
Pagi ini seperti biasa. Namora, yang menjalani kehidupan sebagai remaja dan siswa di SMA negeri Tunas Bangsa juga harus bersekolah. Tidak ada alasan walaupun dia kini tuan muda atau orang biasa. Baginya, jika mau pintar, ya harus giat. Namun, selangkah demi selangkah perubahan pada diri Namora sungguh dapat dilihat.
Namora yang sekarang sudah berbeda dengan Namora yang dulu. Dia kini, berkat arahan dari Zack, berubah dari Namora yang culun, cupu dan katrok secara bertahap berubah menjadi Namora yang cool, modis dan sangat trendi. Apa lagi dia kini berubah menjadi pemuda yang cuek dan terlalu suka menyendiri. Ini seolah-olah bukan menjadi kekurangan, melainkan menjadi nilai plus.
Semakin hari, semakin ramai para gadis yang ingin mendekati dirinya. Hanya saja, Namora sepertinya tidak berminat menanggapi mereka. Tapi hal ini justru malah menambah rasa penasaran di hati mereka.
Namora baru saja memarkir sepeda motornya, tapi dia sudah digoda oleh para siswi. Hal ini membuat Namora benar-benar merasa risih.
Tepat ketika Namora akan meninggalkan area parkir, dia mendengar satu suara memanggil namanya.
Namora menoleh sedikit, mengabaikan, lalu bergegas pergi. Tapi sepertinya pemilik suara tidak menyerah. Dia malah mengejar kemudian meneriaki.
"Namora...!"
Namora yang diteriaki seperti ini langsung menghentikan langkahnya, lalu berbalik.
"Mau apa?" Tanya nya dengan nada acuh.
Begitu pertanyaan itu meluncur, orang yang meneriaki namanya tadi langsung mematung. Bukan karena pertanyaan dari Namora yang membuatnya ketakutan. Melainkan, sorot matanya yang sangat dingin membuat orang itu seperti membeku.
"Merisda. Jika kau tidak mau bicara, lupakan!" Namora berbalik. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya sia-sia dengan gadis itu.
Merisda menyertakan giginya. Dia telah bertahan hampir dua minggu untuk menunggu Namora menyapa dirinya. Tapi sepertinya Namora sama sekali mengabaikan dirinya. Hal ini yang membuat Merisda marah. Tadinya dia berpikir bahwa Namora masih marah dan itu akan baik-baik saja setelah beberapa hari. Namun nyatanya, Namora sama sekali tidak menggubris dirinya.
__ADS_1
Merisda telah berusaha bersikap cuek, walaupun dia sering memancing Namora agar mau menyapa duluan. Karena, seperti biasanya, Namora pasti akan mendahului menyapa, membujuk bahkan menawarkan sesuatu. Sikap Namora yang dulu membuat Merisda merasakan bahwa Namora seperti tidak bisa hidup tanpa dirinya. Tapi sekarang?
Melihat Namora berbalik, Merisda menghentakkan kakinya ke tanah. Suasana hatinya saat ini jangankan orang lain. Dia sendiri pun tidak tau bagaimana hatinya saat ini. Dia ingin merajuk, tapi siapa yang akan membujuk? Dia ingin marah kepada Namora, tapi apa alasannya. Dia ingin membalas sikap cuek Namora ini. Tapi apa iya Namora peduli? Hal ini lah yang membuat Merisda tidak tau seperti apa suasana hatinya saat ini. Dia ingin membenci, tapi tak mampu.
Merisda seperti hilang akal. Kini dia kembali berteriak. "Kau itu memang benar-benar tidak peka!"
"Bodohnya gadis seperti dia ini," maki Namora tanpa berpaling. Dia terus saja melangkah tanpa menghiraukan tatapan tajam dibelakangnya.
Tiba di kantin, Namora hanya memesan makanannya, kemudian duduk paling sudut dan hanya menatap meja yang masih kosong. Dia merasa sudah terbiasa seperti ini. Walaupun dia melihat di sana ada Jericho dan yang lainnya, tapi dia sama sekali tidak ingin bergabung. Hal ini tentu membuat Jol sangat kelelahan antara membagi perhatiannya kepada Namora, di sisi lain dia juga harus tetap bersahabat dengan anak-anak J7. Apa lagi dia adalah ketuanya.
Setelah puas dengan anak-anak J7, Jol kini melangkah ke arah meja Namora. "Ada apa Merisda berteriak seperti orang mau melahirkan?" Tanya Jol sembari mengambil kentang goreng yang ada dihadapan Namora.
"Ntah!" Jawab Namora singkat. Dia terlalu malas untuk membahas tentang diri Merisda.
"Apakah aku memperhitungkannya? Tidak layak. Aku tidak merasakan apa-apa," jawab Namora sinis.
"Kau juga menjauh dari anak-anak J7. Apa kau bisa menjelaskan alasan mu?" Jol masih mendesak Namora.
"Aku telah berusaha memanusiakan diriku di depan manusia lainnya. Tapi manusia-manusia itu seperti tidak berprikemanusiaan kepadaku,"
Jol tampak terkejut mendengar jawaban dari Namora ini. Walaupun kata-katanya itu tidak ditujukan kepadanya, tapi dia tetap merasa tidak enak mendengarnya.
"Aku mengerti perasaan mu. Aku tidak akan mendesak mu lagi," kata Jol pasrah. Dia tidak terlalu mempersoalkan sikap Namora ini. Andai dia yang berada di posisi Namora, dia pun akan merasa kecil hati. Bahkan bisa saja dia mengamuk.
__ADS_1
Namora tidak berkata-kata lagi. Dia sebenarnya ingin menyendiri. Karena, saat ini dia sedang berpikir bagaimana dengan pertemuan yang diadakan di kota Kemuning. Ada rasa penasaran seperti apa nantinya pertemuan itu. Seperti apa kekuatan yang dimiliki oleh Dragon Empire. Dia penasaran karena Ameng selalu, bahkan terlalu bangga dengan organisasi tersebut. Di sisi lain dia gugup. Bagaimanapun, di pertemuan itu nanti, hal-hal akan sangat sulit untuk diprediksi. Kemungkinan nanti di sana akan ada ramai orang-orang besar yang memiliki kekuasaan. Dia masih terlalu muda. Yang dikhawatirkan olehnya adalah, dia terlalu menghormati orang lain sehingga dia akan dimanfaatkan.
"Mengapa kau hanya diam saja? Apakah kau memiliki beban pikiran. Akhir-akhir ini aku melihat kau terus memijit kepalamu," tanya Jol. Ternyata setiap gerak-gerik Namora ini selalu diperhatikan oleh Jol.
"Aku tidak tau entah apa yang aku pikirkan," jawab Namora menggeleng.
"Apa turnamen yang sebentar lagi diadakan yang telah membebani pikiran mu?"
Namora menggeleng. Bagaimana mungkin turnamen itu membebani pikirannya. Dia bukanlah seorang pemuda yang membual. Dia mengikuti turnamen itu karena memang memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu mengejutkan orang-orang yang selalu menghina dirinya. Dia juga bersemangat untuk membalas perlakuan Diaz yang selama ini selalu mengganggunya.
"Lalu?"
"Sebenarnya, turnamen itu tidak penting bagiku. Aku hanya mengusung misi balas dendam. Jika tidak karena Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi ada di sana, aku mungkin tidak mau susah-susah mengikuti turnamen itu,"
"Apa kau ada rencana?" Tanya Jol yang ingin tau mengapa Namora sepertinya tidak terlalu antusias. Bahkan terkesan menyepelekan turnamen tersebut. Padahal banyak orang-orang yang berebut untuk mengajukan diri mengikuti turnamen tersebut.
"Rencana ku hanya satu. Menumbangkan setiap dari keempat orang itu tanpa ampun," jawab Namora merujuk kepada Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi.
Sekilas terbayang di pelupuk matanya seperti apa dulu dia diperlakukan oleh Diaz dan teman-temannya yang lain. Dia di pukul, di palak, diasingkan, di hina. Sesuka hati mereka saja memperlakukan dirinya.
Jika bukan karena larangan dari Pak Harianto, sudah lama Diaz dan teman-temannya akan mendapatkan balasan dari dirinya. Dia telah menunggu lama untuk turnamen ini. Sekali ini pasti dia akan menghajar mereka. Dia bahkan tidak takut melanggar peraturan. Karena, yang terpenting baginya adalah, Diaz harus tergeletak pingsan di kanvas.
Jol mengangguk samar mendengar jawaban dari Namora. Dia bangkit dari duduknya, menepuk pundak Namora, lalu berlalu untuk kembali bergabung dengan anak-anak J7 lainnya.
__ADS_1
Bersambung...