Namora

Namora
Udin ngomel terus


__ADS_3

Kantor besar Martins Group


Namora baru saja tiba di ruang kerja miliknya. Benang kusut dihatinya mulai teruai. Dia sudah mendapatkan gambaran apa saja yang harus dia lakukan untuk menindaklanjuti sekaligus menghukum sikap arogan para pemegang saham di perusahaan.


Namora membuka pintu menuju balkon, kemudian berdiri di sana sambil menatap kota Kemuning yang sangat berkembang. Dia tau perkembangan di kota ini tidak terlepas dari andil besar Martins Group yang ketika itu dipimpin oleh ayahnya.


Tok tok tok...


Lamunan Namora buyar ketika dia mendengar pintu diketuk.


Namora segera melangkah memasuki ruang kerjanya, duduk di kursi, kemudian mulai mempersilahkan. "Masuk!" Katanya.


Pintu ruangan terbuka, kemudian beberapa sosok memasuki ruangan itu sambil membawa beberapa dokumen ditangan masing-masing.


"CEO. Sesuai pesan anda, kami sekarang datang untuk mengetahui instruksi apa yang ingin anda berikan kepada kami?" Kata sang sekretaris dengan sopan.


"Silahkan duduk!" Pinta Namora kepada staf tersebut.


Diwaktu yang sama, Udin dan Hendro baru saja meninggalkan kantor besar Martins Group.


Ketika mereka berada di lift tadi, Udin tidak henti-hentinya mengomelinya sehingga Hendro benar-benar diceramahi oleh sahabatnya itu.


Saat ini, Hendro masih terus mengusap-usap lehernya yang tadi dicekik oleh Namora. Dia tidak menyangka bahwa Namora akan seagresif itu.


"Apa lehermu masih sakit?" Tanya Udin. Dia hanya bertanya tanpa sedikitpun merasa khawatir.


Hendro mengangguk sambil terus mengusap lehernya.


"Aku tidak menyangka Namora bertindak seperti itu kepadaku. Jika bukan anak dari Boss besar, sudah ku hajar dia," gerutu Hendro.

__ADS_1


"Hendro.., Hendro. Kau ini gak pernah berubah dikit aja," cibir Udin. Dia kemudian melanjutkan. "Coba rendahkan sedikit hati mu. Sesuaikan dengan kemampuan dirimu sendiri. Kau gak kapok-kapoknya kan? Baru dua hari yang lalu kau dihajar oleh Joe, sekarang sudah berulah lagi,"


"Jangan ungkit-ungkit tentang Joe lah! Aku masih belum selesai dengan bule kere itu!" Hendro tampak gusar ketika Udin mengungkit tentang dia dihajar oleh Joe dua hari yang lalu di kantin sekolah SMA kampung Indra Sakti.


"Kau dendam sama Joe ya? Kalau kau berani, pergi sana ke Kuala Nipah biar kuping mu itu di potong sama kakek Tengku Mahmud. Jangankan kau, ayah kita saja kencing di celana ketika bertemu sama kakek Tengku Mahmud. Joe itu muridnya. Gaya mu bilang belum selesai sama Joe," cibir Udin meremehkan. "Lagian kau ini dimana saja kau berada, sifat sombong mu itu tidak pernah hilang. Iya kalau sama orang lain. Masalahnya, Namora yang kau perlakukan seperti itu. Beruntung kau tidak dihajar olehnya. Seharusnya, sebagai orang Martins Group, kita harus membela nya, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang bertentangan dengannya. Otak taruh di dengkul," sekali lagi Udin memaki. Dia benar-benar geram dengan tingkah Hendro yang sombong dan suka mencari masalah.


"Aku bukannya menentang Namora. Hanya saja, perusahaan kan memang sedang terpuruk. Toh juga aku tidak mengatakan hal-hal yang membuat semangat semua orang menjadi turun,"


"Kuping ku ini belum budek," kata Udin sambil menunjuk ke arah kupingnya. Jelas-jelas Hendro tadi yang begitu vocal dalam menentang Namora dan bekerjasama dengan orang lain menentang keputusan yang diambilnya. Kini Hendro malah tidak mengakuinya.


Kedua pemuda itu berpisah ketika mereka menuju ke arah mobil masing-masing. Di sana sopir mereka segera membukakan pintu, kemudian meninggalkan area parkir.


Kini, tinggallah sopir Namora saja yang masih berada di sana. Dia terlalu malas untuk keluar dari mobil. Kapan lagi dia menaiki mobil SuperSports seperti itu. Entah mimpi apa dia tadi malam ketika dia mendapat telepon dari Ameng untuk menjadi sopir pribadi Namora.


Tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Sang sopir pun menjawab panggilan itu dengan segera.


"Pak Karim. Mungkin aku pulang agak lambat. Bapak pulang saja duluan. Nanti malam pukul sembilan jemput aku ya! Bapak mandi dulu, makan dan santai sama keluarga. Aku tidak apa-apa," kata Namora di seberang sana.


"Mobilnya?" Tanya pak sopir.


"Bawa aja,"


"Ah. Yang bener nih, Tuan muda," sopir bernama pak Karim seperti tidak percaya. Bagaimana dia bisa percaya bahwa dia akan pulang ke rumah dengan membawa mobil Bentley SuperSports.


"Kalau tidak dibawa pulang, nanti jemput aku pake apa?" Tanya Namora heran. Dia tidak tau seperti apa perasaan sang sopir ketika dipercaya membawa mobilnya ke rumah. Mana mungkin Namora memikirkan bahwa mobilnya mahal dan membawa mobil itu ke rumah bisa menyebabkan geger sekampung.


"I.., iy.., iya!" Kata pak Karim tergagap. Dia kemudian bersiul riang ketika menyalakan mesin mobil. Dia tidak tau bahwa panggilan itu masih belum berakhir.


Tidak lama kemudian, pak Karim pun melesat dengan mobil sport milik Namora membelah jalan raya kota Kemuning menuju ke perumahan Permai, area perumahan kelas bawah yang berada di area persawahan. Bisa dikatakan bahwa area perumahan ini masih sangat kumu karena memang kebanyakan orang-orang di sana adalah para petani dan buruh.

__ADS_1


Ketika beberapa warga melihat mobil super sport memasuki jalan kampung, para warga mulai heboh. Tidak terkecuali anak-anak. Mereka berlari mengejar mobil sambil berteriak dengan riang gembira.


Begitu mobil itu tiba memasuki pekarangan rumah, kini orang-orang di kampung permai tau bahwa pak Karim lah yang mengendarai mobil tersebut.


Mereka berbondong-bondong datang ke rumah pak Karim dengan raut wajah penasaran.


"Wah.., Karim. Mobil mu ini kan yang ada di iklan tv itu," kata salah seorang tetangga kepadanya.


"Hehehe. Bagaimana, bagus kan?" Tanya pak Karim sambil menyeringai. Dia tidak mengatakan bahwa dia adalah sopir seorang Tuan muda. Karena, tanpa dikatakan pun orang pasti tau bahwa mobil itu bukan miliknya dan pasti dia mendapat pekerjaan sebagai seorang sopir orang kaya. Bagaimana pak Karim bisa membeli mobil ini. Bahkan, membeli sebelah ban nya pun pak Karim belum tentu mampu.


"Iya. Seumur hidupku, baru kali ini mobil cantik seperti ini memasuki kampung kita,"


"Woy. Jangan terlalu dekat. Kalau lecet, ayah tidak akan sanggup membayar ganti ruginya!" Kata seorang lagi mencegah anaknya untuk tidak terlalu dekat dengan mobil.


"Kau kerja nyopir dimana sekarang, Karim?"


"Hehehe. Sekarang aku ditugaskan oleh Tuan Ameng untuk menjadi sopir pribadi Tuan muda Habonaran. Pokoknya, aku hanya sopir dan tidak mengerjakan tugas yang lain. Kalau Tuan muda itu datang, maka aku akan bekerja. Jika dia tidak datang dan tidak ada panggilan, maka aku tidak bekerja. Gaji ku, tetap full dong!" Jawabannya dengan sangat bangga.


"Wah. Beruntung sekali kau. Apa masih ada lowongan?" Tanya mereka. Ada sedikit rasa cemburu ketika melihat Karim mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus.


"Aku tidak tau. Tapi nanti coba aku tanyakan ya,"


"Baiklah kalau begitu. Tapi, ada atau tidaknya, aku mengucapkan terimakasih terlebih dahulu,"


"Hehehe. Akan aku tanyakan. Tapi kau jangan terlalu berharap," kata Pak Karim sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Kemudian dia segera memasuki rumah dan meminta kepada istrinya untuk menyediakan makanan.


Tak lama kemudian, muncullah seorang gadis berusia 20-an sambil membawakan makanan untuk pak Karim.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2