
Beberapa mata terbelalak menyaksikan mantan petarung MMA yang sarat akan pengalaman itu tumbang ditangan seorang pemuda yang sama sekali tidak mereka perhitungkan sebelumnya.
Robert juga tidak percaya pada apa yang dia lihat. Dia bahkan berulang kali menggosok matanya.
Sebenarnya dia tidak menaruh harapan yang besar kepada Kenza. Semua ini dia lakukan karena memang sudah bertaruh dengan Willi. Bahkan, jika jagoannya tidak mundur, maka Kenza mungkin tida ada dalam radarnya. Jadi, daripada uangnya hangus sia-sia, maka mau tak mau dia harus berjudi dengan peruntungan. Andai Kenza menang, maka itu berkah baginya. Jika kalah, setidaknya uangnya tidak habis sia-sia tanpa perlawanan.
Sementara itu di atas ring, Kenza tidak terlalu berekspresi atas kemenangannya ini. Dia memang jago bertarung. Tapi, dia tidak menyangka bahwa dia mengalahkan mantan petarung MMA. Beruntung baginya karena dia mampu bertahan di sepuluh menit pertama. Sehingga, energi dan stamina lawan dapat dia kuras. Andai dia tidak menggunakan taktik itu, dan terbawa dalam arus taktik lawan, niscaya dia sudah menjadi samsak pasir untuk saat ini.
Robert, secara pribadi naik ke atas ring, dan mengangkat sebelah tangan Kenza, lalu berteriak. "Hahaha. Ini jagoan ku. Apa kalian lihat ini? Kalian terlalu sepele. Dan apa? Aku panen uang!"
Teriakan Robert bergema. Dan dia kini menarik tangan Kenza untuk turun dari ring tersebut, dan mengarah ke panitia pengurus taruhan untuk mengambil uang kemenangannya.
"Wah wah wah. Hebat. Kau sangat hebat. Tidak ku sangka bahwa petarung mu mampu mengalahkan jagoan ku. Tapi kau jangan senang dulu! Di sini aku yang berkuasa. Kau tidak akan membawa uang kemenangan mu itu!" Kata Willi. Dia tersenyum mengejek dan menuju ke arah panitia penanggung jawab dan meminta kartu kredit yang tadi dia berikan.
"Maaf tuan Willi. Apa maksud anda? Apakah anda berusaha untuk mengintimidasi aula Fighter Club' kami?" Tanya panitia dan langsung berdiri.
"Kalian tidak perlu ikut campur! Cukai akan tetap diberikan kepada kalian. Tapi cukai itu akan dibebankan kepada Robert ini. Kau cukup mentransfer kembali uang sebesar satu miliar rupiah kerekeningku!"
"Heh Willi! Apa maksud mu hah? Apa kau ingin menjilat ludah mu kembali? Pertaruhan ini telah kita sepakati sejak seminggu yang lalu. Mengapa kau mengingkarinya?" Robert tampak meradang. Dia tidak menyangka bahwa Willi ini adalah kucing kurap yang tidak tau malu.
"Hahaha. Memangnya kenapa? Kau lupa bahwa kota batu ini adalah rumah ku? Apa kau mau pulang tinggal nama?"
Robert menggeram dengan gusar, lalu menatap Kenza. "Kenza. Kita telah dirampok!"
Mendengar ini, Kenza langsung merampas kartu kredit dari tangan panitia, lalu menggenggam erat dalam genggaman tangannya.
"Pak Robert. Aku tau kalian bertaruh sangat besar. Kau hanya memberikan setetes kepadaku. Dalam kartu ini adalah uang yang kau menangkan kan? Aku akan mengambil 300 juta dari dalam kartu ini, lalu akan mengembalikan sisanya kepadamu. Bagaimana?" Tanya Kenza sambil mengacungkan kartu kredit tersebut.
Melihat bahwa dirinya tidak mempunyai banyak pilihan, Robert segera mengangguk dan terpaksa menyetujui. Jika tidak, maka sama saja. Willi juga tidak akan melepaskan dirinya.
__ADS_1
"Bicara apa kau bocah? Apakah bisa lepas semudah itu dari tempat ini? Kembalikan kartu itu, lalu segera pergi sebelum kau celaka!" Willi tampak sangat marah dan memberikan ancaman.
Awalnya Kenza tidak takut dengan ancaman ini. Namun, begitu Willi bertepuk tangan, maka beberapa lelaki berbadan besar langsung mengelilingi Kenza, dan itu masih bertambah. Karena, dari arah tangga juga terlihat sekitar sepuluh atau lima belas orang turun dan langsung mengelilingi Robert, Kenza dan pengawalnya.
"Celaka kau Willi! Kau sudah merencanakan untuk bermain curang denganku kan? Aku pastikan jika aku keluar dari tempat ini, maka kota Tanjung Karang haram untuk mu!" Marah Robert. Dia sangat kesal dengan Willi yang berani menggertak dirinya.
"Serahkan kartu itu, atau..,"
"Atau apa? Aku akan menyerahkan kartu ini setelah aku mengambil bagian ku. Aku tidak mau sepuluh juta seperti yang pak Robert janjikan. Aku mau 300 juta. Sisanya akan aku kembalikan kepada pak Robert!" Kenza tidak mengizinkan untuk diintimidasi. Dia sudah nekat.
"Kurang ajar! Hajar mereka ini untuk ku!" Perintah Willi langsung membuat sekitar dua puluh orang lelaki berbadan tegap langsung bergerak untuk menyerang.
Dapat dipastikan bahwa Robert, Kenza dan pengawalnya tidak akan mampu membendung serangan ini.
Di sudut sana, Ameng tampak santai menyulut sebatang rokok, lalu menghembuskan asapnya. Dia merokok, tapj sudut matanya menatap Namora yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran itu. Lalu, tanpa banyak bicara, Namora bangkit berdiri dan melompati meja kemudian berlari ke arah pertarungan antara Kenza melawan empat orang pengawal.
Belum ada dua menit, Kenza tampak sudah terpojok. Beberapa tendangan sudah bersarang di tubuhnya.
Tampak seutas tali tebal berkelebat menghantam keberbagai arah di tubuh orang-orang Willi.
Teriak kepanikan terdengar dari mulut mereka.
Sosok penolong itu bergerak bagai bayangan, menendang ke sana kemari dan tampak tidak memberikan ampun.
Beberapa orang sudah terjengkang sambil memegangi kantong menyan masing-masing.
"Ayo lari bang!" Kata si penolong sambil menarik tangan Kenza.
Kenza melongo sesaat. Dia memperhatikan wajah orang yang menarik tangannya. "Namora?!" Kenza bergumam. Dia tidak percaya bahwa orang yang menolong dirinya adalah Namora. Siswa lugu, cupu dan sering menjadi korban bullying di sekolah.
__ADS_1
"Lari bang! Mati kita nanti kalau tidak lari!" Namora membentak membuat kesadaran Kenza segera pulih.
Ketika ini, kekacauan jelas terjadi. Dan ketika Willi melihat bahwa Kenza telah kabur bersama seorang lelaki yang lebih muda usianya dari Kenza, maka dia dengan panik menyuruh anak buahnya untuk mengejar.
"Cepat bang!" Sambil berkata, Namora tidak lupa meraih sebotol anggur, kemudian melemparkan ke arah pengejar.
Suara benda keras menghantam kepala pun terdengar disusul teriakan kesakitan dan suara kaca pecah.
Entah sengaja atau tidak, Namora melemparkan botol anggur tadi dan tepat menghantam kening lelaki yang paling depan, yang membuat lelaki itu menjerit melengking.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini, Namora?" Tanya Kenza sambil terus berlari menuju ke luar bangunan.
"Alah. Nanti saja lah Abang tanya. Yang penting lari dulu!"
Ketika mereka sampai di luar, Namora segera menyerahkan kunci mobil kepada Kenza. "Bang. Ini kunci mobil. Ayo kita cepat lari!"
Kenza menatap kunci tadi. Dia ingin bertanya, tapi Namora segera berkata. "Ayo cepat bang! Jangan tanya-tanya lagi!"
Kenza tampak menekan tombol unlock pada remote tersebut. Dan ketika dia mendengar suara pada salah satu mobil yang terparkir, maka dia dan Namora segera bergegas menuju ke arah mobil.
"Abang bisa nyetir kan?" Tanya Namora.
"Hajar saja lah. Pasti bisa!" Jawab Kenza.
Tak lama kemudian mobil itu meluncur meninggalkan bangunan yang kacau balau karena ulah mereka itu seperti setan kebelet buang air besar.
"Kemana kita bang?" Tanya Namora yang duduk di samping Kenza.
"Menarik uang terlebih dahulu sebelum Willi melapor ke pihak bank. Aku takut kartu ini akan segera di blokir!" Jawab Kenza dengan raut wajah yang sulit untuk digambarkan.
__ADS_1
"Oh." Hanya itu yang dikatakan oleh Namora. Lalu dia menatap lurus ke depan memperhatikan jalan.
Bersambung...