Namora

Namora
Namora Jagoan


__ADS_3

Bruuuuuum...!


Yamaha R25 melesat kencang dari gerbang sekolah yang ketika itu sudah nyaris ditutup oleh pak Satpam menuju tempat parkir. Pak Satpam melompat seperti cheetah secara refleks ketika nyaris saja disambar oleh sepeda motor tersebut. Hal ini membuat pak Satpam menyumpah dengan berbagai kata-kata bijak bermutiara berhamburan dari bibirnya.


"Gila kau!" Kata pemuda yang berada di boncengan sambil menepuk helm pemuda yang membonceng.


"Turun!" Kata pemuda di depan sambil melepaskan helm nya.


"Gila kau ya? Kalau pak satpam tadi ketabrak, kelar karir kita di sekolah ini," marah pemuda yang tidak lain adalah Namora.


"Apa kau mau kita tidak bisa masuk? Kalau kita telat, kau yang aku cakar. Gara-gara kau aku jadi ikut-ikutan terlambat. Menelepon ketika kambing berkokok. Kenapa gak pukul dua belas aja sekalian berangkat ke sekolah?!" Balas pemuda yang tidak lain adalah Jol. Dia masih kesal karena Namora meminta di jemput, padahal waktu tinggal setengah jam lagi untuk memulai pelajaran. Dia yang sudah berada di sekolah terpaksa harus keluar lagi, dan berangkat ke bukit batu untuk menjemput sahabatnya itu.


"Oh. Jadi, sekarang kau perhitungan sama aku?" Namora acuh tak acuh menjawab sembari menarik buku tulis yang terselip di pinggang Jol.


"Taik kucing. Untuk apa lagi aku perhitungan?" Jol ingin menampar tangan Namora yang menyambar buku miliknya. Tapi Namora keburu menghindar. "hei. Untuk apa buku ku itu? Jangan nyontek kau ya! Ku adukan sama Bu Mirna,"


"Diam lah. Mulut mu bau amis," cibir Namora sembari menggulung buku tersebut menjadi bulat panjang. Lalu dia melangkah ke arah seorang pemuda yang tampak sedang asyik ngobrol. Kemudian...,


Plak..!


"Bangsat!" Maki pemuda itu kaget.


"Apa?" Tanya Namora menantang sambil membelalakkan matanya.


"Kau jangan keterlaluan, Namora!"


"Aku keterlaluan? Aku baru beberapa kali memperlakukan mu dengan keterlaluan. Kau, empat tahun memperlakukan ku secara keterlaluan. Tak senang kau rupanya?" Namora berjalan mendekati pemuda yang tidak lain adalah Rendra, kemudian ingin memukul kepalanya sekali lagi dengan buku tadi.


"Hei..," Rendra menutup kepalanya dengan kedua tangannya, kemudian sedikit membungkuk untuk menghindar.


Plak..!


"Bodoh kau!" Maki Namora sembari melemparkan buku tersebut ke arah Jol. "Ambil buku busuk mu itu!" Katanya kemudian, lalu menunjuk ke arah Rendra. "Aku tidak ingin melihatmu lagi di sekolah ini. Karena, setiap kali aku melihatmu, ketika itu pula lah tangan ku gatal. Jika kau tidak ingin mendapatkan masalah, segera pindah sekolah saja. Atau kau akan ku buat geger otak," ancamannya kepada Rendra.


"Sudahlah. Ayo ke kelas!" Ajak Jol sambil menarik tangan Namora.

__ADS_1


"Bagaimana? Pantas jadi preman sekolah?" Tanya Namora kepada Jol.


Nada pertanyaan ini sangat lucu. Tapi ekspresi nya yang datar itu membuat Jol sangat jengkel.


"Kendor kan dikit wajah robot sialan mu itu. Atau ku Jambak bulu hidung mu?!" Maki Jol merasa tidak senang dengan ekspresi wajah Namora. Dia tidak dapat menilai apakah Namora sedang sedih, gembira atau marah karena wajahnya yang seperti tidak memiliki urat syaraf.


"Alah. Ayo lah!" Ajak Namora sambil menarik lengan baju Jol.


"Woy Mora. Mengapa kau berubah menjadi tukang Bully sekarang hah?"


"Aku juga tidak tau. Tapi setiap kali aku melihat wajahnya, aku akan ingat seperti apa dulu mereka memperlakukan ku. Aku tidak bisa mengulang kembali waktu. Andai aku bisa mengundurkan waktu, aku tidak ingin menjadi orang pecundang. Tapi itu sudah berlalu. Aku kesal. Karena itu lah dia harus membayar mahal atas apa yang dulu dia lakukan kepadaku,"


"Sudahlah. Ayo kita ke kelas. Apa kau mau dihukum lagi sama guru?"


"Ayo!"


Mereka berdua segera berjalan memasuki kelas.


Tiba di kelas, Namora merasa lega karena guru belum masuk. Kemudian dia melangkah ke arah lemari untuk mengambil tas miliknya.


Namora mengambil rol penggaris papan, kemudian mulai mengait tali tasnya, dan menangkap tas tersebut kemudian berjalan ke arah meja.


Sesampainya di meja, dia tidak langsung duduk, melainkan membuka tasnya, lalu menghitung apakah ada yang kurang.


Setelah selesai memeriksa isi tasnya, dia mengangguk kemudian dia menatap ke arah semua orang. "Kali ini kalian beruntung karena tidak satupun dari barang-barang ku hilang. Jika tidak, aku akan mencap kalian semua sebagai pencuri. Tentunya kecuali Jol. Setelah itu, aku akan berurusan dengan kalian. Satu jari telunjuk kalian akan aku patahkan. Jangan berani-berani mencari perkara dengan ku. Aku ini juara pencak silat," katanya dengan kesombongan yang sangat menjengkelkan. Tapi apa mau dikata. Mereka pasti tidak bisa melawan Namora yang sudah terbukti kemampuan beladiri yang dia kuasai.


Bisik-bisik diantara mereka mulai terjadi. Tapi bisikan hanya sekedar bisikan. Andai bisikan bisa membuat Namora berpanu, mungkin seluruh tubuh Namora sudah tumbuh panu akibat bisikan dari orang-orang satu kelas itu.


Keheningan.


Begitu guru tergalak memasuki ruangan, suasana di dalam kelas segera sunyi-senyap. Tidak ada yang berani berkutik seolah-olah suara mereka direnggut dengan paksa oleh malaikat maut.


Bu guru menatap ke arah tempat duduk Namora. Kemudian dia mengangguk puas ketika melihat murid bengal itu ada di sana.


"Mora. Kemana kau semalam?" Tanya Bu Maudy. Dia bertanya karena melihat Namora memposting foto dirinya yang akan berangkat ke kota Kemuning melalui akun media sosial miliknya. Bukan foto itu sebenarnya yang membuat perhatian Bu Maudy tertarik. Akan tetapi, caption nya.

__ADS_1


"Saya ke kota Kemuning Bu," jawab Namora singkat.


"Ada apa kau ke kota Kemuning? Ingat! Sebentar lagi akan berlangsung ujian. Jika kau tidak belajar dengan bersungguh-sungguh, nilai mu akan anjlok. Kau tau apa konsekuensinya apabila nilai mu buruk?" Tanya Bu Maudy dengan tegas.


"Tau Bu,"


"Bagus!" Katanya. Kemudian dia melanjutkan pelajaran.


Namora tidak menyangka bahwa postingannya di Facebook akan menarik perhatian dari Bu Maudy. Dengan begitu, dia mengeluarkan handphone miliknya, lalu membuka Facebook untuk melihat.


"Wow. Apakah ini nyata?" Tanya Namora dalam hati. Dia kaget ketika melihat bahwa sampai saat ini, foto yang dia unggah sudah mendapat hampir seribu like dan ratusan komentar.


Wajar Namora heran. Karena selama ini, paling banyak postingannya akan mendapatkan sepuluh tanggapan saja. Itupun dari Jol, serta orang-orang terdekat seperti Ameng, Udin dan beberapa orang lainnya. Tapi sekarang sepertinya dia benar-benar menjadi selebriti.


Namora biasanya akan mengunggah foto atau story' di FB, kemudian tidak mau melihatnya lagi. Baginya, dia hanya menyimpan untuk suatu saat bisa dia lihat kembali sebagai kenang-kenangan. Makanya dia sedikit merasa itu adalah kejutan. Bahkan Bu Maudy pun sekarang memperhatikan akun Facebook miliknya.


Wuzzz...!


Plok...


Namora kaget ketika kapur tulis melesat dan mengenai meja, kemudian memantul ke wajahnya.


Namora segera mengangkat kepalanya menatap ke arah Bu Maudy yang memelototi dirinya.


"Perhatikan penjelasan ku, atau kau akan berdiri lagi!" Kata Bu Maudy memperingatkan dengan nada marah.


"Hahaha..," orang-orang tertawa melihat kesialan Namora yang dimarahi oleh guru. Tapi tawa itu langsung hilang ketika Namora memalingkan wajahnya ke arah suara tawa tadi.


"Mau ini?" Tanya Namora sambil mengacungkan tinjunya.


"Perhatikan apa yang saya jelaskan. Namoraaaaaaa...!"


Bu Maudy menjerit melengking membuat seluruh siswa menutup kedua kuping mereka secara bersamaan.


"Iy.., iya. Iya Bu!" Kata Namora sembari meluruskan punggung nya. Handphonenya terjatuh dilantai pun dia tidak berani memungutnya. Dia takut kapur tulis akan terbang lagi tanpa sayap kearahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2