Namora

Namora
Terasing dalam ramai


__ADS_3

Namora, tampak tergopoh-gopoh berlari dari kamar mandi dengan handuk masih melilit di pinggangnya sampai batas lututnya. Terlihat air bekas telapak kakinya sepanjang lantai. Hal ini membuat Mirna tidak henti-hentinya mengomel.


Melihat keadaan Namora seperti ini, Jol, Jericho dan yang lainnya hanya bisa tersenyum geli. Betapa semberono nya Namora ini.


Tidak sampai 10 menit, Namora sudah keluar dari kamarnya. Saat ini, penampilannya sangat alakadarnya.


Melihat ini, Jol tidak bisa menahan lagi. Dia harus menegur penampilan Namora ini. Baginya, bagaimana mungkin Namora yang akan menghadiri acara ulang tahun Merisda dengan penampilan seperti ini.


"Mora. Kau?!"


"Kenapa?" Tanya Namora sambil melihat dirinya sendiri.


"Kau mau ke pasar atau pergi undangan?" Jol benar-benar tidak habis pikir dengan penampilan Namora yang terkesan sangat menganggap bahwa acara ulang tahun Merisda ini sama sekali tidak penting. Masih dengan menatap Namora, Jol kembali melanjutkan. "Aku khawatir jika kau seperti ini, kau akan menjadi lelucon di sana,"


"Kan hanya sebentar. Setelah aku memberikan hadiah, aku akan mengikuti mu pulang,"


"Ganti lah! Jangan pakai t-shirt! Setidaknya kau harus memakai kemeja!" Pinta Jol.


Namora segera kembali ke kamarnya, kemudian mengganti t-shirt yang dia kenakan dengan kemeja. "Bagaimana dengan ini?"


"Sudah mantap! Ayo kita pergi!"


Kedelapan anak-anak muda yang masih sangat belia itu pun berpamitan dengan Mirna, Rio dan istrinya sebelum meninggalkan rumah.


Tidak lama kemudian, deru suara mesin sepeda motor pun mengaum diikuti dengan lesatan kecepatan kendaraan tersebut. Seolah-olah ada hantu yang mengejar mereka dari belakang.

__ADS_1


Tidak memakan waktu sampai lima belas menit, akhirnya merekapun tiba juga di perumnas pegawai kota Batu.


Di sana, mereka sudah disambut oleh penyambut tamu yang terdiri dari dua gadis dan dua pemuda.


Karena Jol, Jericho, Juned dan yang lainnya sedikit famous di sekolah, maka keempat penyambut tamu itu sangat antusias menyambut kedatangan mereka. Namun, perlakuan berbeda diterima oleh Namora. Jangankan bersalaman, menatap saja pun mereka sepertinya enggan.


Acara itu sendiri diadakan di halaman rumah. Karena Merisda mengundang begitu ramai orang, bahkan untuk SMA negeri Tunas Bangsa saja, tidak ada yang luput dan semuanya di undang. Bahkan, dari sekolah lain pun banyak yang menghadiri pesta ulang tahun Merisda ini.


Di bagian dalam rumah, mereka menempatkan tamu-tamu terhormat antaranya, rekan sejawat ayahnya yang sesama guru. Ada juga karyawan dari kantor tempat Arda dan Ardi bekerja.


Namora sendiri sempat kaget melihat acara ulang tahun seperti ini sudah seperti acara nikahan saja. Jika tau begitu, menyesal dia tidak berpenampilan modis.


"Mora. Mana kado ku!" Pinta Jol sambil mengulurkan tangannya.


Tadi, karena Jol membawa Namora diboncengan, Jol meminta kepada Namora untuk memegangi kado yang dia bawa agar tidak menggangu ketika dia mengendarai sepeda motornya. Bahkan, keenam lainnya malah menitipkan kado masing-masing. Sehingga penampilan Namora ketika itu persis seperti tukang pungut sampah. Dan hal ini tidak luput dari perhatian semua orang yang berada di sana.


Dengan tatapan mata yang sangat sarkasme, Merisda sama sekali tidak menyapa Namora. Melainkan dia menyapa Jol dan yang lainnya, kemudian mempersilahkan mereka untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan.


"Duduk lah dulu! Aku akan menyapa tamu yang lain. Jangan sungkan! Nikmati saja pesta ini!" Kata Merisda dengan senyum yang sangat manis. Dan senyuman Merisda ini nyaris membuat ginjal Namora pindah ke jakun. Terlalu sayang untuk tidak menikmati senyuman yang sangat jarang dia lihat ini.


Tapi, sebelum Merisda beranjak, Jol segera berdiri, kemudian berkata. "Mer. Aku tidak bisa lama. Aku harus segera kembali ke rumah. Saat ini keluarga ku menunggu. Kami akan berangkat malam ini ke puncak untuk bertamasya. Aku doakan yang baik-baik kepada mu ya. Semoga kau selalu mendapatkan segala yang baik-baik. Selamat ulang tahun ya Mer!" Jol menyerahkan kado yang baru saja dia ambil dari tangan Namora kepada Merisda.


Merisda sedikit kaget mendengar bahwa Jol tidak bisa berlama-lama. Tapi dia segera tersenyum, kemudian menerima kado pemberian dari Jol. Tidak lupa dia juga mengucapkan terimakasih kepada salah satu dari pemuda yang terganteng di SMA negeri Tunas Bangsa tersebut. Sebenarnya, Jol masih kalah ganteng dengan Namora. Hanya saja, tidak ada yang memperhatikannya. Selain itu, Namora sangat acuh dengan penampilan. Makanya dia seperti berlian yang terbungkus oleh lumpur.


Melihat Jol sudah memberikan kadonya kepada Merisda, Namora segera berinisiatif untuk bangkit dan mengikuti Jol. Tapi siapa sangka kalau dia ditahan oleh Jericho.

__ADS_1


"Mora. Nanti saja. Aku yang akan mengantarkan mu pulang,"


Namora bimbang sejenak, kemudian dia mengangguk dan kembali duduk.


"Kenapa Mora?" Tanya Jol heran ketika melihat Namora kembali duduk.


"Kau pulang saja duluan Jol! Jericho yang akan mengantarkan aku pulang,"


Mendengar ini, Jol hanya mengangguk. Dia menepuk pundak Namora, kemudian mengangguk dengan senyuman kepada Merisda sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat acara tersebut.


Ada perasaan kehilangan di hati Namora ketika Jol pergi. Lagi pula, setelah Jol tidak ada, dia pasti akan merasa kesepian. Karena, diantara anak-anak J7, Jol lah yang paling memperhatikan dirinya, dan sangat akrab dengannya.


Benar saja. Setelah Jol pergi, Namora benar-benar merasa sendiri. Sementara Jericho sibuk menghampiri beberapa kenalan. Yang lain juga tidak ketinggalan. James dan Jaiz kini bahkan mendapat kenalan baru dari sekolah lain.


Merasa sepi di keramaian, membuat Namora benar-benar merasa terasingkan. Dia hanya bisa duduk menatap gelas minumannya yang sudah tinggal setengahnya.


Mungkin karena pikirannya lagi kacau, atau karena penyesalan kenapa dia tidak mengikuti Jol saja tadi, sehingga dia tidak memperhatikan beberapa kendaraan roda dua dan roda empat berhenti di area parkir. Kini, dari sana terlihat Dhani, Rendra yang masih dengan ekspresi kesakitan, Marcus, bahkan Diaz, Ruben, Dudul, dan Rudi serta beberapa orang yang lainnya, telah berjalan dari area parkir tersebut, menuju ke halaman rumah tempat acara itu berlangsung.


Dengan tatapan mata mengandung hawa permusuhan, Rendra menatap lurus kearah Namora yang tampak seperti orang buangan.


Ketika melihat ini, Dhani segera menghampiri, lalu menepuk pundak Rendra, kemudian berkata. "masih terlalu awal. Kita akan segera mempermalukannya nanti. Kita lihat seperti apa kehebatannya. Jika dia melawan, kita habisi saja dia. Bikin kakinya patah,"


Rendra mengangguk pelan. Kemudian melangkah menuju gerbang pagar rumah milik Merisda.


Ketika ini, sapaan ramah dari penyambut tamu, bahkan Merisda sendiri secara pribadi menyambut kedatangan mereka. Hal ini membuat Rendra sempat mengedipkan matanya ke arah Merisda.

__ADS_1


Entah apa yang akan dialami oleh Namora sebentar lagi. Tapi ketika melihat tatapan licik dari mereka semua, sesuatu yang tidak mengenakkan pasti bakal terjadi.


Bersambung...


__ADS_2