Namora

Namora
Hari kebebasan Tigor


__ADS_3

Pusat tahanan kota Batu.


Pintu berukuran besar terbuka lebar disusul keluarnya seorang lelaki paruh baya dengan didampingi dua orang petugas lapas. Di tangan lelaki itu terdapat kotak kardus berisi beberapa helai pakaian.


Begitu tiba di bagian luar, lelaki itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghempaskannya kuat-kuat. Sejenak dia memutar lehernya dengan keras hingga berbunyi seperti suara tulang patah. Setelah itu, barulah dia menatap ke arah depan dimana di sana tampak barisan mobil mewah terparkir memanjang sepanjang ratusan meter dengan tidak kurang dari tiga orang di setiap mobil berdiri membungkuk seolah-olah mereka sedang menyambut seorang kaisar.


Pada barisan depan, tampak seorang wanita paruh baya yang masih cantik berdiri dengan senyum manis mekar di bibirnya. Sedangkan di belakang wanita itu, berdiri sepuluh orang lelaki yang juga paruh baya yang dikenal dengan berbagai gelar. Ada yang menggelar mereka sebagai sepuluh master buta huruf, ada yang menggelar mereka sebagai sepuluh pelindung Dragon Empire, ada yang menjuluki mereka sepuluh Mister dadakan, dan banyak lagi. Tapi yang jelas, mereka adalah Monang, Ameng, Andra, Timbul, Acong, Bejo, Jabat, Sugeng, Ucok dan Thomas. Sebenarnya mereka ada sebelas orang. Namun, yang satunya lagi seakan menghilang entah kemana sejak peristiwa peperangan di villa milik Birong di bukit batu. Sedangkan wanita paruh baya dibarisan paling depan adalah Mirna.


Sejenak lelaki yang berdiri sendirian di depan pintu lapas itu menatap ke arah mereka. Sepertinya dia sedang mencari-cari seseorang. Namun, ketika dia tidak menemukan keberadaan orang tersebut, dia tampak kecewa sembari menghela nafas berat.


"Selamat menghirup udara segar bang!" Seru sembilan orang yang berada di belakang wanita yang tidak lain adalah Mirna itu secara serentak. Lalu, tanpa dikomandoi, mereka langsung mendorong Mirna ke depan untuk segera menghampiri lelaki tadi.


Tujuh belas tahun dia menunggu moments ini. Ada beberapa tindakan yang dia rencanakan yang akan dia lakukan ketika berhadapan dengan lelaki itu, dan jutaan kata yang ingin dia ucapkan. Namun, ketika hari itu tiba, sepertinya rencana hanyalah tinggal rencana. Bahkan, seluruh kata-kata yang sengaja dia siapkan, dia hafal dan ingin dia ucapkan seketika terbang ke London dan tidak bisa kembali karena tidak memiliki ongkos.


"Ayo Kak! Jangan biarkan Abang kami menunggu. Sambut dia!" Goda Ameng dengan senyum nakal.


"Benar. Ayo Kak! Mengapa malu-malu?" Timpal yang lainnya.


"Kak. Jika kau tidak menghampirinya, maka dia pasti akan merajuk. Orang yang terlalu lama menahan rindu cenderung sangat sensitive dan mudah tersinggung," kali ini giliran Acong yang berbicara.


Mirna tampak merona dan salah tingkah. Dia ingin melangkah mendekat. Namun, kakinya terasa berat untuk diayunkan. Dia ingin berteriak memanggil sambil menghambur kedalam pelukan lelaki itu. Hanya saja suaranya terasa tercekat dan dia pun tidak kuasa untuk melakukannya.


Seolah mengerti perasaan wanita ini, lelaki yang tidak lain adalah Tigor itu segera melangkah menghampiri dirinya, kemudian menyentuh wajah Mirna dengan lembut.

__ADS_1


"Bang!"


Setelah disentuh oleh Tigor, seakan tersadar, Mirna segera berteriak, kemudian menghambur kedalam pelukan Tigor. Sulit membedakan apakah dia saat ini menangis atau tertawa. Dikatakan tertawa, tapi matanya berair. Dikatakan menangis, tapi bibirnya tersenyum mekar.


"Maafkan Mirna. Mirna tidak tau harus berbuat apa. Rasanya seperti mimpi. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat," kilahnya seakan-akan membela diri karena merasa tindakannya tadi adalah sebuah kesalahan.


Tigor mengerti dan tidak menyalahkan istrinya. Sebaliknya, dia membelai lembut rambut lurus Sepinggang milik sang istri.


Lama mereka berpelukan sebelum Tigor akhirnya melepaskan pelukannya, lalu menatap ke arah sepuluh Master antah berantah yang saat ini sedang tersenyum dalam berbagai bentuk senyuman.


"Bang!" Kata mereka lalu bergantian memeluk Tigor.


"Sudah lah. Kalian terlalu pintar berakting. Kalian kalau begini pasti ada maunya," tegur Tigor sembari melepaskan pelukan mereka. Dapat dibayangkan pelukan kasar dari sepuluh orang sekaligus. Bisa bengek dia karena sulit bernafas.


"Kau ini. Apa kau mau mencuri bang Tigor dari kak Mirna? Ngomong sembarangan ngomong," tegur Andra yang langsung disambut oleh mereka dengan menarik rambut Ameng.


Seketika suasana menjadi gaduh di depan pusat tahanan kota Batu tersebut.


Kegaduhan baru mereda ketika seorang dari petugas lapas menegur mereka dari balik pintu kecil yang memiliki jeruji.


"Hei. Apa kalian pikir ini pasar sore. Ayo kita tinggalkan tempat ini!" Ajak Sugeng sembari membukakan pintu mobil BMW i8 modifikasi yang sengaja mereka bawa dari kota Kemuning. Karena sebelumnya, mobil ini adalah mobil kesayangan Tigor. Bukan karena mobil itu adalah mobil sport. Tapi, sejarah mobil itu sangat panjang. Karena, mobil itu sengaja dibeli oleh Martin dari Lalah sebagai hadiah untuk Tigor karena sukses membawa kejayaan bagi organisasi kucing hitam ketika itu. Dimana, organisasi itu sebelumnya sempat seperti mati suri dan selalu diintimidasi oleh geng Tengkorak dari kota batu ini.


Melihat pintu mobil itu dibuka oleh sahabatnya, Tigor tidak menolak. Tapi, sebelum dia memasuki mobil, dia segera mengurungkan niatnya, lalu bertanya. "Kemana Namora? Mengapa aku tidak melihatnya?"

__ADS_1


Sepuluh orang itu saling pandang, kemudian sebagai orang yang paling dekat dengan Namora, Ameng segera menjawab. "saat kita di sini, kemungkinan besar Namora saat ini sedang berperang kata di kantor besar Martins Group,"


Kata-kata jawaban dari Ameng ini membuat Tigor mengernyitkan dahinya.


Tau bahwa Tigor seperti sedang meminta penjelasan, Ameng pun segera memberikan penjelasan secara rinci mengenai para pemegang saham di perusahaan yang meminta Namora untuk menghadiri acara rapat bersama dewan direksi, kemudian membumbui undangan tersebut dengan ancaman.


Bukannya marah atau kesal, ketika mendengar penuturan dari Ameng, Tigor malah tersenyum gembira. Bagaimanapun, sepertinya Tigor sudah memprediksi bahwa hal ini pasti akan terjadi. Justru dia menunggu keputusan dari putranya itu.


"Menurut apa yang kau katakan, sepertinya Namora sekali lagi akan membuat publik gempar," kata Tigor menganalisis apa yang akan dilakukan oleh Namora.


"Aku akan sangat bersyukur kalau-kalau dia tidak memukuli orang. Anak itu terkadang berbuat dulu baru menyesal. Sepertinya yang bekerja lebih dulu adalah tinjunya ketimbang otaknya," sela Ameng dengan raut wajah was-was.


"Hahaha. Apapun keputusan yang akan dia ambil, kita harus mendukungnya. Jika mengharapkan kita, apalah daya kita ini. Bukankah kita lebih nyaman merampok transaksi orang lain daripada disuruh duduk manis di depan meja sambil membaca dan memahami setiap isi dari dokumen?"


"Benar bang. Tapi jika benar ancaman mereka bahwa mereka ingin melikuidasi saham mereka dan memaksa Namora untuk membayar uang investasi mereka di perusahaan dengan dalih tidak ingin lagi menjadi bagian dalam perusahaan, maka Martins Group berada dalam bahaya. Hanya nilai pasar saja yang besar. Sedangkan perusahaan saat ini seperti cangkang kosong yang tidak memiliki banyak anggaran dana untuk pengoperasian. Kita juga tidak berani berhutang kepada Bank," Ameng mengutarakan keraguannya.


"Siapa bilang perusahaan untuk saat ini seperti cangkang kosong? Di kartu Namora saja, ada lebih dari satu triliun rupiah. Dia pasti tau namun berpura-pura tidak tau.


Sebenarnya, untuk melihat dan mengukur kesetiaan orang kepada kita, maka di waktu ini lah tepatnya. Di saat perusahaan sedang mengalami keterpurukan, kau akan mengetahui siapa yang setia, dan siapa yang bermuka dua. Karena, mencari teman tertawa itu sangat mudah. Yang sulit ini, mencari teman untuk sama-sama menangis, itu yang susah. Dengan adanya masalah ini, seolah-olah Tuhan sedang menunjukkan wajah asli mereka kepada kita. Siapa yang benar-benar setia, dan siapa yang munafik dengan menganggap keterpurukan Martins Group adalah sumber rejeki bagi mereka. Manusia tidak berguna seperti mereka cepat atau lambat akan membuat perusahaan diambang krisis. Mereka akan menjadi duri dalam daging Jadi, sebelum perusahaan benar-benar mengalami krisis, lebih baik segera ditindak. Ingat! Orang munafik dan pengkhianat lebih mengerikan daripada musuh yang sesungguhnya. Setidaknya mereka adalah musuh yang harus kita lawan. Sedangkan pengkhianat anak menunggu kesempatan untuk menusuk mu dari belakang tanpa kau sadari. Dikhianati oleh orang sendiri itu sakitnya dua kali lipat daripada disakiti oleh musuh. Dan kita dulu pernah mengalami nasib itu. Karena jika tidak, sudah pasti kita tidak akan meninggalkan kota Tasik Putri dan pindah ke kota Kemuning," kata Tigor panjang lebar.


Mereka hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Tigor. Dalam hati, mereka berdoa agar Namora bisa mengatasi masalah ini dan menendang seluruh pengkhianat itu dari perusahaan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2