Namora

Namora
Acting sempurna


__ADS_3

"bagaimana? Seharusnya anda memikirkan konsekuensinya dari tindakan arogan anda. Jika sudah begini, anda hanya bisa memenuhi tuntutan kami. Jika tidak, maka kembalikan uang milik kami dan kami akan meninggalkan Martins Group!" Desak Roland dengan sangat percaya diri.


Yang lain juga terus menyuarakan tuntutan mereka sampai Namora benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk membalas.


Pak Burhan merasa pusing sendiri ketika suasana sudah tidak kondusif lagi. Kacau sudah pertemuan ini. Sehingga mirip seperti pasar pagi.


"Harap tenang. Harap tenang!" Kata pak Burhan berusaha menenangkan suasana.


Keadaan kembali tenang walaupun masih terdengar bisik-bisik dari mereka yang merasa kembali di atas angin.


"Pak Burhan. Kedatangan kami kemari juga berhubungan dengan beberapa investor yang ingin berinvestasi dalam proyek jalan Tol kota Kemuning ini. Hanya saja, mereka mengajukan syarat bahwa Martins Group tidak boleh berselisih dengan Agro Finansial Group. Ini demi kenyamanan bersama. Jika tidak, maka mereka akan membatalkan minat mereka terhadap proyek tersebut,"


"Begitu kah? Mengapa saya baru diberitahukan hari ini? Apakah pertemuan ini memang sengaja diracang untuk menjatuhkan seseorang?" Tanya Pak Burhan yang sudah tidak tahan lagi dengan bungkamnya Namora.


Mendengar pertanyaan sinis pak Burhan, mereka semua sedikit terkejut. Karena, walau bagaimanapun, pak Burhan hanyalah orang tengah dalam pertemuan ini. Bagaimana bisa dia berbicara seolah-olah memihak seperti itu.


"Pak Burhan. Kehadiran anda di dalam pertemuan ini adalah sebagai penengah. Namun, saya merasa sepertinya ada keberpihakan dari nada bicara anda barusan,"


"Aku adalah Burhan. Orang paling lama dan paling mengerti tentang martins Group ini. Apakah kalian pernah menanyakan apakah aku suka dengan perselisihan seperti ini? Sekarang aku akan mendengar bagaimana dengan keputusan Namora. Cepat putuskan karena waktu ku jauh lebih berharga daripada omong kosong sialan ini!" Bentak Pak Burhan yang sudah hilang kesabaran.


Semuanya bungkam. Tidak ada yang membuka mulut untuk sementara waktu. Mereka kembali saling pandang dan mengalihkan tatapan mereka ke arah Namora.


Namora merosot ke kursi tempat duduknya dengan wajah datar. Tapi sorot matanya sangat frustasi.


Beberapa lama terdiam, akhirnya Namora membuka mulut. "Sepertinya tidak ada cara lain. Bagaimanapun, hanya ada satu Raja dalam satu negeri. Jika itu yang kalian inginkan, aku menerimanya!"


Semua orang berseri-seri mendengar jawaban yang mengambang dari Namora ini. Mereka sangat senang ketika tuntutan mereka akan segera dilaksanakan oleh Namora.

__ADS_1


Kini, mereka mulai memikirkan siapa kandidat yang mereka anggap pantas untuk menggantikan peran Namora sebagai CEO. Tentunya orang yang bisa mereka kendalikan dan siapapun yang menjadi CEO, itu hanyalah boneka semata. Sementara keputusan, tetap berada di tangan mereka. Namun, belum jauh angan-angan mereka melayang, tiba-tiba Namora kembali melanjutkan kata-katanya yang tadi sempat terhenti. "Thea. Bawa Direktur departemen keuangan memasuki ruangan!" Lantang suara Namora membuat mereka terkejut dan langsung berubah keheranan.


Apakah Namora sudah gila? Sepertinya itulah yang ada dalam pikiran mereka saat ini.


"Anda?!" Anton dan yang lainnya berdiri secara bersamaan.


"Mengapa? Bukankah ini yang kalian inginkan? Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini. Maaf jika raut wajah depresi ku mengecewakan kalian. Aku hanya mencoba berakting!" Kata Namora dengan senyuman yang sangat tak sedap dipandang mata.


Tidak sampai lima belas detik dari Namora memanggil Thea, pintu ruangan itupun didorong terbuka. Kemudian, Thea pun memasuki ruangan dengan tiga orang dibelakangnya.


"CEO, kepala departemen keuangan, kepala departemen pemasaran dan asisten nya ada di sini!" Kata Thea dengan suara lembutnya kearah Namora.


"Duduk!" Pinta Namora.


Ketiga orang itu langsung duduk, kemudian membuka koper mereka, lalu mengeluarkan beberapa dokumen.


"Pantang anak lelaki ditantang," lalu, Namora tidak memperdulikan lagi. Dia segera bangkit dari duduknya, kemudian memerintahkan kepada ketiga lelaki yang baru masuk tadi untuk membentangkan berapa nilai pasar saham milik Martins Group saat ini.


Setelah mendengarkan pembentangan nilai pasar perusahaan, kini tahu lah mereka berapa nilai pasar saham di Martins Group. Walaupun tidak banyak, tapi yang jelas nilai pasar perusahaan memang sedang turun.


"Kalian sudah mendengar bukan? Kini, kalian tinggal pilih! Apakah kalian menginginkan uang tunai, cek atau transfer bank? Aku akan menuruti keinginan kalian!" Tanya Namora dengan suara penuh kepercayaan diri dan terkesan menindas.


"Ini..,"


"Tidak ada ini ini! Lelaki pantang menarik kata-katanya!" Namora segera mengintrufsi sebelum mereka sempat melanjutkan kata-katanya.


"CEO. Apakah anda yakin ingin menggunakan uang perusahaan untuk membayar mereka? Perlu saya jelaskan. Bahkan keluarnya aliran dana yang sangat besar ini akan sangat mempengaruhi rotasi keuangan perusahaan. Dampaknya sangat buruk. Perusahaan bisa lumpuh jika kita tidak segera menutup kekosongan kas. Karena, untuk saat ini uang bersih dalam perusahaan tidak melebihi satu triliun rupiah, dan itu adalah anggaran kita untuk memasok kebutuhan logistik, gaji staf, serta gaji para pekerja di area konstruksi. Apakah anda benar-benar ingin melanjutkan?" Tanya Kepala direktur departemen keuangan dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Apakah uang kas perusahaan cukup untuk melemparkan keenam penjilat ini keluar dari perusahaan?" Tanya Namora acuh tak acuh.


Mendengar mereka dikatakan penjilat, kemarahan terpampang jelas di wajah mereka. Tapi, hal yang mereka takutkan lebih daripada sekadar hinaan dari Namora barusan.


Direktur departemen keuangan mengangguk samar. Hal ini mencerminkan bahwa dia juga sangat ragu apakah setelah uang ini keluar dari kas perusahaan, dapat diisi kembali dalam waktu dekat.


"Bayar!" Perintah Namora tanpa banyak basa-basi.


Pak Burhan tersenyum melihat ketegangan Namora. Hampir saja tadi dia merasa kecewa karena Namora seperti berada di bawah angin dan dikendalikan oleh mereka. Namun, dia merasa di prank oleh Namora. Karena, sebenarnya Namora hanya berakting saja.


"Tuan Anto, Tuan Roland dan yang lainnya, mari kita selesaikan serah terima! Bahwa, saham milik anda sekalian telah dilikuidasi dan diakuisisi oleh Martins Group. Setelah anda menandatangani serah terima ini, maka anda sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Martins Group!" Kata direktur departemen keuangan dengan sopan.


Apa mau dikata? Jika perahu kebablasan, masih bisa mengambil jalan mundur. Tapi jika ucapan kebablasan, maka, buruk lah akibatnya. Berapa banyak manusia di dunia ini binasa karena tidak pandai menjaga lisan nya. Begitu pula dengan keenam pemegang saham ini. Mereka telah mengucapkan kata-kata dan disaksikan oleh pak Burhan sebagai pemegang kuasa hukum di perusahaan Martins Group. Tentunya setiap kata-kata yang mereka ucapkan tidak dapat di tarik kembali. Terlebih lagi ini menyangkut tentang saham dalam perusahaan.


Dengan tangan gemetar, Pak Anto menandatangani surat pelepasan saham miliknya dengan di susul oleh yang lainnya.


Setelah selesai menandatangani surat pernyataan tersebut, mereka kemudian menatap ke arah Namora dengan tatapan berapi-api.


"Kau, Nak! Kau akan menyesali ini!" Ancam pak Anto sambil menunjuk wajah Namora dengan pena yang masih berada di jepitan jari telunjuk dan jempol nya.


Namora menampar tangan pak Anto dengan kasar, kemudian berucap. "Seseorang yang punya adab, tidak akan meludahi piring tempat dia makan. Aku, lebih baik dikatakan pembangkang, daripada penjilat. Karena, setidaknya pembangkang masih punya pendirian dan harga diri. Anda pasti mengerti apa yang aku katakan. Kembali kepada Jhonroy, dan sampaikan pesan ku. Bahwa aku, Namora Habonaran, mulai detik ini akan menargetkan Agro Finansial Group. Aku pasti akan menghancurkan perusahaan itu dan akan menginvasi Kota L!"


"Kau..?! Kau akan menyesal!"


"Satpam! Usir mereka keluar!" Teriak Namora.


Tak lama kemudian, lebih dari selusin satpam memasuki ruangan itu, kemudian memaksa Pak Anto, pak Roland dan yang lainnya keluar dari ruangan pertemuan itu, kemudian melemparkan mereka di kaki lima kantor besar Martins Group dengan cara yang sangat terhina.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2