Namora

Namora
Keluarga Lan


__ADS_3

"Pak Karim..!" Panggil Namora setelah dia memastikan siapa pemuda yang berada dalam gambar tersebut. Suaranya terdengar bergetar seolah-olah sedang menahan sesuatu yang sangat menyesakkan.


Pak Karim tergopoh-gopoh berlari menghampirinya dengan tangan bertaut di depan sebagai gesture hormat.


"Tuan muda. Ada apa? Saya sedang membantu istri untuk menyiapkan makanan,"


"Aku tidak lapar," jawab Namora singkat. Tapi matanya masih tetap tertuju ke arah gambar yang berada di dinding.


Pak Karim memperhatikan. Tapi dia tidak bisa menebak mengapa tiba-tiba Namora memanggilnya dan memperhatikan gambar didinding tersebut.


Karena tidak bisa menebak baik dari ekspresi wajah maupun nada suara, maka pak Karim hanya bisa bertanya, "Tuan muda. Ada apa?" Tanya nya perlahan.


"Orang yang berada dalam gambar itu?!" Tunjuk Namora tepat kearah wajah pemuda yang ada dalam gambar tersebut.


"Oh. Itu adalah almarhum keponakan saya. Namanya Lan. Seperti yang saya ceritakan semalam. Dia telah meninggal,"


"Lan? Meninggal. Apakah bapak tau apa penyebab dia meninggal?" Tanya Namora sekedar memancing.


"Saya tidak tau pasti. Namun, berita yang saya dengar, dia mengalami kecelakaan dan telah dikebumikan di kota batu," jawab pak Karim.


Namora terduduk kembali di kursi. Dia ingin jujur mengatakan bahwa Lan terbunuh karena dirinya. Hanya saja, dia tidak tau harus memulai dari mana.


"Kenapa Tuan muda? Apakah anda mengenalnya?"


Namora mengangguk, kemudian menatap ke arah pak Karim.


"Pak Karim. Lan ini adalah anak buah ku. Dia bekerja untuk ku bersama dengan tiga orang lainnya. Yang dua lagi anak yatim-piatu yang diadopsi oleh paman ku dari rumah yayasan. Sedangkan yang dua lagi memiliki keluarga. Aku memang berencana untuk mencari keluarganya. Hanya saja, ada beberapa kejadian membuat rencana ku untuk menemukan keluarga mereka tertunda. Aku tidak menyangka bahwa ini benar-benar kebetulan,"


"Maksudnya?" Pak Karim sedikit mengerti. Sebenarnya, dia tau bahwa Lan bekerja di kota Kemuning untuk seseorang yang sangat berpengaruh. Hanya saja, kerahasiaan organisasi membuatnya tidak bisa mengetahui lebih lanjut tentang pekerjaan keponakannya itu.


"Pak. Apakah bapak mengenal sahabat dari Lan yang bernama Zack?" Tanya Namora. Dia sangat berharap agar pak Karim mengetahui dan bisa memperkenalkannya kepada keluarga Zack setelah dia secara kebetulan menemukan keberadaan keluarga Lan. Sedangkan Ando dan yang satunya lagi memang benar-benar Yatim piatu.


"Ya. Saya mengenalnya. Saya juga tau keluarganya. Hanya saja, yang ingin saya ketahui adalah, apakah Lan saya benar-benar terbunuh dalam kecelakaan?" Tanya Pak Karim.


Namora menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Lan tidak mati dalam kecelakaan. Mereka terbunuh oleh lawan bisnis ku. Sebenarnya, mereka menargetkan ku untuk di bunuh. Hanya saja, karena tidak menemukan ku, mereka melampiaskan kemarahan mereka kepada bawahan ku,"


Tidak ada tanggapan dari pak Karim. Dia sepertinya sudah rela atas kematian Lan. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa Lan dan Zack mati karena dibunuh.


"Pak. Saya berjanji akan mengkompensasi keluarga yang ditinggal. Itu memang kewajiban saya. Apakah bapak bisa mempertemukan saya dengan keluarga Zack?"


Pak Karim mengangguk.


"Saya akan membawa anda untuk menemui ibu Zack. Sebenarnya keadaan kami cukup memprihatinkan. Hanya saja, keadaan mereka lebih memprihatinkan lagi. Zack memiliki seorang adik perempuan dan ibunya yang sering sakit-sakitan. Sedangkan ayahnya meninggal dalam kecelakaan bangunan. Itu sudah lama sekali. Ketika itu adik perempuan Zack baru berusia tiga tahun. Zack adalah tulang punggung keluarga. Setelah dia meninggal, nasib keluarga itu bagaikan kiambang. Kemana arus membawa, ke sana mereka pergi,"


Namora mengepalkan tinjunya mendengar semua yang dikatakan oleh pak Karim. Betapa dia merasa sangat bersalah karena telah mengabaikan keluarga mereka yang mati karena dirinya. Hanya saja, apa yang bisa dia lakukan?


Namora tidak bisa disalahkan atas kelalaiannya. Pertama dia sebenarnya ingin mencari keberadaan keluarga mereka yang meninggal. Hanya saja, ketika dia akan berangkat ke kota Kemuning, dirinya dan Ameng malah di cegat sehingga perjalanan itu batal. Setelah itu, dia malah menjadi target pembunuhan oleh Takimura dan nyaris mati karenanya. Tapi, Tuhan itu maha adil. Dia tanpa sengaja dipertemukan dengan pak Karim.


Seperti sudah diatur, dia malah memberikan uang satu juta setengah kepada lelaki tua itu kemarin. Karena uang itulah yang menyebabkan pak Karim berinisiatif untuk singgah ke rumah sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Kemuning. Andai Namora tidak memberikan uang kepada pak Karim, sudah tentu dia akan menghabiskan banyak waktu untuk mencari keberadaan keluarga Lan dan Zack. Beruntung baginya saat ini sudah bertemu dengan salah satu dari keluarga dua bawahannya tersebut. Jadi, dia bisa menghemat banyak waktu untuk menemukan mereka.


Namora semakin mengencangkan tinjunya sehingga kulit dan urat pada tangannya menegang. "Takimura, Teja dan Jhonroy harus membayar semua ini sepuluh kali lipat. Bila perlu, aku akan menghabisi siapapun yang terlibat termasuk Dojo kampung baru," kata Namora dalam hati. Dia semakin termotivasi untuk menghabisi lawannya kali ini. Jika pada waktu itu dirinya dan orang-orangnya menjadi incaran, sudah waktunya dia pula yang mengincar mereka. Apapun yang terjadi, biarlah terjadi.


Namora melihat waktu saat ini. Setelah dirasa bahwa itu cukup, dia pun segera meminta kepada pak Karim untuk membawanya menemui ibu dan adik Zack.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya berterima kasih atas undangannya,"


"Mari Tuan muda. Saya akan menyiapkannya!" Kata Pak Karim mulai bersemangat. Dia lalu menggelar tikar pandan yang sudah mulai kehilangan warna, lalu meminta istri dan keponakannya untuk menghidangkan makanan.


Ketika melihat ikan asin goreng, rebus daun ubi dan sambal belacan, barulah Namora tau bahwa aroma itulah yang membuat perutnya tadi keroncong.


Namora tidak sungkan lagi. Dia segera melahap makanan yang ada sambil sesekali mengusap dahinya yang berkeringat. Mungkin terlalu pedas baginya. Tapi, semakin pedas, semakin dia tidak bisa berhenti untuk mengoleskan daun ubi tersebut ke sambal belacan.


"Apakah enak, Tuan muda?" Tanya Istri pak Karim.


"Em. Enak!" Jawab Namora sambil kepedasan.


Sedangkan pak Karim hanya senyum-senyum saja melihat Namora yang kepedasan, tapi tidak merasa canggung. Tadinya dia mengira bahwa makanan seperti itu akan ditolak oleh Namora. Tapi perkiraannya meleset. Namora justru tambah sampai dua kali.


"Pak. Apakah ini adik Lan?" Tanya Namora setelah dia selesai makan.

__ADS_1


Tau bahwa dirinya yang menjadi topik, Nila hanya bisa tersipu malu. Dia tidak berani menatap langsung ke arah Namora sejak pemuda itu memasuki rumahnya.


"Benar, Tuan muda. Hanya dia lah yang kami miliki setelah Lan meninggal,"


"Apakah dia masih SMA atau sudah kuliah?" Tanya Namora lagi.


"Namanya Nila. Sudah lulus SMA. Tahun ini dia seharusnya sudah mendaftar di universitas. Hanya saja, saya memintanya untuk menunda dulu setahun, sampai saya mengumpulkan uang," jawab Pak Karim. Ada raut kesedihan diwajahnya.


"Tidak apa-apa pak. Lan adalah bawahan saya. Sudah sepantasnya saya memperhatikan keluarganya. Saya akan lihat apakah yayasan Martins membutuhkan tenaga pengajar atau perusahaan membutuhkan pegawai. Tapi, jika Nila mau melanjutkan pendidikan, saya bisa membantu. Tentunya kalau saya beri gratis, Nila ini akan tersinggung. Jadinya, saya akan mempekerjakan dia di paruh waktu. Pagi dia bisa kuliah, sore dia bisa bekerja di yayasan ataupun di perusahaan," kata Namora. Dia ingin membantu secara cuma-cuma. Tapi, manusia punya egonya masing-masing. Dia tidak ingin harga diri mereka dikecilkan dengan bantuan ini. Makanya Namora berinisiatif untuk memberikan pekerjaan kepada Nila. Imbalannya, dia bisa memberikan gaji, kemudian dia memiliki alasan untuk membiayai pendidikan gadis itu tanpa mencederai harga dirinya.


"Wah. Terimakasih banyak, Tuan muda,"


"Nila. Cepat ucapkan terima kasih kepada Tuan muda!" Pinta istri pak Karim.


"Terimakasih. Tuan..,"


"Namora. Nama ku Namora. Panggil saja seperti itu!" Kata Namora menginterupsi.


"I.., iya.., iya. Terimakasih Namora!" Kata Nila dengan wajah tertunduk menatap piring di depannya.


"Baiklah. Pilihan universitas hanya ada di tiga kota. Kota Kemuning, kita Batu atau kota Tasik Putri. Tidak boleh di luar tiga kota ini," tegas Namora. Dia khawatir kalau Nila memilih kota lain seperti kota Medan, Bandung atau Jakarta. Dia tidak akan bisa melindungi gadis ini dari bahaya.


"Saya mengerti!" Kata Nila masih tetap tertunduk.


"Satu hal lagi. Kau jangan katakan kepada siapapun bahwa kita saling kenal. Aku khawatir musuh-musuhku akan mencelakai mu,"


"Pak. Apakah kita sudah bisa berangkat sekarang. Saya harus membagi waktu. Bagaimanapun, waktu saya sangat terbatas,"


"Oh iya. Mari silahkan Tuan muda. Saya akan mempertemukan anda dengan Ibu Zack," jawab Pak Karim sambil berdiri.


Namora segera keluar dari rumah kediaman pak Karim, lalu segera memasuki mobil sebelum pak Karim sempat membukakan pintu untuknya.


"Kita segera berangkat!" Kata pak Karim sembari menyalakan mesin. Kemudian, suara deru mesin terdengar disusul dengan bergeraknya mobil yang mereka kendarai meninggalkan rumah pak Karim. Tujuan mereka saat ini adalah pasar Sabtu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2