
Kobaran api disertai dengan kepulan asap membumbung tinggi ke udara ketika puluhan mobil BMW dan Mercedez baru saja tiba di lokasi kejadian.
Ratusan lelaki berpakaian hitam keluar dari mobil mengikuti lelaki paruh baya yang keluar dari mobil, kemudian setengah berlari menghampiri satu unit mobil BMW yang saat ini sedang terbakar.
"Zack..!" Pekik lelaki paruh baya itu ketika dia membalikkan badan Zack yang menelungkup di jalan dengan kepala pecah dan terus mengeluarkan darah.
"Bang Ameng. Kita terlambat," kata seorang lelaki yang berdiri dibelakangnya.
"Ambulance. Panggil ambulance segera!" Perintah Ameng kepada lelaki tadi.
Tiga puluh menit kemudian, terdengar bunyi sirine diikuti dua unit mobil Ambulance berhenti di tempat kejadian bersama dengan mobil patroli polisi.
Kini, anggota kepolisian segera menyegel kawasan itu dengan cepat, mengambil beberapa foto dan langsung mengizinkan pihak rumah sakit agar segera membawa korban ke rumah sakit untuk melakukan otopsi.
"Bang," sapa seorang kapten polisi kepada Ameng.
"Sadis sekali. Mereka akan membayar semua ini sepuluh kali lipat," kata Ameng mengepalkan tinjunya.
"Mana Namora?" Tanya kapten tersebut.
"Seharusnya Namora saat ini masih berada di Dolok ginjang. Rio.., atur pertemuan antara aku dengan bang Tigor. Hal ini harus dirundingkan dengan segera. Bagaimanapun, rencana ku dengan bang Tigor kalah satu langkah dengan musuh,"
"Apa Abang yakin kalau ini adalah perbuatan dari Jhonroy?" Tanya Rio.
"Sebelumnya, Zack telah menelepon ku. Aku mendengar jelas perdebatan antara mereka di telepon. Yang pasti, kejadian ini adalah ulah dari Teja, anak lelaki tertua Jhonroy,"
"Sulit. Sepertinya handphone milik Zack ikut terbakar,"
"Aku tidak begitu berharap kau menemukan bukti, ini adalah peperangan antara dua kekuatan. Jika polisi menemukan bukti, dengan kekuatan dan pengaruh Jhonroy, apa yang bisa dilakukan oleh pihak kepolisian? Mereka akan masuk dari pintu depan, keluar dari pintu belakang,"
"Bang. Polisi juga harus mengerjakan tugasnya dengan baik,"
"Baiklah. Lakukan tugas mu, dan kami juga akan melakukan tugas kami menurut keadaan," kata Ameng mengalah. Di mulutnya dia berkata seperti itu, akan tetapi, apa yang ada di dalam hatinya sangat berbeda. Dia yang sudah malang melintang di dunia hitam ini tau apa yang harus mereka lakukan andai batas-batas itu dilanggar oleh lawan.
Jalan yang menghubungkan antara gang Kumuh dan kota Batu itu kini mendadak menjadi ramai.
__ADS_1
Saat ini, para personel kepolisian sedang sibuk menyelidiki tempat kejadian guna mengumpulkan bukti. Mereka harus menjelaskan ke publik apa motif dari kejadian ini.
Bagaikan gula yang menarik perhatian semut, para wartawan dari berbagai media pun langsung berdatangan dan kini, mulai mewawancarai AKBP Rio Habonaran tentang kejadian tersebut. Namun, Rio masih belum bisa menyimpulkan kejadian ini. Dia hanya berspekulasi bahwa kejadian ini kemungkinan adalah bentrok antara dua gengster.
Memang, kejadian ini tidak bisa dikatakan sebagai kecelakaan lalulintas, karena melihat dari keadaan.
Tiga orang mendapat luka dari senjata tajam, sedangkan yang seorang lagi, dengan kepala pecah. Sama sekali tidak bisa dikatakan kecelakaan lalulintas. Maka dari itu, AKBP Rio Habonaran masih belum bisa membuat kesimpulan dan hanya bisa menjawab pertanyaan dari wartawan bahwa pihak kepolisian masih mendalami dan mempelajari kasus ini.
"Apakah kalian sudah mengumpulkan bukti?" Tanya Rio kepada bawahannya.
"Siap! Sudah, komandan!"
"Ambil semua rekaman cctv di jalan. Perhatikan kendaraan yang melintas ke arah ini dalam kurun waktu satu jam!"
"Siap, Komandan!"
*********
Bandara internasional Kuala Namu
Begitu landing, dan pesawat telah berhenti sepenuhnya, kelihatan para penumpang yang berbaris dengan tertib menunggu giliran untuk keluar meninggalkan pesawat.
Sementara itu, dua orang lelaki warga asing mengenakan pakaian Blazer coklat dan biru navy melangkah dengan santai meninggalkan pesawat menuju ke ruang pemeriksaan.
Setelah melewati proses pemeriksaan, kedua lelaki bertubuh tegap layaknya seorang tentara itu berjalan menuju keluar dari bandara. Sepertinya, tidak ada yang menjemput mereka. Ini dapat dilihat dari cara mereka berjalan menuju ke arah beberapa kendaraan umum.
Setelah menegosiasikan tujuan dan harga, maka sopir taxi itu sepakat dan bergegas mengantar kedua orang asing itu meninggalkan area bandara. Tujuan mereka jelas adalah kota Kemuning.
"Ternyata seperti ini Sumatera Utara," gumam lelaki berpakaian coklat sembari menatap ke arah kaca mobil, memperhatikan kelap-kelip lampu baik itu dari gedung-gedung maupun lampu kendaraan yang sama-sama menggunakan jalan raya yang sama.
"Pak. Apakah kota Kemuning itu masih jauh?" Tanya seorang lagi lelaki berpakaian blazer biru navy tanpa mengabaikan gumaman teman disampingnya.
"Lumayan, Tuan. Sekitar 4 jam perjalanan," jawab pak supir taksi tadi.
"Oh," gumam lelaki yang bertanya tadi, kemudian dia bersandar untuk mengistirahatkan tubuhnya.
__ADS_1
"Eagle. Apa yang kau perhatikan?" Tanya lelaki yang bersandar tadi.
"Gedung-gedung yang tinggi," jawab lelaki yang disebut Eagle tadi, lalu bergumam sendiri. "Kota yang cukup besar walaupun tidak banyak bangunan pencakar langit. Kota ini tidak seperti yang aku bayangkan. Tampaknya sangat aman dipermukaan,"
"Tidak ada tempat yang benar-benar aman. Justru, air yang terlihat tenang itulah yang menyimpan ikan-ikan predator. Jika semua tempat aman, orang-orang kaya yang memiliki kepentingan tidak akan membutuhkan kita untuk bekerja,"
"Shadow. Setelah tiba di kota Kemuning, kita harus berpencar. Kita akan mengamati keadaan di sana, kemudian mulai bergerak. Titik pertama kita adalah Martins Hotel," kata lelaki yang mengenakan pakaian berwarna coklat bernama Eagle itu sembari memberikan kartu identitas palsu kepada Shadow.
Sebelum mereka diberangkatkan oleh tuan mereka, mereka telah dibekali dengan kartu identitas palsu, seluk beluk tentang kota Kemuning, Kota Batu, Tasik Putri serta Dolok ginjang. Tidak ada yang terlewatkan bagi mereka. Walaupun penjelasan itu secara kasar, namun mereka sudah mengetahui kemana mereka akan bergerak, dan menghilang ketika kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
Tepat pukul 4 subuh, taksi itu pun tiba di depan area parkir Martins Hotel.
Setelah berbasa-basi dengan supir, kedua orang itu pun langsung memasuki lobi hotel, kemudian segera memesan dua kamar paling atas.
Kedua lelaki itu tanpa banyak hambatan pun segera mendapatkan kunci kamar dan segera mengarah ke bagian pintu lift, dan langsung naik ke tingkat paling atas.
Layaknya seperti orang yang tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya, kedua orang itu mulai memasuki kamar mereka masing-masing.
Eagle, yang saat ini sudah tiba di dalam kamarnya tidak langsung beristirahat. Dia kini melangkah menuju ke arah tempat tidur, kemudian mengobrak-abrik kasur yang ada di tempat tidur tersebut.
Setelah puas merobek tempat tidur di hotel itu, kini dia menemukan sebuah koper berwarna hitam yang sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk dirinya.
Eagle menyapu permukaan koper tadi dengan telapak tangan kanannya, kemudian membuka kunci koper tadi. Dan kini, tampak potongan-potongan besi berwarna hitam tersusun rapi di dalam koper tersebut.
"Hmmm... Mini14," gumamnya dalam hati sembari tersenyum.
Dia kemudian menimbang-nimbang beberapa potongan, kemudian mulai menyatukan potongan-potongan tersebut sesuai tempatnya.
Tidak sampai 10 menit, kini dia telah selesai menyatukan potongan-potongan tersebut sehingga kini terlihatlah sebuah senjata Laras panjang berwarna hitam pekat.
Setelah menyelesaikan bagian akhir yaitu teropong jarak jauhnya, kini Eagle mulai menyesuaikan dan mulai membidik.
Senyum puas terlihat diwajahnya. "Seperti yang aku inginkan," katanya dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1