Namora

Namora
Acting yang sempurna


__ADS_3

13:30 waktu tepat menunjukkan di angka tersebut.


Bel sekolah berbunyi bagaikan irama merdu bagi setiap siswa yang telah lelah mengikuti mata pelajaran.


Dengan berdering nya bel tersebut, berarti berakhir sudah waktu belajar mengajar pada hari ini.


Namora, yang tau bahwa dia tidak memiliki kendaraan, merasa harus tau diri. Walaupun tadi dia sudah dijanjikan oleh Jol untuk mengantarkan dirinya pulang, tapi dia tidak terlalu berharap. Sebaliknya, apa yang dia miliki, itulah yang bisa dia harapkan. Dan, kedua kakinya adalah kendaraannya untuk saat ini.


Dia tidak menunggu Jol, Jericho, Juned dan yang lainnya. Dia terus berjalan menuju ke arah gerbang sekolah. Tapi, siapa sangka bahwa dari arah belakang, datang beberapa unit sepeda motor, lalu mendahului.


Awali, Namora tidak begitu perduli. Namun, ketika sepeda motor itu berada di depannya, si pengendara malah memainkan gas sehingga membuat Namora gelagapan.


Entah bahan apa yang mereka letakkan di knalpot motor tersebut, sehingga begitu di gas, kenalpot motor tadi mengeluarkan cairan hitam pekat, lalu seperti disemprotkan dan memercik ke seluruh tubuh Namora.


Keadaan Namora kini persis seperti Abang tukang bengkel. Hitam dan ada oli di beberapa bagian di baju seragam sekolah yang dia kenakan.


Ngeng ngeng.. ngeng...!


Namora terpaksa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya agar tidak kecipratan sesuatu yang keluar dari kenalpot itu.


"Hahahaha. Anak gembel ini memang layak disebut gembel sejati. Lihat saja bentuk rupanya!" Ejek salah seorang dari penunggang sepeda motor itu.


Namora membuka matanya, dan dia melihat bahwa itu adalah Rendra.


Rendra turun dari sepeda motornya, lalu menghampiri Namora. Dia kemudian dengan keras menendang paha Namora sehingga membuat Namora menyeringai menahan rasa nyeri pada bekas tendangan tadi.


"Aku tidak ingin melihatmu lagi di sini. Aku harap, besok kau harus pindah dari sekolah ini. Jika masih tetap di sini, aku pastikan akan membunuhmu!" Ancam Rendra. Tapi, bukan hanya ancaman itu saja. Dia juga membarengi kata-katanya dengan sebuah jotosan ke arah perut Namora. Jika Namora tidak pernah berlatih ilmu beladiri, pasti dia akan muntah saat itu juga.


"Cukup Rendra. Jangan memaksa ku!" Namora sepertinya nyaris hilang kesabaran. Dia kini melihat Rendra dan kawan-kawannya tak ubah seperti orang kecil. Mungkin Namora sudah naik darah.


Plak!


"Kau mau mengancam ku? Bisa apa kau hah?" Tantang Rendra setelah menampar pipi Namora.


"Cukup, Rendra!" Seluruh tubuh Namora bergetar hebat. Tangannya sudah mulai terkepal. Dia tidak bisa lagi menahan. Tepat ketika dia akan meledak, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara teriakan.


"Mau apa kalian? Mengapa membully orang?"

__ADS_1


Rendra memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara tadi, lalu tersenyum samar.


Kini, dari arah gerbang, tampak tiga orang gadis berjalan ke arah mereka, lalu sambil berkacak pinggang mengutuk di depan Rendra.


"Mengapa kau membully orang?" Tanya gadis itu dengan keras.


"Sialan. Heh... Kau jangan ikut campur!" Bentak Rendra kepada gadis yang bersuara tadi.


"Apa? Aku boleh ikut campur," jawab gadis itu tak mau kalah.


"Kau...?! Apa hubungannya dirimu dengan dia hah? Aku pasti akan membuatmu sulit jika ikut campur dalam urusan ku!" Gertak Rendra dengan ancamannya. Sandiwara ini nyaris sangat sempurna. Tidak ada yang tau bahwa mereka sedang memainkan drama. Bahkan, drama Korea pun belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dialog diantara mereka saat ini.


"Kau berani mengancam ku? Jangan kira aku ini perempuan, lalu takut denganmu. Ayahku adalah guru fisika di sini. Sedangkan mengapa aku harus ikut campur, karena dia adalah anggota kelompok ku. Mengapa?" Tantang gadis itu. dia tadi menunjuk ke arah Namora. Berarti, orang yang dia katakan satu kelompok dengannya adalah Namora. Itulah alasan mengapa dia mau ikut campur.


Namora sendiri merasa sangat terharu dengan pembelaan yang dilakukan oleh gadis ini. Tidak disangka bahwa masih ada yang peduli dengan dirinya. Apa lagi itu adalah gadis cantik yang tadi pagi sempat membuatnya nyaris meneteskan air liur.


"Rendra. Sebaiknya kita pergi saja. Jangan mencari masalah dengan anak guru. Atau nanti nilai fisika kita akan menjadi merah!" Kali ini Marcus memperingatkan. Sempurna juga acting Marcus ini. Andai ada penghargaan sebagai pemeran tambahan terbaik, maka Marcus ini lah orangnya.


"Sialan. Merah apa? Telek lincong?" Rendra masih ngotot dan tidak mau mengalah.


"Aku belum selesai dengan mu. Ingat itu!" Rendra menunjuk batang hidung Namora. Kemudian dia mendengus ke arah gadis tadi, dan memutar badan menuju sepeda motornya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya gadis itu begitu Rendra dan konco-konconya meninggalkan tempat itu.


"Ti.., tidak. Te.., te.., terimakasih!" Namora tergagap menjawab pertanyaan gadis tadi. Terlebih lagi, ketika ini gadis itu mengeluarkan tisu, lalu mengusap wajah Namora. Hal ini nyaris membuat lubang hidung Namora terbuka lebar.


"Terimakasih dek. Eh.., mbak. Eh.., Nona!" Namora tidak tau harus berkata apa. Dia benar-benar merasa bahwa seluruh kata-katanya terbang entah kemana. Tenggorokannya juga terasa kering saat ini.


"Merisda. Panggil saja nama ku, Merisda!" Kata gadis itu memperkenalkan diri.


"Oh. Eh. Iy.., iya. Mersida," kata Namora pula.


"Merisda! Bukan Mersida," Merisda meluruskan ucapan Namora yang benar-benar tergagap.


"Em.., maaf. Iya Merisda," gemetaran seluruh tubuh Namora.


"Ini kedua teman ku. Namanya Ernita dan Dosma,"

__ADS_1


"Hai Namora. Senang berkenalan dengan mu!" Kata mereka lalu bergantian menjabat tangan Namora.


Namora merasakan aliran darahnya terbalik. Seolah-olah, dia mendapatkan bintang jatuh dari langit. Setidaknya, begitulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keberuntungan Namora saat ini. Walaupun pada hakikatnya, andai bintang jatuh dari langit, pasti bumi ini akan hancur. Dan kemungkinan besar Namora akan hancur oleh bintang ini.


Saat ini, Namora tidak tau harus berbuat apa. Karena, dia benar-benar salah tingkah. Beruntung baginya, ketika dia sudah mati akal, Jol dan yang lainnya pun lewat di jalan tersebut, dan langsung berhenti begitu melihat Namora.


"Ya ampun. Woy Namora. Ada apa denganmu?' tanya Jol heran. Dia langsung turun dari sepeda motor, lalu menghampiri Namora. Begitu pula dengan yang lainnya.


"Rendra mengganggu ku. Dia menembakkan sesuatu kepadaku menggunakan kenalpot motornya. Yah seperti yang kau lihat ini!"


"Kau ini bandel atau degil, atau goblok. Sudah ku bilang, kau harus menunggu ku. Malah berjalan sendirian!" Jol mengomel dengan geram.


Namora hanya diam saja. Memang ini adalah salahnya. Andai dia tadi menunggu anak-anak J7, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Rendra sudah sangat keterlaluan!" James mendengus. Ada nada geram dari bicaranya.


"Ya sudah. Ayo aku antar kau pulang. Lain kali tunggu aku!" Jol marah kepada Namora.


"Mer. Aku pulang dulu ya!" Namora berpamitan kepada gadis penolongnya.


Merisda mengangguk. Senyum manis terlihat di bibirnya. Hal ini tidak luput dari perhatian anak-anak J7.


"Beruntung sekali kau Namora! Di balik musibah, ada kebahagiaan" Jol menggoda Namora.


"Kau tidak tau betapa aku salah tingkah. Untung kau cepat datang. Kalau tidak, aku bisa mati berdiri!" Kata Namora. Baginya, dia tidak berani berpikiran secara berlebihan. Siapalah dirinya.


"Jangan terlalu merendah. Karena terlalu merendah lah makanya kau selalu menjadi korban. Kelak, kau harus bisa menjadi orang yang tegas. Jika kau di pukul, kau harus membalasnya! Sampai kapan mau diinjak terus? Kalah menang itu biasa. Yang penting, ketika kita tidak bersalah, maka, lawan!"


"Jika aku melawan, apakah Rendra masih bisa bernafas?" Kata Namora dalam hati. Dia tidak ingin bermasalah. Baginya, pesan Rio dan Kakek Harianto sudah jelas. Mana berani dia membantah. Lagi pula, Namora merasa bahwa untuk saat ini dia tidak perlu melawan. Akan ada masanya.


"Puas-puaskan lah menginjak-injak aku. Kelak, kesempatan itu tidak akan kalian dapatkan lagi!"


Bola mata Namora mendadak memerah dan terasa perih. Mungkin itu adalah luapan dari kemarahan yang dia tahan sejak sekian lama.


Jangan lupa tinggalkan like, like sedikit, maka ceritanya sedikit pula. Silahkan baca dengan gratis, tapi jangan lupa memberikan jempolnya


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2