang yang sangat terpengaruh. Kita saja tidak akan mampu melawan mereka. Apa kau tidak sayang dengan jabatan mu?" Tanya Pak Ferdi seolah-olah sangat bijak dalam menilai situasi.
"Pantas saja sebelum aku menjadi kepala polisi di kota batu ini, perut kalian semuanya buncit. Beberapa orang diantara kalian termasuk yang telah pensiun terlalu enak menjual hukum kepada mereka. Ingat pak, kau akan membayarnya suatu saat nanti!" Kata Rio memperingatkan. Lalu, tanpa menunggu jawaban, dia segera masuk ke dalam ruang kerjanya, kemudian membanting pintu dengan keras.
*********
Dojo kampung baru
Kriiing... Kriiing... Kriiing..!
Suara dering telepon membuyarkan guru besar di Dojo kampung baru tersebut yang tampak sedang bermeditasi.
Dia segera membuka matanya, kemudian meraih handphone miliknya yang terletak di atas meja, kemudian melirik ke arah layar.
Begitu dia melihat nama pemanggil, dia segera menjawab panggilan tersebut sembari berkata, "Takimura. Bagaimana?"
"Sensei. Aku gagal membunuh anak itu. Anak itu dilindungi oleh seorang pejuang dan seorang lagi penembak jitu. Aku terluka dan terpaksa bersembunyi satu malam di area pekuburan ini. Saat ini aku sedang terluka dan tidak mampu untuk berjalan. Beruntung aku masih sempat melarikan diri,"
"Apa? Kau melarikan diri? Celaka kamu Takimura!" Bentak Sensei Dojo kampung baru itu. Dia seperti tidak percaya bahwa seorang ninja akan melakukan tindakan pengecut seperti itu dengan cara melarikan diri.
"Sensei. Saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku butuh bantuan mu. Jika tidak, aku akan mati di sini. Tolong aku!"
"Kirimkan lokasi mu! Aku akan segera menjemput!"
Setelah panggilan itu berakhir, kini Sensei memerintahkan beberapa orang murid agar bergegas menuju ke area pemakaman umum kota Batu sesuai lokasi yang dikirim oleh Takimura.
Sekitar satu jam, rombongan murid-murid Dojo kampung baru pun kembali ke Dojo dan segera melakukan gerak cepat membopong tubuh Takimura yang saat ini seperti orang kehabisan tenaga.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Sensei buru-buru menyongsong.
"Ah... Aku kalah dari orang itu. Sialnya, senjata yang dia kenakan sudah dilumuri dengan racun. Baru satu malam, daging bekas luka ku telah membusuk,"
"Siapa yang kau lawan? Apakah orang itu berasal dari negara ini?" Tanya Sensei penasaran.
Takimura menggeleng perlahan. Kemudian menjelaskan jalannya pertarungan.
"Orang itu berasal dari negara Abjad. Tepatnya, mereka adalah tentara bayaran dari organisasi Tiger Syam,"
"Hmmm. Baiklah. Kita sembuhkan luka mu terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan mengurus kepulangan mu ke negara Jepang," kata Sensei sembari merobek pakaian pada bagian pundak Takimura, di mana di sana terlihat luka bekas sayatan pedang yang telah membusuk.
"Jangan! Aku tidak boleh kembali. Ketika aku melarikan diri dari lawan, maka nyawa ku telah diputuskan. Para tetua dari organisasi akan membunuhku juga. Aku belum mau mati sebelum membunuh anak itu sekaligus dengan orang-orang yang melindunginya. Jika aku kembali dalam keadaan kalah, apa lagi melarikan diri, kemungkinan aku akan di pancung, dan kepala ku akan di gantung selama seminggu di pintu gerbang wisma organisasi," tolak Takimura.
Mana dia berani untuk kembali ke dalam organisasi dengan kekalahan yang memalukan.
Dalam organisasi, mereka di didik untuk tidak mengenal rasa takut. Terlebih lagi, reputasi organisasi tidak boleh tercoreng.
Ketika salah seorang dari mereka mendapat pesanan untuk melakukan misi, hanya ada satu kata. Yaitu keberhasilan. Jika tidak berhasil, maka dapat dipastikan bahwa mereka telah mati. Namun, Takimura bukan hanya tidak berhasil, malahan dia melarikan diri. Seharusnya, dia membunuh dirinya sendiri karena telah gagal. Tapi, dendam di hati Takimura tidak mengizinkan dirinya untuk bunuh diri. Baginya, jika dia mati, maka kesempatan untuk membalas kekalahan itu akan terkubur bersama jasad nya.
Sensei menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mengangguk perlahan.
"Sembuhkan luka mu. Lalu, kau harus segera bersembunyi. Aku khawatir, bahwa tetua utama telah mengetahui kalau kau melarikan diri dari tugas mu. Aku khawatir kalau mereka akan mengutus orang untuk membunuh mu. Maka dari itu, kau harus menghindar dari mereka,"
Takimura mengangguk. Dia tidak membantah, sebaliknya hanya bisa menerima saja.
"Bantu aku, Sensei. Aku harus segera sembuh untuk kembali membuat perhitungan dengan mereka. Hanya dengan itu kehormatan ku dapat ditebus,"
"Baiklah. Aku akan membantu mu. Bagaimanapun, kedatangan mu ke negara ini adalah atas permintaan ku," kata Sensei, kemudian dia dan para murid Dojo kampung baru segera sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengobati luka yang diderita oleh Takimura.
__ADS_1
Bersambung...