
Kriiing..! Kriiing..! Kriiing..! Suara nada dering pada ponsel terdengar memenuhi ruangan khusus yang terdapat di dalam bangunan Dojo di kampung baru.
Saat ini, tiga orang lelaki yang sejak tadi berada di ruangan khusus tersebut sama-sama memusatkan perhatian mereka ke arah handphone di atas meja yang saat ini terus berdering. Mereka yang tidak lain adalah Jhonroy, Sensei dan Takimura memperhatikan ke arah layar handphone, kemudian guru besar di Dojo kampung baru tersebut segera menggeser layar untuk menjawab panggilan setelah tau siapa yang meneleponnya.
"Hallo.., Dudul!" Kata Sensei tersebut begitu menjawab panggilan tadi.
"Sensei.., Celaka!" Terdengar suara gugup di seberang sana membuat firasat ketiga lelaki di ruangan khusus itu menjadi tidak enak.
"Ada apa Dudul? Kau ceritakan kepadaku apa yang terjadi di sana?"
"Sensei. Itu.., Di.., Di.., Diaz. Diaz telah kalah. Bukan saja kalah, dia bahkan disahkan telah meninggal dunia..,"
Prak..!
Belum selesai Dudul menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Sensei, orang tua itu keburu membanting handphone miliknya di atas lantai marmer ruangan khusus tersebut. Matanya mendadak berwarna merah dengan pancaran sorot mata membunuh.
Jhonroy yang mengetahui isi percakapan mereka karena memang loud speaker handphone tadi diaktifkan, menyeringai. Jauh-jauh dia sudah memprediksi bahwa hasilnya akan seperti ini. Hanya saja, menurut dirinya bahwa Sensei ini terlalu percaya diri bahwa Diaz mampu mengalahkan dan membunuh Namora. Kini, apa yang telah dia prediksi benar-benar terjadi. Sehingga, dia mulai berkata, "Sensei.., sekarang kau baru percaya apa yang aku khawatirkan tadi kan?"
Sensei tidak merespon apa yang dikatakan oleh Jhonroy tadi. Kemarahannya benar-benar sudah di ubun-ubun. Kekalahan Diaz ini bukan hanya mengganggu rencananya. Lebih dari itu, Diaz ini adalah murid terbaiknya. Kekalahannya bukan hanya membawa kekalahan bagi sekolah yang dia wakili, melainkan, lebih dari itu, Diaz juga membawa nama Dojo mereka. Reputasi baik yang dia bangun di Dojo ini selama kurang lebih lima tahun ini akan benar-benar tercoreng akibat kekalahan ini.
Ada beberapa kerugian yang jelas baginya. Pertama, murid kesayangannya telah mati. Kedua, Namora gagal di bunuh. Yang ke tiga, nama baik Dojo telah tercemar. Dia bahkan tidak tau bagaimana Dojo mereka kelak akan melanjutkan pelatihan karena ditinggal oleh murid-murid karena sudah tidak percaya lagi terhadap dirinya. Ini lah yang membuat dirinya merasa, sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
"Tuan Jhonroy yang agung. Aku ingin anak itu segera di bunuh. Andai tidak dapat, aku ingin orang-orang yang terdekat dengannya dibunuh duluan. Aku ingin agar dia merasakan seperti apa rasanya kehilangan," suara datar lelaki tua itu terdengar bagaikan mengandung kemarahan yang teramat sangat.
"Sensei. Anda harus menunggu. Mungkin sebentar lagi, anakku dan orang-orangnya akan tiba. Tadi dia mengatakan bahwa dia sudah hampir tiba," jawab Jhonroy dengan serius. Baginya, ini adalah momentum untuk menggunakan tenaga orang lain bagi tujuannya.
Tiba-tiba, Takimura mengatakan sesuatu kepada Sensei.
Sensei mengernyitkan dahinya, kemudian berkata kepada Jhonroy. "Tuan Jhonroy yang agung. Takimura mengatakan bahwa dirinya tidak butuh ramai orang. Dia hanya butuh seseorang yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Hanya itu saja,"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini lah yang diinginkan oleh Jhonroy. Dengan begini, dia bisa cuci tangan ketika sesuatu terjadi terhadap Namora. Andai berhasil menyingkirkan anak itu, siapa yang akan mencurigai dirinya? Dia bahkan bisa melemparkan semua kesalahan kepada Sensei Dojo kampung baru ini. Apa lagi dirinya sangat dihormati oleh masyarakat berkat acting yang dia lakukan selama ini sebagai tokoh masyarakat. Namun, bukan Jhonroy namanya jika tidak pandai bermain kata. Dia seolah-olah tidak setuju dan sedikit menolak karena menganggap bahwa dirinya disepelekan. Akan tetapi, hanya dia yang tau apa yang dia mau.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku percaya dengan kemampuan Takimura. Setelah ini berhasil, maka dia akan meninggalkan negara ini. Saya harap, anda bisa membiayai segala sesuatu yang dia butuhkan," kata Sensei itu.
Mendengar ini, Jhonroy mengangguk tanda bahwa dirinya mengerti. Lalu.., dia segera melangkah meninggalkan ruangan khusus tersebut menuju ke mobilnya. Tak lama kemudian, dia kembali memasuki ruangan tadi dengan sambil menenteng sebuah tas ditangannya.
Kreeeek..! Terdengar suara resleting tas di buka. Dan kini, baik itu Sensei dan Takimura membelalakkan mata mereka begitu mengetahui bahwa di dalam tas yang ditenteng oleh Jhonroy tadi terdapat bergepok-gepok uang berwarna merah dalam jumlah yang banyak.
Sorot mata bangga ditunjukkan oleh Jhonroy. Dia tersenyum main-main sambil berkata. "aku sudah mempersiapkan semuanya sebelum kemari. Uang yang ada di dalam tas ini berjumlah seratus ribu Dollar Amerika. Setelah orang mu ini berhasil membunuh anak itu, nantinya aku akan memberikan bonus kepada mu. Bagaimana?"
"Bagiku, kematian anak itu yang paling utama,"
"Baiklah!" Kata Jhonroy kemudian.
Tak lama kemudian, Teja pun tiba di depan Dojo.
Setelah memberitahukan maksud kedatangannya, murid yang tadi pun mengantar Teja memasuki aula Dojo. Sedangkan lebih dari seratus orang anak buahnya hanya menunggu saja di luar.
"Ayah..," kata Teja menyapa. Kemudian dia membungkukkan badannya memberi penghormatan kepada Sensei.
Senyum mencibir terlihat jelas di bibir Takimura ketika melihat seratusan orang bersiap sedia menunggu perintah.
Takimura pun mendekati Sensei, kemudian berbisik. "Sensei. Lihatlah orang-orang bodoh ini. Betapa memalukan. Hanya untuk memburu anak kelinci, mereka membentuk sepasukan orang-orang. Benar-benar nyali mereka ini membuatku kecewa,"
Teja bukan tidak faham apa yang dikatakan oleh Takimura. Oleh karena dia memahami kata-kata lelaki pendek inilah mengapa wajahnya kini mendadak berubah warna.
"Maaf Tuan. Aku tidak mengenal anda. Akan tetapi, perkataan anda bisa memicu perselisihan diantara kita," tegur Teja tidak senang.
"Apakah menurut mu, orang-orang yang kau bawa ini bisa menggetarkan hatiku? Selembar bulu roma ku pun tidak berdiri," jawab Takimura masih tetap dengan senyuman mengejek.
"Kau..?!" Teja tampak sudah dirasuki oleh kemarahan. Dia melangkah, lalu menunjuk ke arah wajah Takimura, kemudian menggertak. "Tarik ucapan anda, Tuan! Atau anda tidak akan bisa kembali ke negara asal mu!"
Mendengar ini, Takimura maju beberapa langkah. Dari sana dia mendongak ke atas sambil membusungkan dadanya, kemudian tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, tangan kanannya mengelus-elus gagang katana panjang yang terselip di pinggangnya.
__ADS_1
"Menarik kata-kata?" Katanya semakin mencibir. Kemudian..,
Wuzzz...!
Bret...
Bret...!
Secepat kilat dia membalikkan badannya. Kemudian, entah kapan itu terjadi, tiba-tiba saja katana di pinggangnya telah terhunus, kemudian kilatan cahaya keperakan berkelebat membabat ke arah Teja.
Pucat pasi wajah Teja melihat serangan yang tiba-tiba itu. Akan tetapi, sudah sangat terlambat untuk menghindar. Hingga yang bisa dia lakukan hanyalah pasrah kemudian memejamkan matanya.
Keterkejutan bukan hanya dialami oleh Teja yang saat ini sudah sangat dekat dengan kematian. Akan tetapi, Jhonroy yang sudah malang melintang di dunia kekerasan pun terkejut bukan main. Begitu pula dengan anak buahnya.
Bagi Jhonroy, membunuh bukanlah hal yang baru baginya. Sudah tidak terhitung berapa banyak jumlah orang yang dibunuh olehnya. Namun, itu adalah orang lain. Ketika dihadapkan dengan anggota keluarganya sendiri, dia menjadi sangat ketakutan.
Teja yang tadi merasa bahwa nyawanya satu inci lagi meninggalkan tubuhnya perlahan membuka matanya. Kini, dia melihat bahwa Takimura berdiri dihadapannya. Namun, entah kapan, katana panjang miliknya sudah tersarung kembali ke dalam warangka nya.
"Kau..?!" Teja yang sudah bisa menguasai diri segera hendak mendamprat. Akan tetapi, ketika dia menggerakkan badannya, satu persatu pakaian yang dia pakai luruh dengan potongan-potongan kecil. Bahkan, kancing celananya kini telah terlepas dan melorot ke bawah.
Melihat keadaan dirinya, barulah Teja tau. Jika Takimura ingin membunuhnya, dia pasti sudah mati sejak tadi.
Melihat keadaannya saat ini saja, dapat dibayangkan betapa mengerikannya keahlian pedang yang dimiliki oleh Takimura.
Sambil menutup auratnya yang nyaris telanjang, Teja mundur beberapa langkah, kemudian segera meminta maaf.
Sensei yang melihat keadaan sangat kaku segera melambaikan tangannya, kemudian dia berkata untuk mendamaikan mereka. "Ah.., sudahlah. Kita adalah teman. Mengapa begitu perhitungan. Ingat tujuan utama kita!"
Jhonroy pun memaksa senyuman di bibirnya. Dia mengangguk perlahan, kemudian berkata. "Ganti pakaian mu, kemudian ikuti Takimura! Hanya kalian berdua saja. Sisanya, suruh mereka kembali ke kota L!"
Teja tidak berani lagi banyak bicara. Dia segera mengangguk, kemudian berjalan menuju ke arah mobilnya sambil menutupi bagian depan dengan satu tangan, lalu menutup bagian pantatnya dengan sebelah tangan lainnya.
__ADS_1
Bersambung...