
Baru saja Namora melewati gang rumah milik pak Harianto menuju ke jalan raya, setelah selesai dari latihannya tadi, kini dari arah belakang terdengar seseorang meneriaki namanya.
"Namora..!"
Namora dengan cepat menoleh ke arah datangnya suara tadi. Begitu dia melihat bahwa yang memanggil namanya adalah Jufran, dia pun segera melambaikan tangannya.
"Woy. Aku yang menyebrang atau kau yang ke sini?" Teriak Namora membalas teriakan dari Jufran tadi.
"Aku yang ke sana!" Balas Jufran. Dia segera melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah jalan tersebut sepi dari lalu lalang kendaraan, dia pun segera berlari menghampiri Namora yang sedikit menyeringai menahan sengatan matahari.
"Kau sendirian saja Juf?" Tanya Namora ketika Jufran sampai di depannya.
"Iya. Mereka sudah pulang ke rumah," jawab Jufran sedikit terengah-engah.
"Dari mana kalian?" Tanya Namora pula.
"Kami tadi dari memancing di bendungan irigasi kampung baru. Tapi..," Jufran menghentikan kata-katanya.
Namora terlihat sangat penasaran. Dia segera menarik tangan Jufran untuk berteduh. Kebetulan di sana ada penjual es cendol. Mereka pun memesan dua gelas es kepada bapak penjual.
"Kau belum menceritakan kepadaku. Tapi apa Juf?" Namora mengejar Jufran dengan pertanyaan.
"Kau tau lah seperti apa hubungan kita dengan Rendra,"
"Lalu?"
"Ketika kami memancing, mereka datang bersama dengan seorang anak kelas 3. Nama anak itu Dhani. Selain itu, dia juga mengajak beberapa orang lagi, kemudian menggangu kami ketika yang sedang memancing ikan. Jol dan Jericho berkelahi dengan mereka. Dan akhirnya kami di keroyok," jawab Jufran.
"Wah. Apa ada yang terluka?" Namora semakin penasaran.
"Tidak. Hanya babak belur saja. Lihat ini! Sikut dan lutut ku sampai memar,"
"Siapa Dhani itu, Juf?" Tanya Namora. Dia sama sekali tidak kenal siapa Dhani ini, dan baru kali ini mendengar namanya.
"Dia itu orang kota Batu ini. Bukan anak sekolah kita. Dia sekolah di tempat lain. Tapi, ayahnya dan ayah Rendra berteman. Kau kan tau ketika kita berkelahi dengan mereka kemarin?! Ternyata Rendra mengadukan hal itu kepada orang yang bernama Dhani. Makanya dia mencari kami untuk balas dendam,"
"Katamu anak kelas 3. Berarti sudah kalah jumlah, kalah body pula,"
"Iya. Sebenarnya, tiga orang saja pun mereka bisa mengalahkan kami yang 7 orang. Tapi entahlah. Mereka menghajar kami sesuka mereka saja. Heh.., Namora. Kau berani tidak melawan Dhani itu?" Tanya Jufran sekedar ingin tau sampai di mana keberanian Namora.
__ADS_1
"Aku berani. Sekarang pun ayo!" Namora mulai terpancing.
"Mengapa kau diam, Juf?"
"Tidak. Aku juga tidak takut. Aku hanya khawatir kalau ibu ku tau aku berkelahi, habis lah aku kena cubit!" Jufran meluahkan kekhawatirannya.
"Iya juga. Apa lagi ibu ku. Bisa-bisa aku dipasung di rumah," kata Namora pula merinding.
"Apa kau tidak ingin membela kami, Namora. Kau kan semakin hari semakin kuat. Lihat saja otot mu lebih besar dari otot ku,"
"Hahaha. Otot saja yang besar. Otak ku kecil," jawab Namora sambil tertawa.
"Tapi kan.., mengapa bisa tubuh mu seperti ini? Padahal dulu, kau itu sangat cungkring. Aku ingat ketika pertama kali kita sekolah, kau adalah anak yang paling kecil di antara kami,"
"Ibu ku memberikan pupuk urea kepada ku. Makanya aku cepat besar," jawab Namora seenak jidatnya.
"Mana bisa makan pupuk. Mati lah kau pe'a!" Maki Jufran.
"Uhuk...!" Namora tersedak mendengar makian dari sahabatnya tadi.
"Namora. Sebentar lagi kan akan libur panjang menjelang naik kelas. Kau akan kemana?" Tanya Jufran setelah lama berdiam diri.
"Oh ya. Bagaimana cara kalian bisa pulang? Bukannya kau tadi bilang, bahwa kalian dikeroyok?" Tanya Namora. Dia merasa penasaran juga bagaimana cara mereka meloloskan diri dari keroyokan teman-temannya Rendra.
"Mudah saja. Ambil langkah seribu!" Jawab Jufran.
Mereka berdua kembali tertawa. Namun, sontak tawa Jufran terhenti. Dia menatap Namora lalu berkata, "tapi, Namora. Sepeda milik Jol tertinggal di sana. Entah bagaimana nasib sepeda itu,"
"Ayo kita ke kampung baru! Kita lihat sepeda milik Jol," ajak Namora.
"Apa kau kira dekat? Kami saja naik sepeda hampir satu jam. Sedangkan aku tidak punya sepeda. Aku tadi menumpang dengan Jaiz,"
"Ayo kita ke rumah ku. Nanti aku akan meminta uang kepada ibuku. Kita bisa naik ojek," ajak Namora.
"Ayo. Tapi, bagaimana jika Rendra masih di sana?" Tanya Jufran ragu.
"Memangnya mengapa? Kita kan hanya akan mengambil sepeda,"
"Jangan gila! Kita ini musuh mereka. Kami bertujuh saja keok. Apa lagi kita berdua. Jadi tempe nanti kita di sana,"
__ADS_1
"Itu urusan nanti," kata Namora pula. Dia membayar es cendol yang tadi dia pesan, lalu segera mengajak Jufran ke rumahnya.
*********
"Kau mau kemana Namora? Untuk apa uang lima puluh ribu?" Tanya Mirna kepada anaknya.
"Bu. Aku mau membantu Jufran. Tadi mereka memancing di sungai kampung baru. Tiba-tiba mereka dikejar lembu. Sepedanya tinggal. Boleh ya Bu!"
"Jangan lama-lama! Ini uang nya! Cepat pergi biar bisa cepat pulang!" Kata sang ibu memberi izin sekaligus memberi uang untuk ongkos ojek mereka.
"Ayo Jufran! Kita tidak boleh lama-lama!"
Kedua anak lajang tanggung itupun segera keluar dari rumah Namora.
Mereka berjalan menuju ke arah pos security yang menjaga komplek perumahan dinas kepolisian itu, kemudian menuju ke pangkalan ojek.
"Bang. Kami mau ke bendungan irigasi kampung baru!" Kata Namora kepada salah satu dari kumpulan tukang ojek yang mangkal di tempat itu.
"Tiga puluh ribu!" Jawab bapak tukang ojek tadi.
"Bagaimana ini? Uangnya hanya lima puluh ribu saja," bisik Namora kepada Jufran.
"Sini uangnya!" Pinta Jufran. Lalu, Namora pun menyerahkan selembar uang 50 ribu rupiah yang dia gulung dan ikat di balik bajunya.
"Pak. Kami ingin pulang pergi. Tapi, uang kami cuma segini," kata Jufran sembari menunjukkan uang lima puluh ribu.
Tukang ojek tadi diam sejenak. Setelah itu, "ayo lah!" Katanya sembari mendorong cagak dua pada sepeda motornya.
Kedua anak itu segera naik agar cepat sampai di bendungan irigasi kampung baru untuk melihat apakah sepeda Jol masih di sana atau tidak.
"Bagaimana jika sepedanya tidak berada di sana Mora?" Tanya Jufran.
"Kita pulang saja lagi Naik ojek,"
"Bagaimana jika sepedanya di sana. Kita akan rugi 25 ribu,"
"Biar lah rugi sedikit. Uang ibu ku banyak. Tapi, untuk sepeda Jol itu, aku harus berusaha mendapatkannya kembali. Dulu aku sering menumpang kepada Jol ke sekolah naik sepeda miliknya. Sayang lah sepeda itu kalau hilang. Banyak kenangannya,"
"Ya lah. Pegangan kau, Namora! Nanti kau tertinggal pula di belakang!" Kata Jufran yang langsung memeluk pinggang pak ojek tadi, kemudian Namora memeluk pinggang Jufran.
__ADS_1
Bersambung...