
Bangunan tujuh lantai yang merupakan kantor besar Martins Group berdiri megah ditengah pusat kota, kota Kemuning.
Jika diperhatikan, di balkon paling atas, terlihat satu sosok tubuh sedang berdiri tegak bagaikan seorang raja yang mengamati daerah kekuasaannya. Dialah Namora. Tidak ada seorangpun yang mengawal pemuda itu.
Berjarak satu kilometer dari kantor besar tersebut, adalah Martins Hotel. Di roof top hotel tersebut, terlihat seorang lelaki mengenakan pakaian kamuflase sedang tiarap dengan teropong mengarah tepat dimana Namora tadi sedang berdiri. Sesekali lelaki itu akan mengatakan sesuatu menggunakan interkom.
"Lex. Masuk!" Kata lelaki itu dengan pandangan tidak lepas dari teropong miliknya.
"Rey. Bagaimana keadaannya?"
"Namora sedang berdiri tegak di sana," jawab lelaki bernama Rey itu.
"Itu aku tau. Bukan itu yang aku tanyakan, goblok!"
"Sialan. Ku tembak kepala mu," maki Rey becanda. "Eh Lex. Mungkin akan ada seseorang hari ini yang akan bertemu dengan Namora. Kau jangan terlalu jauh dari anak itu. Terlebih lagi, dia sudah membuat geger dunia bisnis. Aku khawatir saat ini banyak mata tertuju kepadanya,"
"Baik. Kau tidak perlu khawatir. Bagaimanapun, ini semua adalah skenario yang dibuat oleh Tuan besar Jerry William. Kedepannya, semua mata akan tertuju ke sini. Terlebih lagi, Arold Holding company," jawab Alex.
"Itu masalah lain. Kita di sini bukan untuk mengurus bisnis mereka. Bisnis kita adalah, memastikan bahwa Namora, tidak berada dalam bahaya. Sisanya, bukan urusan kita!"
"Ok Rey. Terus pantau dan beritahu kepadaku. Aku akan menggunakan metode lain untuk berbaur dengan masyarakat dan selalu melindungi keselamatan Namora!"
"Semoga sukses!" Kata Rey alias Black Eagle mengakhiri panggilan.
Sementara itu, masih di lantai paling atas bangunan kantor Martins Group, suara dering telepon membuyarkan lamunan Namora. Dia pun segera mengeluarkan handphone miliknya, kemudian menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Hallo!"
"Tuan muda. Ini saya, Tonggi!" Kata si penelepon setengah berbisik.
"Hmmm. Bagaimana keadaannya?"
"Tuan muda. Seperti yang anda perintahkan. Saat ini, tidak jauh dari pelabuhan Tanjung karang, telah ramai dikunjungi oleh orang-orang dari kota batu. Wajah-wajah mereka tidak asing. Itu adalah para murid dari Dojo kampung baru," jawab Tonggi masih dengan suara yang ditekan.
"Bagus! Kau segera mundur. Paman ku telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian tanjung karang. Mereka sedang bergerak ke sana. Jangan terlibat dan kembali ke yayasan Martins sekarang!" Perintah Namora dengan tegas.
"Baik, Tuan muda. Saya juga sedang menunggu kabar dari tiga teman yang lainnya. Mungkin akan ada kabar malam ini,"
"Hmmm..!" Namora segera mengakhiri panggilan. Ada sorot dingin pada wajahnya. Dia segera membalikkan badannya, kemudian meninggalkan tempatnya berdiri tadi untuk turun ke bawah. "akan ada peristiwa besar malam ini," gumam Namora dalam hati.
"Tuan muda. Kemana kita selanjutnya?" Tanya pak Karim begitu melihat Namora sedang menghampirinya.
Pak Karim segera mengangguk, lalu bergegas membukakan pintu mobil untuk Namora.
Setelah mobil Bentley itu bergerak meninggalkan area parkir kantor Martins Group, Namora pun mulai bertanya. "Bagaimana dengan persiapan bapak untuk pindah?"
"Sudah selesai semuanya, Tuan muda. Sebelumnya saya sangat mengucapkan terimakasih. Terimakasih karena sudah memberikan fasilitas kepada saya. Semua barang-barang di rumah sudah dipindahkan ketempat baru. Ada lebih dari seratus orang yang membantu sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih!"
Namora tidak menjawab. Dia hanya fokus menatap jalan, kemudian memerintahkan kepada pak Karim untuk berhenti.
Namora segera keluar dari dalam mobil tepat di depan seorang pengemis.
__ADS_1
Dari depan pintu mobil, Namora mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu melemparkannya ke atas tanah.
Salah seorang dari pengemis itu membungkuk dan berjalan ke arah dimana uang tadi dilemparkan oleh Namora, kemudian membungkuk dengan rasa berterima kasih yang sangat besar.
"Terimakasih.., terimakasih.., terimakasih..," kata pengemis itu berulang kali membungkuk.
"Bagaimana pekerjaan mu?" Tanya Namora singkat.
"Tuan muda. Semuanya seperti yang anda perkirakan. Menurut berita yang saya dapat dari salah satu orang kita, malam ini Jhonroy akan bergerak ke tanjung karang. Hanya saja, suasana hatinya kurang baik setelah anda melakukan konferensi pers,"
"Bagus!"
"Terimakasih Tuan.., terimakasih..!" Sekali lagi lelaki berpakaian pengemis itu membungkuk, lalu menyalami tangan Namora. "Tuan muda. Didalam pendrive ini, ada bukti kejahatan yang dilakukan oleh Jhonroy. Juga ada beberapa bukti transaksi ilegal serta penyelewengan-penyelewengan yang dia lakukan. Termasuk tidak taat terhadap pembayaran pajak. Anda bisa menggunakan ini untuk mengancamnya,"
"Hmmm..!" Jawab Namora. Dia segera mengambil sebungkus roti dari dalam mobil, kemudian melemparkannya kembali ke tanah yang langsung diambil oleh pengemis tadi.
"Kemana lagi kita akan pergi, Tuan muda?" Tanya Pak Karim.
"Pulang! Aku ingin melihat bagaimana tempat tinggal Bapak. Mungkin aku ingin menumpang tidur di sana. Boleh?" Tanya Namora. Dia ingin menumpang tidur di rumah pak Karim. Bagaimanapun, dia sudah terbiasa tidur di rumah yang tidak terlalu besar. Baginya, itu lebih nyaman daripada harus menempati rumah ayahnya yang sangat besar. Dia takut tinggal sendirian di rumah sebesar itu. Kali aja rumah itu ada hantunya.
Lima belas menit kemudian, dengan mengendarai mobil sport itu seperti dikejar oleh hantu, akhirnya mereka tiba juga dikawasan perumahan staf Martins Group. Dulunya, ketika pertama kali Tigor dipindahkan oleh mendiang Martin ke kota Kemuning ini, di area perumahan inilah Tigor beserta adik-adiknya yang lain tinggal. Itu adalah momen dimana mereka dulu merintis kota Kemuning ini.
Dulu, sekitar 19 tahun yang lampau, kota Kemuning tidak sebesar ini. Masih banyak area kumuh dan hanya sedikit kawasan industri. Bisa dikatakan, hanya Martins hotel saja bangunan yang bagus ketika itu. Berbeda dengan sekarang.
Ketika Tigor menggulung kekuatan Jordan dan membunuh putranya yaitu Ronggur, perlahan kota Kemuning disulap menjadi kota besar sekelas kota Tasik Putri. Terlebih lagi ketika itu Tigor bekerjasama dengan R2D MegaTown yang dikepalai oleh Daniel, Ryan dan Riko. Dari hasil kerjasama tersebut, berdiri lah kantor besar Martins Group, Yayasan Martins dengan sekolah dua belas tahun, rumah sakit, mesjid besar, gereja besar dan fasilitas lainnya didirikan dengan menggunakan nama Martins untuk mengenang ayah angkatnya yang telah mengangkatnya dari tempat sampah ke tempat yang penuh dengan kemuliaan. Bisa dikatakan, Namora kini hanya menuai hasil dari usaha keras sang Ayah. Dan Namora berpikir bahwa dia perlu mengembangkan usaha ayahnya tersebut walau apapun yang terjadi. Jika Agro finansial Group menghalangi, dia tidak akan sungkan untuk menyingkirkan keluarga tersebut dan membantai mereka agar hilang dari muka bumi ini.
__ADS_1
Ancaman harus dihilangkan sampai ke akar-akarnya jika tidak ingin mereka akan menjadi ancaman yang lebih besar di kemudian hari.
Bersambung...