Namora

Namora
Ameng menghajar Ganjang


__ADS_3

Saat ini, baik itu Ganjang dan anak buahnya, para murid dari Dojo kampung baru, bahkan Jol dan Namora sendiri, memperhatikan dengan seksama ke arah mobil yang masing-masing dari pintunya telah terbuka.


Dari dalam, satu persatu mereka keluar dan beberapa orang bergegas menuju ke arah mobil BMW 7 series untuk membukakan pintu.


Ganjang yang mengenali lelaki yang layaknya Boss besar itu mendadak pucat.


Dia jelas sangat mengenali siapa lelaki yang ternyata adalah Ameng. Namun, yang tidak dapat dia pastikan saat ini adalah, apakah Namora atau Jol yang memiliki hubungan dengan Ameng. Karena, yang dia tahu adalah, Ameng sama sekali tidak punya anak, atau keponakan.


Mereka sama-sama tau bahwa Ameng adalah anak yatim dan gelandangan sebelum statusnya terangkat ke jenjang seperti sekarang ini.


Belum lagi Ganjang selesai dengan alam pikirannya, satu suara dengan tegas telah menegur kearahnya.


"Ganjang. Aku tidak berpikir bahwa kau punya banyak waktu untuk mengurus urusan anak-anak," Ameng kini berjalan ke arah Ganjang sambil membuka kacamata hitam yang dia kenakan.


Ganjang tidak langsung menjawab. Melainkan, kenangan 17 tahun silam terbayang di benaknya. Ketika itu, Tigor sebagai Abang besar dari kelompok kucing hitam cabang kota Kemuning, (Sebelum menjadi Dragon Empire) dengan mudah menghancurkan geng tengkorak yang dipimpin oleh Birong. Dan Ameng ini adalah salah satu dari mereka dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan.


Ketika itu, bersama Tigor, Andra, Acong, Timbul, Ucok, Thomas, Jabat, Sugeng, Monang, dan Ameng sendiri, mereka berhasil meruntuhkan beberapa kekuatan besar seperti Geng Jordan di kota Kemuning, Kucing hitam di kota Tasik Putri, dan geng Tengkorak di kota batu. Tentunya dia tidak tau bahwa selain mereka, ada Arslan yang dikirim khusus oleh Jerry William untuk membantu. Namun, sebelum semuanya diketahui, Arslan dan orang-orangnya sudah keburu menyingkir. Dan dirinya bersama dengan Mokmok serta Panjul adalah serpihan dari sisa anak buah geng itu yang berhasil selamat dari serangan tersebut. Sedangkan satu-satunya pentolan penting yang tersisa saat ini masih mendekam di dalam penjara. Orang ini bernama Marven.


Melihat bahwa Ganjang hanya diam saja, Ameng pun merasa tersinggung, lalu menegur. "Apakah kau tuli?"


Ganjang kaget mendapat teguran ini. Dia dengan tergagap menjawab. "Ba.., bang. Bang Ameng. Mengapa kau ada di sini?"


Ameng tersenyum sinis ke arah Ganjang. Kemudian menepuk pipi lelaki itu dengan perlahan, kemudian berkata. "Tidak seharusnya pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Kau ini bodoh atau dungu?"


"Paman. Dia datang ke sini untuk mematahkan kaki ku," kata Namora menjawab.


"Kau diam! Aku akan menyelesaikannya dengan mu. Kau tunggu di sana!"

__ADS_1


Namora segera mengajak Jol untuk menyingkir dari tempat itu sambil berbisik. "Jol. Ayo kita kabur. Urusan ku masih banyak. Aku akan mengantar mu pulang. Besok kita ketemu di sekolah!"


Setelah Namora pergi meninggalkan mereka, kini Ameng menjadi semakin galak. "Jika kau tidak mau menjawab, maka anak buah ku yang akan bertanya dengan cara mereka,"


Setelah mengatakan kata-kata tadi, Ameng segera memetik jari tangannya. Dan seketika itu Ganjang melihat lima belas orang anak buahnya sudah dipukuli oleh anak buah Ameng sampai babak belur.


Bugh..!


Satu tendangan mendarat mulus di bagian perut Ganjang, membuat lelaki jangkung itu meringkuk menahan rasa mual.


"Mungkin hanya dengan cara ini kau akan menjawab pertanyaan ku,"


Ameng segera menjambak rambut Ganjang, kemudian menampar pipinya berulang kali.


Darah mulai keluar dari sudut bibir serta hidung Ganjang. Wajahnya kini sangat memprihatikan. Namun, rupanya Ameng tidak berhenti sampai di situ saja. Dia malah kembali menendang dada Ganjang hingga jatuh terduduk di rerumputan.


"Ampun bang. Aku tidak tau kalau kedua anak muda itu tadi ada hubungannya dengan mu. Kalau aku tau, aku tidak akan berani," kata Ganjang sambil meringis kesakitan.


"Oh. Jadi, andai mereka berdua tidak ada hubungannya dengan ku, maka kau pasti sudah membunuh mereka kan?" Ameng menatap tajam ke arah Ganjang yang segera tertunduk tidak berani menjawab.


"Kau ini sampah. Jangan mengira bahwa aku tidak tega menghancurkan kau dan kedua sahabatmu Mokmok dan Panjul. Jika kau tidak bisa menjaga sikap, maka jangan salahkan aku jika sampai kau mengalami kehancuran. Ingat itu baik-baik!"


"Ampun bang. Aku akan mengingat nasehat mu ini," jawab Ganjang gemetaran.


"Kembali ke markas!" Kata Ameng segera berbalik menuju ke arah mobilnya yang terparkir. Sementara itu, Ganjang yang melihat bahwa Ameng telah berlalu meninggalkan Dojo ini segera memapah Rudi yang tidak kalah menderita dibandingkan dirinya.


Beberapa anak buahnya yang sudah babak belur juga tampak bersusah payah untuk bangkit berdiri. Mereka dengan terhuyung-huyung berjalan menuju ke mobil untuk segera meninggalkan tempat sialan itu.

__ADS_1


Entah mimpi apa mereka bisa berurusan dengan Ameng. Padahal, hal ini sudah sangat mereka hindari sejak tujuh belas tahun yang lalu.


"Mari nak! Ayah akan mengantarkan mu ke rumah sakit. Lain kali, kau jangan berurusan lagi dengan dua anak tadi," kata Ganjang kepada Rudi.


Rudi tidak menjawab. Dia masih shock dengan kejadian tadi. Seumur hidupnya, dia hanya tau membully orang lain dan berbuat semaunya saja. Tidak ada yang berani membalas, karena orang akan ketakutan ketika mendengar nama ayahnya. Tapi, siapa sangka bahwa hari ini akan tiba. Hari dimana dia dan ayahnya dihajar oleh orang lain sampai babak belur. Hal ini jelas sangat meruntuhkan mentalnya.


Setelah Ganjang juga pergi meninggalkan Dojo itu, kini Dias pun bergegas membantu kakak pertama memasuki Dojo dengan murid-murid yang tidak cedera membantu memapah dua puluh orang murid yang terluka.


Tidak ada yang menyangka bahwa, selama hampir lima tahun Dojo ini didirikan, baru kali ini ada yang berani membuat kekacauan. Dan tidak tanggung-tanggung, kakak pertama yang berada di tingkat ke lima sabuk hitam pun turut menjadi korban.


Setelah selesai membantu kakak seperguruannya beristirahat, Diaz tidak langsung pulang. Dia tampak merenung di bagian beranda depan Dojo. Pikirannya jelas kacau untuk saat ini.


Dirinya mulai ragu apakah dia bisa mengalahkan Namora besok, atau malah dirinya akan mengalami nasib yang sama dengan kakak pertama dan juga Rudi.


Waktunya sangat mendesak. Bagaimanapun, turnamen itu tidak lebih dua puluh empat jam dari sekarang.


Diaz berulang kali menggaru kepalanya. Otaknya saat ini benar-benar terasa tumpul untuk berpikir mencari solusi dalam pertandingan besok.


Perlahan, Diaz merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya.


Dia terus memperhatikan beberapa butir pil yang terbungkus plastik di atas telapak tangannya.


"Apa boleh buat. Aku hanya bisa menggunakan doping ini. Jika bukan aku, maka Namora lah yang akan mati. Bagaimanapun, kematian di atas arena tidak bisa di tuntut. Itu hanya akan dianggap sebagai kecelakaan,"


Diaz memasukkan kembali pil tadi ke dalam saku bajunya, niatnya sudah bulat. Dia akan memakai semua doping itu di pertandingan besok. Namun, satu hal yang dilupakan oleh Diaz, bahwa efek samping dari mengkonsumsi doping secara berlebihan bisa menyebabkan dirinya overdosis yang berdampak kepada kematian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2