
Beberapa bulan kemudian.
Sore itu, tampak Merisda sedang sibuk memilih barang di pusat perbelanjaan di kota batu. Mereka berbelanja di salah satu mall yang paling terkenal dan paling besar di kota itu. Sementara itu, terlihat Namora dibelakangnya seperti seorang kacung yang sangat menderita.
"Namora. Percepat langkah mu! Lihat itu. Aku sangat menyukai boneka dolphin itu!" Merisda menunjuk ke arah boneka dolphin berwarna biru. Boneka itu terlihat biasa saja. Namun, jangan ditanya harganya. Karena, boneka dolphin tersebut adalah buatan pengrajin terkenal dan di sulam dengan tangan. Pertahunnya hanya bisa menghasilkan sebanyak sepuluh boneka saja. Dan di Mall tersebut, hanya itulah satu-satunya.
Merisda memasuki toko boneka tadi, lalu berdiri di sana sambil menatap ke arah boneka dolphin yang berada di dalam peti kaca tembus pandang.
Melihat Merisda memasuki toko, seorang wanita pramuniaga menghampiri. Dia dengan ramah menyapa gadis tersebut. "Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya pramuniaga tersebut.
"Kakak. Maaf jika saya bertanya. Apakah boneka dolphin itu di jual atau hanya untuk pajangan? Jika di jual, berapa harganya?" Tanya Merisda.
Mendengar pertanyaan dari gadis itu, sang pramuniaga tersenyum getir kemudian menjelaskan. "Nona. Boneka dolphin ini hanya satu-satunya di sini. Memang tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan boneka yang lain. Hanya saja, produksi boneka ini sangat terbatas karena disulam secara manual. Konon hanya bisa diproduksi tidak lebih sepuluh buah. Jika masalah harga, boneka ini dibuka dengan harga dua ratus lima puluh juta rupiah!" Jawab sang pramuniaga yang spontan membuat mata Merisda melotot. Namun, karena dia sudah terlanjur menyukai boneka tersebut, maka dia segera menatap ke arah Namora.
"Namora. Apa kau benar-benar menyukai ku?" Tanya Merisda.
Namora tau kemana arah pertanyaan ini. Namun, dengan gugup dia mengangguk.
"Aku menginginkan boneka itu!" Rengek Merisda manja.
Langsung kering rasanya batang leher Namora. Dari mana dia bisa mendapatkan uang. Jangankan dua ratus lima puluh juta rupiah, dua juta setengah saja pun dia tidak punya.
"Mengapa kau hanya diam saja?" Tanya Merisda dengan panik. Dia sudah terlanjur malu karena saat ini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang. Bahkan, ada yang mencibir.
"Dari mana aku punya uang sebanyak itu? Kau sendiri kan tau seperti apa keadaan ku?!" Ujar Namora. Dia tidak habis pikir. Mengapa tiba-tiba Merisda meminta sesuatu yang bukan-bukan? Apakah gadis ini ingin mencari gara-gara dengan dirinya.
__ADS_1
"Nona. Harga dua ratus lima puluh juta itu tidak besar jika dilihat dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat boneka ini. Nona bisa melihat sendiri mata yang terdapat pada boneka dolphin itu. Mata tersebut terbuat dari batu mulia yang sangat langka. Sedangkan di ujung hidung boneka tersebut, terbuat dari Ruby yang sangat langka dan berkualitas tinggi. Kami dapat memastikan bahwa hanya ada satu boneka saja di propinsi ini seperti yang ada di toko kami," kata sang Pramuniaga. Dia harus mempromosikan barang dagangannya. Andai itu benar-benar laku, maka sudah pasti dia akan mendapatkan komisi yang sangat lumayan.
"Ayo pulang, Mer. Aku tidak punya uang," ajak Namora. Keadaannya saja saat ini sudah seperti kacung. Ditambah lagi Merisda menginginkan sesuatu diluar kemampuannya. Perasaannya mulai tidak enak.
"Kau...," Hanya itu yang keluar dari mulut Merisda.
"Nona. Jika tidak membeli, maka silahkan berikan tempat kepada orang lain untuk melihat. Anda juga sudah membuang waktu saya," pramuniaga itu tidak lagi berbasa-basi. Senyum di wajahnya juga sudah sirna. Dia tidak lagi sopan. Maka, dengan setengah memaksa dia mendorong pundak Merisda ke samping.
"Ayo Mer!" Namora segera menarik tangan Merisda agar segera meninggalkan toko tadi. Baginya, tidak ada alasan untuk berlama-lama di sana. Dia sudah tidak memiliki uang. Uang jatahnya dari Mirna yang dia tabung selama ini sudah habis terkuras semenjak dia berhubungan dengan gadis itu. Dia tidak menyangka bahwa Merisda ini adalah tipe gadis pisau cukur. Uang yang dia tabung dengan niat kelak untuk membeli sepeda motor telah habis diporoti oleh Merisda.
"Lepaskan tanganku!" Merisda menghempaskan tangan Namora dari tangannya. Namora kaget bukan main. Dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Merisda berubah seperti itu.
"Sini barang-barang ku!" Merisda merampas semua barang belanjaan yang dipegang oleh Namora tadi dengan paksa. Setelah itu dia langsung berkata, "dasar tidak bisa diandalkan,"
Selesai berkata seperti itu, Merisda langsung menghentikan taksi, lalu masuk dan meninggalkan Namora yang tampak seperti orang linglung.
Dia sudah melakukan segalanya agar terlihat pantas. Menjadi kacung untuk gadis itu, menghabiskan uang tabungannya, dia juga selalu tidak jajan di sekolah hanya untuk memberikan sesuatu kepada Merisda. Tapi, ini balasan yang dia dapatkan.
Dalam keputusasaan itu, Namora hanya bisa melangkah meninggalkan bagian depan bangunan pusat perbelanjaan yang dia kunjungi tadi. Dia bingung bagaimana untuk pulang. Ongkos untuk taksi sudah tidak punya. Uang yang dia bawa semuanya sudah habis untuk membeli barang yang diinginkan oleh Merisda. Kecuali hanya boneka dolphin itu saja yang tidak dapat dia belikan.
Namora kini merogoh sakunya, lalu mencari nomor telepon, kemudian melakukan panggilan.
"Hallo Namora!" Sapa orang di seberang sana.
"Paman Ameng. Aku tidak dapat pulang ke rumah. Uang ku habis. Untuk ongkos taksi pun aku tidak punya," kata Namora dengan lemah.
__ADS_1
"Kau di mana sekarang?" Tanya orang di seberang sana.
"Suzuya Mall kota Batu!" Jawab Namora singkat.
"Kau tunggu di sana. Paman akan menyuruh seseorang untuk menjemput dan mengantarkan mu pulang. Jangan matikan handphone mu supaya orang suruhan Paman bisa segera menemukan keberadaan mu!"
"Baik Paman!" Jawab Namora merasa lega. Baginya, urusan dengan Merisda bisa diselesaikan nanti. Yang terpenting adalah, dia bisa pulang dulu. Untuk masalah boneka dolphin itu, Namora lebih memilih realistis saja. Mana lah mungkin dia bisa memenuhi keinginan gadis itu. Kecuali dia anak orang yang kaya raya. Dua ratus lima puluh juta itu bukan jumlah yang sedikit. "Merisda sungguh keterlaluan," katanya dalam hati.
Sekitar lima belas menit berada di depan Suzuya Mall kota Batu, satu unit mobil Mercedes Benz S-class berhenti tepat di depan Namora. Namora tidak mengetahui mobil siapa itu.
Kriiing..!
Namora kaget tiba-tiba ponselnya berdering. Ketika dia melihat bahwa nomor yang menelepon dirinya tidak ada dalam daftar kontak, Namora berinisiatif untuk menjawab. Namun, sebelum dia menjawab panggilan itu, tiba-tiba pintu mobil terbuka dan dari dalam terdengar suara seseorang menanyakan namanya.
"Namora ya?"
Namora mengernyitkan dahinya, lalu mengangguk.
"Saya adalah teman bang Ameng. Kedatangan saya ke sini untuk mengantarkan mu pulang," kata orang tadi sembari keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk Namora.
Namora tidak bertanya lagi. Dia segera memasuki mobil tadi, dan tak lama kemudian mobil itu segera meluncur meninggalkan Suzuya Mall menuju ke perumahan dinas kepolisian kota Batu.
Jangan lupa mampir di karya Author Mita Dewi. Novel karyanya juga bagus dengan judul yang terlihat pada Cover visual.
__ADS_1
Bersambung...