Namora

Namora
Nyemplung ke sungai


__ADS_3

Delapan anak-anak remaja terlihat sedang duduk di sebatang pohon kelapa yang sengaja dilintangkan sebagai jembatan penghubung bagi warga yang hendak menyebrangi anak sungai yang tidak terlalu besar dan berair sangat jernih.


Anak sungai itu adalah pembatas antara perkampungan dengan Bendang sawah yang berada di seberang sungai tersebut.


Delapan anak-anak remaja itu tampak sangat fokus melihat ke bawah. Sepertinya ada sesuatu yang sedang mereka tunggu sehingga sedikitpun mereka tidak berkedip.


Walaupun jumlah mereka ada delapan orang, tapi tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Sedangkan di tangan setiap orang, tampak menggenggam sebatang bambu kecil.


"Huh... Aku dapat!" Teriak salah satu dari delapan pemuda tadi. Hal ini tentu saja membuat ketujuh anak-anak yang lainnya tanpa dikomandoi langsung saja menoleh.


"Wah. Kau dapat Jol?!"


"Iya dong. Hahaha. Lumayan buat kita bakar-bakar ikan nanti," kata pemuda bernama Jol sambil menepuk dadanya dengan bangga.


"Heh, Juned! Pancing mu lihat tuh!" Teriak yang lainnya begitu melihat benang pancing milik temannya menegang.


"Heh. Dimakan ikan tuh," kata Juned pula yang langsung buru-buru terbungkuk untuk meraih bambu gagang pancing miliknya. Tapi dasar apes, ntah salah dalam memilih injakan, kakinya malah menginjak bagian pinggir batang kelapa tadi sehingga terpeleset.


Entah karena gugup atau ketakutan, tangan kanannya malah menarik celana Jol.


Jol yang kaget bukan main malah menarik tangan Namora dan Namora yang juga terkejut bukan main malah menyambar baju Jaiz, sehingga acara tarik menarik pun terjadi.


Byur...!


Terdengar suara sosok jatuh ke dalam air secara susul menyusul pun terjadi.


Sebanyak delapan kali terdengar suara berat terjatuh ke dalam air. Tidak ada seorang pun yang tersisa di batang kelapa tadi. Hal ini dapat dipastikan bahwa acara tarik menarik tadi membuat mereka jatuh berjamaah ke dalam sungai.


"Aduh... Basah kan," marah Jol dengan kesal.


"Kau ini Juned. Gara-gara kau kita nyemplung kan?!"


"Lagian Namora juga main tarik aja,"


"Aku juga ditarik oleh Jol," sanggah Namora tidak mau disalahkan begitu saja.

__ADS_1


"Sudahlah. Sudah basah begini. Mau gimana lagi?" Kata Juned pula untuk menenangkan sahabat-sahabatnya.


"Ini semua gara-gara kau. Ah bisa kena marah sama emak kalau aku pulang dengan pakaian basah begini," keluh Jufran.


"Cie..., Anak mama. Hahahaha," ejek Jaiz.


"Ayo naik. Kaki ku mungkin luka nih keinjak batu," Jol tampak meraba telapak kakinya.


"Alah. Sedikit saja. Jangan cengeng!" Maki James yang langsung menarik rerumputan yang terdapat dipinggiran sungai untuk naik ke atas.


Melihat James sudah mendahului, mereka pun akhirnya melakukan hal yang sama.


"Bagaimana ini? Kita tidak mungkin pulang dalam keadaan basah kuyup begini kan?" Tanya Namora yang juga ketakutan dimarahi oleh Mirna.


"Tenang. Kita buka saja pakaian kita. Tinggalkan bagian dalamnya saja. Lalu kita jemur," Julio memberi saran.


"Gila. Mana bisa. Nanti kalau ada yang lewat dan melihat kita bagaimana?" Jol jelas membantah gagasan dari Julio tadi.


"Kau lihat yang di sana itu?" Tanya Jericho sambil menunjuk ke arah gerombolan pohon pisang. "Nah. Kita ke sana saja. Lalu, bungkus badan kita dengan daun pisang. Cukuplah dari pusar sampai paha saja. Lumayan daripada...,"


"Ah sudahlah jangan diteruskan. Ayo kita ke sana!" Ajak Jol.


*********


"Bagaimana? Nyaris seperti tunawisma kan?" Tanya Julio sembari tersenyum geli.


"Hahaha. Gara-gara Juned, kita jadi gelandangan,"


"Sudah lah! Kita ini adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan. Susah senang bersama," jawab Juned membela diri.


"Banyak susahnya daripada senangnya," celetuk Jol yang merasa sial karena nyemplung ke dalam sungai tadi.


"Bicara tentang persahabatan kita yang tak terpisahkan, apakah nanti di SMA, kita akan satu sekolah lagi?" Tanya James sekedar ingin tau.


Mendengar pertanyaan ini, mereka semua saling pandang. Ada rasa penuh harap dari masing-masing mereka agar nantinya mereka bisa satu sekolah lagi.

__ADS_1


"Kau Namora. Dimanakah kau akan melanjutkan pendidikan?" Tanya Jol kepada sahabatnya itu.


"Aku tidak memilih. Asalkan tidak ada Diaz, Rudi, Dudul dan Ruben di sekolah itu," jawab Namora. Jelas saja dia tidak menginginkan satu sekolah dengan keempat musuhnya itu. Karena, jika mereka satu sekolah, sudah pasti Namora tidak akan bisa mengincar keempat anak itu sebagai lawannya kelak di turnamen kejuaraan pencak silat antar sekolah menengah atas.


"Aku heran. Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Diaz?" Tanya James yang memang tidak pernah tau apa permasalahan antara Namora dan juara turnamen pencak silat dari SMP kampung baru tersebut.


"Banyak. Terlalu banyak ketenangan dan kesenanganku yang telah dirampas oleh mereka. Dulu aku sering di-bully oleh keempat orang itu. Aku tidak mau kejadian serupa terulang lagi ketika kita di SMA nanti," jawab Namora tanpa menceritakan bahwa dia sebenarnya memiliki rencana untuk membalas keempat anak tersebut.


"Apa kau dendam kepada mereka?" Tanya Jericho.


Namora hanya mengangguk saja sebagai jawaban atas pertanyaan Jericho barusan.


"Percuma, Namora. Diaz itu adalah juara karate. Kau tidak akan mampu melawannya. Sebaiknya, jika tidak mampu, maka simpan saja dendam mu dan kubur dalam-dalam!" Kali ini Jaiz yang memberikan saran. Dia menepuk pundak Namora sebagai bentuk kepedulian.


"Hanya waktu yang bisa menjawab. Aku tidak berpikiran yang macam-macam. Aku hanya ingin melanjutkan pendidikan dimana aku tidak mendapat gangguan. Aku khawatir kesabaran yang aku miliki tidak memadai," jawab Namora keceplosan.


"Wah. Kau ini ternyata bisa marah juga. Baiklah. Bagaimana jika kita melanjutkan pendidikan di SMA tunas bangsa saja?"


"Kau yakin mau melanjutkan pendidikan di sana Jol?" Tanya Julio. "Kabarnya, Rendra dan Marcus juga akan melanjutkan pendidikan di sana,"


"Persetan dengan mereka. Jika tidak ada Dhani yang jadi andalan mereka, sudah ku lipat seperti kertas koran anak itu," jawab Jol dengan sewot.


"Aku yakin seiring bertambahnya waktu, kita bisa mengalahkan Dhani. Sekarang saja kita sudah sejajar dengan dia. Mengapa tidak mencoba saja? Kalau dia membuat ulah lagi, aku yang akan duluan mengirimkan bogem mentah ku ini ke wajahnya," timpal Jericho pula.


"Baiklah. Jika begitu, kita deal?" Tanya Jol ingin memastikan apakah ketujuh sahabatnya itu bersedia untuk melanjutkan pendidikan mereka di SMA Tunas Bangsa.


"Deal. Siapa takut?" Jawab mereka.


"Kita tidak akan rugi. Di sana terkenal dengan cewek-cewek cantik. Apa lagi yang aku dengar si Merisda. Anak guru fisika. Cantiknya sampai ke awan," kata Jol pula menyemangati yang lain.


Saat seusia mereka yang sudah menginjak masa remaja, wajar saja jika melihat gadis yang cantik, mereka mulai geranjingan.


"Aku jadi penasaran,"


"Sama. Aku juga,"

__ADS_1


"Ok. Mari saudara ku sekalian! Pakaian kita sudah kering. Ayo kita pulang!" Ajak Jol. Dia memegang erat lilitan daun pisang pada bagian yang penting di tubuhnya, kemudian bangkit berdiri menuju ke arah dimana tadi dia menjemur pakaian basah nya dengan diikuti oleh yang lainnya.


Bersambung...


__ADS_2