Namora

Namora
Operasi tanjung karang


__ADS_3

Tepat pukul dua subuh, ketika orang-orang sedang lelap dibuai mimpi dan enggan berpisah dari bantal dan selimut, satu kilometer berjarak dari pelabuhan Tanjung karang, puluhan siluet terlihat mendekam di balik semak-semak dan sebagian bertiarap di rerimbunan pohon bakau. Sedangkan tatapan mata mereka jelas terpusat pada laut yang luas.


Saat ini, rembulan di atas sedang membentuk sabit. Jelas malam ini tidak bisa dikatakan terang walaupun juga jauh dari kata gelap.


Bagi orang-orang yang berada ditempat yang terang kemudian dihadapkan dengan pandangan malam di pinggir laut ini, maka mereka akan sepakat mengatakan bahwa malam ini sangat gelap. Akan tetapi, bagi orang-orang yang mendekam di semak-semak belukar, mereka dapat melihat apa saja dengan jelas. Ini mungkin dikarenakan mata mereka sudah beradaptasi dengan keadaan yang gelap temaram tersebut. Atau bisa juga dikatakan bahwa mungkin mata setiap orang sudah terlatih sehingga ketika dihadapkan pada keadaan malam hari, mereka akan dapat melihat dengan jelas sejauh dua puluh sampai tiga puluh meter. Dan dapat mendeteksi andai ada orang yang akan mendekati tempat mereka. Mungkin itu adalah insting yang dibangkitkan akibat pelatihan yang intens.


Sayup-sayup dari kejauhan, terdengar suara mesin speed boat melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Awalnya suara mesin terdengar seperti suara nyamuk. Sedangkan lampu dari speed boat tersebut terlihat seperti kunang-kunang. Namun, tidak sampai sepuluh menit, speed boat tersebut sudah menghampiri perairan dalam dan sepertinya menghindari pantai dan memilih bagian perairan dalam jauh dipinggiran hutan.


Begitu boat tersebut meluncur cepat di muara yang mempertemukan antara air laut dan air sungai, salah seorang dari mereka yang berada di atas boat tersebut melemparkan tali pengait yang langsung tertancap diantara semak bakau.


Perlahan orang itu menarik tali sehingga boat tersebut semakin merapat di tebing tanah.


Begitu boat tersebut merapat, lelaki tadi melompat ke daratan, dan langsung menyalakan lampu kode.


Tidak lama kemudian, beberapa orang mulai keluar dari semak-semak, lalu saling bergotong royong mengeluarkan kotak-kotak dari dalam boat tersebut kemudian memunggahnya ke dalam dua helikopter yang sejak tadi sudah dipersiapkan.


Kerja sama diantara mereka benar-benar sangat efisien. Karena, tidak membutuhkan waktu yang lama, pekerjaan itu selesai dan tinggal menunggu trip terakhir yang saat ini masih menuju helikopter. Tapi apa? Begitu mereka baru setengah jalan, tiba-tiba dari semak-semak, tampak puluhan siluet bangkit dan keluar dari persembunyiannya. Bahkan, tampak dari bagian laut juga bermunculan kepala-kepala mengenakan pakaian renang dan alat pernapasan dalam air masih terpasang di tubuh mereka.


Karena mengenakan pakaian kamuflase, ditambah lagi keadaan masih gelap, sehingga tidak ada diantara mereka yang menyadari bahwa kegiatan mereka sebenarnya telah dipantau sepenuhnya.


"Siapa itu?" Teriak salah satu dari mereka memperhatikan sembari memperingatkan kepada yang lainnya bahwa ada pihak lain selain mereka di kawasan tersebut.


"Sial! Sepertinya kegiatan kita telah tercium oleh pihak berwajib,"


"Jangan bergerak dan tetap pada posisi kalian masing-masing. Berikan kerjasama agar tidak ada korban yang jatuh. Kalian sudah dikepung dan tidak ada tempat bagi kalian untuk melarikan diri!" Seru seseorang yang sepertinya menggunakan pengeras suara.


"Celaka. Hubungi Boss agar mereka tidak datang. Jika tidak, tidak akan ada yang bisa menjamin kita nanti,"


"Baik!"

__ADS_1


Diantara orang-orang yang telah terkepung tersebut, ada yang segera menghubungi seseorang.


Ada ketegangan dan kemarahan dari panggilan telepon tersebut. Namun, setelah menceritakan bahwa mereka saat ini sudah dikepung, maka tidak ada cara lain selain tidak menampakkan diri dan segera kabur.


"Bagaimana?" Bisik salah seorang dari mereka.


"Jhonroy tidak akan datang. Walaupun dia marah, tapi mau bagaimana lagi? Dia mengatakan agar kita tidak melawan. Sisanya, dia yang akan mengurusnya melalu koneksi yang dia miliki,"


"Bagus!" Katanya. Lalu, puluhan orang-orang tersebut serentak mengangkat tangan mereka, lalu meletakkannya di belakang kepala.


Sementara itu, di perumahan staf Martins, Namora yang sedang dibuai oleh mimpi terpaksa terbangun ketika teleponnya berdering.


Dengan sigap Namora bangun lalu menjawab panggilan tersebut. "Tonggi!" Kata Namora menyebut nama orang yang meneleponnya.


"Saya Tuan muda,"


"Bagaimana keadaannya?"


"Hmmm. Menarik. Sepertinya permainan ini akan menguras banyak tenaga.


Baiklah. Kau segera mundur dan kembali mengawasi kota L. Setiap informasi, aku akan memberikan lima puluh juta rupiah. Tidak perduli apakah informasi itu berharga atau tidak,"


"Siap, Tuan muda. Saya berjanji tidak akan mengecewakan anda,"


"Hmmm..," Namora lalu mengakhiri panggilan, kemudian kembali tidur. Bagaimanapun, besok masih ada hal-hal yang kemungkinan akan lebih menantang. Dan dia tidak ingin membuang energi untuk memikirkan bagaimana pihak kepolisian menangani masalah Jhonroy. Karena dia tau bahwa polisi sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa kepada lelaki tua licik itu. Selagi tidak tertangkap basah, maka lelaki tua itu memiliki seribu cara untuk melepaskan tuduhan terhadap dirinya. Bahkan, andai tertangkap tangan pun, dia pasti sulit untuk ditangkap mengingat koneksi yang dia miliki.


Bagi Namora sendiri, yang penting adalah, Jhonroy mengalami kerugian besar kali ini. Paling tidak, milyaran rupiah hangus dari rencana untung yang dia harapkan karena penangkapan ini. Besok, mungkin dia akan menelepon lelaki tua itu untuk mengejeknya dengan mengucapkan kata-kata belasungkawa.


"Huh. Buat apa menunggu sampai pagi. Mungkin Jhonroy saat ini sedang pusing tujuh keliling. Mengapa tidak menambahkan cuka di atas luka?" Gumam Namora dalam hati. Diapun lalu meraih ponselnya, kemudian meminta kepada seseorang untuk melacak informasi kontak Jhonroy.


Tidak sampai lima menit, balasan dari orangnya telah sampai. Dan di dalam kotak masuk, tercantum rangkaian angka.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Namora segera menghubungi nomor tersebut dan membiarkannya sejenak untuk terhubung.


Tidak sampai tiga detik, panggilan tersebut pun terhubung dan suara berat bernada tidak senang terdengar dari seberang sana.


"Hallo. Siapa di sana,"


Namora segera berdehem, sebelum memberitahu dirinya kepada Jhonroy.


"Hallo Tuan Jhonroy yang terhormat dan sangat agung. Ini aku, Namora. Bagaimana kabar mu?" Tanya Namora dengan nada yang sangat mengejek.


"Kau, Namora. Darimana kau mendapatkan informasi kontak ku?"


"Apakah begitu sulit bagiku untuk mencari tau nomor telepon mu? Jangankan nomor telepon. 70% dari keburukan mu pun aku mengetahuinya. Termasuk penggelapan pajak, transaksi ilegal dan pencucian uang. Dan data itu ada padaku saat ini. Jika hal busuk yang kau sembunyikan rapat-rapat saja aku bisa tau, apa lagi hanya nomor telepon mu," ejek Namora masih dengan nada suara yang sangat menyepelekan.


"Apa maksudmu Namora? Jangan membuatku marah. Aku bisa menghabisi nyawa mu tanpa menyentuh. Jangan pancing batas kesabaran ku!" Teriak Jhonroy dengan nada yang sangat marah.


"Takuuut...! Jhonroy, terbukti bahwa sampai saat ini aku masih hidup. Aku meragukan kemampuan mu. Aku sedang berpikir. Andai data-data tentang kecurangan mu itu aku bocorkan ke publik, apa yang akan terjadi? Akankah kau akan membusuk dalam penjara, atau..,"


"Tutup mulut mu! Aku tidak mudah disinggung. Katakan apa mau mu!" Bentak Jhonroy. Sejak kapan dia merasakan diintimidasi seperti ini. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang berani bersikap mengancam terhadap dirinya. Terlebih lagi, kali ini yang mengancamnya adalah anak-anak. Andai saat ini Namora ada dihadapannya, mungkin kepala anak itu sudah dikunyah olehnya bulat-bulat.


"Hahaha. Jhonroy. Aku hanya melakukan satu gerakan dalam satu waktu. Tapi, yang pasti adalah, aku memberitahu kepadamu bahwa tidak boleh ada dua raja dalam satu kerajaan. Aku, Namora bercita-cita untuk menjadi raja tunggal di provinsi ini. Sebelum kau menjadi anjing yang akan menjilati sepatu ku, maka aku tidak akan berhenti. Ketahuilah bahwa aku akan menggerogoti apa saja yang kau miliki. Operasi tanjung karang hanya awal mula bagiku untuk membalas apa yang pernah kau lakukan terhadap perusahaan ku,"


"Jadi, ini semua adalah perbuatan mu?"


"Gunakan otak mu. Apakah kau terlalu tua sehingga aku perlu menjelaskan semuanya? Ingat! Ini baru permulaan. Aku menelepon mu hanya untuk menyampaikan bahwa aku berduka atas kerugian yang kau derita,"


"Kurang ajar. Aku akan membunuhmu!"


Setelah itu, terdengar suara sesuatu dibanting disusul berakhirnya panggilan telepon tersebut. Mungkin karena terlalu marah, sampai-sampai Jhonroy membanting handphone miliknya ke lantai.


"Kena kau!" Kata Namora mengejek. Lalu dia kembali merebahkan tubuhnya. Tapi dia tidak bisa tertidur lagi. Sebaliknya, dia terus memikirkan apa yang bakalan terjadi setelah ini, kemudian melakukan pencegahan dengan segera. Karena, walau bagaimanapun, dia sadar bahwa lawannya adalah Jhonroy. Orang tua yang kenyang dengan asam garam kehidupan. Mungkin saja dia akan terbunuh, atau bisa saja peperangan antar perusahaan tidak bisa dihindarkan. Bagaimanapun, pembalasan itu pasti akan datang, cepat atau lambat. Siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, Namora harus menghadapinya. Itulah Pion. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah alat bagi seseorang yang sangat berkuasa. Atau, bisa jadi bahwa Martins Group hanyalah batu untuk mengasah kemampuannya dalam menjalani hal-hal yang lebih besar di masa hadapan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2