Namora

Namora
Penghinaan yang paling menyakitkan


__ADS_3

Namora mengangkat kepalanya sedikit ketika mendengar beberapa suara langkah kaki dari arah dalam rumah keluar disertai dengan sapaan ramah.


"Wah wah wah. Tidak ku sangka bahwa Dhani putra bang Panjul dan Rendra keponakan Tuan Willi bisa menyempatkan diri untuk menghadiri acara ulang tahun adikku ini. Sungguh suatu kehormatan!" Suara ramah bernada sanjungan itu keluar dari bibir seorang lelaki yang berusia sekitar 30-an.


Tepat ketika Dhani mendengar suara penuh sanjungan ini, dia menatap ke arah datangnya suara tadi, lalu merentangkan tangannya. Sambil tersenyum dia juga berkata, "Bang Arda. Ah. Abang ini terlalu memuji,"


Ternyata yang keluar dari dalam rumah tadi adalah Arda. Di sampingnya ada Ardi dan beberapa orang yang lainnya.


Karena mereka pernah menjalin kerjasama yang sangat baik, maka tidak heran bahwa Arda sangat menaruh rasa hormat kepada Panjul. Siapa yang tidak mengenal Panjul. Orang yang cukup berpengaruh di kota batu ini. Bahkan, ketika jaman kejayaan geng tengkorak dan geng Jordan dari kota Kemuning, tidak ada yang berani menyinggung Panjul, Ganjang dan Mokmok.


Arda juga melihat keberadaan Rudi diantara mereka. Kemudian mereka juga saling berpelukan.


"Kau Rudi kan? Wah cepat sekali kau besar. Dulu aku ingat ketika kau masih suka pakai kolor berlari keliling rumah karena takut air," kata Arda mengungkit kisah kanak-kanak Rudi.


Rudi hanya bisa tersenyum malu-malu ketika kelakuannya waktu masih anak-anak dulu dibongkar di sini.


"Ayo! Silahkan duduk. Ajak teman-teman mu yang lain ke sini!" Kata Arda sembari berjalan ke arah meja yang masih kosong, dimana disebelahnya, Namora sedang duduk. Tapi, Arda segera mengernyitkan dahinya ketika melihat keengganan di mata setiap orang.


"Ada apa? Apakah kalian betah berdiri. Ayo lah! Jangan mempermalukan kami sebagai tuan rumah. Apa kata orang nanti? Mereka akan mengira kami tidak menghormati tamu,"


"Uh. Bau apa ini yang tidak sedap?" Tiba-tiba Rendra menutup hidungnya.


"Bau?" Diaz merasa heran. Tapi ketika melihat Rendra mengedipkan matanya, Diaz segera terkoneksi, dan juga ikut-ikutan menutup hidungnya, kemudian kembali berkata. "Ya. Aku mencium bau yang tidak sedap. Seolah-olah bau ini keluar dari balik jeruji besi!"


"Apa maksud kalian?" Tanya Arda tidak mengerti. Merisda juga kini telah menghampiri mereka diikuti oleh Dosma dan Ernita.


Tidak butuh waktu lama, semua orang kini memalingkan wajahnya menoleh ke arah Dhani dan yang lainnya.


"Bang. Ijinkan aku bertanya kepada Merisda. Apakah kau mengundang anak seorang narapidana ke acara ulangtahun mu ini?" Tanya Diaz sambil menatap Merisda.

__ADS_1


"Narapidana? Emang siapa di sini anak narapidana? Semua orang yang hadir di sini adalah sahabat satu sekolah dengan Merisda. Adapun yang lainnya adalah para karyawan di kantor ku," Arda dan Ardi masih tidak mengerti. Tapi ketika melihat bahwa mata Rendra, Dhani dan yang lainnya menuju ke arah Namora, maka mau tak mau Arda dan yang lainnya kini mengalihkan pandangannya.


Namora yang duduk sendirian di meja tampak menjadi salah tingkah. Dia berharap ada yang menolongnya ketika ini. Tapi itu hanya harapan belaka. Karena tidak ada yang mau menolongnya.


"Ada apa? Apakah bau itu dari meja ini?" Rudi seolah-olah menuangkan minyak ke atas api yang sedang menyala.


"Mer. Mengapa kau mengundang Namora? Apa kau tau bahwa dia ini adalah anak seorang narapidana?" Tanya Diaz.


Berpura-pura tidak mengerti, Merisda sedikit terkejut. Tapi ini hanya acting belaka. Dia pun segera bertanya seperti orang linglung. "Anak narapidana? Darimana Namora ini anak narapidana?"


"Tanyakan saja langsung kepadanya!"


Bisik-bisik kini mulai terdengar. Bahkan, puluhan pasang mata menatap jijik ke arah Namora. Selama ini tidak ramai yang tau bahwa ayah Namora yaitu Tigor sedang berada di dalam penjara.


Namora kini benar-benar merasa ditelanjangi. Dia sangat marah sekaligus malu. Mengapa di acara seperti ini Dhani dan geng nya seolah-olah membuka aibnya.


"Aku tidak tau. Andai aku tau, aku bahkan tidak sudi mengundangnya,"


Namora tampak gugup. Tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.


Kini, Dosma dan Ernita seolah-olah menjadi pemeran tambahan yang mulai mengumpat dan menghina Namora.


"Tidak ku sangka ternyata yang mengejar-ngejar mu adalah seorang anak narapidana. Hancur sudah reputasi mu!" Ejek kedua gadis itu.


"Diam!" Merisda tampak kesal ketika ini. Tapi lagi-lagi itu hanyalah acting.


"Dengan siapa tadi dia kemari? Aku harap, sebelum acara ulangtahun adik ku ini menjadi kacau, sebaiknya kau pulang!" Teriak Arda dan Ardi. Jelas kini dia menatap Namora seperti seekor anjing kurap yang sama sekali tidak ada harganya. Bahkan bisa diperlakukan sesuka hatinya.


Merisda menatap ke arah Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio dan Jufran.

__ADS_1


Seolah-olah tau tatapan ini untuk mereka, maka tidak ada diantara mereka yang membuka mulut.


"Usir saja orang ini. Bikin suasana kacau saja. Bagaimana kita bisa berteman dengan anak seorang narapidana?"


Kata-kata sumbang terdengar dari kerumunan.


"Jericho! Aku melihat kalian tadi datang bersama kan? Sekarang aku mohon untuk menyuruhnya agar meninggalkan rumah ku. Jika tidak, acara ku akan benar-benar menjadi rusak," Merisda meminta kepada Jericho agar Namora segera dibawa pergi. Tapi sepertinya Jericho enggan untuk mengantar Namora pulang. Karena, acara belum sampai pada puncaknya. Apa lagi dia baru saja berkenalan dengan seorang gadis.


"Mer. Aku memang anak seorang narapidana. Tapi apakah senajis itu aku di mata mu? Ayahku tidak merugikan siapapun. Jadi, mengapa kau begitu menghina? Apa kau lupa kebaikan yang selama ini telah aku berikan. Karena mu, aku bahkan menghabiskan tabungan ku. Setelah apa yang aku lakukan, tega kau membalas ku seperti ini," Namora mulai membuka suara. Hanya itu yang mampu dia lakukan saat ini. Yaitu, memberi pembelaan atas dirinya sendiri.


"Najis. Lelaki apa kau ini. Mengungkit kebaikan. Jika begitu, aku akan mengembalikan uang mu!" Merisda berlari ke dalam rumah, kemudian dia kembali lagi dengan segenggam uang ditangannya.


Setelah jarak antara dirinya dengan Namora tinggal beberapa langkah, dia melemparkan uang itu ke arah wajah Namora. "Ambil uang mu, lalu pergi!"


Melihat ini, Jericho segera menghampiri Namora, kemudian berbisik. "Mora. Untuk meredakan keadaan, dan agar tidak merusak acara ini, sebaiknya kau pulang lah duluan!"


Namora menatap wajah Jericho dengan hampa. Dia tidak menyangka bahwa Jericho sangat pengecut dan tidak membela dirinya. Andai ini adalah Jol, sudah pasti dia akan berkelahi demi membela dirinya.


"Apakah ini kata-kata yang keluar dari mulut seorang sahabat? Apakah kau ingat bahwa kemarin, kau lah yang beriya-iya meminta ku agar menghadiri acara ini. Bermacam-macam kata kau ucapkan untuk meyakinkan aku. Sekarang aku tau bahwa jiwa persahabatan mu hanya setipis kulit bawang!" Berair mata Namora mengucapkan kata-kata itu di depan Jericho.


Jericho juga seperti menyesal mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Namora. Bagaimanapun, dia sedikit gugup.


"Aku akan pergi. Tapi setelah ini, kalian tidak akan menemukan Namora yang dulu lagi. Karena setelah kejadian ini, Namora ini sudah mati! Dan kalian (Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio dan Jufran) Kalian adalah sahabat ku, tapi bukan karib ku!"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Namora meninggalkan kado yang dia bawa tepat di atas meja, kemudian dia berlalu meninggalkan tempat berlangsungnya acara tersebut dengan hati yang hancur berkeping-keping.


Sudah dua kali dia mengalami kehancuran. Dan ini yang paling keras. Pukulan ini begitu kuat dan itu dia rasakan dalam kurun waktu tidak sampai satu bulan.


Namora tidak bisa lagi menahan air matanya. Air mata kecewa, kemarahan, dendam, dan rasa iba kepada ayahnya yang dihina. Dan sepertinya, luka ini walaupun sembuh, akan meninggalkan parut yang sangat dalam.

__ADS_1


Sambil berjalan, Namora mengeluarkan handphonenya, kemudian menghubungi Ameng agar segera menjemputnya.


Bersambung...


__ADS_2