
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa kini Namora sudah menduduki bangku SMP.
Rio, yang telah menikah dengan piiihan hatinya telah memboyong kakak iparnya yaitu Mirna bersama dengan keponakannya Namora untuk tinggal di kota batu.
Seperti biasa. Namora menjalani hari-harinya di sekolah yang tidak terlalu ramah untuknya. Akan tetapi, dia tidak lagi kesepian seperti di sekolah dasar. Karena, di sekolah menengah pertama ini, dia berkenalan dengan seorang anak lelaki yang seusia dengannya. Nama anak itu adalah Jol.
Jol ini, selain jagoan di sekolah tempatnya belajar, ayahnya juga adalah bagian dari anggota yang ketika itu direkrut oleh Tigor ketika di blok B perumahan menengah ke atas Tasik Putri. Bisa dikatakan bahwa ayah Jol ini adalah satu angkatan dengan Ameng, Acong, Andra dan Timbul. Dia termasuk dalam dua ratus orang anggota pertama yang direkrut oleh Tigor ke dalam organisasi geng kucing hitam ketika itu. Hanya saja, Jol ini tidak tau bahwa Namora adalah anak Tigor dan Namora juga tidak mengetahui hubungan yang dimiliki oleh ayah Jol dengan ayahnya. Singkat cerita, mereka berteman apa adanya.
Andai Namora berada dalam masalah, Jol lah yang akan maju melawan mereka yang ingin menyakiti Namora. Jika Jol tidak sanggup, maka dia akan memanggil sahabat-sahabatnya yang bernama Jericho, Juned, Jaiz, James, Jufran dan Julio untuk membantunya.
Kelompok tujuh orang anak-anak ini lah yang kelak dikenal sebagai anak-anak geng motor J7 yang menjadi perjaka-perjaka tampan yang sangat digandrungi oleh remaja-remaja di universitas Kota Batu, dan disegani oleh seluruh mahasiswa di kampus tersebut.
Namora sendiri merasa sangat lega ketika tau bahwa Diaz, Dudul, Ruben dan Rudi ternyata tidak menyambung pendidikan di SMP tempatnya belajar. Jika tidak, tentunya masalah akan semakin rumit. Namun, perlakuan yang diterima oleh Namora di sekolah ini tetap saja tidak mengenakan.
Jika dulu Namora dihina dan dikucilkan karena ayahnya adalah seorang narapidana, kini Namora sering di hina dan dikucilkan karena dianggap sebagai siswa yang miskin. Apa lagi Pamannya Rio bukanlah seorang polisi yang kaya walaupun memiliki pangkat yang tinggi di kota batu ini. Hal ini lah yang membuat banyak siswa mengasingkan Namora karena dianggap tidak memberikan efek apa-apa. Bahkan, Namora terkesan akan menyusahkan mereka nantinya.
Tigor memang sengaja tidak mengizinkan Mirna untuk terlalu mengistimewakan Namora. Karena, baginya akan tiba waktu dimana Namora benar-benar telah siap mengetahui bahwa dia adalah Tuan muda dari seorang penguasa di kota Kemuning dan beberapa kota lainnya.
Setelah nanti Namora memasuki SMA, barulah Namora akan diperkenalkan dengan dunia bisnis yang digeluti oleh Tigor dan sahabat-sahabatnya. Apa lagi semua aset yang dimiliki oleh Tigor tertulis atas nama Namora.
Dengan senang hati Namora menerima perlakuan yang tidak mengenakkan dari mereka, sepanjang mereka tidak memaki dan menghina orang tuanya seperti yang dia alami dulu ketika di sekolah dasar dulu.
*********
Pagi ini, seperti biasa. Sebelum berangkat ke sekolah, Jol akan singgah terlebih dahulu ke rumah Rio untuk mengajak Namora sekalian berangkat bersama dengan menunggang sepeda.
Jol memiliki sepeda BMX yang dibelikan oleh ayahnya sebagai hadiah ketika dia lulus SD. Dan dengan sepeda itulah dia bergaya ke sana ke mari bagaikan seorang penunggang Harley Davidson.
Pagi itu, dengan bedak yang belepotan di pipinya, Namora pun keluar dari rumahnya lalu menemui Jol yang telah menunggunya lebih dari lima menit di halaman rumah.
__ADS_1
Setelah berbasa-basi sejenak, mereka pun akhirnya berboncengan menuju ke SMP negeri kota Batu yang tidak terlalu jauh dari rumah Rio dan juga rumah Jol.
Tiba di sekolah SMP negeri kota Batu, mereka telah di tunggu oleh enam orang lainnya. Dan kini mereka sama-sama berjalan beriringan menuju ke kelas.
"Namora. Mengapa kau begitu belepotan sekali? Lihat bedak di pipimu itu. Compang camping," tegur Jufran yang merasa lucu dengan penampilan Namora.
"Hehehe. Aku tadi kesiangan," Namora tampak cengengesan menjawab pertanyaan dari sahabat-sahabat barunya itu.
"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Jaiz yang ikut memperhatikan penampilan Namora. Dia juga merasa lucu melihat bedak di pipi Namora yang tebal tipis bertumpuk-tumpuk.
"Mana sempat sarapan. Tidak terlambat saja sudah sukur!" Jawab Namora.
Kroeeek...!
"Heh. Cacing mu berbunyi!" Timpal Jericho tertawa.
Yang lainnya juga ikut menertawakan Namora yang tiba-tiba saja cacing dalam perutnya berbunyi.
Namora yang memang merasa perih di ulu hatinya karena tidak sarapan, tanpa basa-basi lagi langsung menyambar roti tersebut kemudian memakannya.
"Huh. Untung kita tidak berteman dengan anak gembel itu. Jika kita berteman dengannya, pasti kita akan dibuat susah. Lihat saja! Dia seperti pengemis," celetuk salah seorang dari siswa yang melewati mereka secara bergerombol.
Namora menghentikan kunyahannya pada roti tadi, kemudian memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara barusan.
Kini dia melihat beberapa orang anak lelaki sebaya dengannya menatap sinis kearahnya.
Jol, Jericho dan yang lainnya juga menatap ke arah mereka. Sehingga terjadilah adu tatapan tajam diantara dua kelompok tadi.
"Apa maksud mu, Rendra? Roti adalah milik ku. Aku memberikannya kepada Namora secara suka rela. Mengapa kau yang keberatan?" Juned tampak tidak senang dengan anak-anak yang baru saja mengatai Namora tadi.
__ADS_1
"Aku bicara apa adanya. Lihat saja dia. Apa yang pernah dia berikan kepada kalian? Kalau aku, aku tentu tidak mau berteman dengannya," balas anak bernama Rendra tadi tidak kalah sinis.
"Mau ngajak berkelahi kalian ya?" Kini Jol sudah bangkit dari tempat duduknya. Dia sudah lama tidak suka dengan mereka yang berteman dengan anak bernama Rendra ini. Mereka terlalu sombong dan pilih-pilih dalam berteman.
"Apa kau kira aku takut?" Rendra balas menantang dan ikut-ikutan berdiri.
Kini, mereka sudah saling berhadap-hadapan dan siap akan memulai perkelahian. Namun, perkelahian itu urung terjadi ketika dari arah pintu tiba-tiba melesat rol penggaris sepanjang satu meter dan tepat jatuh di tengah-tengah mereka yang siap untuk berkelahi tadi.
Begitu mereka melihat ke arah pintu, mendadak bibir mereka menjadi pucat dan tidak berani lagi melanjutkan aksi mereka.
"Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!" Bentak lelaki paruh baya yang berdiri di pintu kelas tersebut.
"Ayo!" James tampak menarik baju Jol dan Jericho untuk segera duduk. Setelah itu, kini mereka telah duduk dengan tertib sebelum Jol memberi aba-aba kepada semua siswa di kelas itu untuk kembali berdiri.
"Berdiriiiii!" Kata Jol dengan suara lantang.
Semua siswa kelas 1 itu berdiri, lalu berucap. "Selamat pagi pak Guru!" Kata mereka serentak.
"Selamat pagi anak-anak. Sekarang waktunya belajar. Jika bapak melihat ada yang main-main lagi, kalian lihat rol ini?"
"Lihat pak!" Jawab para siswa serentak ketika melihat Rol plastik yang berada di tangan pak Guru.
"Rol ini akan bapak libaskan ke betis kalian jika tidak serius dalam belajar. Ingat itu!" Ancam pak guru sambil mengacungkan rol penggaris di tangannya.
"Namora. Ambil rol kayu itu dan letakkan di atas meja bapak!" Perintah dari pak guru.
"Baik pak!" Jawab Namora yang langsung berjalan mengambil rol yang dilemparkan oleh pak guru tadi.
Terlihat jelas ada rasa iri di mata Rendra ketika hanya Namora yang disuruh oleh pak guru. Padahal, posisinya lebih dekat dengan rol kayu yang tergeletak di lantai tadi.
__ADS_1
Jangan lupa vote nya ya!
Bersambung.