Namora

Namora
Namora menemui Tigor


__ADS_3

...Pusat tahanan kota Batu...


Namora yang masih mengenakan seragam sekolah baru saja tiba di kantor polisi kota Batu.


Dia yang didampingi oleh Rio segera pergi menuju ke pusat tahanan kota Batu untuk menemui Tigor.


Ketika tiba di ruangan besuk, Tigor tidak kuasa menahan haru ketika dia dan Namora berpelukan.


Walaupun dia tidak mungkin menunjukkan kepada Namora bahwa dia sangat terharu melihat putranya itu, akan tetapi ada perasaan yang tidak dapat dilukiskan di hati kedua anak dan ayah tersebut.


Rio sendiri, segera memberikan ruang kepada anak dan ayah itu untuk membahas apa saja yang akan mereka bahas. Oleh karena itu, untuk kenyamanan mereka, dia segera meninggalkan ruangan itu sembari memberikan perintah kepada bawahannya bahwa tidak ada yang boleh mengganggu pertemuan antara ayah dan anak tersebut.


Setelah memastikan bahwa hanya mereka berdua yang berada di ruangan itu, Namora mulai menceritakan semua yang dia alami dan apa saja rencananya untuk kedepannya.


Tigor merasakan bahwa darahnya mendidih mendengar penuturan dari Namora. Dia tidak menyangka bahwa nyawa anaknya hampir saja terenggut oleh orang-orang dari kota L.


Sekali lagi Tigor sangat menyesalkan betapa tidak berdayanya orang-orang di kota Kemuning tanpa ada dirinya. Baik itu Monang, Andra, Ameng dan yang lainnya seperti anak ayam kehilangan induk.


Ini jelas bukan kesalahan mereka. Untuk urusan berkelahi, mereka jelas tidak bisa diremehkan. Hanya saja, ada hal yang lebih penting dari hanya sekedar berkelahi. Yaitu, peperangan di dunia bisnis. Jika sudah menyangkut bisnis, mereka lebih bodoh dari anak usia sekolah menengah pertama. Karena sebagian besar mereka buta huruf.


"Mora. Kau pasti memiliki rencana. Apa saja rencana yang akan kau ambil untuk menghadapi mereka?" Tanya Tigor setelah selesai mendengarkan penuturan Namora.


"Inilah yang masih Mora pikirkan, Ayah. Mora sudah memikirkan bahwa Mora ingin melakukan peperangan dalam skala besar. Tapi ayah kan tau, bahwa kereta perang yang ayah siapkan untuk Mora sedang tidak baik-baik saja. Kereta perang itu adalah Martins Group. Walaupun Mora dikenal sebagai otoriter di sana, akan tetapi itu hanya diluar nya saja. Mora bisa menyingkirkan mereka yang hanya memiliki kedudukan sebagai staf. Sedangkan untuk membuat keputusan-keputusan yang besar, Mora harus melakukan konferensi dengan para pemegang saham. Mora sudah menyelidiki bahwa itu tidak mudah. Karena, diantara mereka pemegang saham, ada juga yang menginvestasikan uang mereka ke perusahaan Agro finansial Group. Jika Mora menginginkan agar Martins Group dan Agro finansial Group melakukan peperangan skala besar, pasti keputusan ini akan ditentang oleh sebagian besar pemegang saham itu. Mora pasti akan kalah. Apa artinya jabatan CEO dan pemegang saham terbesar jika itu seperti senjata tanpa peluru?" Kata Namora mengeluhkan kondisi saat ini kepada ayahnya.


Tigor menghela nafas dalam-dalam mendengar keluhan dari anaknya ini. Memang diakui bahwa ketika dia masuk penjara tujuh belas tahun yang lalu, ketika itu pulalah manajemen perusahaan mulai berantakan.


Andra, memiliki saham sekitar 3% malah membiarkan anaknya yang menangani dan keputusan yang diambil oleh Hendro selalu merugikan perusahaan. Bahkan Hendro malah pernah membocorkan rencana perusahaan kepada Tanta sehingga rencana perusahaan yang bocor itu segera dimanfaatkan oleh Agro chemical dan membuat perusahaan merugi. Dan sialnya, Hendro sanggup melakukan itu hanya dengan imbalan sepeda motor. Akibatnya, dia ditendang oleh Andra ke kampung Indra Sakti untuk melanjutkan pendidikannya sebagai hukuman.

__ADS_1


"Ayah. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Mora tau bahwa ayah akan bebas beberapa hari lagi. Hanya saja, beberapa hari itu akan sangat berguna bagi pihak lawan. Ayah juga pasti merasa canggung ketika kembali ke perusahaan. Ini karena ayah sudah tujuh belas tahun tidak berkecimpung di dalam perusahaan,"


"Lalu, apa yang kau butuhkan untuk melancarkan peperangan itu?" Tanya Tigor ingin menguji seperti apa rencana yang dimiliki oleh putranya itu.


"Mora menginginkan dana yang cukup besar. Uang itu akan Mora gunakan sebagai peluru. Tidak apa-apa perusahaan merugi sedikit asalkan bisa membuat roda perputaran bisnis Agro finansial Group terganggu, bahkan macet," jawab Namora.


"Anak ku. Bukankah seluruh keuntungan perusahaan ada pada mu. Di kartu yang diberikan oleh mendiang Zack, itu adalah kartu bank perusahaan. Lalu, dana apa lagi yang kau inginkan?" Tanya Tigor.


"Ha? Jadi..?" Namora seperti merasa malu sendiri ketika mendengar bahwa sebenarnya keuangan perusahaan ada padanya.


"Berarti uang gaji karyawan ada di sini juga?" Tanya Namora. Mendadak dia merasa mules pada perutnya ketika mengingat bahwa keuangan perusahaan ada padanya.


Tigor menggeleng perlahan. "Setiap laba dari perusahaan akan dikirimkan ke kartu yang ada padamu. Tentunya setelah membayar gaji para karyawan. Pak Burhan telah mengurus semuanya atas perintah ayah. Kau hanya perlu menyalurkan uang tersebut pada tempatnya,"


"Ayah. Jika begitu, Namora tidak akan ragu lagi," kata Namora dengan sangat bersemangat.


Namora tertunduk memperhatikan setiap kata demi kata yang dia dengar dari ayahnya.


"Koneksi..," katanya setengah bergumam.


"Ayah mendengar bahwa akan ada proyek pembangunan pabrik kelapa sawit di kota Rantau. Jika kau bisa memenangkan tender proyek itu, itu akan menjadi batu loncatan untuk mu. Hanya saja seperti yang ayah katakan tadi. Ada banyak saingan untuk memenangkan tender itu. Uang hanyalah masalah nomor dua. Bukan berarti uang tidak penting, sebagai pengusaha, perusahaan tanpa dana hanya seperti cangkang kosong. Namun, hal utama sebelum uang bertindak adalah seberapa banyak koneksi yang kau miliki. Misal, kota Rantau akan membuka tender proyek untuk dilelang. Jika kau memiliki kenalan dari perusahaan tersebut, itu akan memuluskan langkah mu untuk memenangkannya. Setelah kesepakatan tercapai, barulah uang bertindak sebagai ajian pamungkas,"


Namora mengangguk tanda mengerti. Ini adalah tantangan baginya. Anak muda yang mana yang tidak menyukai tantangan dan mampu membuktikan diri. Namora tidak terkecuali.


"Ternyata walaupun ayah berada di dalam penjara, namun pikirannya tidak terkungkung," kata Namora dalam hati. Ini membuatnya semakin mengagumi sosok ayahnya.


"Mora. Jika kau ingin membersihkan perusahaan dari para tikus, maka proyek ini adalah langkah awal bagimu untuk mengetahui seperti apa warna belang mereka. Anak ayah tidak boleh mundur. Juga tidak boleh mengasihani lawan mu. Kebaikan kepada lawan adalah penganiayaan terhadap diri sendiri. Ayah tau bahwa kau lebih kejam dari ayah. Kau pasti bisa. Ayah amanah kan Martins Group kepada mu. Dukungan akan datang dari arah yang tidak akan kau duga. Hanya saja, kau juga jangan mengecewakan orang yang akan mendukung mu!"

__ADS_1


"Mora berjanji. Mora tidak akan mengecewakan ayah. Hanya saja, kemungkinan perusahaan akan mengalami kerugian yang signifikan setelah ini. Tapi dalam kerugian itu, pasti akan banyak tikus yang memasuki jebakan. Maka dari itulah mengapa Mora menginginkan dana yang sangat besar. Bahkan mungkin uang yang ada di dalam kartu ini akan habis. Tapi ayah percaya bahwa perusahaan akan bersih dalam satu bulan," janji Namora kepada Tigor dengan sangat percaya diri.


"Gunakan taktik tarik ulur. Terkadang kita harus berpura-pura lemah untuk bisa mengetahui kekuatan orang lain. Kebanyakan orang yang mengalami penurunan semangat tempur adalah setelah mengalami pukulan dari lawan yang dianggap sepele. Kau akan memahaminya seiring berjalannya waktu,"


"Mora akan mengingatnya dalam hati," kata Namora. Kemudian dia membuka baju yang dia kenakan, lalu mengusap kaki Tigor dengan baju itu.


"Mohon Restu, Ayah!" Kata Namora sambil berlutut.


"Ayah merestui mu putra ku. Ayah tidak akan menyalahkan mu andai Martins Group mengalami kebangkrutan," kata Tigor sambil membelai rambut kemerahan Namora.


"Izin pamit, Ayah. Mora akan menunggu kebebasan ayah,"


Tigor mengangguk. Lalu dia melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Namora segera pergi.


Setelah Namora pergi, dia segera mengeluarkan handphone miliknya dari balik pakaiannya, kemudian segera menelepon ke Starhill.


"Tuan besar. Putra saja sudah bergerak sesuai skema yang telah anda atur,"


"Baiklah, Tuan. Saya menantikan sesuatu yang baik,"


"Baik tuan besar. Saya mengerti."


Tigor tersenyum penuh arti sebelum mengakhiri panggilan. Lalu dia kembali menyembunyikan handphonenya ke balik pakaiannya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Bersambung...


Vote, like dan komentar kalian untuk memberikan semangat dan dukungan kepada saya.

__ADS_1


__ADS_2