
Kantor pusat Martins Group
Puluhan unit mobil telah terparkir rapi di area parkir tepat di depan kantor besar empat lantai tersebut. Terlihat mereka tergesa-gesa memasuki lobi kantor seperti dikejar oleh setan.
Dari arah yang berbeda juga banyak mobil berdatangan dan langsung menuju sebuah lorong dan terus bergerak menuju area parkir bawah tanah. Dapat dipastikan bahwa pemilik kendaraan ini tidaklah memiliki jabatan yang rendah di perusahaan. Tapi, tetap saja di wajah mereka terlihat raut wajah yang penuh tekanan.
Bagaimana mereka tidak merasa tertekan. Kenyamanan mereka dalam perusahaan bisa saja terusik.
Para staf elit ini bukanlah sekumpulan orang-orang bodoh. Sebelum hari ini terjadi, mereka telah menyebarkan mata-mata yang akan memberitahu kepada mereka seperti apa karakter anak Tigor ini. Bagaimanapun, mereka sudah menjadi orang-orang yang berbadan gemuk selama 17 tahun ini. Terlalu empuk kursi yang mereka duduki sehingga merasa bahwa adanya perombakan kepemilikan perusahaan serta-merta membuat mereka merasakan bahwa kursi empuk yang mereka duduki kali ini dipenuhi oleh duri.
Awalnya, tidak terlalu banyak informasi yang mereka peroleh. Ini karena, selama ini Namora selalu bertindak masa bodoh dan melakukan penelitian secara diam-diam. Bahkan Ameng pun tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Namora. Hanya Zack lah yang mengetahui dan selalu berdiri di samping Namora bagi memberikan segala informasi yang dibutuhkan oleh Namora. Sementara itu, Zack, atas perintah dari Namora telah menyebarkan orang-orangnya untuk menyelidiki tentang perusahaan sehingga segudang informasi saat ini berada dalam genggaman tangan Namora.
Andai satu saja dari informasi ini didapat oleh Namora, itu sudah siap untuk menggoncang seluruh staf perusahaan. Inikan lagi segudang. Tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya. Pasti akan banyak penyelewengan dana yang akan terbongkar. Padahal mereka telah bekerjasama untuk menutupi kebobrokan manajemen di perusahaan agar tidak tercium oleh Andra, Ameng, Acong, Timbul dan yang lainnya.
Di dalam ruang rapat, terlihat meja bundar dengan dikelilingi oleh kursi-kursi. Dan di sana terdapat kursi yang berbeda dan berada paling tinggi diantara semua kursi. Dan itu adalah kursi Owner perusahaan yang telah lama kosong.
Walaupun Tigor berada di dalam penjara, dan sembilan Paman mengambil alih tanggung jawab, namun tidak ada yang berani untuk duduk di sana. Dan kursi itu kini seperti kursi hakim neraka yang akan mengadili mereka. Siapapun nanti yang duduk di sana, itu adalah hakim dengan otoritas yang tinggi didalam perusahaan.
__ADS_1
Suasana kaku sangat jelas terasa. Beberapa dahi meneteskan keringat walaupun didalam ruangan tersebut menggunakan pendingin ruangan.
Tiga puluh menit berlangsung dengan kaku tersebut tiba-tiba dipecahkan dengan kedatangan serombongan orang-orang yang mereka ketahui adalah sembilan Paman.
Di samping mereka terlihat beberapa anak muda mendampingi. Tapi bukan itu yang mencuri perhatian mereka. Tapi kepada sosok pemuda belia berwajah dingin dan sangat mengintimidasi yang didampingi oleh seorang lelaki berusia sekitar 25 tahun. Pemuda itu adalah Namora. Sedangkan yang berada disampingnya adalah Zack.
"Semuanya, silahkan duduk! Tidak perlu terlalu tegang!" Kata Namora melambaikan tangannya.
Setelah sembilan Paman duduk di kursi mereka masing-masing, Namora menatap ke arah orang-orang, lalu memandang ke arah kursi ketua. Dia memperhatikan ada satu jas yang menyungkupi bagian sandaran pada kursi tersebut.
"Tuan muda. Jas itu adalah milik Tuan besar," Zack membisikkan sesuatu kepada Namora.
Jelas. Terlihat bahwa jas itu kebesaran dan menenggelamkan tubuhnya. Tapi Namora tidak perduli. Dia membelai jas tersebut dengan penuh kasih sayang, lalu duduk di kursi tersebut dengan wajah tanpa ekspresi.
Namora menatap ke sekeliling, kemudian membetulkan letak microphone, kemudian melirik bergantian ke arah sembilan Paman.
Setelah mendapat anggukan, dia berdehem kemudian berkata. "Selamat pagi bagi semua yang hadir di ruang rapat ini. Terimalah hormat dariku untuk sembilan Paman!" Namora menundukkan badannya kepada Ameng dan yang lainnya, kemudian melanjutkan. "Mungkin sudah banyak yang mencaritahu tentang diriku. Dan aku merasakan bahwa dalam beberapa waktu ini, aku selalu dimata-matai. Tidak mengapa. Untuk memuaskan rasa ingin tahu kalian semua, aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah Namora Habonaran, putra dari Tigor Habonaran, keponakan dari AKBP Rio Habonaran, dan cucu dari Kapten Bonar Habonaran. Kedatangan ku kali ini ke perusahaan adalah untuk mengabarkan kepada semua orang bahwa aku, putra tunggal dari Tigor Habonaran telah menerima mandat dari Ayah ku untuk memimpin perusahaan mulai dari sekarang, dan seterusnya. Jika ada sesuatu yang ingin diajukan, maka tempat dan waktu, aku persilahkan,"
__ADS_1
Kata-kata dari Namora ini terdengar sangat tidak formal. Karena dia menggunakan kata aku, dan bukan saya. Ini dia lakukan untuk menunjukkan betapa dia memiliki kekuasaan dan jangan coba-coba untuk memandang ringan kepadanya. Usia boleh saja muda, tapi otoritas, tetaplah otoritas.
Beberapa mata mulai saling pandang diikuti suara diskusi yang menggaung seperti suara lebah yang di usik sarangnya.
Namora sungguh merasa tidak nyaman dengan ini. Kemudian dia menggebrak meja, kemudian berkata. "Apakah kalian mengira bahwa ruang rapat ini adalah pasar ikan? Aku sangat menghargai sesuatu yang berkualitas, bukan kuantitas. Jika tidak ada yang bisa memberikan saran bagi memajukan perusahaan, maka silahkan keluar! Terlalu banyak sampah hanya akan mengusik pandangan,"
Mendadak suasana menjadi hening. Bahkan, detak jantung setiap orang terasa begitu jelas. Ini adalah suasana yang belum pernah mereka rasakan saat ini.
Kali ini Ameng juga merasa tidak percaya dengan pemuda yang ada dihadapannya saat ini. "apakah ini Namora?" Pikirnya dalam hati. Dia tidak menyangka bahwa ancaman Namora beberapa bulan yang lalu tentang ingin merombak kabinet manajemen di dalam perusahaan bukanlah candaan.
"Kalian tidak memperkenalkan diri kepadaku, tapi sibuk berdiskusi sesama kalian. Apakah selama ini kalian terlalu menganggap bahwa rapat bulanan seperti ini hanyalah sebuah formalitas? Rapat ini mungkin kalian anggap hanyalah kedok belaka. Tapi aku sudah berada di sini. Tunjukkan etika kerja kalian?"
Beberapa orang mulai memperkenalkan diri mereka. Dan kali ini, setiap dari mereka seperti seorang pesalah yang menunggu vonis hukuman.
"Kepala tata usaha, kepala manajemen pemasaran, kepala logistik, kepala personalia, kepala hubungan masyarakat, sekretaris besar Martins Group, team kreatif media, manager bagian investasi, para memegang saham dan sembilan paman boleh berada di tempat, sedangkan sisanya silahkan keluar!"
Kembali suasana yang tadi sudah menegang, semakin menegang. Bagaimana mungkin Namora menyuruh semuanya keluar sedangkan mereka adalah perwakilan dari perusahaan yang telah menjalin kerjasama dengan Martins Group sebelumnya. Apakah ini adalah tanda bahwa Owner baru di perusahaan ini akan memutuskan kerja sama dengan mereka? Andai hal yang mereka takutkan ini terjadi, maka akan banyak proyek yang terbengkalai karena suntikan dana dari Martins Group yang mereka harap-harapkan akan segera dihentikan. Dengan begini, ada lebih selusin perusahaan berada di ambang gulung tikar.
__ADS_1
Bersambung...