
Berita tentang Rendra serta keempat orang suruhannya yang babak belur dihajar oleh Namora kembali menuai sensasi baru.
Tidak terkecuali Diaz, baginya ini adalah pesan tegas dari Namora bahwa dirinya tidak boleh memandang Namora dengan sebelah mata.
Namora mampu mengajar enam orang sekaligus, yang menandakan bahwa dia bukanlah seekor ayam sayur yang bisa ditindas sesuka hati. Tapi walau demikian, tetap saja Diaz seakan tidak percaya bagaimana Namora bisa memiliki kemampuan seperti itu.
Dengan menahan perasaan yang tidak menentu, akhirnya Diaz beserta ketiga sahabatnya yang lain memutuskan untuk melakukan pertemuan sekaligus melihat seperti apa keadaan Rendra kali ini.
Singgah sebentar di kafe milik Dhani, mereka pun langsung berangkat ke rumah Rendra.
Kali ini, di rumah Rendra sudah banyak orang yang berkunjung. Dan mereka adalah kerabat dekat.
Seorang lelaki kurus namun memiliki wajah galak berulang kali melakukan panggilan telepon. Ketika Dhani melihat lelaki itu, dia segera mengulurkan tangannya dengan Hormat, lalu berkata, "Paman Willi. Anda di sini juga?"
Lelaki tadi menyipitkan matanya, lalu segera tersenyum sambil menepuk pundak Dhani. "kau Dhani kan? Sudah besar kau sekarang. Bagaimana kabar Ayah mu?" Tanya Paman Willi ramah.
"Ayah ku baik-baik saja, Paman. Sekarang dia sedang melakukan negosiasi untuk proyek maintenance lapangan golf," jawab Dhani dengan ramah pula.
"Dhani. Apa kau tau siapa orang yang telah memukuli anak kakak ku?" Tanya Willi. Rendra ini adalah keponakan Willi. Dan Willi ini adalah orang yang pernah bentrok dengan Kenza yang dibantu oleh Namora ketika di Aula Fighter Club' beberapa waktu yang lalu.
Dhani mengangguk perlahan, lalu menceritakan semua yang dia ketahui tentang Namora.
Willi mendengarkan dengan seksama, kemudian melakukan panggilan telepon kepada seseorang. Setelahnya, tampak dua orang lelaki berbadan tegap penuh tatto menghampiri dirinya, kemudian dengan hormat bertanya. "Tuan Willi, apa yang bisa kami lakukan?"
"Cari anak ini. Bereskan dengan segera!"
Dua orang itu mengangguk, lalu melangkah keluar untuk menyelesaikannya pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Bagi mereka, ini bukan pekerjaan yang sulit. Namora hanya anak-anak. Sekali kipas pasti terbang.
"Paman. Aku mau Namora ini hidup-hidup! Aku ingin menghajar Namora ini dengan tanganku sendiri," Rendra yang wajahnya sudah bengkak seperti baru saja disengat tawon berbicara dengan suara yang tidak jelas. Karena, bukan hanya wajahnya yang bengkak, tapi gusi dan beberapa giginya juga bengkak dan goyang.
"Ya. Kau akan mendapatkannya!" Willi berjanji kepada keponakannya itu.
Rendra berusaha tersenyum walaupun senyumannya itu seperti orang kebelet nganu.
*********
Sementara itu, di sekolah, Namora terus saja berusaha untuk mengajak Merisda agar berbaikan. Tapi, sekuat apapun usaha yang dia lakukan, tetap saja Merisda tidak menggubris. Bahkan, kata-kata dari Merisda berulang kali menyakitkan hatinya.
__ADS_1
Tepat ketika dia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa untuk menghadapi Merisda, kini dari arah depan sekolah, berhenti satu unit mobil. Dari dalam, tampak seorang lelaki keluar dari mobil tersebut, kemudian mencari keberadaan Namora.
Setelah bertanya kepada beberapa murid, akhirnya mereka mengetahui bahwa Namora sedang duduk sendirian di samping kantin.
Merasakan ada seseorang mendekat kearahnya, Namora segera menoleh. Dia sedikit mengernyitkan dahinya karena tidak mengenal orang ini.
"Kau yang bernama Namora?" Tanya lelaki tadi.
"Benar bang. Abang ini siapa?" Namora bertanya karena dia penasaran dari mana orang yang tidak dia kenal ini bisa tau dirinya.
"Ikuti aku!" Ajak lelaki tadi tanpa menjawab pertanyaan Namora.
"Ikut? Kemana bang?" Namora merasa heran, mengapa tiba-tiba lelaki itu menyuruh dia untuk mengikuti.
"Ikut saja! Mau cara baik-baik, atau aku paksa?" Lelaki itu menunjukkan keseriusan pada tatapannya.
Namora sudah menduga bahwa ini tidak baik. Namun, dia sama sekali tidak gugup. Sedikitpun tidak ada perasaan takut pada wajahnya.
Namora menyusul langkah lelaki tadi dari belakang. Dia kini tau bahwa lelaki tadi menuju ke arah sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah.
Namora tidak bertanya. Dia langsung memasuki mobil itu.
Di dalam, Namora melihat ada seorang lelaki lagi telah menunggu dan begitu mereka memasuki mobil, lelaki tadi langsung tancap gas menuju ke arah bangunan sepi.
Begitu mobil memasuki kawasan bangunan yang sepi itu, kedua lelaki tadi langsung keluar, kemudian membuka pintu dan menarik Namora dengan paksa.
Set..!
Kedua lelaki itu mengeluarkan pisau ditangannya, lalu mengacungkan pisau tersebut ke arah Namora.
"Ada apa ini bang?" Namora terlihat sangat heran melihat kedua lelaki itu tiba-tiba menodongkan pisau kearahnya.
"Kau telah memukuli keponakan Tuan Willi. Tuan Willi telah meminta kepada kami untuk membereskan mu!"
Tidak banyak bicara lagi, lelaki tadi langsung mengayunkan pisau dengan niat hendak menusuk ke arah ulu hati Namora. Namun, yang tidak dia sangka adalah, Namora telah menghindar, bahkan sempat mengirim tendangan telak mengenai pada lelaki itu.
Plak!
__ADS_1
Kaget bercampur sakit membuat lelaki tadi mendengus kesal.
"Punya kemampuan juga kau hah?"
Seolah tidak ingin membuang waktu, mereka berdua langsung menyergap Namora. Tapi sekali lagi Namora menghindar. Bahkan kini sembari menghindar, dia menggenggam pasir yang terdapat di area tersebut.
Wuzz!
Begitu kedua orang tadi berbalik dan akan menyerang sekali lagi, tiba-tiba Namora melemparkan pasir yang ada digenggaman tangannya, dan tepat mengenai mata kedua lelaki itu.
"Aduh mataku!" Teriak lelaki itu dengan panik.
Kesempatan itu benar-benar tidak di sia-siakan oleh Namora.
Bagaimana dia bisa membiarkan orang-orang yang berusaha untuk membunuh dirinya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Namora segera menghajar kedua lelaki yang sudah tidak dapat melihat itu dengan membabi buta. Akibatnya, satu persatu mereka tersungkur dengan wajah memar.
"Bang. Aku mau ngasih tau, kalau Abang salah sasaran. Sekarang Abang akan berurusan dengan orang-orang ku. Setelah itu, Abang akan lihat seperti apa aku menindaklanjuti Willi ini. Tunggu saja!"
Namora mengeluarkan handphone miliknya, lalu memotret kedua lelaki yang mengenaskan itu. Tidak lupa dia merekam video pengakuan dari kedua lelaki itu, bahwa Willi lah yang menyuruh mereka untuk melakukan perbuatan tersebut.
Namora ingat kepada empat orang yang kemarin memberikannya kartu kredit. Dia lalu mengeluarkan kartu nama yang diberikan oleh lelaki kemarin, kemudian melakukan panggilan.
"Tuan muda. Apakah ada sesuatu yang bisa kami lakukan untuk anda?" Tanya orang di seberang sana.
"Ya. Kalian datang ke kawasan bangunan Delta! Ada dua orang yang berusaha untuk membunuh ku!"
Mendengar kata-kata dari Namora ini, terdengar suara terkejut dari seberang sana. Lalu, tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung bergegas menuju ke alamat yang diberikan oleh Namora.
Sepuluh menit, lima unit kendaraan tiba, kemudian tampak hampir dua puluh orang keluar dari dalam mobil. Mereka berlari terburu-buru menghampiri Namora.
"Tuan muda. Apakah anda tidak apa-apa?" Tanya salah seorang yang tampaknya adalah pemimpin dari orang-orang tersebut.
Namora menggeleng, kemudian menunjuk ke arah dua orang lelaki yang sedang sekarat. "Urus dia!" Setelah berkata seperti itu, Namora segera meninggalkan tempat kejadian untuk kembali ke sekolah.
Bersambung...
__ADS_1