Namora

Namora
Melawan racun dengan racun


__ADS_3

Rumah sakit rakyat kota Batu


Pada malam dimana pak Harianto dan Rio baru saja kembali dari meminta pertolongan dari kampung Kuala Nipah, tepat pada malam yang sama pula, Namora dikeluarkan dari rumah sakit.


Tidak banyak yang mengetahui bahwa Pak Harianto dan Rio membawa Namora kembali. Hanya ada mereka berdua dan Tigor saja yang tau. Bahkan, Ameng CS pun tidak mengetahui. Andai pun ada orang lain yang tau, itu tidak lain adalah Black shadow (Alex) dan Black Eagle (Rey) karena, tidak ada yang bisa disembunyikan dari mereka tentang Namora saat ini. Mereka jelas mengetahui apa dan siapa saja orang yang bersama dengan Namora. Sedangkan orang-orang itu tidak mengetahui dimana keberadaan mereka. Kedua orang ini bagaikan hantu yang datang dan pergi bagaikan angin.


Saat ini, kedua orang itu baru saja tiba di perumahan dinas milik Rio. Dan tanpa membuang waktu, kedua orang itu langsung membopong tubuh Namora memasuki rumah, kemudian merebahkannya di atas tempat tidur yang telah disiapkan di ruangan belakang. Hal ini dilakukan untuk mempermudah mereka dalam proses mengobati anak muda itu.


Keadaan Namora sangat memprihatikan. Seluruh wajahnya sudah mulai membiru. Bahkan, warna biru itu terlihat jelas di kedua bibirnya.


Mirna yang ditemani oleh istri Rio tidak henti-hentinya menangis melihat keadaan anak satu-satunya itu. Beruntung baginya karena ada istri Rio yang selalu menenangkan dirinya. Sementara kedua kelopak matanya sudah membengkak.


Ada rasa penyesalan di hati Mirna. Andai dia tidak menuntut banyak untuk anaknya agar sedikit lebih layak dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Tuan muda kepada Tigor, tentu keadaannya tidak berujung celaka seperti saat ini. Tapi apa mau dikata? Semua sudah terjadi.


"Pak instruktur. Sepertinya kita tidak bisa menunda lagi. Apakah tidak apa-apa jika kita memulai melakukan apa yang dikatakan oleh Joe?"


Pak Harianto merenung sejenak. Dia sudah melihat keadaan Namora. Dia juga khawatir jika tidak bertindak sekarang dan menunggu besok pagi, takutnya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Namora. Dan itu bisa membuatnya menyesal disepanjang hidupnya.


Pak Harianto mengangguk, kemudian menyerahkan plastik sampah kepada Mirna dan menyuruhnya untuk merebus semua yang ada di dalam plastik sampah tersebut.


Mirna segera menerima pemberian pak Harianto tadi, kemudian dengan ditemani oleh istri Rio, mereka berdua mulai merebus bahan-bahan tersebut ke dalam Periuk yang berukuran besar.


"Sekarang pak?" Tanya Rio seperti tidak sabaran.


"Sebentar. Kita tunggu sampai rebusan herbal itu disiapkan. Menurut anak itu, setelah diberikan sebutir pil, tubuh Namora harus direndam ke dalam air ramuan. Tentunya hanya bisa setelah air tersebut hangat-hangat kuku," kata pak Harianto meminta kepada Rio untuk sedikit lebih sabar.


Sementara Mirna sibuk merebus ramuan yang diberikan oleh pak Harianto tadi, Rio tampak seperti setrika panas dengan mondar-mandir di ruangan itu.


Dia seperti cacing kepanasan, atau tepatnya seperti ikan yang kekeringan. Sementara wajahnya sudah berkeringat dingin sejak tadi.

__ADS_1


"Rio. Bantu kakak mengangkat dandang ini!" Pinta Mirna.


Rio segera mengambil kain lap, kemudian menjadikannya alas untuk mengangkat Periuk besar itu dan menuangkan semua isinya ke dalam bak mandi yang telah dikeringkan.


"Tambahkan air dingin seperempatnya!" Perintah pak Harianto.


Rio segera menuruti perintah lelaki tua itu, dan menambahkan air agar suhu air rebusan herbal itu tidak terlalu panas.


*********


Keempat orang itu mengelilingi tempat tidur Namora dengan wajah yang tegang.


Menurut akal, mereka sepertinya tidak yakin dengan pil hitam tepatnya seperti tahi kambing itu.


Bagi mereka, bagaimana pil itu bisa menyembuhkan Namora sedangkan dokter saja sudah menyerah untuk menemukan obat penyembuh bagi racun yang diderita Namora. Akan tetapi, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain bertaruh semoga saja dengan perantara pil itu, Tuhan akan mengangkat penyakit Namora.


"Dengan menyebut nama Allah!" Kata Pak Harianto sembari memasukkan pil yang berada ditangannya ke mulut Namora.


Tidak sampai satu menit setelah pil itu memasuki mulut Namora, pil itu seolah-olah mencair dan hilang sepenuhnya dari dalam mulut pemuda itu.


Perlahan namun pasti, warna kebiruan pada bibir Namora berubah warna. Hanya saja, yang membuat pak Harianto terkejut adalah, bukannya warna biru pada bibir Namora menjadi normal, melainkan berubah menjadi warna kehitaman.


"Pak. Apa ini? Mengapa bisa seperti ini?" Tanya Rio cemas.


Pak Harianto pun tidak kalah cemasnya. Dia melihat perubahan pada kulit Namora secara kasat mata.


Karena kulit Namora bisa dikatakan putih, maka perubahan pada warna kulit tersebut jelas sangat terlihat.


Jika mereka yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat perubahan pada warna kulit Namora, sebenarnya itu wajar. Karena, Joe tidak mengatakan bahwa metode pengobatan atau lebih tepatnya obat yang dia berikan itu adalah racun. Karena, menurut Joe, hanya melawan racun dengan racun lah baru Namora bisa disembuhkan.

__ADS_1


Jika Joe pada awalnya jujur bahwa dia sebenarnya memberikan racun dan bukan obat, tentu Rio dan pak Harianto tidak akan setuju dengan metode pengobatan ini. Terlebih lagi Mirna. Jika mereka tidak berani mengambil resiko, maka Namora dipastikan akan mati tanpa mereka bisa berbuat apa-apa. Atas dasar pemikiran inilah, makanya Joe tidak menjelaskan kepada mereka berdua. Karena racun yang mengendap di dalam tubuh Namora adalah racun yang sangat ganas, maka Joe berinisiatif untuk menundukkan racun tersebut dengan racun miliknya. Namun, selain memberikan racun, Namora juga memberikan penawarnya, yaitu tumbuhan herbal yang dia berikan kepada pak Harianto.


Sejenak Mirna, Rio, istrinya dan pak Harianto menjadi panik bukan main. Hanya saja, pak Harianto berusaha untuk bersikap tenang. Baginya, mungkin ini adalah perlawanan penawar terhadap racun tersebut.


Beberapa menit berselang, tubuh Namora mulai berkeringat. Hanya saja, butiran keringat halus itu berwarna kehitaman dan berbau tidak sedap.


Pak Harianto sendiri memperhatikan perubahan pada tubuh Namora, terlebih lagi pada wajahnya.


Walaupun wajah itu belum berubah warna, namun cahaya kehidupan sudah mulai jelas terlihat.


Seolah-olah melupakan air rebusan tadi, pak Harianto segera menepuk pundak Rio sembari mengingatkan bahwa Namora harus segera direndam di dalam air rebusan ramuan yang diberikan oleh Joe kepadanya.


Pak Harianto dan Rio segera bergegas mengangkat tubuh Namora, kemudian memasukkannya ke dalam bak mandi secara perlahan.


Tubuh Namora terus dibiarkan terendam sampai batas leher di dalam air dalam waktu yang lama.


Dari mulai air itu hangat-hangat kuku, sampailah pada suhu air tersebut menjadi dingin.


Pak Harianto mengambil air dengan telapak tangannya, kemudian memperhatikan bahwa air itu benar-benar menjadi berwarna hitam. Kemudian dia juga memperhatikan wajah Namora sudah tidak menghitam lagi, melainkan sudah kembali ke warna aslinya. Hanya saja, yang membuat pak Harianto heran adalah, mengapa Namora masih belum membuka matanya?


"Pak. Coba lihat! Bukankah wajah Namora sudah tidak menghitam lagi?"


Pak Harianto mengangguk samar. Tapi berbeda dengan Mirna. Dia sangat antusias melihat bahwa kulit wajah putranya sudah kembali ke sediakala.


"Tolong ambilkan pakaian ganti. Kita akan membawa Namora kembali ke ranjangnya!" Pinta pak Harianto.


Mirna segera berlari ke kamar Namora, kemudian kembali dengan sepasang pakaian tidur dan memberikannya kepada Rio.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2