
Pusat tahanan kota Batu
Seorang lelaki paruh baya terlihat melongo menatap selembar cek dengan angka 280 juta rupiah tertera di sana. Sementara itu, seorang lagi lelaki yang sebaya dengannya tampak sedang berdiri sembari menyodorkan pena. Wajah lelaki yang menyodorkan pena ini sungguh sangat kocak, dan ada senyum geli di wajahnya. Sepertinya dia sangat menikmati ekspresi wajah lelaki yang mengenakan pakaian tahanan itu
Siapa kedua lelaki ini? Mereka berdua tidak lain adalah Tigor dan Ameng. Dan baru saja Tigor dikejutkan dengan kedatangan Ameng yang tiba-tiba membawa selembar cek, kemudian menyuruh dirinya untuk membubuhkan tanda tangan.
"Gila kau Meng. Ini apa? Kau harus menjelaskan untuk apa uang sebanyak 280 juta ini?" Tigor memelototi Ameng yang tampak sedang menahan tawa.
Tingkah Ameng ini benar-benar membuat Tigor ingin segera menjambak gigi Ameng. Kesal betul rasa hatinya saat ini.
"Bang. Anak mu sudah lajang. Kebutuhannya banyak. 280 juta ini belum seberapa. Jika aku terlalu perhitungan, kau seharusnya membayar lebih kepada ku,"
"Kau?!"
"Alah... Tandatangan saja lah!" Ameng tampak menusuk-nusuk lengan Tigor dengan penutup pulpen.
"Kau jelaskan dulu uang ini. Apa iya Namora yang menggunakannya. Atau jangan-jangan...?" Tigor mulai menyeringai membuat Ameng juga ikut-ikutan menyeringai.
"Woy bang. Aku tidak makan uang haram ya. Yang makruh saja aku tolak apa lagi uang haram.
Aku jelaskan kepada mu ya! 250 juta ini uang kes yang diambil Namora dariku untuk membeli boneka dolphin limited edition. Kalau kau tak percaya, pergi tanyakan langsung ke Suzuya Mall kota Batu. Yang tiga puluh juta lagi, adalah untuk perbaikan sepeda motor Yamaha R1 milik mu. Itu masih belum termasuk pajak, minyak, oli, ganti rantai satu set, dorsmer, upah mengisi angin, ganti kaca spion, upah menjaga sepeda motor mu. Asal Abang tau ya. Aku menjaga sepeda motor mu selama 17 tahun. Kalau upah ku perhari lima ribu rupiah, Abang kalikan aja lah tujuh belas, kali tiga ratus enam puluh lima, kemudian dikalikan lima ribu rupiah. Udah berapa itu? Itu baru lima ribu rupiah. Kalau aku minta 50 ribu rupiah, bisa bengek kau bang!" Kata Ameng yang lagi-lagi mati-matian menahan tawa.
Tigor seperti orang bodoh mendengar ocehan Ameng. Dia tidak menyangka kalau Namora ini sekali bergerak, langsung memakan 280 juta rupiah. Benar-benar anak yang sangat Sholeh.
"Namora ini. Aku tidak menyangka kalau anak lelaki suka main boneka. Sekalinya boneka, harganya bisa beli beras berkarung-karung. Sungguh sangat membuatku bangga. Kau juga bodoh. Udah tau aku dipenjara. Masih lagi kau suruh aku menanyakan ke Suzuya Mall kota Batu. Inilah kalau kau terlalu lama menduda. Berpengaruh terhadap fungsi otak kiri mu. Pergi cari bini biar saluran air mu tidak tersumbat!"
__ADS_1
"Kesitu pulak lah arah omongan Abang ni. Jangan bahas status duda ku bang! Itu masalah privasi. Yang jelas, aku tau lah kemana burung ku ini mau bersarang. Tapi Namora itu, dia baik-baik saja. Masih normal. Sama sekali bukan kaum pelangi. Boneka dolphin yang dia beli itu untuk dihadiahkan kepada ceweknya. Ulang tahun cewek dia bang. Makanya aku tidak berani melarang. Belum lagi dilarang, dia udah ngancam duluan. Mati kutu awak dibuatnya," Ameng terpaksa menceritakan semuanya kepada Tigor. Daripada uangnya tidak dikembalikan, lebih baik mengadukan tentang diri Namora.
Tigor tampak merenung sejenak. Dia mengetuk-ngetuk pulpen ditangannya ke atas meja.
"Cepat lah bang. Aku mau pergi ini. Ini lagi tadi Namora menelepon. Katanya dia mau meminta Zack kepadaku. Dia bukak harga 200 juta,"
"Hah? Sejak kapan kau terlibat dalam sindikat pemerdagangan manusia?" Tanya Tigor dengan mata terbelalak.
"Bukan pemerdagangan manusia bang. Namora menginginkan bawahan ku untuk di jadikan penasehat pribadi. Macam apa aja anak itu bah. Pake penasehat segala. Kalau bukan anak kau itu, udah ku picit kepalanya,"
"Oh. Berani kau?" Tigor langsung melotot membuat Ameng terbahak-bahak.
"Hahahaha... Bang. Cepat lah! Tanda tangani cek ini. Atau, kuburan mu sempit nanti! Awas kau. Utang itu wajib di bayar!"
"Oh Abang ini berkomplot sama Namora untuk menjahanamkan aku kan? Jangan sampai 280 juta itu berubah menjadi 480 juta ya! Aku belum benar-benar perhitungan sama Abang. Kalau sampai Zack diambil oleh Namora, aku akan menjadi seperti orang buta dikasih lampu senter. Udah lah bang! Jangan kau tandatangani cek ini! Aku akan menambahkan nominalnya menjadi 500 juta. Zack pun kau juga yang harus membayarnya!"
"Heh. Apa istimewanya Zack ini bagimu hah? Kau sepertinya lebih sayang sama Zack ini daripada sama aku,"
"Tidak bang. Aku sayang kali pun sama kau. Iiihhhh... Kau lah bulan kau lah bintang. Tapi jangan kau lupa bang! Hutang tetap hutang!"
Ameng berhenti sejenak. Dia berpikir kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan seberapa pentingnya Zack bagi dirinya.
"Bang. Ini aku serius. Zack ini adalah asisten yang paling aku percaya. Jika aku tidak tau sepuluh juta lima ratus lima puluh lima ribu ditambah 17 juta empat ratus, maka aku akan bertanya kepada Zack ini berapa jumlahnya. Dan dia, hanya bermodal satu kalkulator saja, sudah mampu menjawab dengan benar. Tidak terbayangkan betapa hebatnya Zack ini. Dan satu lagi bang. Zack ini selain pintar, dia juga sangat pandai berkelahi. Satu lagi bang. Selain pandai berkelahi, dia juga lulusan kuliah. entah apa namanya itu. aku lupa. kalau tidak salah mungkin antara pikultas atau pakultas pokoknya antara itu lah. Kalau dibandingkan sama kau, macam langit dan kerak bumi lah. Kemudian satu lagi bang...,"
"Alah udah lah. Pening kali kepala aku mendengar banyak kali satu lagi kau itu. Sekarang aku mau nanya sama kau Meng. Bagaimana menurut mu dengan Namora itu? Apakah ada kemajuan?"
__ADS_1
"Kemiringan. Bukan kemajuan. Anak itu udah korslet kabel-kabel di otaknya. Eh Bang. Anak itu membunuh Willi dengan satu nafas," kata Ameng sambil berbisik ke telinga Tigor.
"Hah.., Willi?" Suara bisikan Ameng itu sangat pelan sekali. Tapi gelombang kejutnya mampu membuat Tigor terperangah.
"Kau sadis kan? Anak itu jauh lebih sadis. Dia dingin bang. Menganggap nyawa orang kayak mainan. Keponakan Willi bernama Rendra, sampai saat ini masih koma di rumah sakit. Itu karena ulah anak lajang mu. Beruntung tidak ada yang tau. Kalau tidak, bisa bertambah lah masa tahanan mu!" Kata Ameng dengan ekspresi mengejek.
"Enak kali muncong kau itu. Dia yang salah mengapa pulak masa tahanan aku yang bertambah,"
"Hahahaha. Tapi jujur aja ya bang! Anak ini memang ganas. Karakter nya memang mengerikan. Sepertinya lingkungan telah membentuk anak ini menjadi sedingin itu," Ameng kini memasang wajah serius.
"Untuk apa kau heran. Bukankah kita dulu seperti itu juga. Besi kalau terus-terusan dipukul, akan berubah menjadi pisau. Itu yang aku inginkan dari Namora. Sekarang aku hanya bisa meminta kepadamu untuk sedikit membendung anak itu agar bisa lebih jinak,"
"Kau tenang aja bang. Serahkan semuanya kepada Ameng. Tapi...,"
"Apa lagi kau hah?" Tigor memelototi matanya ke arah Ameng.
"Hutang tetap hutang!"
"Sialan. Sini cek itu!" Tigor mengulurkan tangannya mengambil cek yang baru saja diperbaharui oleh Ameng. "hah... Mengapa jadi 600 juta?"
"Untuk biaya operasional tambahan," jawab Ameng dengan acuh.
"Untung Karman tidak ada. Jika kalian berdua kumpul, aku pasti bangkrut!" Tigor mengomel panjang-pendek. Tapi dia tetap juga menandatangani cek tersebut.
Bersambung...
__ADS_1