Namora

Namora
Rio VS Jhonroy


__ADS_3

...Pusat tahanan kota Batu...


Tangan Tigor bergetar hebat ketika dia mendapat kabar bahwa putranya mengalami kecelakaan di area pemakaman umum kota Batu, dan sampai saat ini sedang koma di rumah sakit.


Baru saja dirinya menerima panggilan telepon dari Jerry William di Starhill yang mengatakan bahwa dia menerima kabar dari Black bahwa Namora menjadi target pembunuhan.


Dalam panggilan tersebut, Jerry juga mengatakan bahwa Tigor tidak perlu terlalu khawatir. Karena, Namora masih jauh dari kata kematian. Hanya ada bekas luka sayatan katana dan tidak mengenai area fatal pada keselamatannya.


Awalnya, ketika menerima kabar itu, Tigor langsung panik dan mempertanyakan dimana pengawal bayangan yang ditugaskan oleh Jerry. Namun, Jerry menjelaskan bahwa Namora perlu mengalami hal buruk untuk menempa dirinya menjadi lebih kuat.


"Emas perlu di sepuh untuk mendapatkan hasil yang baik. Seharusnya anda mengerti dengan kata-kata ini," begitulah kata Jerry kepada Tigor. Akan tetapi, yang namanya seorang ayah, tetap saja dia sangat khawatir, marah dan menyesalkan kejadian ini. Terlebih lagi, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Kebebasannya masih dalam dua Minggu lagi.


"Kemana perginya Rio ini?" Tanya Tigor dalam hati ketika sudah puluhan kali dia menelepon ke nomor adiknya itu, akan tetapi tidak mendapat jawaban.


Puas dengan menelepon Rio yang tidak mendapat jawaban, Tigor segera menghubungi Ameng untuk memberitahukan kejadian tersebut.


Ketika Ameng menerima kabar tersebut, dia langsung panik. Padahal, dia baru saja tiba di kota Kemuning, tapi sekarang malah mendapat kabar bahwa Namora mengalami kecelakaan. Tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh terhadap tugas yang dia emban saat ini. Namun, sepertinya Ameng tidak punya pilihan lain. Setelah menerima kabar tersebut, dirinya langsung secara diam-diam menghubungi saudaranya yang lain untuk memberitahukan bahwa Namora menjadi target pembunuhan.


Sesuai dengan pesan Tigor bahwa kejadian ini tidak boleh menyebar luas, mereka pun berangkat secara diam-diam ke kota Batu untuk mengunjungi Namora.


Selesai menghubungi Ameng, Tigor kembali menghubungi Rio. Tapi tetap tidak mendapatkan jawaban.


Tigor sangat kesal. Dia kemudian menyimpan kembali handphone miliknya di balik pakaian dalamnya sambil mengomel panjang pendek. Hanya saja, dia sama sekali tidak mengetahui bahwa Rio saat ini sedang mengalami tekanan dari Jhonroy.


***

__ADS_1


...Kantor polisi kota Batu...


Seperti diceritakan sebelumnya, setelah mengetahui dari anak buahnya bahwa Teja ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh kepolisian kota Batu atas tuduhan ingin melakukan pembunuhan berencana terhadap Namora, Jhonroy pun langsung bergerak cepat.


Melalui anak buahnya, mereka bergerak ke kota Batu untuk melakukan persiapan yang mampu melemahkan Rio.


Dengan didampingi oleh puluhan pengawal, Jhonroy pun berangkat dari kota L menuju ke kota Batu dengan kartu As di dalam sakunya.


Tidak tampak rasa terbebani di wajahnya. Padahal, anaknya saat ini sedang berada di jeruji besi.


Walaupun proses hukuman belum ditetapkan, namun besar kemungkinan bahwa Teja akan mendapat hukum yang berat. Tapi Jhonroy sama sekali tidak terbebani. Dia malah masih bisa tersenyum tenang bagaikan tidak terjadi apa-apa.


Begitu rombongan itu tiba di kantor polisi, dengan sikapnya bak seorang penguasa, Jhonroy langsung memasuki ruangan dan bertanya di mana ruang kerja Rio.


Setelah mendapat informasi dari staf yang berada di sana, Jhonroy langsung mendorong pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, kemudian langsung duduk tepat di depan meja kerja Rio.


"Benar!" Jawab Rio sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun, dia tampak mengubah ekspresi wajahnya ketika uluran tangannya tidak mendapat sambutan.


"Aku adalah Jhonroy the great dari kota L. Seorang anggota kepolisian pangkat rendah seperti dirimu tidak layak untuk berjabat tangan dengan ku. Kau pasti sudah mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama ku. Lalu, mana rasa hormat mu?" Bahasa Jhonroy sangat tenang dan lembut. Tapi cukup sakit di telinga Rio.


Sepertinya, Rio sudah mengetahui penyebab kedatangan Jhonroy ke kantor polisi kota Batu ini. Itu tidak lain adalah karena Teja, anak dari Jhonroy saat ini masih berada dalam ruang tahanan kantor polisi kota Batu ini. Namun, Rio berpura-pura santai dan tetap menanyakan maksud dari kedatangan Jhonroy ke kota Batu ini.


"Rio Habonaran. Seorang Ajun komisaris besar polisi di kabupaten kota Batu ini. Apa kau merasa bahwa pangkat yang kau sandang itu mampu berbuat sesuka mu dengan menahan putra ku?" Jhonroy berhenti sejenak. Dia bangkit berdiri, kemudian menjangkau lambang bunga melati emas pada seragam Rio, kemudian kembali berkata. "Dengan kekuasaan dan pengaruh yang aku miliki, aku mampu mengangkat seseorang ke puncak yang lebih tinggi. Namun sebaliknya, aku mampu menjatuhkan seseorang sampai ke dasar laut sekalipun. Kau tinggal pilih. Mau terangkat atau terhempas?"


Bergetar tubuh Rio menahan kemarahan mendengar perkataan dari Jhonroy ini. Terlebih lagi, ini adalah kantor polisi dimana dialah yang menjadi kepalanya. Berani sungguh orang tidak menghormati dirinya. Tapi sepertinya ada sedikit pengecualian untuk orang tua dihadapannya saat ini, mengingat status tinggi yang dia miliki. Oleh karena itu, Rio berusaha dengan sekuat tenaga meredam kemarahannya walaupun nyaris-nyaris meledak.

__ADS_1


"Tuan Jhonroy yang terhormat. Saya tau anda dengan sangat baik, walaupun anda tidak mengetahui tentang saya. Pertama, anda datang dengan cara yang tidak beradab ke kantor polisi. Yang ke dua, anda seperti mengancam saya. Mengingat kedudukan anda di masyarakat, saya membiarkan hal ini begitu saja. Mengapa harus berbelit-belit? Katakan maksud dari kedatangan anda ke sini, atau anda boleh pergi meninggalkan ruangan kerja saya!"


"Hahahaha. Menarik! Apakah kau berani mengusir ku?"


"Tentu saja saya berani!" Jawab Rio dengan tegas.


"Hmmm. Seperti yang aku harapkan dari karakter Rio Habonaran. Dia bukan hanya seorang kepala polisi kota Batu. Akan tetapi, latar belakangnya jauh lebih besar dari sekedar anggota kepolisian. Bukan begitu, AKBP Rio Habonaran?" Ejek Jhonroy dengan main-main.


"Apa maksud anda Tuan?" Tanya Rio dengan serius. Dia tau sebenarnya bahwa saat ini Jhonroy sedang menjebak sekaligus menyindir dirinya, bahwa dia adalah adik dari Tigor Habonaran, sang penguasa lima kabupaten besar di Sumatra ini. Jika Rio terpancing oleh kata-kata dari Jhonroy, maka Rio akan masuk ke dalam perangkapnya dan sulit untuk mengelak. Oleh karena itu, Rio sangat berhati-hati sekarang menghadapi musang tua ini.


"Maksud ku adalah, status anda tidak sesederhana sebagai kepala polisi di kabupaten kota Batu ini saja. Ada identitas lain di belakang anda. Tidak perlu menyangkal atau mengiyakan. Semua orang juga mengetahuinya dengan sangat baik. Aku tentu saja tidak berani memprovokasi anda. Oleh karena itu, mengapa anda sejak tadi sama sekali tidak memberikan saya wajah. Hahaha. Apakah kata-kata ku benar?" Tanya Jhonroy sambil tersenyum.


Rio sedikit panik di dalam hatinya. Namun, sebagai kepala polisi kota Batu yang telah memegang jabatan itu selama lebih dari tujuh belas tahun, dia tau kapan harus marah, dan kapan harus meredam kemarahan. Bagaimanapun, bukan sekali dua kali dirinya sebagai anggota kepolisian telah diintimidasi sedemikian rupa oleh lawan-lawannya. Tidak terkecuali hari ini. Makanya, walau seperti apapun Jhonroy memancing agar dirinya terperangkap, tetap saja Jhonroy belum mampu menjebaknya.


"Tuan Jhonroy yang agung. Begitu kan gelaran anda? Seorang tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Seorang lelaki yang memiliki puluhan anak angkat yang telah sukses di bidangnya. Saya sangat mengagumi sosok seperti anda ini. Namun, kekaguman saya bertambah ketika anda bisa meluangkan waktu anda yang sangat berharga untuk melontarkan kata-kata jebakan seperti ini. Saya memang lebih muda dan sangat jauh dari usia anda yang sudah mendekati pintu kubur. Akan tetapi, saya juga bukan anak kecil yang mampu untuk dijebak dengan kata-kata penuh sindiran dari bibir keriput anda. Ketahuilah wahai Tuan Jhonroy. Kota Batu adalah kawasan yuridiksi saya. Di sini sayalah naga nya, saya lah ular nya. Saya tidak perduli dengan penguasa dari kota lain, karena setelah sampai di kota batu, anda berada dalam yuridiksi saya. Tentunya saya tidak perlu menjelaskan kepada anda tentang hal ini bukan? Anda tau dengan jelas di dalam hati anda," kata Rio yang saat ini melakukan serangan balik.


Counter attack dari Rio barusan membuat Jhonroy langsung tercengang. Namun, dia mampu menguasai keadaan dengan sangat baik.


Dengan bibir tua nya yang sudah keriput di mana-mana, dia menyunggingkan senyuman. Namun, senyuman itu sangat dingin.


Sejenak Jhonroy memutar isi kepalanya untuk membalikkan keadaan. Begitu dia menemukan kata-kata yang tepat, dia langsung mengirimkan pukulan balik kepada Rio.


"Anda cukup arogan dengan apa yang anda katakan barusan. Anda adalah naga di sini. Benar. Anda memang naga. Saya tau, mereka tau dan semua orang tau. Siapa yang tidak mengenal Tigor dan sembilan orang adik angkatnya? Sedangkan sembilan orang adik angkatnya saja sangat berpengaruh, apa lagi adik kandung. Dan anda adalah adik kandung dari Tigor sang penguasa lima kabupaten kan? Akan tetapi, saya dengan tulus mengatakan bahwa saya tidak terlalu perduli dengan status anda. Biarkan publik yang menilai apakah seragam itu pantas atau tidak pada diri anda. Namun, walaupun naga tidak mampu menelan ular lokal, itu tidak sepenuhnya benar. Jika anda tidak percaya, anda bisa mencoba. Seperti yang saya katakan tadi. Saya bisa mengangkat orang sampai pada puncaknya, namun saya juga bisa menjatuhkan orang tersebut sampai ke dasar laut sekalipun,"


"Sudahi omong kosong ini, Tuan. Apa maksud dari kedatangan anda ke sini?" Tanya Rio menginterupsi perkataan Jhonroy.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2