Namora

Namora
Rombongan sampai di Dolok ginjang


__ADS_3

Dua unit bus yang membawa rombongan guru-guru serta para siswa dari SMA negeri Tunas Bangsa baru saja tiba di SMA Taruna Dolok ginjang.


Di area parkir, sudah ada banyak bus dan kendaraan lainnya sudah terparkir.


Dari dalam bus, Namora mengayunkan langkah kakinya menuruni tangga bus. Dan ketika dia berada di luar, dia melihat bus dari SMA negeri Kampung baru sudah terparkir lebih dahulu di sana.


Namora hanya acuh tak acuh melihat ke arah bus yang membawa rombongan dari SMA negeri Kampung baru. Kini, Namora memperhatikan ke sekelilingnya dan sedikit mengernyitkan dahi ketika melihat dua orang pemuda yang sebaya dengannya sedang berjalan dengan wajah yang satunya cuek, dan yang satunya lagi masam.


Namora mengenali kedua orang itu yang tidak lain adalah Udin dan Hendro dari SMA Indra Sakti. Tepat ketika dia hendak melangkah pergi, tiba-tiba Hendro dan Udin melihat Namora dan segera memanggil namanya. Hal itu juga bertepatan dengan Jol, Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio, dan Jufran juga sedang berjalan menghampiri dirinya.


Namora tidak bisa menghindar lagi karena sudah terlanjur terlihat oleh mereka. Dia hanya bisa menunggu karena dia dan Udin memiliki hubungan yang sangat baik.


"Kau di sini Namora. Aku mendengar bahwa kau mengikuti turnamen itu ya? Tinggi sekali rasa percaya diri yang kau miliki," begitu Hendro tiba, dia sudah berbicara dengan nada mengejek.


"Jaga mulutmu itu, Hendro! Sering kali orang celaka karena tidak dapat mengendalikan mulutnya," tegur Udin kepada Hendro. Dia sudah cukup muak dengan Hendro ini. Hal ini karena, seharusnya dia akan berangkat bersama dengan Joe ke Dolok ginjang ini untuk menonton acara turnamen. Akan tetapi, gara-gara Hendro yang melarang dan terus mengasari Joe, akhirnya Joe batal ikut. Ini yang membuat wajah Udin masam sepanjang jalan.


Namora menatap wajah Hendro dengan tatapan dingin. Setelah itu, dia segera berkata. "Rupanya pelajaran yang aku berikan kepada mu masih belum cukup untuk menginsyafkan mu. Apa kau ingin agar aku membuatmu sama sekali tidak berguna di masa depan?"


Kata-kata yang keluar dari mulut Namora mengejutkan Jericho, Juned, Jaiz dan yang lainnya. Ini karena, mereka tau siapa Hendro dan Udin. Ayah kedua orang ini adalah petinggi dan sahabat ketua dari Dragon Empire cabang kota Kemuning. Belum ada yang berani menegur kedua anak ini, terutama Hendro dengan cara yang dilakukan oleh Namora tadi.


Mendengar teguran keras dari Namora, Hendro yang memang sudah merasakan tindak balas dari Namora mendadak pucat. Dia memang memiliki status tinggi diantara anak muda lainnya. Akan tetapi, status yang dia miliki tidak cukup tinggi untuk Namora berdasarkan latar belakang yang dimiliki oleh putra Tigor ini.


Namora bisa dengan sangat mudah untuk menghancurkan masa depan Hendro hanya dengan satu kalimat saja.

__ADS_1


Selesai berkata seperti itu, Namora segera memutar tubuhnya, kemudian meninggalkan mereka di sana yang masih terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Namora? Mengapa dia berani sekali menyenggol Hendro ini?" Pikir Jericho dalam hatinya. Dia sangat ingin tau. Akan tetapi, karena memikirkan temperamen Hendro yang sangat angkuh dan kasar, dia hanya menunggu dan mungkin akan bertanya kepada Udin.


Benar saja. Ketika dia memiliki kesempatan, dia segera bertanya kepada Udin tentang maksud dari perkataan Namora tadi.


Udin, yang memang terkenal dengan sosoknya dan sikapnya yang rendah hati segera memberitahukan kepada mereka siapa sebenarnya Namora itu. Dan, ketika Jericho dan yang lainnya kecuali Jol, mendengar penjelasan dari Udin, keenam anak-anak J7 itu mendadak pucat. Kini, barulah mereka tau betapa berkuasanya Namora. Hanya saja, pikiran mereka sama sekali tidak menduga bahwa yang dikatakan anak Narapidana itu adalah Tigor.


Jericho benar-benar merasakan campur aduk dalam hatinya. Ada bayangan ketika kejadian waktu menghadiri acara ulang tahun Merisda. Ketika itu, dia mengabaikan Namora dan tidak membelanya sehingga Namora tersinggung dan langsung menjaga jarak dengan dirinya.


*********


Di dalam aula besar, kini tampak telah ramai dan seluruh kursi di ruangan tersebut telah terisi penuh oleh para hadirin.


Ada tiga kategori bagi yang tempat yang disediakan. Kategori pertama adalah para peserta yang ikut ambil bagian dalam turnamen ini. Kursi mereka berada di sebelah gelanggang. Sedangkan kategori ke dua adalah kursi bagi para dewan juri dan guru. Untuk juri, mereka duduk di barisan kursi paling depan di atas gelanggang besar di aula tersebut. Sedangkan kursi untuk tamu baik itu orang awam, wali murid dan murid itu sendiri, berada di bawah mengelilingi panggung gelanggang.


Terlihat beberapa wakil dari setiap sekolah termasuk Namora dan Diaz juga berada di sana.


Masing-masing sekolah mengirim dua wakil mereka untuk menyertai kompetisi ini. Namun tidak bagi SMA negeri Tunas Bangsa dan SMA negeri Kampung baru. Karena tidak ada yang mau ambil bagian, maka hanya Namora sendirian yang menjadi wakil. Sedangkan SMA negeri Kampung baru, karena Rudi telah dilimpahkan oleh Namora, maka hanya Diaz lah yang menjadi sakit satu-satunya dari sekolah tersebut.


Api permusuhan terpancar dari sorot mata Diaz ketika melirik ke arah paling pinggir dari barisan kursi dimana Namora duduk.


Tangannya terkepal dan berulang kali menarik nafas untuk meredam kemarahannya.

__ADS_1


Sementara itu, Namora yang tau bahwa semua orang tidak mengidolakan dirinya hanya bisa tersenyum canggung. Dia tau saat ini semua murid dan para guru sedang mencemooh dirinya.


Tidak heran dirinya tidak diunggulkan. Ini karena dia memang tidak pernah bertanding sebelumnya. Bahkan, jika mengikut rekam jejaknya pun, Namora justru sama sekali tidak pernah belajar ilmu beladiri. Tidak ada yang tau siapa gurunya, dan di padepokan mana dia belajar.


"Pak Bakri. Apakah bapak tega melihat murid bapak menjadi santapan murid ku nanti? Lihatlah wajah tampan yang dia miliki, serta keluguannya. Dia sama sekali tidak terlihat mengesankan. Kulitnya sangat halus dan begitu lemah lembut," ejek salah satu guru olahraga dari SMA Indra Sakti.


Merah padam wajah pak Bakri mendengar ejekan dari rekan sejawatnya dari SMA Indra Sakti tersebut. Jika tidak karena formalitas, dia tidak akan sudi untuk datang menghadiri acara ini. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Biasanya dia selalu membusungkan dada karena berhasil mempertahankan kejuaraan tiga kali berturut-turut. Tapi kali ini, sepertinya roda telah berputar dan kejayaan SMA negeri Tunas Bangsa akan berakhir pada tahun ini.


"Kemana wajahku ini akan aku sembunyikan?" Rintihannya dalam hati. Dia lalu menatap penuh kebencian kearah Namora yang duduk menyendiri karena tidak dianggap oleh peserta lainnya.


Sementara para guru saling mengolok-olok ke arah Pak Bakri, Bu Maudi dan para guru dari SMA negeri Tunas Bangsa, Hendro, Udin dan anak-anak J7 kecuali Jol, juga terlihat menatap ke arah Namora.


Hendro, yang tadi diawal-awal pertemuan mereka sudah di tegur oleh Namora segera berkata dengan maksud memberikan analisisnya. "Jericho. Aku khawatir kalau turnamen kali ini hanya mengisi kuota yang kosong saja bagi SMA negeri Tunas Bangsa mu. Yang aku khawatirkan adalah, kau sudah mengetahui identitas Namora kan? Aku khawatir bahwa jika Namora digebuki, kita pasti berada dalam masalah oleh Paman Ameng. Ketika dia mengetahui bahwa aku dan kau tidak membantu Namora, apakah kau dan aku serta Udin akan selamat dari hukuman yang akan dia berikan nanti?"


"Jaga mulut mu itu Hendro!" Tegur Udin yang memang sudah sangat jengkel dengan Udin karena melarang Joe untuk ikut.


"Memangnya kenapa? Aku berbicara apa adanya. Paman Ameng pasti akan menghukum kita,"


"Apa kau kira pemikiran Paman Ameng sama piciknya dengan mu? Pertandingan ini resmi dan telah disetujui oleh orang tua masing-masing peserta. Apa kau kira pikiran Paman Ameng itu seperti pikiran dangkal mu? Aku tau kemana arah dari perkataan mu itu. Kau meragukan Namora kan? Atau kau iri? Setidaknya, kalah atau menang, Namora berani tampil dan menjawab tantangan. Tidak seperti kau. Apa-apa semuanya hanya mengandalkan Paman Andra. Andai tidak ada Paman Andra, kau bukan siapa-siapa!" Marah Udin yang langsung membungkam mulut Hendro.


"Kau. Mengapa kau selalu berseberangan dengan ku hah?" Bentak Hendro kepada Udin.


"Aku memang tidak menyukaimu. Angkuh tidak pada tempatnya. Entah apa yang kau sombong kan. Gara-gara kau, aku jadi ikut terbuang ke Indra Sakti. Masih juga sombong. Jangan terlalu tinggi memelihara kesombongan itu! Nanti kalau jatuh, rasanya sakit!" Sedikitpun Udin tidak berniat untuk memberi wajah kepada Hendro.

__ADS_1


Hendro membelalakkan matanya menatap Udin. Andai itu bukan Udin, sudah pasti dia akan meninju wajahnya. Akan tetapi dia sadar bahwa Udin adalah Putra Jabat. Status mereka sama. Andaikata terjadi perkelahian antara dirinya dengan Udin, dia juga belum tentu bisa menang.


Bersambung...


__ADS_2