
Pagi itu di sekolah SMA negeri Tunas Bangsa, dua unit mobil bus berukuran sedang tampak terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah.
Karena area parkir sekolah tersebut tidak sanggup menampung kendaraan sebesar itu, maka terpaksalah Bus yang rencananya akan digunakan untuk mengangkut para guru dan murid yang akan menyaksikan langsung turnamen kejuaraan di Dolok ginjang terparkir di sana.
Melihat hanya ada dua bus saja yang terparkir untuk mengangkut team pendukung dari sekolah SMA negeri Tunas Bangsa, ini menandakan bahwa sekolah ini tidak begitu optimis bahwa mereka mampu memenangkan kejuaraan tahunan tersebut. Terlebih lagi, nama orang yang ikut berpartisipasi dalam kejuaraan itu adalah Namora. Nama yang sama sekali tidak pernah mengikuti turnamen tersebut.
Jika dibandingkan dengan sekolah lain, yang langsung menyewa bus sebanyak lima unit, jelas sekali bahwa mereka tidak menaruh harapan besar terhadap diri Namora. Dan bus ini hanyalah sebuah formalitas saja agar sekolah mereka tidak dianggap terlalu meragukan wakilnya sendiri.
Beberapa guru terlihat uring-uringan menatap ke arah bus. Ada suara-suara sumbang dibumbui keraguan serta penghinaan terhadap wakil mereka di turnamen ini.
Sebenarnya, satu slot tetap dari sekolah ini sudah pasti dimiliki oleh Kenza. Dan mereka percaya bahwa juara tarung tersebut dapat berbicara banyak kali ini di turnamen tersebut. Hanya saja, Kenza seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan, dia tidak menyelesaikan sekolahnya. Padahal, tinggal beberapa bulan lagi saja untuk acara perpisahan.
"Pak Bakri. Mengapa anda terlihat tidak bersemangat seperti itu? Apakah anda kurang sehat?" Tanya salah satu guru wanita yang kebetulan melihat ke arah guru olahraga yang tampak lesu menatap ke arah dua bus yang terparkir.
"Oh. Bu Maudi. Tidak apa-apa Bu. Hanya saja, saya merasa tidak terlalu bersemangat untuk turnamen kali ini. Tidak seperti dua tahun lalu dimana kita memenangkan kejuaraan tersebut dua tahun berturut-turut," jawab Pak Bakri mengeluh pelan. Terlihat jelas bahwa wajahnya sangat muram. Sebagai juara bertahan, jelas dia merasa khawatir tidak bisa mempertahankan gelar juara antar kabupaten tersebut.
__ADS_1
Bisik-bisik diantara kedua guru tersebut menarik perhatian beberapa guru lainnya. Mereka segera menghampiri kedua guru tadi, yaitu pak Bakri dan Bu Maudi. Dalam waktu singkat, mereka sudah membentuk lingkaran dan perbincangan hangat pun berlangsung seputar turnamen kali ini.
"Saya juga sepakat dengan pak Bakri. Hanya saja, sebagai guru, kita harus optimis. Berikan kepercayaan terhadap wakil kita. Setidaknya, dengan menumbuhkan rasa percaya diri didalam hatinya, dia akan membawa nama sekolah kita bersaing dengan wakil dari sekolah lainnya,"
"Benar juga kata pak Saragih. Setidaknya, Namora ini memiliki nyali untuk mengikuti turnamen ini. Jika tidak ada dia yang berani tampil, sekolah kita pasti tidak akan berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Kita terlalu bergantung kepada Kenza. Akhirnya apa? Kenza malah menghilang tak tau rimbanya,"
"Murid-murid di sekolah ini hanya berani pamer taring di kandang sendiri. Bagaimanapun, beberapa diantaranya adalah anak-anak orang kaya yang hanya berani menindas yang lemah. Ketika dihadapkan ke keadaan perkelahian resmi, mereka tidak bernyali besar. Berbeda dengan Namora, walaupun dia selalu ditindas, tapi dia berani untuk tampil. Kita boleh kalah, dan melepaskan predikat juara bertahan. Akan tetapi, jangan sampai melepaskannya begitu saja tanpa perlawanan. Andai Namora kalah, yang terpenting, kita masih ikut ambil bagian dalam turnamen ini," timpal guru yang lain pula.
Pak Bakri hanya bisa mendengar saja pendapat berbeda dari beberapa guru yang berada diantara mereka.
Memang ada benarnya juga bahwa setidaknya, Namora berani untuk tampil. Dia mau tak mau hanya bisa mengangguk, dan berkata. "Ya. Walaupun saya sangat pesimis, tetapi sebagai seorang guru olahraga, aku harus menjalankan kewajiban ku. Walaupun ini hanyalah sebuah formalitas saja. Sebaiknya, kita jangan berharap terlalu banyak, dan bersiaplah pulang dengan membawa malu!"
Selesai mengucapkan kata-kata tadi, pak Bakri segera memperhatikan ke sekelilingnya, dimana para murid juga tampak terlibat diskusi sesama mereka. Tapi yang anehnya, tidak ada satupun diantara mereka yang berjalan ke arah Bus. Sepertinya mereka sangat enggan untuk mengikuti turnamen tersebut dan memberikan dukungan terhadap wakil sekolah di kejuaraan ini. Hal ini tentu sangat berbeda dari tahun lalu, dimana mereka bahkan dengan rela merogoh kocek sendiri agar bisa ikut serta memberikan dukungan kepada Kenza yang ketika itu menjadi wakil dari sekolah.
Di waktu yang sama, di kantin sekolah, Namora tampak sedang duduk di kursi kantin sambil menikmati sarapan paginya. Dia hanya duduk sendirian, dan sangat asyik menikmati menu lontong sayur kesukaannya. Terlihat juga segera coklat panas menemani sarapan paginya.
__ADS_1
Puluhan pasang mata menyorot dengan jijik kearahnya. Bahkan, tanpa sungkan-sungkan, suara sumbang mulai terdengar dari mereka yang meragukan kemampuan Namora.
Cibiran yang penuh dengan penghinaan tidak terlalu memusingkan bagi Namora. Dia hanya fokus menyantap makanan. Dia sudah terbiasa dengan cacian dari mereka yang memang tidak menyukainya. Hanya karena penampilannya telah berubah, dan dia juga kini telah mengendarai sepeda motor yang kelasnya berada di atas rata-rata, secara perlahan, hinaan dan cacian yang dia terima selama ini menjadi berkurang. Akan tetapi, kali ini karena dia yang menjadi wakil dari sekolah yang mengikuti turnamen itu, suara-suara hinaan itu kembali terdengar. Bahkan, ada yang melabeli dirinya sebagai orang yang tidak tau malu, dan hanya bermodalkan kenekatan untuk mencari mati.
"Lihatlah kearah Namora. Aku khawatir dia tidak akan mampu bertahan walaupun hanya menghindari satu tendangan saja dari wakil sekolah lain,"
"Benar. Dia sangat nekat. Aku khawatir dia sudah bosan hidup dan mencari kematiannya sendiri,"
"Tidak apa-apa kalau dia mau mencari mati. Dia bisa pergi ke jalan, kemudian menabrakkan dirinya sendiri ke arah mobil yang lewat. Tapi, kali ini dia membawa nama sekolah kita. Kekalahannya akan membuat sekolah kita menjadi malu. Kemudian, orang-orang tidak akan menghargai sekolah kita lagi setelah itu,"
Lama-kelamaan, panas juga telinga Namora mendengar perkataan dari mereka. Dia lalu melemparkan garpu yang tepat menancap tepat di sandaran kursi yang diduduki oleh beberapa orang. Dan parahnya, garpu itu hanya berjarak beberapa inci saja dari pundak salah seorang murid yang terdengar.
Keringat dingin mulai menetes di dahi murid tersebut. Dia dapat membayangkan bagaimana jika garpu itu menancap di bahu atau lehernya. Bisa segera berpulang ke Rahmatullah dia.
Namora bangkit berdiri, menyeka mulutnya dengan tisu, lalu berkata. "Kalian terlalu sibuk dengan penghinaan terhadap diriku. Aku ingin bertanya kepada kalian. Apakah ada diantara kalian yang bernyali untuk menggantikan ku sebagai wakil dalam turnamen nanti? Kalau memang ada, silahkan maju dan bertarung lah dalam turnamen itu! Akan tetapi, jika nyali mu melempem seperti kerupuk yang masuk angin, maka, tutup mulut kalian sebelum aku sumbat dengan piring ini!"
__ADS_1
Beberapa murid tampak marah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Namora. Akan tetapi, sebelum mereka bertindak, beberapa superstar di sekolah ini segera membentak. Mereka adalah anak-anak J7 yang sengaja datang ke kantin untuk mencari keberadaan Namora, karena mereka sudah berkeliling kemana-mana mencari keberadaan Namora ini.
Bersambung...